Skip to main content

Posts

Showing posts from 2015

Kesadaran

Orang-orang yang gelisah, bisa jadi adalah orang yang paling sadar dalam berkehidupan. Ia terus berfikir,terus menerus melihat ada yang tidak beres dalam dunia ini. Sementara yang lain sibuk dengan pekerjaan dan cintanya, orang yang sadar ini sibuk dengan memikirkan cara menyelamatkan dunia.
Ia menulis puisi, lalu berkelana. Ia membaca cerpen dan buku-buku sastra yang tinggi bahasa hingga merasakan dunia yang sesungguhnya merapat dalam sanubarinya. Orang-orang ini begitu yakin bahwa dunia bisa diubah menjadi lebih baik. Bersama beberapa orang lain yang memiliki hobi yang sama, ia merumuskan cara dan metode menyelamatkan dunia.
Lalu suatu ketika ia ditampar kenyataan. Menyelamatkan dunia adalah misi impossible yang berada di awang-awang. Semua orang yang sadar akan segera terbelalak karena dunia teramat bulat dan sukar dicari sudut-sudutnya. Kesadaran mula, yang dimiliki oleh mahasiswa dan pemuda bisa tiba-tiba menjadi kerdil saat ia keluar dari almamaternya. Dunia tampak congkak, dan…

Kenangan

Perasaanku menjadi sepi saat kukenangkan kembali masa perjalanan keliling ASEAN pada April lalu. Sungguh, aku tidak menanam apa-apa kepada teman-teman seperjalanan karena banyak hal yang memuakkan. Namun apalah daya, hati yang tiba-tiba menjadi melankolis saat kutatap satu saja foto perjalanan itu.
Aku seperti bunga kuning kecil yang bertaburan di Taman Lumpini. Sorot matahari sore yang kemuning di kejauhan menjadi cita-cita yang tak beraturan. Aku bertatapan dengan segala hal yang ambigu. Perasaan semacam ini, penting namun mengganggu, menggelisahkan namun nikmat, nyaman dan asyik tapi sakit.
Mataku mengerjap, dan semua perjalanan itu laksana mimpi. Saat aku harus menginap dengan orang yang baru saja kukenal beberapa hari ini dalam satu kamar besar. Berbagi kebahagiaan, berbagi kejengkelan, berbagi kedengkian, dan bebagi abon dan sambal terasi yang kami bawa dari Indonesia. Benar-benar sebuah kekosongan yang aneh.
Apakah hanya aku yang merasa seperti ini? Mungkin aku tipe orang yang…

Berpaling Nasib

Aku tidak harus meminta maaf kepada diriku sendiri karena tidak bisa lebih teguh dari yang aku duga. Meskipun kegoyahan itu kadang menyelamatkanku, atau lebih tepatnya : sepertinya menyelamatkanku. Karena saat kita menolak suatu rencana, kita akan berpaling pada rencana lainnya. Hanya karena kita menjalani salah satu rencana, lalu kita menjadi yakin bahwa rencana yang sedang kita jalani adalah yang terbaik; padahal siapa yang tahu?
Keresahan dan keteguhan ini berhubungan dengan sesuatu yang pelik; urusan pekerjaan. Menjadi membingungkan saat pemuda dengan kepercayaan diri yang kuat menjadi plinplan terkait sesuatu yang teramat penting ini. Dan aku, adalah pemuda itu. Sebulan yang lalu aku merasa yakin akan keluar dari media yang mengenalkanku Kota Batu, Malang Voice, lalu tiba-tiba hingga bulan sekarang aku tetap bekerja sepenuh waktu bersamanya.
Aku tidak terkejut sama sekali dengan keputusan ketidakpindahanku dari media ini. Sungguh. Karena sebetulnya aku dipenuhi keraguan; keragua…

Jodoh

Persoalan jodoh memang demikian peliknya. Ada banyak orang yang kebingungan, baik yang pada akhirnya masih optimis dengan tuhan, ataupun yang kemudian putus asa. Diriku sendiri mengalami hal-hal yang pelik tersebut. Namun perlahan semua menjadi jelas dan aku memiliki konsep-konsep sendiri tentang cinta –dan jodoh.
Lain saya, lain pula teman-teman saya. Misalnya si Kamboja, seorang yang baik, cerdas luar biasa, menjaga agama, meski dengan kecantikan nomor 6. Perjuangannya mendapatkan jodoh luar biasa. Ia berkali-kali didekati oleh temannya. Istilahnya, dialah sosok perempuan sesungguhnya. Tidak dicintai karena penampilan fisiknya, tapi lebih karena apa yang ada di dalam kepala dan dadanya. Karena itu, siapapun yang pernah dekatnya hanya akan menganga lalu tidak sadar sudah mencintai dirinya.
Saat sudah menjalin hubungan denganku begitu serius, tiba-tiba takdir memisahkan kita lalu ia menikah dengan sosok yang kukenal hanya dari cerita-ceritanya saja. Sosok yang tentunya –alhamdulillah…

Mengakhiri Kegelisahan

Beberapa kali aku temui pengamalan-pengalaman yang membentukku lebih baik. Pada perjalanan itu, aku merasa bahagia, merasa bangga, merasa beruntung, merasa tersayat, merasa sedih berkepanjangan, dan sebagainya. Namun banyak hal yang kita tidak tahu. Seringnya kita lebih merasa tertekan dan menjadi bulan-bulanan orang lain. Apakah semua ini normal? Ya tentu saja.
Pada perjalananku yang ke sekian ini, aku menjadi wartawan untuk yang kedua kali. Masa pertama adalah adalah menjadi wartawan cetak di Papua, dan sekarangmenjadi wartawan online di Malang. Keduanya adalah soal jurnalis yang secara ideologis tidak pernah aku pikirkan. Tetapi keduanya memiliki tekanan tersendiri yang membuatku harus belajar. Sungguh belajar.
Ketika masih menjadi wartawan Cenderawasih Pos, rasa-rasanya banyak beban yang mesti kutanggung. Menjadi wartawan media besar yang satu-satunya dipercaya oleh masyarakat membuat seluruh mata tertuju pada kita. Kesalahan sedikit saja akan membuat kita dicemooh, dicaci, dan…

Sangat Berani

Merencanakan kehidupan bisa jadi adalah salah satu pekerjaan yang bisa membuat kita putus asa. Putus asa karena kita tidak punya banyak hal yang cukup membuat kita optimis. Bahkan bagi sebagian orang, optimis saja tidak cukup karena karena tidak bisa begitu saja mempercayakan segala nasib baik dan buruk kepada tuhan. Karena itu, kemungkinan untuk merasa senang dan baik-baik saja dalam zona nyaman adalah sesuatu yang wajar dan tidak perlu ditakuti.
Kenyataannya, dibutuhkan seseorang yang sangat berani untuk dapat berubah. Merencanakan kehidupan dengan tingkat keberhasilan hingga 80 persen juga butuh seseorang yang sangat berani. Kebanyakan kita sudah berani atau bahkan pengecut, namun itulah kewajaran hidup di dunia. Karena itu, tidak mungkin orang biasa-biasa saja dapat mencapai tingkat kepuasan sebab keberhasilannya hingga 100 persen.
Kesimpulan-kesimpulan ini bisa didapatkan saat kita menonton film, misalnya, atau membaca buku. Untuk sebuah film, marilah kita mengingat lagi Diverge…

Overview Film Kon Tiki

“lakukan seperti penduduk asli, sampai ke detil terkecil. Jangan gunakan paku jika mereka menggunakan tali, jangan gunakan baja jika merekamenggunakan tulang, nenek moyang perlu belajar 1000 tahun, dengarkan mereka”. –Peter Freuchen.
Akan ada banyak orang yang meragukan apa yang kau yakini meskipun disertai dengan sebuah argumentasi –yang sepertinya masuk akal. Entah orang-orang itu tidak setuju karena membencimu, ataupun karena memang keyakinanmu tidak masuk akal. Dan dimentahkan oleh orang lain adalah pengalaman yang menakutkan.
Namun dalam ketakutan ini, selalu akan ada ketakutan yang lain. Dan bagi kebanyakan orang, ketakutan akan membuat mereka putus asa. Sedangkan bagi sebagian yang lain, ketakutan membuatnya semakin berani. Paling tidak, itulah hal yang dapat kita lihat dari kisah akhir sebuah film yang di release pada tahun 2012 ini, Kon-Tiki.
Film Luar Biasa?
Bagiku, melihat film ini memang terlalu terlambat. Dirilis tahun 2012 namun baru saya lihat tahun 2015. Namun tidak apa…

Pengalaman

Ada dua macam pengalaman yang dikatakan seorang sastrawan saat memulai workshopnya. Dua pengalaman tersebut adalah pengalaman kognitif dan pengalaman empirik. Pengalaman kognnitif bermain dalam pikiran, pengandaian, dan ide-ide yang bersifat buatan di alam pikiran. Lalu pengalaman empirik adalah pengalaman yang terjadi pada diri seseorang secara nyata dan disadari.
Hebatnya dari pengalaman inilah kita mempersepsi sesuatu. Seseorang memiliki nilai standar, nilai moral, apa yang jahat dan apa yang baik, mana yang benar dan mana yang salah, segala sesuatu, didasarkan pada pengalaman. Maka dari itu, pengalaman menjadi penting bagi seseorang untuk memandang sesuatu sesuai dengan nilai yang dianutnya.
Membaca buku, baik buku fiksi atau nonfiksi adalah termasuk bagian dari mencari pengalaman itu sendiri. Pengalaman dari membaca buku ini akan menjadi dasar-dasar nilai yang akan kita anut, sehingga membaca buku termasuk dalam pengalaman empirik. Ia dengan sadar kita baca dan kita amini bila…

Mencari Hidup Bahagia

Kenyataannya, hidup tidak semudah sebagaimana yang kita bayangkan. Dari ratusan teman BBM, dan ribuan teman Facebook, mungkin hanya satu persen yang tidak pernah mengeluh, dan selalu “terlihat” bahagia. Hampir 99 persen lainnya mengeluh dan mengumpat, atau bersembunyi dalam doanya kepada tuhan melalui quote yang ia temui di internet.
Mengapa banyak yang sedih di dunia ini? Adalah hal yang sangat membingungkan bila Allah menciptakan kehidupan menyedihkan yang selalu mengelilingi umatnya. Tapi sekaligus menggelikan karena Allah bukanlah makhluk, tapi Dia adalah Tuhan, yang dengan demikian ia menciptakan segala sesuatu dengan sempurna. Maka jalan rumit yang diusulkan oleh Pak Kiyai adalah : semua ada hikmahnya.
Kehidupan memberikan kita fasilitas berupa kesulitan sehingga kita bisa berjuang, juga kemudahan agar kita tidak putus asa. Itulah esensi yang mestinya kita tahu. Maka dari itu, belajar adalah hal yang sangat baik, belajar serius melakukan sesuatu yang tidak kita senangi. Akan ad…

Menunggu Teman yang Suka Tidak Tepat Waktu

Banyak hal yang membingungkan selama hidup di dunia in. Sebagaimana sekarang, saya menunggu seorang teman lama yang sudah berjanji akan di sini usai magrib. Ini adalah janji ke sekian yang ia tidak tepati, dan menghubunginya adalah sesuatu yang mustahil. Karena ratusan kalipun aku telpon tetap saja tidak diangkat, dan ribuan PING di bbm tidak ada “read”.
Sebelumnya memang aku tidak pernah janjian dengan orang ini. Hanya berteman akrab dan menghabiskan waktu bersama. Maka dari itu kami tidak pernah saling berjanji untuk bertemu di suatu tempat. Itu dulu, saat masa kuliah. Maka dari itu kami disebut teman akrab, bersama dengan tiga atau empat orang lainnya.
Dan sekarang, setelah bertahun-tahun tidak ketemu, saya mencoba mencarinya. Sebetulnya sudah pernah bertemu di Surabaya sejak kepulanganku dari Papua. Namun hanya sebatas bertemu karena kami punya kesibukan sendiri-sendiri yang tidak bisa diganggu oleh orang lain.
Lalu dia memutuskan untuk mencari peruntungan di Malang, sedangkan ak…

Memasarkan Media Baru

Termasuk salah satu tantangan terbesar sebuah media baru adalah pemasaran. Bagaimana media baru yang tidak memiliki modal yang kuat bisa survive di suatu daerah adalah pekerjaan berat. Namun cerita cerita mengenai perjuangan membentuk media dengan modal minim bukanlah sesuatu yang baru, sehingga pasti ada rumusan masuk akal untuk sama atau melampauinya.
Sebagaimana yang telah saya jelaskan pada tulisan awal, bahwa membentuk media online bukan sesuatu yang sulit. Kita tinggal membeli hosting dan domain, lalu mencari teman teman sendiri untuk menjadi wartawan dan redaktur. Secara teknis hal ini sederhana, tinggal bagaimana cara menjual website tersebut supaya banyak pengunjung realnya. Setelah diketahui banyak pengunjung, maka tentu saja iklan akan berdatangan yang artinya, kinerja akan terbayar lunas.
Memasarkan media, kita harus bisa menawarkan kualitas yang berbeda dari media pesaing. Perbedaan ini haruslah pada persoalan yang urgen, tidak masalah bila media pada awal awal selalu membe…

Menjadi Kaya Bersama

Pertanyaan paling mudah diajukan namun memiliki jawaban paling rumit bukanlah masalah filsafat. Pertanyaan yang paling sulit itu adalah : bagaimana cara sukses di bidang materi, atau bagaimana cara menjadi kaya.
Karena kita biasanya yakin bahwa kaya tidak dibangun dalam semalam, maka saya yakin dengan asumsi bahwa kaya itu memang bisa dibangun dalam semalam. Saat anakanak alumni MA. Roudlotul Mutaabbidin sedang kumpul malam lebaran, saya hampir mengarahkan untuk menjadi kaya bersama-sama, namun saya urungkan karena tampaknya belum waktunya.
Dan tulisan ini, memang saya sengaja tujukan kepada anakanak aliyah dengan harapan yang luar biasa. Atau kalau kemudian berguna, bisa menjadi acuan kelompol lain. Dengan sebuah tulisan, saya berharap pemikiran ini lebih mudah difahami, lebih runut, dan lebih mudah disebarluaskan untuk kepentingan yang lebih tinggi. Apakah bahasa saya sudah mendakik-dakik seperti seorang sastrawan? Mungkin Thoharul Fuad mampu menjawabnya, atau sang filusuf Nurdians…

Menciptakan Media Online

Hal yang paling mencengangkan sekarang ini adalah kemudahan dalam membuat media online. Tidak ada orang yang menyangka bahwa membuat dan menciptakan media begitu mudahnya. Bagi pekerja media, tentunya ini adalah tantangan yang menjengkelkan karena pesaing akan semakin banyak, yang disaat sama, mereka tidak memiliki kredibilitas yang memadai.
Sebagaimana diketahui, bahwa membuat media online tidak membutuhkan modal besar sebagaimana media lainnya. Tidak ada biaya membeli alat percetakan seharga miliaran rupiah, dan bagi media elektronik adalah membeli peralatan teknis yang juga bisa mencapai miliaran rupiah. Anda bisa membayangkan hal ini?
Kita hanya perlu menyiapkan medium berupa website yang harga domain dan hostingnya tidak lebih dari 10 juta rupiah. Sementara untuk desain website dan tetek bengeknya, kita tinggal merayu mahasiswa jurusan teknik informatika yang memiliki IPK memuaskan. Hujani dengan pujian maka ia akan bekerja sepenuh hati, lalu hargai kerja kerasnya dengan menjadi…

Resah Manusia Indonesia

Di akhir pengajian Bangbangwetan pada 2 Juli 2015 lalu, pertanyaan yang paling konkret untuk diajukan adalah bagaimana menjadi manusia indonesia dalam menyikapi kosnpirasi politik dan ekonomi yang terpampang nyata tersebut.
Dulu saya sempat meyakini bahwa semakin kita tahu, maka semakin kita tidak bisa apa-apa. Dan kini, keyakinan tersebut tampaknya menemui pembenarannya karena kita memang tidak mampu berbuat apa-apa kecuali berbicara dan membuat konsep. Mau tanah indonesia dirampas, media kita ditunggangi pemodal, hasil bumi dicuri, bahkan kebudayaan juga sudah diklaim negara tetangga, kita sebagian besar bangsa Indonesia malah plonga-plongo.
Mahasiswa masih saja gelisah karena tidak bisa meluluskan diri dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Mahasiswa yang keren dengan puisinya, lalu memiliki pacar di setiap sudut kampus dan menjadi linglung oleh perempuan. Dan pemuda-pemuda yang akhirnya membuat komunitas-komunitas sendiri karena galau tidak mampu bergabung dengan kekuatan yang…

Kehormatan

Sadumuk bathuk, sanyari bumi, ditohi pati
Baru sekali ini ikut pengajian yang digawangi oleh Cak Nun (Emha Ainun Nadjib), langsung yang dibahas adalah kehormatan. BangbangWetan yang diselenggarakan di Balai Pemuda ini menyentak pikiran seluruh pemuda yang hadir, laki perempuan; untuk mengingat, merumuskan, dan menyusun langkah penyadaran terkait kehormatan yang saat ini sedang dipertanyakan.
Pertanyaan-pertanyaan ini adalah apakah kehormatan masih menjadi penting bagi orang Indonesia? Jika masih penting, apakah kita tahu kehormatan yang hendak kita bela itu? Dan bila kita tahu kehormatan tersebut, apakah langkah yang harus kita lakukan untuk membela kehormatan ini?
Adagium jawa yang dikumandangkan oleh BangbangWetan dan pemateri yang hadir adalah tentang kehormatan. Sadumuk bathuk, sanyari bumi, ditohi pati, yang secara harfiah berarti satu sentuhan dahi, satu jengkal tanah, bertaruh kematian. Secara luas, dapat diambil pengertian bahwa bagi masyarakat Jawa, mempertahankan kehormatan …