Tampilkan postingan dengan label Pojok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pojok. Tampilkan semua postingan

2019-08-17

Gunung Penanggungan



Kami melakukan perjalanan dengan penuh keyakinan di suatu Sabtu. Tentu setelah browsing tentang jalur pendakian, estimasi waktu, dan biaya ditambah sedikit drama karena ketidaktepatan janji. Mata menyala, otot menguat, dan teriakan seperti remaja kota, kami seakan hendak mencari sebuah kebijaksanaan yang berada di puncak gunung; barangkat dari sana kami akan menjadi resi yang sakti mandraguna.

Tetapi sebuah perjalanan sakral sekalipun akan terkotori dengan pertanyaan-pertanyaan profan. Misalnya, untuk apa sebenarnya kita naik gunung? Atau dengan siapa kita harus naik gunung? Dengan pacar atau teman? Itu pertanyaan remeh yang harusnya tidak usah ditanyakan karena malah membuat perjalanan sangat duniawi. Kami sepakat untuk tidak yakin dengan jawaban klise semacam; naik gunung untuk mencari jati diri, atau naik gunung untuk belajar tentang kehidupan.

Karena itu, tanpa perhitungan yang matang, 10 bungkus mie instan kami masukkan ke tas carrier yang penuh dengan baju hangat. Hitung-hitungan dimulai, di mana beras harus diletakkan, dan kompor, dan nesting, dan tenda, juga matras, harus ditenggelamkan ke tasnya siapa. Semua harap-harap cemas agar tidak kebagian barang banyak dan berat. Di situlah seni menata isi tas carrier, juga seni berjalan bareng. Semua ingin enteng, semua ingin menuju puncak dengan beban ditanggungkan ke pundak kawannya.



Dari pengetahuan di internet, kami menjadi tahu bahwa di Gunung Penanggungan ada satu jalur khusus yang sepanjang menuju puncak terdapat candi-candi peninggalan jemaat hindu-budha; namanya Jalur Jolotundo. Namanya juga khas dan angker, tidak seperti jalur pendakian lewat Tamiajeng yang ramai. Tetapi google rupanya menyesatkan kami, karena setibanya kami di sana, bukan Jalur Jolotundo yang kami jejak, malah jalur yang baru dibuka; yaitu melalui Desa Ngurirejo.



Tapi rejeki tidak jauh juga tampaknya, karena di jalur ini terdapat 6 candi yang dapat membuat foto selfie kita jempolan hingga membuat sebal haters. Dengan ragu-ragu, sekitar pukul 15.00 WIB kami mulai menanjak pelan. Saya sebagai slow climber garis keras harus berkali-kali berhenti untuk mencari nafas. Maklum!. Sementara remaja lainnya yang bareng dalam pendakian, penuh semangat dan bergegas seakan hendak mengejar matahari yang mulai meredup. Kuteriaki mereka dan kuminta untuk pelan-pelan, tapi mereka tetap kencang di depan.

Pos Pendaftaran - Pos 2

Perjalanan dari pos pendaftaran menuju pos 2 cenderung menanjak santai. Di sinilah harusnya saya mulai beradaptasi. Karena otot pegawai memang terbuat dari agar-agar sehingga musti banyak penyesuaian. Karena itu, baru 15 menit kemudian kami sampai di Pos 2 -yang bangunannya berupa gubuk tanpa dinding. Kalau pendaki pro, menuju pos 2 tidak akan berkeringat, dan mungkin hanya memakan waktu 5 menit.


Oya, pos pendaftaran ini tampaknya tidak resmi karena uang yang kami berikan tidak berbalas kwitansi atau tiket apapun. Hanya ada list nama asal-asalan, peta yang habis sehingga harus diambilkan ke desa, dan air yang mengalir semacam kencing batu. Sempat khawatir karena sepeda motor rentalan kami harus ditaruh di sana selama 2 hari. Tetapi tawakal kami kepada Allah semesta alam, maka hati kami kuatkan. Kami pasrahkan sepeda motor itu kepada penduduk desa tanpa jaminan apapun.

Pos 2 - Candi Carik

Kami hampir putus asa dan merasa salah jalan karena tidak bertemu Candi Carik hingga 2 jam. Menurut perkiraan kami yang asal-asalan, harusnya kami sampai di Candi Carik sekitar setengah jam. Karena itulah kami ragu dan akhirnya, tepat sebelum magrib kami berbahagia karena bertemu candi. Kami langsung melakukan ritual foto-foto dibarengi dengan semangat 45 karena merasa jalurnya sudah benar.


Carik, dalam terminologi Jawa, adalah sekretaris desa yang bertugas mengurusi seluruh administrasi -sering juga mengurusi segala macam persoalan- yang ada di kampung. Tapi untuk arti dari Candi Carik sendiri saya tidak tahu menahu. Candi ini bentuknya menggunung ke atas dengan sekitar 20 undakan. Kami tidak berhenti lama karena matahari mengejar di belakang. Tas segera kami panggul, bergerak menuju ketinggian.



Candi Carik - Candi Lurah

Perjalanan menuju Candi Lurah tidak begitu mengesalkan karena hanya dalam waktu 10 menit kita sudah sampai. Itu membuat kami takjub dan sangat bersemangat. Tapi malam sudah menjelang sehingga foto-foto tidak berguna. Kami hanya istirahat secukupnya lalu kembali melanjutkan perjalanan. Perjalanan malam memang lebih aman bagi pendaki. Karena suasana yang temaram, hawa dingin, dan julang pegunungan tidak kelihatan, perjalanan menjadi lebih mudah.


Candi Lurah - Candi Siwa

Menuju ke Candi Siwa tidak begitu berat karena jalanan agak landai. Hanya membutuhkan 10 menit untuk sampai Siwa. Bonusnya gunung penanggungan memang ada beberapa, salah satunya menuju Candi Siwa. Tetapi candi ini letaknya di bawah jalan sehingga tidak akan kelihatan ketika malam. Sehingga ketika mau ke Candi Siwa kita harus turun sedikit. Dengan beberapa pertimbangan kami akhirnya hanya istirahat sebentar lalu melanjutkan perjalanan tanpa mampir ke Candi Siwa.


Candi Siwa - Candi Wisnu - Candi Guru

Dua candi terakhir ini berada di ketinggian yang lumayan sehingga beban berat akan semakin kerasa. Dalam peta yang diberi oleh petugas di Pos 1 nama candi Wisnu tidak ada sehingga membuat kita pusing. Kami ragu untuk melanjutkan perjalanan karena begitu tersesat di pegunungan, jalan kembali tidak akan mudah ditemukan. Jika tersesat di hutan atau gunung, maka kembalilah ke bawah, bukannya terus melanjutkan perjalanan. Keyakinan ini pula yang membuat kami bingung.


Lalu kami bersepakat untuk terus maju dengan perasaan was-was. Kami berjanji akan kembali jika perjalanan buntu. Jadi, selama jalan setapak masih kelihatan jelas, kami yakin itulah jalan yang benar menuju ke puncak. 20 menit perjalanan yang meragukan itu akhirnya berhenti di Candi Guru. Ini menunjukkan bahwa jalan kami benar karena sesuai dengan peta. Lumayan melegakan untuk meneguk air botol yang kami bawa bersama.

Candi Guru - Gua Butol

Setelah kami melewati Candi Guru, semak semakin tebal dan savana tampaknya sudah terlihat di beberapa tempat. Perjalanan kami teruskan sampai kembali bertanya-tanya dimana Gu Butol yang ada dalam peta. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 2 jam sehingga pikiran semakin kalut. Kami meyakini harusnya Gua Butol tidak jauh. Waktu itu di Kota Malang seringkali suhu menunjukkan angka 15 derajat sehingga sangat dingin. Di perjalanan malam ini, kami juga merasakan hal yang sama, dingin sangat terasa menembus jaket dan kaos yang kami pakai.


Kami akhirnya berhenti di suatu tanah lapang yang tidak cukup untuk dua tenda. Kami ragu mau melanjutkan. Dua orang yang masih setrong mencoba mendaki lagi untuk mendapatkan petunjuk. Tapi mereka turun lagi setelah mendapati beberapa pepohonan yang muncul tiba-tiba. Agak ambigu karena di sekeliling hanya ada ilalang. Beberapa dari kami memutuskan untuk membuat camp di tempat ini karena melanjutkan perjalanan tampaknya berbahaya.

Setelah hampir setengah jam mendekap tubuh yang kedinginan, dari bawah ada senter dari pendaki lain yang berkilat-kilat. Kami teriak, mereka teriak. Semakin lama kami semakin yakin bahwa mereka sedang menuju ke arah kami. Dengan keyakinan itu, berarti jalan ini jalan yang benar. Dengan semangat tinggal separuh, kami memutuskan melanjutkan perjalanan. 15 menit kemudian kami sampai di wilayah pepohonan yang rapat.

Wilayah ini agak menyenangkan karena banyak pohon untuk dipakai pegangan. Istirahat juga bisa bersandar ke pepohonan. Perjalanan berlanjut dengan nafas yang memburu karena tanjakan semakin sadis. Kami saling membantu untuk mendaki karena beberapa tanjakan cenderung curam. Setelah 30 menit, teman yang berjalan duluan berteriak kalau ada gua gelap di bebatuan. Kami yang di bawah bersemangat lalu berhamburan sampai tiba di depan gua.

Gua Butol

Goa ini bisa menampung sekitar 3 tenda ukuran sedang. Malam itu dingin sekali. Jadi beruntung kami bermalam di gua sehingga tidak seberapa dingin, bahkan cenderung hangat. Kami membawa lontong dari Pasar Landungsari sehingga tidak perlu memasak nasi malam itu. Keuntungan membawa lontong ini juga bisa menghemat air, karena tidak perlu bersihkan beras, dan memasak beras dengan air yang lumayan.


Tetapi memakan lontong saja tidak menarik jadi kami tetap masak mie instan sebagai penambah rasa. Hmm...nyam nyam. Kaki yang menegang sepanjang perjalanan akhirnya bisa istirahat dengan leluasa. Kami seduh kopi dan minum pelan-pelan sambil menikmati suasana di atas pegunungan. Kondisi istirahat semacam ini akan sangat dirindukan ketika sudah turun. Hingga larut kemudian, lampu tenda meredup karena kehabisan baterai. Kami tidur lelap hingga jam 04.00 WIB alarm berbunyi.

Gua Butol - Puncak

Perjalanan di pagi hari merupakan perjalanan yang paling malas. Bagaimana tidak, enak-enak tidur harus bangun dengan mata terbuka lebar. Bukan hanya bangun, tetapi harus melakukan perjalanan menuju puncak yang tanjakannya cukup untuk membuat nyari menciut. Tetapi apapun kondisinya, kalau kepalang tanggung sudah di sana ya akan tetap dilakukan. Bagaimana lagi.


Dua botol air kami siapkan di satu tas yang di bawa satu orang. Kami mendaki dengan semangat baru karena ada beberapa perempuan yang juga bersemangat di depan. Seolah-oleh kita tidak mau kalah dengan mereka. Pendakian menuju puncak sangat berbeda karena tiba-tiba banyak orang yang sekarang menuju ke titik yang sama. Lampu senter berkilau dari bawah, atas, dan segala arah. Mengherankan karena kemarin tak satupun orang kami. temui.

Dalam waktu 40 menit perjalanan kami ternyata sudah sampai puncak. Jam 5 yang masih terlalu dini, tetapi di puncak sudah penuh orang. Beberapa tenda juga terpasang di sana. Rupanya mereka menginap di puncak gunung, wow, pasti dingin dan berangin. Camp di puncak gunung sebenarnya tidak disarankan karena langsung beratapkan langit dan tidak ada apapun yang bisa menghalau angin.

Matahari muncul pukul 05.30 pelan-pelan. Tiba-tiba puncak gunung penanggungan seperti pasar dadakan yang ramai dan bergerombol di mana-mana. Naik gunung sekarang bukan aktivitas eksklusif lagi, tetapi sudah menjadi kegiatan populer sebagaimana ke pantai atau pusat wisata lainnya. Kamera bersiap, orang memperebutkan monent matahari terbit di setiap bagian gunung. Penuh sesak dan menggemaskan.

Kami juga bagian dari budaya populer tersebut. Foto-foto di setiap moment, lalu jengah dan duduk saja sambil ngobrol. Sekitar satu setengah jam kemudian kami turun dari puncak menuju Gua Botol. Turun dari puncak cukup cepat karena hanya 15 menit saja. Saya yang masuk Gua Butol duluan langsung menyiapkan makanan; nasi, mie instan, tempe goreng, dan sarden. Teman-teman yang datang belakangan packing sekadarnya, lalu makan bersama sebelum benar-benar turun gunung.

Setelah semuanya merasa siap, kami packing dengan cepat, memastikan semua api telah padam, memastikan semua sampah telah terangkut ke dalam tas, lalu turun dengan cita-cita makan mie ayam beserta es teh lengkap dengan gorengan dan tambahan nasi pecel.

2019-01-20

Keluargaku yang Bahagia


(tulisan ini mengandung narsisme dan pemujaan berlebihan terhadap diri sendiri. waspadalah!)

Sebenarnya mau membuat sebuah tulisan tentang Kartini, tapi versi istriku. Judulnya bisa jadi 'Kartiniku di Rumah' atau semacam 'Kartini di Hatiku'. Tetapi agak sulit membayangkan bahwa Kartini akan mengerti menjadi istri dari lelaki biasa yang memiliki cita-cita luar biasa, tetapi cita-cita itu terpendam bersama kenyataan dan keikhlasan haha.

Jadilah aku membuat tulisan tentang istriku, yang juga perempuan biasa tetapi karena kami berdua mencoba hidup bahagia, lalu saling mencocokkan seluruh persamaan dan perbedaan, saling mengerti dan menerima apa yang terbaik dan memperbaiki apa yang buruk, jadilah ia istri terbaik yang bisa aku temukan saat ini.

Setelah menulis agak panjang, ternyata harus kuubah lagi fokusnya. Bukan menjelaskan tentang istri, karena menulis sesuatu seperti itu, di blog yang dibaca umum, rasanya menjadi agak kurang etis, kalau tidak dibilang memalukan. Karena itu kuputuskan untuk menulis tentang pengalaman berumah tangga yang harus selalu sesuai moto : membahagiakan. Karena rumah tangga bahagia itu bukan mitos.

Sejak tiga tahun kenal sebelum menikah, lalu sekarang memiliki anak berusia 5 bulan, kami sekalipun tidak pernah bertengkar. Kadang kami saling merasa beruntung ketika membandingkan dengan angan-angan di masa remaja akan jodoh yang akan kita masing-masing nikahi. Agak sembrono memang, membandingkan dengan sesuatu yang tidak riil. Tapi itu adalah salah satu cara mensyukuri hidup, bukan?

Kami hidup seperti manusia pada umumnya. Dia ibu rumah tangga yang sehari-hari di rumah, dan aku bekerja sejak pukul 08.00 - 15.00 WIB. Setelah aku berangkat kerja, istri tidak selalu menghubungiku untuk mengingatkan makan atau persoalan remeh lainnya. Itu membantuku fokus di tempat kerja. Tetapi sebisa mungkin aku mencoba wa istri karena di rumah saja tentu membosankan sehingga perlu diajak ngobrol -meskipun kadang aku balasnya lama karena sambil mengerjakan sesuatu.

Salah satu hal yang membuat kami bahagia adalah keterbukaan dan kepercayaan ke masing-masing pasangan. Sebagai lelaki, mungkin saya biasa saja dengan kondisi itu, ditambah istri tidak memiliki aktivitas di luar rumah. Tapi dia sebagai perempuan harus mendapat nilai plus karena saya lelaki yang menyukai aktivitas di luar rumah (bukan outdoor). Dia sering bilang "mas, aku cemburu kalau begini dan begitu", lalu aku jawab "oke, mas tidak akan begini dan begitu".

Ada beberapa kondisi yang kami tidak suka dilakukan oleh masing-masing pasangan. Tapi kami sampaikan juga. Dari sini kita belajar bahwa sesuatu yang terlihat keliru, tidak selamanya keliru, kadang ada pemahaman yang salah sehingga harus dikonfirmasi. Mirip-mirip sama kerjaan wartawan yang suka mengonfirmasikan berita hoax begitu. Nyatanya, banyak hal yang tadinya sepertinya salah, ternyata tidak sesalah itu jika dikomunikasikan.

Rumus sederhana dari dua orang yang menikah adalah cinta. Ingin muntah? Haha. Meskipun ini klise tetapi tetap kusampaikan karena ini membahas sesuatu yang serius. Bagi kalian yang sudah pernah mencintai orang lain, maka kebahagiaan orang lain itulah bahagiamu. Sama dengan, jika seorang anak sukses, yang paling bahagia bukan anak itu, tapi orang tuanya. Ketika saling cinta, maka kebahagiaan istri adalah bahagianya suami, dan kebahagiaan suami adalah bahagianya istri.

Bagi lelaki yang sudah berumah tangga 5 tahun, 10 tahun, dan seterusnya, memahami kondisi di atas tentu luas biasa berat. Atau bahkan saya akan ditertawakan. Karena selama ini, pernikahan yang sudah bertahun-tahun tidak lagi dibangun di atas pondasi cinta, tapi sudah terlanjur. Mereka berdua bertahan karena anak, karena keluarga besar, padahal sudah tidak ada lagi pembicaraan yang manis, tidak ada lagi gandeng tangan romantis.

Di keluarga kami, sentuhan, ucapan, dan perilaku sehari-hari sebisa mungkin ditunjukkan untuk mengungkapkan cinta. Tanpa ada acara tertentu, kami biasa berpelukan atau mengucapkan kata cinta yang manis ke telinga masing-masing. Perlu dicatat, lelaki biasanya tidak peka terhadap kondisi ini. Bagi lelaki, mengucap cinta ke istri itu menggelikan, bahkan cenderung menjijikkan. Padahal ini adalah pondasi yang kuat untuk meletakkan rasa bahagia di rumah.

Istri pernah mengucapkan kalimat yang bersungguh-sungguh dari hatinya. Bahwa pencapaian terbesarnya selama hidup, adalah menikah denganku. Lucu tapi ia serius mengucapkannya. Entah dengan alasan apapun, ucapan itu akan membekas di hatiku. Karena laki-laki suka dihargai menjadi pahlawan terbaik;semacam itu. Termasuk perlu ditulis adalah istri tidak pernah menuntut di luar batas kemampuan suami, ini yang keren dan tiada duanya.

Pernah suatu kali aku sakit selama satu minggu. Ia berangkat sendiri mengurus perpanjangan SIM di Polres Batu padahal dia baru dua bulan di sini. Dia tidak hafal tempat dan hanya mengandalkan google maps hingga tersesat. Membayangkan betapa mandirinya dia, sebagai lelaki, tentu aku terharu. Karena itu sebisa mungkin, akhirnya, aku harus selalu mengantarnya. Bahkan untuk perbuatan sepele seperti beli sayur dan lauk di setiap pagi.

Pun aku akhirnya harus mengimbangi dengan menjadi lelaki yang tangguh dan harapan terbaik bagi sang istri. Hampir jarang aku melarang atau menolak ketika istri mau belanja, betapapun belanjaannya nggak penting. Aku selalu bilang iya. Di hari-hari tertentu, secara acak, aku membelikan bunga mawar kesukaannya, sesekali coklat silverqueen meski mahal. Kutaruh bunga mawar di meja, kadang di atas bantal, sepulangku kerja. Begitu dia tahu ada bunga, dia akan berteriak, otomatis peluk, dan mengucapkan terimakasih.

Beberapa kali aku rela bolos kerja demi menyempatkan waktu untuk membawa istri keluar rumah. Kami makan di luar, sepeda motoran keliling kota, berakhir di taman dengan foto-foto untuk di upload ketika liburan. Istriku juga terus mempelajari masak-masakan yang enak. Salah satu hal yang menyenangkan adalah menemaninya masak, dia pegang wajan dan panci, aku memegang Gie.

Hubungan semacam ini tentu saja manis dan patut untuk dilanggengkan. Sayangnya, banyak sekali rumah tangga yang pupus di tengah jalan akhir-akhir ini. Sering aku mendengar lelaki yang sepulang kerja langsung sibuk dengan gadgetnya, menyapa anak ala kadarnya, dan langsung tidur. Banyak juga lelaki yang gengsi untuk menyapu rumah, mencuci piring kotor, atau berterimakasih kepada istri karena telah menjadi ibu rumah tangga yg luar biasa.

Aku dan istri memiliki banyak sekali perbedaan. Bisa dikatakan, persamaan kami hanya ada di satu atau dua hal saja. Misalnya kami sama-sama suka mie ayam. Selain itu semuanya berbeda. Tapi perbedaan ini tidak terlalu kami persoalkan karena tidak prinsipil. Kami banyak mengeksplorasi hal-hal yang mainstream, seperti jalan-jalan, makan-makan, dan menghabiskan waktu bercengkerama di beranda kontrakan.

Hidup sekali kuupayakan untuk tidak menyesal dari setiap pilihan hidup.
Mungkin istri pernah ragu menikah denganku dan akupun suatu waktu di masa lalu berharap lebih dari istriku. Tetapi itu tidak ada gunanya. Kami bahagia dengan pasangan pilihan tuhan, dengan cara yang kami upayakan dengan sungguh-sungguh. Setiap hari kami berbalas cinta dan tak satupun kondisi itu membosankan. Bahagia adalah pilihan berdua, bukan upaya dari satu orang.

2018-11-02

Spiderman


Beberapa hari ini leher kananku terasa gatal. Aku tidak pernah melihatnya di cermin atau mencoba mencari tahu mengapa. Karena aku membayangkan bahwa besok pagi ketika bangun tidur, tanganku bisa lengket ke dinding, lalu tiba-tiba aku merayap di atap rumah. Aku menjadi spiderman.

Tapi jika memang aku memiliki kekuatan super, aku akan ikhlas menerimanya. Tentu saja, menjadi kuat dan keren, bisa melakukan apa yang tidak bisa manusia biasa lakukan; its cool. Berbeda dengan manusia kebanyakan adalah berkah yang kini digunakan motivator untuk kliennya.

Kita semua orang biasa, yang kadang ego membuat kita sok menjadi orang luar biasa padahal palsu. Kita rata-rata akrab dengan seorang lelaki biasa, memiliki istri biasa, anak lima, 2 nakal, 1 pasif, 1 penurut, 1 paling bisa diandalkan. Atau kalian adalah mahasiswa biasa yang berdebar-debar ketika pembayaran semester akan dimulai.

Maka ketika lelaki biasa, mahasiswa biasa, tukang bangunan yang membenahi kusen jendela, atau dia anggota dewan yang rajin ikut rapat tapi minim berpendapat: memiliki kekuatan super bisa menembus tembok, bisa sekuat hulk dan kapten marvell, alangkah bahagia orang biasa tersebut. Bahagia yang paling kecil misalnya bangga dengan diri sendiri, itu juga cukup bagus.

Kekuatan super yang aku kepengen ini bukan dengan rencana menjadi pahlawan. Superhero Spiderman yang terkenal dengan ungkapan 'dibalik kekuatan yang hebat ada tanggungjawab yang besar' memang inspiratif tapi juga lebai. Jijik jijik gimana begitu. Jika aku bisa terbang belum tentu aku juga pengen menyelamatkan pesawat yang mau jatuh gara-gara sistem penerbangan Indonesia yang amburadul.

Kalau gatal di leher kananku ini benar-benar dari laba-laba yang bisa menjadikanku Spiderman, tidak akan menjadi masalah bagi siapapun. Tidak ada yang dirugikan. Keuntunganku hanya bisa merayap tembok. Tapi merayapi tembok tidak bisa digunakan untuk menghasilkan uang banyak karena aku pengajar, bukan tukang sirkus yang dibayar karena melakukan pekerjaan yang lucu atau tipuan canggih.

Tidak akan ada yang berubah dariku, kecuali mungkin agak sombong sedikit karena merayap di tembok adalah sesuatu yang tak lazim. Jika kalian membayangkan menjadi spiderman kemudian bisa loncat indah dari gedung ke gedung menggunakan jaring laba-laba, maka bersiaplah kecewa. Karena di kota ini, atau bahkan Jakarta, tidak ada gedung yang bersisian kanan-kiri jalan sehingga loncatan tampak memukau.

Dengan kondisi ini maka Spiderman jelas dapat dikalahkan oleh Doflamingo, antagonis di anime One Piece yang memiliki kekuatan benang. Benangnya bisa ditarik atau digantungkan di awan sehingga bisa loncat kemanapun asal ada awan. Karena itu, sia-sia juga kekuatan spiderman jika tidak ada gedung-gedung seperti yang ditampilkan Hollywood.

Dan jika memang aku spiderman lalu daftar caleg, mungkin agak repot. Karena di Indonesia, spiderman akan kalah dengan politisi. Bahkan jika Spiderman membantu menumpas kejahatan, semisal korupsi atau menggarong tanah orang untuk korporasi, Spiderman akan kalah dengan tentara. Karena Spiderman tentu saja bisa dituntut secara hukum. Jika tidak percaya, sebaiknya kita tonton superhero beberapa waktu terakhir yang  Spiderman asli yang dihujat media massa, atau Batman dan Superman yang disuruh mundur jadi pahlawan.

Karena itu, aku tidak banyak berharap jika gen laba-laba kemudian menjadikanku punya kekuatan super, yang kemudian bisa digunakan untuk memberantas kejahatan. Sungguh Indonesia lebih dikuasai pemodal yang menanamkan uangnya ke seluruh capres siapapun itu, sehingga superhero juga akhirnya kalah.

Lagipula, bagaimana mungkin spiderman yang pahlawan, baik hati, berbudi pekerti luhur, akan bentrok dengan aparat keamanan? Tidak bisa.

Jadi siap-siap putus asa jika menjadi superhero di Indonesia. Karena melawan gelombang oligarki yang sudah mencengkeram Indonesia butuh atta ashiap dan ria ricis untuk membuatnya jadi lucu. Undang-undang bisa dibuat sesuai pesanan, penjara bisa dibeli fasilitasnya, termasuk hukum yang bisa dibeli, menjadikan superhero pun akan terkejoet dengan sistem tata kelola kenegaraan Indonesia.

2018-01-01

Menjalani Hidup


Hujan terus turun sejak Subuh tadi. Aku tetap harus melakukan perjalanan Surabaya – Batu agaar bisa melampui kesendirianku di tempat yang teduh, dingin, dan hening. Biasanya aku mendengarkan lagu-lagu silampukau, bossanova jawa, payung teduh, dan lagu-lagu inggris yang tak kupahami liriknya sepanjang jalan. Tetapi saat ini, suara hujan di perjalanan selalu membuatku takjub, sehingga earphone hanya berakhir menjadi kalung leher. Hujan deras itu, mendebarkan jantungku sendiri, memperkirakan kehidupan beberapa minggu ke depan.

Aku terlahir dengan menanggung beban berat. Masa kanak-kanak hingga remajaku bukanlah hidup yang menyenangkan jika dihubungkan dengan kepemilikan terhadap benda material. Aku selalu menjadi anak terakhir yang memiliki kesenangan duniawi. Lalu beranjak menjadi pemuda, aku sudah bisa membuat seluruh keinginanku terwujud –dan membuat banyak orang bahagia. Jika masa remaja tidak ada suatu hal yang bisa kupilih, semasa muda aku bisa memilih apapun semauku. Lalu, titik nadir kembali hadir. Saat ini.

Sejak kepulanganku dari Papua, finansial tidak menjadi persoalan sama sekali. Aku sangat yakin, sebelum uang itu habis kubelanjakan, aku akan punya topangan penghasilan dari jalan lain. Namun ternyata semua rencana tidak selalu berhasil, bukan? aku menghabiskan hampir puluhan juta demi sebuah kepercayaan kepada orang-orang. Dan mereka seakan tidak punya daya untuk membuahkan apapun terhadap apa yang kutanam. Kita sama terdesak oleh nasib: aku terdesak karena sesuatu hal yang kuanggap baik, dan mereka terdesak sebab kemalasan.

Sekarang ini keuanganku benar-benar menipis. Semua nominal perlahan kehilangan angkanya, dan aku hanya bisa memandang getir akan masa depan. Aku tahu bahwa ini bukan pertama kalinya, tetapi saat ini adalah masa-masa yangs sulit. Sehingga aku seharusnya tidak kehilangan kedigdayaan akan uang sebelum semuanya menjadi baik. Kakakku sedang memulai berdiri di penghasilannya sendiri dan sekarang belum menampakkan hasil sama sekali. Adikku terlihat sempoyongan mencari pekerjaan, sementara orang tua sejak zaman kelahiranku tetap tidak berdaya.

Bahkan aku harus menjauh, kehilangan kuasa untuk menemui mereka guna membuatnya tertawa. Sedangkan aku sendiri merasa tidak tahu apa yang harus kulakukan. Malam ini, aku hanya ingin menulis keresahan dan kesedihan yang mendalam. Karena aku adalah satu-satunya anggota keluarga yang diharapkan. Yang mampu menyelesaikan seluruh persoalannya sendiri sejak dulu, yang tidak cacat, yang cerdas, yang rajin, yang selalu juara pertama, dan tentunya laki-laki. Bahkan menelpon orang tua saja rasanya kata tercekat. Uang menjadi suatu yang amat penting dalam sejarah keluargaku. Aku tidak pernah munafik tentang hal ini. Dan jika aku yang menjadi satu-satunya pengharapan ini tidak bisa menghasilkan uang, maka aku tidak berguna.

Belum lagi, persoalan perempuan juga mengundang keresahan tersendiri. Aku musti berhati-hati menyampaikan segala sesuatu kepada gadis yang kuberjanji akan kunikahi. Tetapi kondisi seperti ini tidak mudah, dan lebih tidak mudah lagi membuat dia mengerti. Sepertinya, satu-satunya keinginan gadis masa sekarang adalah menikah, terbebas dari kungkungan orang tua, terbebas dari finansial, menimang anak, dan mendapatan cinta yang sempurna sepanjang hayat. Beberapa kali ia menampakkan kedewasaan yang menyenangkan, lalu tertimbun lagi dalam pembicaraan pernikahan yang tidak ada habisnya.

Jika bisa, aku akan meninggalkan semua itu, menganggapnya sebagai sesuatu yang membebaniku. Pergi dan membebaskan diriku dari tanggung jawab ini. Persis seperti ketika selesai kuliah, lalu mulai perjalanan antar pulau di seantero Indonesia. Toh aku tidak salah –menurutku. Tapi aku tidak bisa begitu bukan? Sebagai seorang hero, aku harus bertahan dan mengupayakan berbagai cara agar penghasilanku bisa menolong mereka. Tapi seperti manusia lainnya yang mengalami hal yang sama, kita tidak bisa memerintahkan dunia untuk menolong kita begitu saja. Aku dikoyak keadaan,dikoyak orang-orang yang menggantungkan hidupnya padaku.

Tetapi aku sudah cukup lama memikirkan dan menjalani hidup yang brengsek ini. Pernah mempercayai kekuatan alam bawah sadar dan semangat membara untuk bahagia, lalu terjatuh dalam lubang apatisme yang bergolak. Semua yang kita dapat adalah semua yang kita usahakan, tetapi ada kalanya apa yang kita tidak usahakan tidak sesuai dengan apa yang kita dapat. Atau kita mendapatkan sesuatu dari hal yang tidak kita usahakan. Dunia seperti berjalan acak, kita tidak bisa memperkirakan segala sesuatu seperti yang kita yakini, seperti yang kita kerjakan, atau bahkan seperti yang kita omongkan.

Aku kira keuanganku tidak akan cukup untuk dipakai hingga bulan depan. Dalam kondisi yang genting seperti ini, kuhubungi beberapa kontak yang bisa menempatkan aku dalam suatu kampus. Tetapi belum satu pun kabar menggembirakan yang kudengar. Keinginanku setelah menyelesaikan kuliah pasca sarjana adalah menjadi dosen dalam mata kuliah yang aku dalami. Tetapi lowongan dosen sudah menjadi pekerjaan nepotisme yang merepotkan, lagi pula lowongan dosen ilmu komunikasi masih sulit dicari –apalagi untuk lulusan kampus swasta kecil yang tidak menjadi pertimbangan kampus besar.

Persoalan seperti ini tidak biasanya aku bicarakan kepada siapapun. Bahkan aku tidak punya teman untuk menerima curhatan mengerikan seperti ini. Kebanyakan kawanku mengalami nasib yang lebih buruk, dan menjadikanku sebagai role model yang harus dicontoh. Jika pun aku bercerita kepada perempuanku, aku tidak yakin apa yang akan ia sarankan. Kehidupannya masih terlalu lugu untuk melihat kehidupan yang tak terkontrol ini. Lagi pula benar bahwa aku tidak perlu menceritakan hal-hal seperti ini kepada siapapun.

Jadi aku hanya akan berusaha, melihat segala jenis peluang dan menata semuanya dari awal. Aku percaya pada tuhan. Tuhan pernah menempatkanku dalam kondisi perekonomian terbaik sehingga banyak hal baik yang kurasa kulakukan. Dan dalam kondisi terjepit sekalipun, aku merasa tidak melakukan perbuatan jahat bagaimanapun juga. Maka tuhan akan menolongku. Tuhan akan menolongku, dengan segala cara yang aku tidak tahu.

Aku menulis ini pada November 2016 sebagai suatu catatan tentang ketidakberdayaanku sebagai manusia. Banyak hal yang tidak menguntungkan, banyak hal yang sekarang lebih baik -sematamata menunjukkan bahwa kita semua sama.

2017-11-29

Aku Menikah


Bagiku, menikah adalah hal yang biasa. Sehingga kumaklumi keputusanku yang enggan menyebar undangan, bahkan untuk orang yang paling dekat denganku sekalipun. Banyak orang yang akhirnya bertanya-tanya, curiga, penasaran, dan beberapa dari teman dekat ini marah lalu enggan menyapaku lagi. Tampaknya, diantara teman-teman menganggap bahwa undangan adalah sebentuk pengakuan pertemanan sehingga tidak adanya undangan dianggap sebagai pemutusan hubungan silaturahim. Aku menghargai keyakinan-keyakinan macam itu, meskipun aku tidak ingin mengakuinya.

Sejak remaja aku memahami bahwa suatu saat aku akan menikah, dan aku juga memahami bahwa aku pernah dilahirkan, suatu saat akan beranak pinak, menjadi tua, lalu mati dan hilang tak berbekas. Aku akan menjadi debu, beberapa masih mengingatku dan banyak manusia yang lupa bahwa aku pernah ada. Hal itu sama dengan menikah. Minggu lalu aku telah menikah, lalu sekarang beranda Facebookku telah berganti dengan puisi lain dan atau foto narsis yang menggemaskan. Minggu depan, tidak ada lagi yang mengingat pernikahan ini kecuali aku, istriku, dan orang tua kami.

Dengan pemahaman ini maka mana mungkin aku akan berlebih-lebihan di persoalan menikah. Segala yang berlebihan tampaknya terjadi pada orang di sekelilingku. Teman satu kompleks kos, misalnya, berteriak karena aku tidak pernah berkunjung dan menghabiskan waktu hingga tengah malam untuk ngopi bersama mereka. Teman satu kerjaku, menduga bahwa aku pulang lebih cepat dan tidak mampu menyelesaikan tugas tepat waktu. Teman yang biasanya ngopi dan diskusi, juga tiba-tiba bilang bahwa : aku sudah menikah jadi tidak mau ngopi denganku lagi.

Memang banyak yang harus berubah dari cara hidupku –karena hidupku sekarang bukan hanya milikku sendiri. Ngopi dengan siapapun sampai tengah malam tidak akan kulakukan semena-mena. Ngopi sampai berjam-jam harus memiliki alasan yang masuk akal sehingga tidak melukai anak orang yang telah kupinang. Tetapi aku masih tetap ngopi, tidak ada yang berubah dari itu. Dalam hal pekerjaan pun demikian. Tugas tetap kuselesaikan lebih baik dari siapapun. Karena itu, harusnya tidak ada yang menilai bahwa menikah tidak membuat kita menjadi pemalas dan banyak alasan.

Dalam hal pertemanan juga demikian, tidak ada yang berubah. Kebanyakan kawan perempuan, baik yang belum atau yang sudah menikah, langsung menjaga jarak denganku secara drastis. Bahkan diantara mereka mungkin memblokirku. Aku paham dan mencoba untuk menalar kondisi ini. Saya bersyukur bahwa ada beberapa kawan perempuan yang antusias dan ingin berkenalan dengan istri. Kami berkirim doa dan saling menjaga hubungan dengan baik. Kondisi-kondisi ini lebih banyak membuat perenungan di pikiranku, bahwa perbuatan kita bisa menjadi penggerak perubahan sedemikian besar bagi orang lain.

Jadi kutegaskan berulang-ulang, tidak ada yang berubah dariku, hanya lingkunganku berubah. Mereka lebih protektif dan bersikap keterlaluan padaku. Tentunya, ini adalah konstruksi yang terjadi di masyarakat selama ini tentang pernikahan. Pernikahan selalu diidentikkan dengan perubahan drastis, yang awalnya kurus, lalu menjadi gemuk karena ada yang masakin. Yang awalnya tidak rapi, dianggap lebih rapi karena ada yang menyetrikakan. Yang awalnya bekerja biasa saja, karena sudah menikah maka dianggap selalu mengejar proyekkan sehingga bisa dibuat menyenangkan istri. Perkara kecapekan saja, disuruh mencari istri agar ada yang mijitin.

Menikah sering dianggap sebagai solusi untuk segala persoalan, sekaligus masalah pelik untuk kesuksesan pekerjaan. Dua remaja tanggung yang pacaran, disuruh menikah agar terhindar dari zina. Apakah yakin bahwa setelah menikah mereka akan bahagia lalu menjadi keluarga sakinah (tenang) di usia labil? Pemuda yang rajin masak dan cuci baju sendiri, disuruh beristri agar ada yang masakin dan nyuciiin. Perempuan yang mandiri, diberi solusi segera bersuami agar tidak terlalu lelah. Banyak pula orang yang pekerjaannya ngawur, lalu beralasan : kalau saya kan sudah menikah, banyak yang dipikirkan di rumah. Nah kamu mumpung masih jomblo, harus rajin bekerja di kantor. Nah kan, aku yakin orang semacam ini tidak paham dengan ucapannya sendiri.

Menikah bukan solusi segala masalah. Kata temanku yang seniman : menikah itu mencari masalah baru. Ada yang harus dipahami bahwa menikah itu perintah agama. Maka paling tidak, menikah itu menuju pada tiga hal : sakinah, mawaddah, warahmah. Tetapi jangan dianggap bahwa setiap pernikahan bisa mengarah pada hal-hal macam itu. Secara obyektif, kita harus melihat menikah itu satu tindakan yang memiliki potensi kesuksesan dan kesedihan yang seimbang. Kebahagiaan bisa diwujudkan dengan atau tanpa pernikahan, begitupula kegagalan. Maka dari itu, orang yang menikah itu sama dengan orang bersekolah; banyak yang menjadi pandai, tapi lebih banyak yang tidak mendapat manfaat.

Maka nikahku adalah suatu keniscayaan, demikian pula dengan pernikahan orang lain, seniscaya kematian kita semua. Aku tetap akan bekerja dengan baik, menjalin pertemanan dengan penuh cinta, dan menciptakan kebahagiaan sendiri atas pilihan kemenikahanku di usia ini. Selamat untuk diriku sendiri yang telah memilih jalan riuh pernikahan.

2017-04-27

Her


Sesuatu yang berhubungan dengan orang lain mengharuskan kita menunggu. Karena kita tidak bisa menjamin kebahagiaan orang lain jika tidak benar-benar mempersiapkannya. Demikianlah, setelah merencanakannya sepanjang hidup, akhirnya ibuku menyematkan cincin ajaib ke tangan gadis cantik itu. Gadis yang sabar menunggu –bahkan terus mendukung dan tidak mengganggu dengan urusan-urusan yang tidak penting bagi kebanyakan lelaki.

Ia adalah sosok yang kuingin selalu dekat. Tipe perempuan yang kudambakan sejak kumengenal dengan serius beberapa perempuan sepanjang perjalanan. Sudah sering kunyatakan pada diriku sendiri, bahwa perempuan terbaik adalah yang tidak mudah marah dengan senyuman manis setiap bertemu. Mungkin karena kekuatan pikiran atau kebetulan atau kuasa tuhan, kami dipertemukan dengan cara yang tidak dapat kupercaya. 

Jika banyak kawan yang bingung merawat perempuannya yang cemberut dan ngambek karena tidak memberi kabar, maka gadisku ini penuh kesabaran. Atau lebih tepat, dia mencoba lebih sabar demi kebahagiaan. Kami memiliki kesepakatan-kesepakatan dalam menjalin hubungan. Masing-masing kita menahan diri dari sesuatu yang membuat kita ribut. Maka aku suka dengan motto kami berdua: jika dengan saling mencintai bisa membuat bahagia, kenapa harus mempersoalkan sesuatu yang membuat kita bertengkar?

Hari itu, dia mengenakan pakaian abu-abu putih dengan motif bunga. Jilbabnya anggun, senyumnya merekah, dan pancaran kebahagiaan membuatnya bertambah cantik. Aku sendiri, bersama keluarga, setengah kikuk karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tetapi semua berjalan seperti yang direncanakan. Basa-basi orang tua juga menemui kesepakatan yang telah ada dibenak kami berdua. Aku tidak berhenti tersenyum ketika gadis itu mencium tangan emakku, lalu mereka foto berdua, dan saling berpelukan. Betapa lama menanti hal ini.

Aku selalu merasa belum lama dipertemukan dengannya. Tetapi ia merasa sudah dua atau tiga tahun menjalin hubungan. Karena sebetulnya, kami sama-sama tidak ingat bagaimana awal pembicaraan yang mengarah pada hubungan yang lebih serius. Aku mengingkari sejarah, sedangkan ia merawatnya baik-baik. Bagiku hal itu penting, namun aku tidak tau cara mengungkapkannya sebagai sesuatu yang penting. Sehingga aku akan merawat kenangan dengan cara-cara lelaki: sejenak melupakan, sejenak ingat, tetapi selalu menghargainya.

Kami tidak pernah terlibat pertengkaran sejak pertama bertemu. Kami selalu berkomunikasi: ia bicara dan aku mendengar dengan baik apa yang menjadi persoalan. Kami mengatasinya dengan sebuah kesadaran bahwa kebahagiaan yang dituju janganlah direcoki dengan kisah-kisah pertengkaran yang tidak perlu. Tetapi sampai sejauh ini, dialah yang banyak berkorban perasaan karenaku. Karena tidak pernah ngambek atau marah-marah adalah prestasi puncak dari kedewasaan perempuan.


Lebih menyenangkan lagi adalah ia sosok humoris yang bahkan aku terkadang tidak mampu mengimbanginya. Aku tentulah sosok yang romantis dalam menjaga hubungan seperti ini. Dalam beberapa hal, dia harus mengakui bahwa hatinya telah kubuai sedemikian rupa sehingga ia merasa akulah pilihan terbaiknya. Dan memang, aku berusaha untuk menjadi lelaki terbaik yang pernah ia temui. Karena itu, banyak hal yang membuatku yakin akan keberhasilan hubungan ini. Langkah selangkah, kami akan membuat cerita yang lebih lengkap tentang menjaga hati dan perasaan demi mewujudkan kebahagiaan.

Saat ini ia sudah resign dari tempatnya bekerja. Ini adalah bentuk keseriusan dari tindakannya atas rencana-rencana yang sudah kita tetapkan bersama. Sekarang jalan ke depan mulai terbuka lebar meskipun masih berkabut. Kami akan menyeberanginya sembari berdoa kepada tuhan untuk menunjukkan yang paling baik: tanpa ujian-ujian dan beban. Kami paham beban pastilah selalu bertengger di pundak, tetapi tidak ada yang salah dalam doa. Karena kami berdoa untuk kebaikan.

Kami akan hidup di suatu daerah yang nyaman, saling bekerja dan memberi semangat, serta menjalani rutinitas secara tidak menjemukan. Beberapa pekerjaan ringan sudah kami catat dengan sederhana. Barangkali, kebahagiaan itu bisa berlanjut hari demi hari. Kami orangnya mudah bahagia, mudah bersyukur, dan mudah mencari kebaikan dari sisi-sisi kehidupan. Jadi tentulah kami mudah tertawa dan menertawakan apa yang berkelebat di sekitaran. Aku akan mengenalkannya gunung, dan dia mengenalkanku pantai.

Banyak hal yang ingin aku tuliskan –karena ia adalah sumber yang tak habis. Rencana-rencana masih panjang sehingga berlembar huruf masih siap didedah. Tapi lebih baik aku pungkasi saja saat ini, karena aku ingin mengucapkan terimakasih atas setiap menit yang kita habiskan dalam pesan-pesan singkat sepanjang nyala hape. Terimakasih atas pagi dan malam yang hadir bersama sapamu. Kekhawatiran, kegelisahan, kejengkelan, kecemburuan, ingin, harap, dan kecemasanmu: adalah tanda cinta yang akan terus kuingat dan tak akan kulepaskan.

2016-12-28

Catatan Menjadi Wartawan


semasa jadi wartawan yang alhamdulillah allahuakbar

Pekerjaan yang paling mengesankan adalah menjadi wartawan. Bagi sebagian besar orang, menjadi wartawan adalah pekerjaan idaman. Atau bagi sebagian besar mahasiswa lulusan Ilmu Komunikasi, menjadi seorang wartawan adalah impian sejak ikut pers kampus. Tidak jarang pekerjaan wartawan diidentikkan dengan pekerjaan yang mulia, semacam penyambung lidah rakyat –bagi Sukarno. Wartawan juga identik dengan sekelompok orang yang maha tahu. Karena itu jangan heran jika banyak orang menghormati kenalannya yang berprofesi sebagai wartawan.

Meskipun profesi ini dicintai, namun banyak juga yang membenci. Banyak orang yang ‘tampaknya saja’ menghormati orang yang berprofesi sebagai wartawan. Namun di balik itu, mereka mengolok-olok bahkan terkesan mencemooh wartawan. Sebabnya bisa jadi macam-macam, misalnya sekarang banyak berita hoax atau media yang meliput hanya mengandalkan angle yang menarik –bukan angle yang dibutuhkan masyarakat. Bisa juga karena perilaku wartawan yang dianggap sewenang-wenang, atau banyak wartawan bodrek yang memberlakukan tarif pada narasumbernya.

Terlepas dari dicintai atau dibenci, enakkah menjadi wartawan itu? Pertanyaan ‘enak atau tidak enak’ kebanyakan akan mendapatkan jawaban subyektif. Beruntungnya adalah saya pernah menjadi wartawan sehingga subyektifitas ini layak dipercaya. Dari pada menjawab dengan singkat, persoalan enak dan tidak enak ini lebih baik saya jabarkan di bawah :

Pertama, sibuk. Menjadi seorang wartawan selalu memiliki kesibukan yang teramat sangat. Ketika ada bencana alam, seorang wartawan tidak akan bisa istirahat dan ia malah mendatangi lokasi bencana. Ketika ada bom di sebuah pusat perbelanjaan, maka orang-orang akan berlarian menjauhi bom. Wartawan malah sebaliknya, ia datang, kalau bisa masuk ke dalam dan melihat rupa bomnya seperti apa, apakah hijau kekuningan, berapa jumlah kabel yang berjuntai, tidak lupa juga mengabadikannya.

Ketika tanggal merah berderet, orang-orang bisa terlena. Sedangkan bagi wartawan, tanggal merah berderet itu seperti dencit kereta api: waktunya berangkat menembus kabut. Ingat, jika tanggal merah maka orang pasti ramai memperingati sesuatu, bisa maulid Nabi, Natal, atau Waisak. Dan dalam acara-acara seperti itu, wartawan tidak bisa tidur tenang di rumah. Ia harus di sana, berjibaku dengan polisi yang mengatur kemacetan, atau membayangi kyai yang berkhutbah berapi-api.

Kedua, tidak punya waktu. Wartawan tentunya memiliki waktu 25 jam dibanding manusia normal pada umumnya. Namun wartawan sebenarnya tidak punya waktu untuk melakukan segala sesuatu. Terasa aneh dan janggal karena meskipun berjaga sepanjang waktu, seorang wartawan merasa telah melewatkan begitu banyak hal. Bagi orang yang tidak pernah menjadi wartawan, profesi ini diibaratkan profesi hantu. Pagi ia menyelinap di pasar, siang bertamu pemilik pabrik, sore meliput karnaval budaya, dan malamnya masih harus mengikuti polisi mengejar maling ayam.

Wartawan punya waktu 25 jam sehari untuk berita, tetapi ia tak pernah punya waktu untuk selain itu. Karenanya jangan heran kalau janjian personal dengan wartawan –bukan urusan berita- maka dipastikan terlambat, atau minimal berubah jam pertemuan. Karena bagi wartawan, bertemu dengan narasumber harus didahulukan dari pada bertemu dengan orang lain. Jika punya saudara atau teman wartawan, mereka sering kali tidak mendatangi undangan nikah, tidak ikut coblosan di kampung sendiri, jarang punya pacar yang bertahan hingga tiga bulan, bahkan tidak mendatangi upacara kematian tetangga rumah –kecuali tetangga rumah mati terkena malaria, atau tanggal kematiannya sama dengan tanggal lahir dan tanggal pernikahannya.

Ketiga, hidup untuk publik. Sudah lama diketahui bahwa fungsi pers adalah memberikan informasi kepada masyarakat luas. Di atas juga sudah disinggung bahwa wartawan hanya memiliki waktu untuk mengejar berita, dan berita adalah untuk publik. Karena itu bisa dikatakan, wartawan hidup untuk publik. Ia bisa jadi lupa kapan ulang tahun istrinya, tapi ia ingat dan diingatkan kapan istri Kapolres ulang tahun. Bukan karena istri Kapolres biasanya lebih cantik, tetapi ulang tahun istri Kapolres selalu dirayakan sehingga bernilai berita.

Bagi wartawan, publik adalah nomor satu. Meskipun tidak secara langsung berhadapan dengan publik, namun wartawan adalah kunci dari berita yang tersebar. Tanpa wartawan mustahil ada berita yang mampir di meja redaksi. Karena itu, apapun yang diketahui masyarakat tentang dunia luar, biasanya berasal dari kerja kewartawanan. Jika masyarakat merasa terbantu dengan berita itu, maka popularitas media yang bersangkutan akan naik –imbasnya adalah pujian kepada wartawan juga mengalir.

Konteks kerja untuk publik juga harus mengalir ke dalam nadi seorang wartawan. Ia tidak boleh dikekang oleh kantor redaksi, manajemen keuangan perusahaan, atau pun dikekang oleh pihak eksternal yang mencoba untuk menutupi informasi yang bernilai berita. Meksi demikian, seorang wartawan juga tidak boleh lebai, informasi ditutup sedikit saja oleh oknum aparat, langsung heboh dengan membuat pernyataan, aksi, atau melaporkan ke asosiasi jurnalisnya. Padahal dalam kerja investigative reporting, main kucing-kucingan dengan narasumber adalah hal biasa.

Jika wartawan sudah niat bekerja untuk publik, maka apapun yang ia lakukan di lapangan adalah demi rakyat. Ia bekerja demi kebenaran. Seorang wartawan akan rela bergelimang lumpur di sawah demi menguak kasus penjualan manusia, atau seorang wartawan demi berlarian di medan perang untuk meliput kejahatan yang dilakukan oleh negara kepada rakyatnya. Karena itu, jika sudah menyematkan diri menjadi pekerja publik, maka seorang wartawan tidak diperbolehkan manja lagi.

semasa jadi wartawan yang aduhai syalalalala
Keempat, tuntutan selalu tahu. Tidak jarang dalam diskusi umum, salah seorang akan berkata “ayo mas wartawan, menurut sampean gimana? Kan wartawan harusnya tahu persoalan seperti ini”. Ini jenis anggapan dan pertanyaan yang ngeri-ngeri sedap. Karena tidak semua wartawan tahu segala hal. Seorang wartawan hanya tahu apa yang ia pernah dengar atau apa yang pernah ia liput. Seorang wartawan yang pindah tempat liputan, dari kriminal ke pemerintahan, sudah jelas terlihat culunnya. Wartawan pemerintahan mana tahu bedanya pasal 351 dan 352, wartawan olahraga tidak akan ngeh dengan KUAPPAS dan PAK APBD, begitu pun wartawan kriminal tidak akan faham kenapa PSSI sampai sekarang memusingkan.

Karena itu, penyematan kategori ‘wartawan serba tahu’ adalah sesuatu yang jahat. Tuntutan serba tahu dari masyarakat ini kadang memaksa wartawan bicara asal bunyi. Yang terjadi wartawan kehilangan kredibilitasnya. Sehingga wartawan sebagai penulis berita yang mendidik, juga harus memberikan pemahaman kepada warga bahwa tidak semua wartawan tau kasus korupsi yang dilakukan kepala desa. Namun tuntutan masyarakat ini bisa diminimalisir dengan memperbanyak membaca berita temannya sendiri. Wartawan jangan malas membaca berita. Meskipun wartawan olahraga, ia harus tetap membaca berita kriminal dan budaya.

Tuntutan serba tahu yang paling sadis biasanya datang dari redaksi sendiri. Tidak jarang seorang editor, redaktur, dan pimpinan redaksi, memarahi  seorang wartawan karena ketinggalan berita dari media tetangga. Hal ini sering menjadi beban wartawan dalam pekerjaannya. Karenanya wartawan sering bekerja sama saat di lapangan. Mereka mengelompok, membuat grup, ngopi bareng, bahkan saling tukar berita demi tidak dimarahi redaktur di kantor. Padahal ketika rapat redaksi, selalu ditekankan bahwa wartawan media tersebut bekerja sendiri dan haram hukumnya barter berita dengan media lain. Kata wartawan : kayak redaktur tidak pernah jadi wartawan aja!.

Keenam, punya uang berlebih. Enaknya menjadi wartawan adalah punya uang yang lebih banyak dibandingkan dengan bekerja di tempat lain yang setara. Persoalan gaji, kita sering mengaku kurang –dimanapun tempat kerjanya. Karena saya pernah jadi wartawan, maka saya tahu dari mana saja sumber uang berasal. Misalnya, dari gaji pokok+tunjangan, dari penghasilan iklan, dan dari santunan narasumber. Untuk gaji dan uang persentase iklan, semua orang pasti sudah tahu. Misalnya jika wartawan berhasil mendapatkan iklan senilai Rp 50 juga, maka wartawan akan mendapatkan bagian, tergantung kesepakatan persentase dengan perusahaan persnya.

Khusus mengenai santunan narasumber ini biasanya ditutup-tutupi oleh wartawan. Kita juga tidak bisa menjustifikasi bahwa semua wartawan menerima amplop. Jadi lebih baik jangan menuding, dari pada wartawan marah dan akhirnya kita kena getahnya. Nilai dari santunan narasumber ini tidak sedikit, tapi juga tidak besar. Fungsinya pun bukan untuk menutupi suatu berita, tetapi lebih pada menjalin hubungan dan penghargaan narasumber atas kerja wartawan. Seringkali wartawan yang tidak diberi uang santunan ini ngomong; narasumber tidak menghargai kita sama sekali, saya tulis sedikit saja.

Mau membahas persoalan ini panjang-panjang kadang mengerikan juga. Karena banyak wartawan yang benar-benar tidak mau menerima apapun dari narasumbernya. Bahkan jika terpaksa menerima, uang itu akan dikirim ke kantornya untuk dikirim ke santunan anak yatim atau fakir miskin. Jadi kejadian ini tidak bisa digeneralisir. Percayalah hanya wartawan tertentu saja yang menerima uang dari narasumber, dan percayalah bahwa keuangan wartawan lebih banyak yang baik-baik saja dari pada yang kekurangan. 

Ketujuh, link bercabang. Jika kita sering ngobrol dengan orang lain, sering berdiskusi, apalagi sering menyenangkan hati orang, maka dengan sendirinya kita akan akrab. Keakraban semacam ini bisa mendatangkan manfaat berupa link jangka panjang yang serba guna. Misalnya memudahkan pengurusan proposal penggalangan dana Karang Taruna, memudahkan mengurus KTP dan SIM, hingga memudahkan keluarga wartawan untuk masuk ke tempat wisata gratis. Hal ini tidak dipungkiri, kadang dimanfaatkan oleh wartawan, dan banyak pula wartawan yang sering menolak fasilitas semacam ini.

Intinya adalah dengan link ini wartawan mendapatkan manfaat dan fasilitas. Sering kali kita harus menganggapnya sebagai fairness –karena orang-orang kadang suka menraktir wartawan agar nanti jika punya acara bisa diliput. Yang mengenaskan, wartawan diberi faslitas agar tidak menulis hal-hal yang buruk dari perusahaan multinasional atau personal. Kejadian ini juga banyak dialami profesi lainnya. Misalnya kita sering membawa rokok ke Kepala Desa agar ketika mengurus nikah sirri ketiga, tidak mendapatkan kesulitan. Jadi, selama masih di Indonesia, kejadian ini ‘dianggap’ sah-sah saja. 

Bekerja Serius

Itu adalah beberapa catatan indah dan tidak indah selama menjadi wartawan. Masih banyak hal yang bisa menjadi alasan kenapa kita tidak harus menjadi wartawan. Terutama adalah bagi kita yang sangat cinta sama keluarga, lebih baik tidak menjadi wartawan. Ketika saya sudah alih profesi sebagai pekerja kantoran, saya faham arti libur dan ketenangan batin. Karena saat menjadi wartawan, hape tidak pernah bisa di-silent, apalagi dimatikan. Hukumnya haram –menurut Pimred Malang Voice. Pun ketika ada bunyi WA, bbm, atau telepon dan sms, harus segera direspon seketika.

Perlu penggambaran memang, antara wartawan media serius dan tidak serius. Ketika wartawan bekerja di media yang serius, yang ingin bersaing dengan media lain, maka ia memberlakukan ketentuan kerja yang ketat. Wartawan tidak pernah bisa tenang bekerja di media yang seperti ini. Ia harus selalu memantau perkembangan, berfikir semalaman untuk berita besok yang spektakuler, memasang telinga di reserse kepolisian, hingga nongkrong sampai jam 02.00 demi wawancara dengan bencong yang berada di perbatasan Batu-Malang.

Wartawan jenis ini selalu tidak bisa tenang ketika mendengar dering hape. Rasanya di dada ada yang bergetar tidak mengenakkan. Sama seperti mahasiswa S1 semester 11 yang belum menyelesaikan skripsinya. Ketika ia ngopi santai di dermaga saksi bisu, kemudian ada temannya yang ngomong soal skripsi, dadanya langsung gemetar karena gentar. Serrr!. Nggak enak. Wartawan juga tidak punya jam pasti kapan ia harus liburan, kapan harus bekerja. Bahkan jika diberi libur pun, liburannya menjadi hal yang menggelisahkan karena setiap saat dihubungi narasumber.

Berbeda dengan wartawan yang bekerja di media tidak serius, ia bisa santai ngopi sampai pukul 12.00 siang tanpa khawatir tidak mendapat berita. Karena ia bisa mencontoh, kopi paste modifikasi, hingga mencuri berita wartawan lainnya. Wartawan model ini juga tidak dioyak-oyak (disuruh-suruh dengan keras) oleh kantornya. Kenapa? Karena kantor berita yang tidak serius tidak dapat menggaji wartawannya dengan pantas. Hukum jual beli berfungsi: tidak mampu memberi gaji tinggi, maka tidak mampu menyuruh pegawai untuk bekerja keras.