Skip to main content

Universitas Indonesia


Lima hari aku berada di Universitas Indonesia. Sebuah kampus besar yang dengan berani menggunakan nama bangsa kita sebagai namanya. Dengan penyandangan nama itu sesungguhnyalah terletak tanggung jawab yang besar pula. Meskipun saya menulis mengenai kampus ini, namun saya tidak menjamin bahwa saya tahu semua mengenai kampus tersebut. Jadi tulisan ini hanyalah parsial, sebuah tulisan logis yang tidak akurat yang menggambarkan Universitas Indonesia.

Hal-hal yang patut di banggakan dari sebuah kampus adalah cara dia bergaul dengan lingkungan masyarakatnya. Itu hal yang paling penting. Maka dari itu kunci dari Tri Dharma perguruan tinggi adalah pengabdian, penelitian, dan pengajaran. Kesemuanya di tujukan untuk masyarakat. Untuk kegiatan pendidikan berbasis masyarakat, UI memang tidak diragukan lagi. Saya acungi empat jempol sekaligus.

Kampus UI, menurut seorang supir angkutan kota (bahkan supir angkotpun tahu) yang kuajak bicara adalah kampus yang paling sejuk dari seluruh tempat yang ada. Itu juga yang diucapkan oleh seorang mantan supir Wakil Gubernur Jakarta yang kebetulan bertemu di Kereta Listrik Jakarta-Depok.
Sekarang, saya ingin menunjukkan beberapa hal yang tidak saya sukai dari Universitas Indonesia. Perlu diketahui bahwa pandangan saya ini tidak bisa dijadikan dasar studi apapun apalagi di percaya secara membabi buta.

Pertama, adalah sikap individualistik yang dicerminkan oleh mahasiswanya.  Sebagai orang desa, yang tentunya masih sedikit banyak mencerminkan adat kebudayaan bangsa Indonesia, saya sungguh menyesal melihat para mahasiswa yang berjalan menunduk dan dengan langkah lebar. Mahasiswa disana, sepanjang saya berjalan keliling kampus, tidak menampakkan sedikitpun penghormatan kepada orang-orang disekelilingnya. Cara mereka berjalan yang tidak bisa santai dan tergesa-gesa menimbulkan pertanyaan besar pada diri saya sendiri, “apakah mereka diciptakan untuk menjadi robot?” Saya akan menyebut kehidupan mereka ini dengan kehidupan khas kota.

Kedua, nama yang terlalu besar. Tidak menafikan semua kebesaran yang telah di sandang universitas indonesia, saya menyayangkan jika perpustakaan yang megah seperti itu tidak didukung dengan buku-buku yang update dan “wah”. Gedungnya ditaksir sebagai terbesar se Asia Tenggara, apakah saya tidak bisa menyangka bahwa seharusnya dalamnya juga merupakan koleksi terlengkap dari perpustakaan yang ada di seluruh Indonesia? Saya tidak mengeksplor perpustakaan itu lebih jauh karena waktu yang tidak memungkinkan. Sehingga saya hanya melihat koleksi bagian sastra yang kebetulan saya mengenal dengan agak baik beberapa buku sastra. Dan benar, saya tidak dipuaskan sedikitpun. Ini jelas karena ekspektasi saya terhadap perpustakaan UI begitu besarnya, sehingga kesalahan sekecil apapun akan membuat saya berfikir negatif dan benar-benar kecewa. Sebelum datang ke Universitas ini saya lebih dulu datang ke Rumah Dunia, sebuah komunitas masyarakat membaca yang memiliki perpustakaan besar yang hebat. Maka saya terus membandingkan apa yang ada di Rumah Dunia dengan yang ada di Universitas Indonesia –terutama tentang buku-buku sastranya yang kurang menarik minat. Bukunya berbahasa inggris, arab, dan terlihat kusam seperti (dan memang) terbitan tahun 80-an.

Ketiga, masalah sambungan internet yang juga individualistik. Saya tidak tahu, mengapa tidak ada kampus yang terbuka untuk umum, semacam tempat wisata yang orang-orangnya wellcome dan menyenangkan. Wifi-nya, entah apa penjelasan tentang wifi itu, yang saya tahu, wifi adalah sambungan agar kita terhubung dengan internet. Sebelumnya saya bertanya kepada salah satu mahasiswa disana cara menggunakan wifi UI, katanya laptop kita harus di daftarkan dulu ke pihak yang berwenang. Saya pusing. Kenapa harus demikian? Apakah semata-mata, yang menggunakan wifi (fasilitas UI) haruslah mahasiswanya saja, orang yang memang membayar kepada UI, bukan gelandangan yang tiba-tiba memegang laptop dan menyambungkan wifi? Kejadian ini persis sama dengan yang ada di Unair, sebuah kampus besar di Surabaya. Hal inilah yang disebutkan oleh temanku, seorang Sekjend di perhimpunan pers mahasiswa indonesia, “Peradaban tua yang sombong”.

Banyak hal yang menyenangkan di kampus terhebat di Universitas Indonesia ini. Maka dari itu, nama besar seyogyanya di jaga dengan segenap kemampuan agar tidak menimbulkan kekecewaan kepada orang yang mengaguminya. Mumpung sudah terkenal, mahasiswanyapun pasti memiliki gengsi yang lebih besar dari kampus manapun. Tanggung jawab atas nama besar lebih berat dari pada membangun nama besar itu sendiri. I Love UI.

Comments

  1. PINJAMAN CEPAT PENAWARAN ONLINE DI RAHMAT MORGAN PINJAMAN PERUSAHAAN ... Rahmat Morgan Pinjaman Perusahaan adalah penyedia terkemuka pinjaman Seluruh Dunia Tidak peduli apa kondisi keuangan Anda, kami dapat membantu mendapatkan cash.We Anda sendiri memberikan pinjaman untuk konsolidasi utang, perbaikan rumah, tanpa jaminan pinjaman, pinjaman kredit buruk, pinjaman bisnis, pinjaman pribadi, pinjaman mahasiswa, pinjaman Auto, mengurangi Kartu Kredit hutang, Real Estate dan hipotik pada tingkat bunga 2%. Menawarkan pinjaman online kami mudah dan cepat untuk apply.it adalah 100% Dijamin dan safe.do hubungi kami sekarang untuk lebih jelasnya AT Gracemorganloancompany@gmail.com

    ReplyDelete

Post a Comment

semoga artikel ini berniat baik pada pembaca, komentar pembaca akan membangun blog ini.

Popular posts from this blog

Ebook Di Bawah Bendera Revolusi Gratis

Buku berjudul "Dibawah Bendera Revolusi" merupakan buah ide, pikiran dan karangan yang ditulis langsung oleh Sukarno dimasa pra kemerdekaan baik di pengasingan atau penjara dan setelah kemerdekaan. Buku ini diterbitkan tahun 1964. Ini adalah sekapur sirih yang dikutip dari buku Di Bawah Bendera Revolusi oleh Ir. Soekarno.
"Buku “DIBAWAH BENDERA REVOLUSI” ini dipersembahkan kepada rakjat Indonesia dengan maksud djanganlah hendaknja hanja sekedar untuk penghias lemari buku, akan tetapi dengan penuh tjinta dan sadar mempeladjarinja setjara ilmiah betapa pasangsurutnja pergerakan kemerdekaan dizaman pendjadjahan.

Persatuan bangsa,--persatuan antara golongan-golongan Nasional, Agama, dan Marxis, atau lebih terkenal dengan istilah NASAKOM sekarang ini, pada hakekatnja bukan “barang baru” dalam rangka perdjoangan rakjat Indonesia jang dipelopori oleh Bung Karno. 

Dengan meneliti buku ini setjara ilmiah, akan lebih memperdjelas pengertian bahwa Revolusi Agustus 1945 j…

Global Paradox ; small is power

Mengapa buku-buku Naisbitt menjadi fenomenal? Sebelum kita membahasa lebig lanjut tentang Megatrend dan Global Paradox, sebaiknya kita mengenal dahulu bagaimana bigrafi dari John Naisbitt. Biografi John Naisbitt (lahir 15 Januari 1929 di Salt Lake City, Utah) adalah seorang penulis Amerika dan pembicara publik di bidang studi berjangka. Megatrends pertama bukunya diterbitkan pada tahun 1982. Ini adalah hasil dari hampir sepuluh tahun penelitian. Itu di daftar buku terlaris NewYork Times selama dua tahun, kebanyakan sebagai # 1. Megatrends diterbitkan di 57 negara dan terjual lebih dari 14 juta eksemplar. John Naisbitt belajar di Universitas Harvard, Cornell dan Utah. Dia mendapatkan pengalaman bisnis ketika bekerja untuk IBM dan Eastman Kodak. Dalam dunia politik, ia menjadi asisten Komisaris Pendidikan di bawah Presiden John F. Kennedy dan menjabat sebagai asisten khusus untuk Departemen Pendidikan Sekretaris John Gardner selama pemerintahan Johnson. Dia meninggalkan Washington di tahu…

Filosofi Diam

Kita berjalan di atas catwalk bersama-sama sambil memainkan peran masing-masing, lalu kita menyebutnya hidup. Seseorang terlihat bahagia, seseorag terlihat sedih, dan seseorang terlihat cuek dengan hidupnya. Namun sejatinya mereka semua adalah “terlihat”, bagaimana kejadian yang sebenarnya hanyalah dia, sahabatnya, dan Allah yang tahu. Kita bahkan lebih sering memberikan kesan bahagia kepada orang lain dari pada kesan bahagia terhadap diri kita sendiri. Ini adalah kebutuhan manusia untuk diaggap sukses, yang kemudian mereka berharap dengan anggapan itu, mereka akan lebih di hormati, diperhatikan, dan ditaati. Semua itu merupakan upaya untuk menyembunyikan diri dari orang lain, dan tidak jarang, kita juga mencoba menyembunyika diri kita dari diri sendiri, upaya ini disebut sebagai diam.
Teman saya –biasa saya panggil Ny Robinson- adalah salah orang yang saya hormati. Dia memiliki kehidupannya sendiri dan seringkali membuatku tercekik, tersenyum, bersedih, bahagia, dan juga merasa aneh…