2015-04-10

Modus Penipuan di Thailand


Lumphini Park
Di Taman Lumphini sore itu, orang –orang sibuk dengan jogging. Ada kira-kira ratusan orang yang berlarian pada jogging track yang telah disediakan, dengan kerimbunan pohon yang menaungi setiap langkah. Tiga kelompok lainnya melakukan senam sore dengan peserta beragam: kakek-nenek, orang dewasa, dan remaja (yang mempesona).

Saat foto-foto di taman, datang satu keluarga yang mengaku dari Dubai. Pertama dia tanya kepada kami tentang makanan halal di sekitar Taman Lumphini. Tentu saja kami tidak tahu sembari mengatakan bahwa kami dari Indonesia. Seketika itu, mereka menyebut Jakarta, dan bilang bahwa mereka akan ke Jakarta besok. Sok tidak tahu, mereka bertanya apakah kami punya uang rupiah karena belum pernah melihatnya.

Aku menunjukkan uang 10 ribu rupiah dari dalam dompet. Karena uang dolar yang kumiliki tidak banyak yang kubawa, si bapak-bapak Dubai ini tidak begitu tertarik. Namun saat temanku menunjukkan uang 100 ribu dari dalam dompet, dan sekilas uang ratusan dolar ada di dalamnya, mata si Bapak langsung berubah.

Bapak-bapak Dubai langsung merebut dolar milik temanku sambil menghitungnya terus menerus. Dalam beberapa detik, anak si Bapak-bapak dubai ini mendekatiku dan bertanya beberapa hal khusus kepadaku, si Istri dari bapak-bapak ini merangsek ke dua orang temanku dan juga bertanya beberapa hal khusus. Tinggallah temanku face to face dengan Bapak-bapak Dubai, namun ia segera merebut uangnya kembali dan memasukkannya ke dompet.

Kami tidak sadar dengan apa yang terjadi dan tidak berani menaruh curiga kepada keluarga Dubai ini. Sungguh memang kami sangat sangat curiga kepada orang asing karena sudah ada beberapa peringatan di internet. Namun sebagai orang Indonesia, kita masih memiliki anggapan bahwa muslim dari timur tengah tentu memiliki nilai keislaman lebih baik. Jadilah kami husnudzon saja.

Apalagi waktu itu kami disibukkan dengan mencari bus untuk menuju ke Jalan Khaosan. Karena bus di Thailand tampaknya tidka memiliki rute yang sama dengan bus di Indonesia. Di Surabaya misalnya, kalau menuju ke lokasi A, B, atau C, kita harus naik angkutan berawarna MERAH, maka nanti sekembalinya juga harus mencari angkot MERAH karena pasti akan melewati lokasi A, B, atau C.

Nah di Thailand, ternyata untuk menuju lokasi A, B, atau C dari lokasi Z misalnya, tidak menggunakan angkutan yang sama ketika kita dari lokasi A hendak ke Z lagi. Alhasil kita harus mencari-cari shuttle bus (Bus Stop) yang menyediakan bus bernomor khusus untuk menuju ke lokasi awal. Kasi kesulitan. Apalagi di jalanan seperti itu, orang yang memiliki kemampuan bahasa inggris pastinya susah ditemukan.

Setelah berhasil menemukan bus dan sampai di Hostel, pikiran agak lega namun perut meronta-ronta. Kami membeli beberapa makanan murah, dan makan sepuasnya. Saat duduk-duduk santai itulah, kami mulai menghitung pengeluaran dan temanku menghitung uang dolarnya. Sungguh, betapa kagetnya dia saat mengetahui uang 300 dolar miliknya telah hilang entah kemana. Ia membawa 700 dolar dan saat ini tersisa 400 dolar di dompetnya.

Saat kami bercerita mengenai orang Dubai ini, kecurigaan semakin menjadi-jadi. Saya sebelumnya pernah membaca mengenai kemampuan khusus seseorang untuk memainkan tangannya dengan cepat, lalu menghasilkan seni sulap. Kemungkinan, keluarga Dubai ini punya keahlian seperti itu. Karena caranya persis dengan pengalihperhatian korban, dan menyelipkan uang itu sedemian cepatnya. Apalagi, anak dan istrinya juga ikut mengalihkan perhatian kami dengan mengajak ngobrol secara khusus.

Namun waktu itu saya benar-benar tidak percaya dengan kemampuan orang Dubai ini mencuri uang 300 dolar dengan super cepat. Jadi saat teman-temanku ikut merasakan kesedihannya, aku hanya merenung dan merasa sedih seadanya. Karena mungkin saja temanku bohong. Untuk orang yang rasional seperti saya, hal itu tidak mungkin terjadi. Maka dari itu aku tetap saja tidak percaya.

Berulang

Kenyataannya, setelah temanku yang kehilangan uang ini pulang karena merasa tidak sanggup melanjutkan perjalanan dengan uang yang lebih minim. Akhirnya saya melakukan perjalanan lanjutan dengan dua orang lainnya. Tiga minggu kemudian, saat aku kembali ke Thailand –tepatnya di Terminal 21, ada dua orang Bapak-Ibu yang menyapa dan bertanya lokasi Mc Donald. Kami tentu saja tidak tahu dan tidak mau tahu karena kami langsung mau pergi.

Lalu dua orang ini bertanya kami dari mana, dan kami jawab kami dari Indonesia. Perlahan kecurigaan kami menguat. Karena pertanyaannya sama persis dengan apa yang terjadi beberapa waktu lalu di Lumphini Park. Mereka mulai berkata tentang Jakarta, dan aku tersenyum kepada dua temanku –hampir terpingkal.

Saat kami hendak meninggalkan saja orang ini, mereka langsung ingin tahu apakah kami punya uang rupiah karena mereka ingin tahu. Jadilah aku semakin curiga, karena modusnya persis. Sayangnya saya dan teman tidak punya banyak waktu sehingga kami langsung pergi saja. Oya, mereka berdua ini mengaku dari Arab Saudi. Karena entah kebetulan atau tidak, wajah seluruh penipu ini memilih face orang timur tengah.

2015-04-08

Backpacker Berjilbab


2 Jilbab Backpacker di Phuket
Melakukan backpacker bukanlah melulu pekerjaan orang kaya dan atau orang yang hobi dengan kesederhanaan. Sejak memiliki cita-cita ke luar negeri pada jaman kuliah dulu, memang yang kulihat para backpacker adalah orang yang modis dengan dandanan khas. Kalau boleh lebih tegas, biasanya dilakukan oleh orang yang sulit menjalankan agama islam secara baik.

Namun dalam perjalananku yang pertama ini, tiga orang berjilbab ikut rombongan dengan diet keagamaan yang lumayan ketat. Diet keagamaan ini adalah melakukan shalat lima waktu dengan tertib, menggunakan jilbab (lebar) dengan tas carrier ukuran 50+5 Liter, plus salah satu teman rombongan harus puasa seharian.

Memang mungkin agak dungu kalau saya tidak tahu bahwa sudah banyak jilbab backpacker yang menjelajahi negara ini. Namun saya tidak benar-benar melihatnya sehingga membuat sangsi. Kali ini, mereka benar-benar ada dan agaknya aku berharap betul bahwa mereka akan menunjukkan kualitas kemuslimahannya. Karena aku butuh bukti, aku butuh keteguhan itu sendiri, untuk membuatku percaya bahwa orang yang hendak menjalankan ibadah wajib tidak akan terhalang suatu apapun.

Tiga orang ini, dua orang adik kakak perempuan asli Makassar yang irit bicara dan hanya senyum-senyum sebagaimana perempuan berjilbab lain yang kukenal. Namanya Virna Shaleh dan Hartatik. Sekali dua kali mereka berbicara berdua, dan hanya ngobrol denganku ketika ditanya saja. Seorang lagi adalah ibu-ibu yang lebih terbuka, berpengalaman, dan tampaknya membimbing mereka dengan baik, bernama Farida.

Gara-gara mereka inilah, aku merasa bahwa perempuan muslimah pun bisa menjadi backpcker. Nantinya saat mereka sudah hafal dengan lekuk Singapura, Malaysia, Vietnam hingga Brunei Darussalam, mungkin mereka akan membuat rombongan backpacker khusus muslimah –yang katanya Bu Farida sudah ada. Dan kemungkinan dengan diet keagamaan ketat pula sebagai sebuah latihan.

Hal yang patut disayangkan memang, bahwa Hostel Backpacker yang murah pasti bercampur-campur antara lelaki dan perempuan. Lintas kelamin, lintas bangsa, lintas agama, dan lintas generasi tentu saja. Di sampingku misalnya, adalah seorang perempuan bule berbadan sebesar kasur. Di bawahnya seorang lelaki, dan di tempat lain ada seorang bule lelaki dan perempuan satu tempat tidur yang ranjangnya tidak berhenti berdenyit saat malam.

Dalam satu kamar hostel ini, ada 9 ranjang dua tingkat sehingga dapat dihuni 18 orang. Otomatis yang menghuni juga backpacker dari berbagai negara. Demikianlah kondisinya sehingga perempuan muslim yang hendak melakukan backpacker harus berfikir seratus kali. Ia akan banyak berkontaminasi dengan lelaki lain, dan sekaligus harus ekstra menjaga dirinya sendiri.

Kemarin, saat putar-putar mencari hostel ini, kami sempat duduk di pinggir jalan. Semua terlihat lelah, ringkih, dan ingin segera masuk ke hostel untuk menyandarkan punggungnya ke kasur yang empuk. Bagaimana tidak, kami semalam tidur di Changi Airport, berputar-putar sebentar lalu mencari hostel hingga kaki bengkok. Saat itulah tiba-tiba orang yang berjalan mengucap salam sembari melempar senyum hangat.

Aku yang berada di sana, ikut bergembira. Sebagai muslim, salam adalah doa menebar keselamatan. Maka dari itu, ketika nantinya ada serombongan muslimah backpacker, mungkin muslim Singapura atau muslim di manapun tempat ia datang, akan merasa mendapatkan teman. Namun memang, orang-orang masih belum bisa melepaskan anggapan bahwa muslimah berjilbab bukanlah istri dari teroris.

Mushalla

Kendala yang paling pasti adalah tidak adanya mushalla dan masjid yang memadai di Singapura, dan di tempat lain yang umat muslimnya terlalu minoritas. Jika di Indonesia setiap gang rumah ada mushalla atau masjidnya, maka hal itu tidak bisa dijumpai di negara lain. Jika kita melihat film 99 Cahaya di Langit Eropa, maka kita akan tahu bahwa sang tokoh pun kesulitan mendapatkan mushalla, bahkan ujian dibarengkan dengan shalat jumat sehingga harus memilih antara ujian atau jumatan.

Ketika masih di Bandara Soekarno Hatta, mereka masih dapat menemukan mushalla di samping toilet. Namun saat memasuki Changi Airport, kita tidak dapat menemukan satupun mushalla di lokasi bandara. Alhasil, mereka harus wudlu di kamar mandi yang saya jamin mereka akan kesulitan. Karena sebagai lelaki, saat aku mencoba ikut berwudlu untuk shalat, aku kebingungan mencari cara berwudlu.

Apakah di westafel yang hanya diberlakukan untuk mencuci muka dan tangan? Karena di kamar mandi tidak ada air lain, kecuali air yang masuk langsung ke toilet. Keluarlah aku dengan tangan kosong. Ketika memasuki waktunya tidur, mereka mulai melebarkan sajadah tipisnya ke lantai airport dan shalat bergantian. Hal-hal seperti ini harus mereka lakukan demi menjaga keteguhan ibadahnya. Yakin bahwa tidak ada yang dapat memisahkan mereka dari kewajiban (atau kebutuhan) ibadahnya kepada tuhan, kecuali maut itu sendiri.

Sementara yang lainnya sudah terbaring di kursi panjang Terminal 1 Changi Airport. Usai shalat, Mamak satu membuka nasi kotak dan rendangnya. Ia mulai sahur untuk puasa pada keesokan harinya. Mungkin karena tidak enak makan sendirian, berkali-kali ia menawari secara bergantian untuk ikut makan bersamanya. Setelah 100 kali ditawairi, akhirnya aku mau meski tubuh masih belum lapar.

Setelah ini, akan ada kerepotan lainnya yang tentunya berbeda dengan kerepotan di bandara. Hal itu bisa saja membuat teguh para muslimah berjilbab ini, dan dapat pula menjadi penghambat keimanan mereka. Pilihan akan selalu ada pada hambanya, namun tuhan maha mengetahui hati hambanya yang beribadah sungguh-sungguh, atau sekedarnya seperti saya. Bagaimanapun, keteguhan mereka beribadah membuat saya percaya bahwa seorang muslimah tetap dapat melakukan backpacker. Saya salut.

2015-04-02

Keteraturan


MRT Singapura sebagai lambang modernisme dan keteraturan
Orang indonesia pada umumnya tidak bisa hidup dengan keteraturan. Begitulah yang kita fahami bersama selama ini. Prasangka ini karena berkaitan dengan tata cara kehidupan orang luar negeri yang hendak kita pinjam. Sekaligus untuk menyalahkan bahwa karena tidak bisa hidup teratur, maka tidak bisa diatur, dan suka ngawur.

Akibatnya, lalu lintas macet. Orang miskin yang bertempat tinggal di lingkungan kumuh menumpuk. Pembuatan SIM dan KTP dan dokumen lainnya ribet berbelit. Ketidakteraturan ini disalahkan kepada penduduk Indonesia yang tidak bisa hidup teratur. Padahal jika kita tahu, petani di kampung selalu bangun pagi. Pedagang pasar juga selalu buka dagangannya pagi-pagi.

Orang bekerja juga berangkat pukul 07.00 dari rumah lalu pulang pukul 16.00 setiap harinya. Sebagian lagi berangkat lebih pagi agar tidak ketinggalan bus yang tidak bisa diatur itu. Orang-orang yang hendak bepergian juga selalu datang lebih cepat dari jadwal pesawat terbang ataupun kapal laut. Jadi siapa yang tidak bisa diatur atau tidak menyukai keteraturan?

Bisakah kita membayangkan bahwa di Indonesia, kereta api datang tepat waktu? Bus dan pesawat terbang tiba dan pergi tepat waktu hingga ke menit-menitnya. Lalu semua rute dalam kota disatukan oleh bus dan kereta yang sambung menyambung. Orang keluar dan masuk kereta menggunakan jalan yang telah disediakan. Hijau berarti (benar-benar) berjalan, dan merah berarti (benar-benar) berhenti.

Mungkin keteraturan ini patut diperjuangkan oleh seluruh pemerintahan di dunia. Bukan karena penduduk atau masyarakat yang tidak dapat diatur, tapi lebih kepada pemerintah yang tidak dapat menerapkan peraturan dengan baik kepada setiap sistemnya. Masyarakat tentu saja akan mengikuti apa kata sistem. Karena jika tidak taat pada sistem, ia tidak mendapatkan fasilitas.

Contohnya, peraturan bahwa bangsa indonesia harus sudah berada di bandara satu jam sebelum pesawat berangkat dengan tujuan domestik, dan dua jam untuk keberangkatan luar negeri. Jika tidak memenuhi peraturan ini, maka ia akan terlambat terbang dan tiketnya sia-sia. Seluruh agendanya ke depan juga akan porak poranda. Maka mana ada orang yang mau terlambat untuk hal-hal seperti ini?

Maka dari itulah, kalau ingin teratur, peraturan harus ditegakkan sedemian rupa. Kereta jangan sampai terlambat, begitupula pengurusan kebutuhan publik. Dan keteraturan yang kita harapkan ini bisa kita lihat di Singapura, misalnya. Seluruh tempat sepertinya sudah memiliki peraturannya sendiri. Untuk melakukan cap imigrasi misalnya, kita tidak diperbolehkan untuk menginjak garis kuning untuk mengantri. Sudah ada polisi yang siap mengingatkan di sana kepada pengunjung yang bandel.

Untuk masuk ke Mass Rapid Transportation (MRT) atau bahasa kerennya kereta kommuter, sudah ada tiga jalur di pintu keluarnya. Tanda panah di kanan kiri untuk orang masuk ke kereta, dan tanda panah di tengahnya untuk keluarnya orang dari dalam kereta. Memang tidak ada polisi yang menjaga di sana, tapi tatapan mata orang sudah cukup menyakitkan untuk kita ulangi : dasar indonesia!!!

Pada lampu merah, mobil akan benar-benar berhenti dan tidak bergerak lagi. Memang mobil jarang sekali, karena menurut kabar burung, pajaknya sangat besar. Jadi hanya orang kaya dan betul betul orang kaya yang punya mobil di jalanan. Sementara, tidak ada orang yang menyeberang sembarangan sebelum lampu hijau untuk pejalan kaki menyala. Dan sekali lagi, pendatang juga yang berlarian tidak peduli lampu merah kuning hijau.

Namun apakah keteraturan seperti ini menyehatkan? Tidak juga. Aku melihat bahwa singapura dan orang-orangnya layaknya robot. Tidak ada ekspresi mereka ketika pagi hingga sore. Yang ada mereka tidak mempedulikan orang lain. Tidak berbicara. Tidak bermain HP. Tidak tersenyum. Berjalan lurus ke satu tujuan. Seakan-akan di kaki mereka sudah ada garis yang tidak boleh di simpang. Tidak ada orang bingung karena tujuan sudah diprogramkan. 

Yang sudah menonton film Wall E barangkali akan sadar bahwa kehidupan manusia modern akan menuju pada kemonotonan. Keteraturan sepertinya akan menyebabkan kemonotonan ini. Kita makan sudah ditentukan menunya, dan pada jam berapa juga telah ditentukan. Lalu berjalan pada garisnya. Bahkan menonton film dan permainan sudah ada jadwalnya.

Untungnya, di singapura pada malam hari sangat berbeda dengan pagi atau siang atau sore. Saat malam tiba, orang-orang Singapura berjalan pelan sambil menikmati camilannya. Mereka saling menggandeng kekasihnya. Tidak jarang yang berciuman di pinggir taman. Mereka menjadi hidup. Apakah mungkin program mereka menjadi romantis saat malam saja?

Jadi selamatlah ketidakteraturan orang indonesia karena pemerintahannya memang susah untuk teratur.

Imigrasi dan Lamongan

Benar bahwa lebih mudah berurusan dengan tuhan, dari pada berurusan dengan manusia. Dan manusia yang paling susah kita takhlukkan adalah saat mereka tidak membutuhkan kita, dan kita (sangat) membutuhkan mereka. Ternyata psikologis kebutuhan mempengaruhi sikap dan penilaian seseorang.

Hal inilah rasa-rasanya yang kurasakan di imigrasi indonesia. Persis saat pertama kali aku mengurus pasport tahun 2012 lalu, kejadian itu terjadi kembali. Saat aku mengurus pasport, aku ditanya tujuan dan tiket keberangkatan. Tentu aku berbohong bahwa aku akan ke Malaysia dan hendak kuliah. Setelah berbagai macam basa-basi, aku diminta menunggu hingga dua hari ke depan untuk kembali lagi.

Secara singkat, sudah dua kali diminta menunggu dua hari-dua hari, tetap juga diminta menunggu. Akhirnya aku putus asa karena aku harus bolak-balik Lamongan-Surabaya hanya untuk mengurusi hal ini. Berakhirlah aku di calo pasport yang membutuhkan waktu hanya sehari, langsung foto, dan punyalah saya sebuah KTP Internasional.

Saat aku menggunakan pasport pertama kali ke Singapura pada tahun 2015 ini, pertanyaan yang sama, dan kerumitan yang sama terjadi padaku. Keberangkatanku tidaklah sendirian. Namun dari sekian banyak orang ini, hanya akulah yang sempat tertahan di imigrasi Indonesia. Setelah salah satu mamak-mamak jawa berwajah Chinese menjelaskan macam-macma, barulah Pasportku dicap untuk pertama kalinya.

Kegentingan belum berakhir karena menurut informasi, imigrasi singapura akan lebih ketat lagi. Sejak lepas dari imigrasi indonesia, di pesawat, hingga turun dari sana, aku semakin berdebar. Sesungguhnya keberuntungan mungkin sampai padaku akhirnya. Karena saat berdebar menghadapi lelaki berseragam imigrasi singapura ini, aku hanya diminta form yang kurang, lalu cap keimigrasian menembus keperawanan pasportku.

Langsung bibirku bersungging lima centi meter ke kanan dan ke kiri. Senyum yang sama saat aku diberi kepercayaan untuk presentasi lomba esai tingkat nasional saat jaman kuliah dulu. Sampai beberapa langkah, senyum masih mengembang dan dadaku seperti tidak menahan beban satupun. Tas carrier seberat 10 kg langsung terasa melayang, dan bebas berteriak : i’m asean backpacker now!
ISIS

Saat aku dan dua orang temenku yang paspornya masih perawan di tahan di petugas tiket Tiger Air, mereka membisikkan bahwa keluar negeri harus diperketat karena adanya beberapa warga Indonesia yang hendak berjuang bersama ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria) atau Daulah Islam Iraq dan Syiria.

Pertama aku dan kawan-kawana berfikir kenapa bisa aku dua kali tertahan, adalah gara-gara namaku yang islami banget. Fathul Qorib, semua orang berfikir bahwa aku mungkin saja pergi ke luar negeri, lalu tiba-tiba terbang ke Syiria atau Iraq untuk membangun daulah islam di bawah naungan ISIS. Bahkan jika memang aku ingin membangun Daulah Islamiyah, aku akan bergabung dengan kelompok lain, bukan ISIS.

Namun setelah kutelisik lagi, beberapa hari lalu ada 16 orang yang terdeteksi bergabung dengan ISIS, yang sebagian besar adalah warga Lamongan. Saya kira hal inilah yang membuat orang lamongan kesulitan ke luar negeri. Lagi-lagi, gara-gara kelompok Islam garis keras, orang lamongan yang lain terkena imbasnya. Sama dengan ketika Amrozi dkk membom bali, lalu aku dilarang berkunjung ke Bali untuk batas waktu tertentu.

Dari sini kita bisa melihat bahwa stereotype akan tetap menjadi masalah karena manusia tidak bisa melepaskan kebencian dari dalam hatinya. Stereorype adalah pandangan negatif kita terhadap seseorang atau sekelompok orang. Stereot berarti kaku, dan type adalah kesan. Sehingga kesan kaku –negatif kita terhadap orang lain.

Dan semua orang, yang berusaha menjadi baik sekalipun, gampang sekali terjebak dalam stereotype seperti ini. Misalnya, orang berjilbab lebar terkesan inclusive dan tidak mudah bergaul, atau orang berjenggot adalah teroris. Itu dari segi agama. Kita juga memiliki stereotype yang harus kita hilangkan dalam segi kebangsaan yang contohnya tidak perlu kusampaikan agar tidak menyinggung satu bangsa tertentu.

Namun dapat kupahami –dan semoga demikian- bahwa petugas imigrasi indonesia tidak sengaja hendka mempersulit. Namun hanya karena tuntutan pekerjaan, maka ia terpaksa berusaha tampak mempersulit orang lamongan untuk ke luar negeri. Dan bagiku, apalah daya bila orang imigrasi ini bersikeras bahwa aku tidak boleh ke Singapura dengan alasan kehati-hatian terhadap ISIS.

Inilah yang dinamakan kekuatan kebutuhan. Yang membutuhkan akan selalu kalah dengan orang yang dibutuhkan.

2015-03-06

Teman Lama di Juanda Surabaya

Intan H Jihane

Ketika pesawat mendarat di Bandara Juanda Surabaya, perasaanku bercampur aduk. Hal ini tidak seperti pulang dari traveling kepada keluarga dengan happy ending.  Aku sadar bahwa tepat tidak tepat, aku telah memutuskan untuk pulang. Kali ini aku masih menyusun rencana guna memantapkan hatiku bahwa kepulanganku adalah suatu keharusan –paling tidak adalah suatu kepatutan.

Hujan deras. Surabaya meraung dalam kegelapan. Dua tas ransel kupanggul dengan hati-hati karena di sanalah seluruh kehidupanku selama dua tahun di Papua. Melewati beberapa petugas yang jaga sembari tersenyum membuat susana menjadi sedikit tenang. Paling tidak aku tidak mengalami pikiran negatif sehingga menimbulkan kenegatifan dalam diriku pula.

Di Bandara Juanda rupanya mirip seperti mall. Ini adalah kedua kalinya aku menginjakkan kaki sini. Saat berjalan tanpa tujuan ini, ku tatap “warung kopi” Starbuck lalu masuk ke dalamnya dan mendapati satu mug besar Vanilla Latte dari tangan seorang barista. Rasanya menyenangkan membayangkan hujan deras di luar lalu di depan kita tersedia kopi panas campur susu dan aneka rasanya.

Lalu seorang perempuan yang tampaknya kukenal muncul. Ia bekerja di warung kopi made in amerika ini. Saat ku tatap ia terus sembari tersenyum, saat itulah ia curiga dan mencuri-curi pandang ke arahku. Dalam hitungan detik, dia langsung melonjak dan berseru menyebut namaku sehingga membuat teman kerjanya terperanjat. Dia tidak tahu bahwa aku terperanjat pula bahwa ia bekerja di sana.

“Eh Mas kok di sini?”

Itu adalah permulaannya. Karena ia masih bekerja –dan dalam bahasa amerika, seseorang yang masih jam bekerja harus benar-benar bekerja, maka aku minum latteku sendirian, bukan di tempat pojokan seperti tahun-tahun lalu. Aku memandangi perempuan yang telah kukenal beberapa tahun lalu itu, dan ia tidak berubah sama sekali. Namun perempuan selalu berubah, ia mungkin menyimpan rasa sakit, atau kebahagiaan yang tidak mudah terungkap begitu saja.

Setelah satu setengah jam berakhir, ia bergabung dengan mug-nya yang penuh semangat. Tanpa menawariku, ia telah membawa dua piring besar berisi roti dan “semacam pizza”. Aku melahapnya meski perutku lebih meronta ingin nasi dan sepotong ayam krispi made in MC Donald atau AW&W atau KFC atau semacam itu yang berbau kolonial.

Hal pertama yang kita bahas adalah segala sesuatu tentang kabar. Kabarku baik, kabar dia baik. Lalu menanyakan teman-teman, dan pengalaman masing-masing selama kira-kira tiga tahun tidak bertemu. Aku tentu saja bercerita tentang Papua, bagaimana perjalananku bermula dari Sumatera dan berakhir di Papua. Yang paling akhir adalah menceritakan alasan-alasan mengapa aku pulang dengan mendadak.

Rupanya ia sudah lama bekerja di Starbuck Juanda Surabaya ini. Pekerjaannya nyaman dan kelihatannya teman-temannya pun menyenangkan. Kini ia menjabat sebagai barista, dan ia akan terus melakukan tes untuk menaikkan jabatannya yang telah ditata dengan apik oleh perushaaan. Namun beberapa kali ia mencoba, beberapa kali itu pula ia gugur.

Yang Datang dan Yang Pergi

Pekerjaan semacam ini memang pernah kubayangkan beberapa tahun lalu. Menyuguhi kopi di bandara tentunya akan bertemu dengan berbagai jenis orang setiap menitnya. Meskipun bisa kugolongkan bahwa yang masuk ke warung kopi semacam ini dipastikan orang dengan kondisi keuangan menengah ke atas –dan itu tidak mengapa, karena  permasalahan menimpa setiap orang, tidak peduli kelas bawah atau kelas atas.

Aku membayangkan akan mampu menuliskan setiap orang yang datang dan pergi setiap harinya. Ikut merasakan apa yang mereka rasakan berdasarkan cara memegang gelas, mengambil tempat duduk, cara minum kopi, atau bahkan cara membayar kopi yang dipesannya. Namun tentu, kalau aku bekerja di sana, yang akan menginspirasiku menulis adalah pilihan kopi yang dibelinya. Kubuat tanda emosi dan atau hal lainnya dari masing-masing menu yang ada di dalam warung kopi.

Bahkan cara memegang gelas temanku ini juga berbeda dengan caraku memegang gelas. Ia menggenggam mugnya dengan kedua tangan, seakan-akan ditubuhnya sedang mengalir udara dingin yang hendak dinetralisir dengan kehangatan kopi bikinannya. Selepas menyeruput kopinya, ia menjadi lebih hangat dan berbahagia. Sementara orang-orang datang dan pergi, kami masih tetap ngobrol panjang lebar.

Sekali lagi, memandangi tamu-tamu itu, aku seperti memandangi jiwa temanku ini. Warung kopi seperti hidup itu sendiri. Ada orang yang selalu datang, dan ada beberapa yang tinggal, lalu sebagian lagi pergi. Pada hidup temanku ini juga, banyak yang datang dan pergi. Dan yang pergi, ada yang menyisakan rasa sakit yang mungkin sukar pudar. Tampaknya kini ia sedang membangun nasib baiknya sendiri.

Sebagai warung kopi, kita harus menerima siapapun juga yang datang dan merelakan siapapun juga yang telah pergi. Bahkan suatu ketika, yang telah minum kopi lupa juga membayar tapi sudah tergesa-gesa pergi. Kita hanya harus mengindeksnya. Memberikan centang pada seseorang yang datang lalu membayar lebih, dan memberikan tanda X pada orang yang pergi tanpa mengucap salam. 

Dari warung kopimu, belajarlah ikhlas lalu berbahagia.

2015-03-04

Resign



Kebutuhan untuk hidup lebih baik, selalu mendesak manusia untuk maju. Biasanya hal ini akan berhubungan dengan meninggalkan zona sebelumnya ke dalam zona yang baru. Kalau bisa dikatakan bahwa zona sebelumnya adalah zona nyaman, maka seorang manusia harus rela meninggalkan zona nyaman menuju zona ketidaknyamanan guna menggapai kenyamanan yang baru.

Pada diriku sendiri, hal-hal semacam meninggalkan zona nyaman agaknya terlalu muluk. Sebabnya, diri sendiri tidak tahu apakah suatu hal menjadi nyaman atau tidak nyaman dibandingkan dengan hal yang lain yang belum pernah kita lakukan. Apalagi kebanyakan kita selalu terjebak dalam pekerjaan yang tidak enak.

Dengan segala kemungkinan yang dapat terjadi, aku harus membuat keputusan yang harus kupegang teguh. Itulah pikiran saat kutinggalkan Cenderawasih Pos beberapa hari lalu. Di depan dua direktur koran terbesar di Papua ini, aku mantap untuk memutuskan resign dari pekerjaan sekaligus profesi yang penuh dengan pengalaman dan petualangan. Setelah menghadapi dua direktur tersebut, aku berteriak dalam hati; akhirnya aku bisa meninggalkan kenyamanan.

Jadilah aku keluar dari kantor yang telah memberikan banyak perubahan kepada diriku tersebut. Perasaan-perasaan saat meninggalkan pekerjaan memang moment yang sangat sulit untuk dilukiskan. Ada semacam kekhawatiran apakah aku akan mendapatkan pekerjaan yang “enak” sebagaimana menjadi jurnalis di Cenderawasih Pos. Atau apakah aku akan bekerja menjadi jurnalis lagi, atau apakah aku akan menjadi orang gagal pasca keberanianku untuk pergi dari pekerjaan yang nyaman.

Semua berkecamuk. Semua orang tentu berkecamuk pikirannya setelah resign dari pekerjaan yang “enak”. Kehidupan akan menjadi tidak jelas. Satu-satunya hal jelas ketika aku ditanya tentang apa yang akan aku lakukan adalah melanjutkan kuliah. Dan jika dalam dua tahun ke depan ditanya, apa yang kau lakukan? Maka akan kujawab dengan “setengah” bangga, aku sedang kuliah,

Bagi orang seusiaku, bekerja  adalah suatu keharusan. Bekerja menjadi hal yang wajib bagi orang yang merencanakan kehidupannya ke depan dengan menikah – beranak pinak – lalu memiliki cucu dan berakhir dengan kematian dikelilingi oleh keluarga besar. Orang yang tidak bekerja baik, akan merasa malu untuk menikah dengan gadis yang diimpikannya karena saat ini kehidupan bergerak lurus menuju realitas.

Bahkan jika gadis yang diimpikannya sudah dibutakan oleh cinta sehingga tidak peduli dengan pekerjaan si lelaki, maka orang tua mana yang akan merelakan anak yang dibesarkannya itu kepada lelaki yang kerjanya abal-abal? Orang tua perempuan sekarang lebih realistis dari pada orang tua jaman dulu. Mungkin karena telah terpengaruh sinetron, dan atau alam bawah sadarnya sudah termasuki oleh modernisme.

Karena itulah, sangat wajar bila aku harus resah karena telah meninggalkan pekerjaan menjadi jurnalis ini. Namun demikian, aku merasa bebas setelah resign dari pekerjaan tersebut. Sempat aku tidur seharian, dari pukul 12 malam hingga bangun pukul 12 siang. Lalu berleha-leha di kamar kos, menonton film, makan, keliling Kota Jayapura, nonton film lagi, dan tidur karena kelelahan secara fisik.

Menganggur, membawa dampak capek yang luar biasa dibandingkan saat kita capek bekerja. Karena sebagai wartawan di Jayapura, pekerjaan sudah bermula sejak pukul 08.00 WIT dan berakhir pukul 08.00 WIT. Mungkin wartawan yang bertugas liputan di kedinasan akan bisa pulang pukul 16.00 WIT sesuai dengan deadline kantor, namun wartawan kriminal, minimal pukul 16.00 WIT baru bisa mengetik dan melampaui deadline kantor. Bekerja seperti inilah yang sepertinya lelah sekali, namun rupanya tidak lebih capek dari pada menjadi pengangguran.

Kini, aku sudah melakukan pendaftaran di universitas doktor sutomo pada program studi ilmu komunikasi. Perkuliahan akan dimulai pada April 2015 ini, sedangkan akhir Maret aku ada perjalanan keliling Asean selama satu bulan penuh. Kembali lagi ada kekhawatiran, namun hal ini harus kulakukan karena demi menuju pencapaian “challenge your self” yang kupatrikan sejak beberapa tahun lalu.

Kini, hidup memang tampaknya lebih mudah. Aku berkeliling dari Surabaya ke Madura, bertemu dengan orang-orang lama. Agak menggelisahkan karena aku tidak datang sebagai orang yang sukses besar. Namun dua pertiga orang akan merasa kagum dengan perjalananku keliling Indonesia, meskipun mereka juga belum tahu tentang perjalananku keliling Asean. Mungkin mata mereka akan terbelalak.

Jadi, apakah aku akan bergerak ke kehidupan yang lebih maju karena dorongan untuk maju yang lebih baik? Entahlah, aku tidak tahu masa depan. Namun berusaha untuk menuju pada kehidupan yang lebih, akan selalu bisa diusahakan. Semoga.

2015-03-03

Ulasan Film: Before Sunrise

"A young man and woman meet on a train in Europe, and wind up spending one evening together in Vienna. Unfortunately, both know that this will probably be their only night together,".

Salah satu film romantis terbaik adalah Before Sunrise yang dirilis tahun 1995. Film ini, memiliki imajinasi dan percakapan yang indah terkait dua orang asing bertemu di sebuah kereta, lalu memutuskan untuk menghabiskan malam Bersama di Vienna. Dalam kehidupan nyata mungkin tidak akan pernah terjadi, terkhusus bagi kita yang memiliki wajah medium ugly ke bawah. Dan jika kita ganteng sekalipun, cantik sekalipun, kebanyakan entah bagaimana, wajah semacam kebanyakan sok tidak butuh orang sehingga tidak mungkin menyapa orang asing dan menawarkan kata-kata manis untuk berkencan.

Di Film ini, Jesse, pemuda Amerika yang menjalani kisah percintaannya yang rumit dan sedang mengajar pesawat murah agar bisa pulang ke negaranya; lalu Celine mahasiswi yang sedang perjalanan balik ke kampusnya di Sorbonne, Perancis. Ibaratnya pemuda urakan bertemu dengan cewek manis. Jesse yang sedang membaca Klaus Kinski berjudul All I Need is Love, gelisah karena ingin menyapa gadis di seberang yang sedang membaca Madame Edwarda/Le Mort/Histoire de I’oeil. Ini adalah momen, "sekarang lah saatnya, bodoh. Jangan hilangkan kesempatan!". Momen ini tidak datang setiap saat, sehingga kita juga mestinya harus mengambil momen itu selagi bisa. Lalu cerita bergulir dari satu keindahan ke keindahan lainnya.

Keindahan film ini adalah pada imajinasi no plot dan mengalirnya dialog diantara kedua aktornya. Kita terbuai bahwa Jesse dan Celine seperti tidak sedang memainkan drama film tapi tampak seperti sedang hidup di dalam film itu. Dari debar pertama kali bertemu hingga ciuman di bawah langit gemintang, semuanya tampak normal, mengalir, dan natural. Mereka memang terkesan membicarakan sesuatu yang ringan, tapi sesungguhnya berat jika kita sendiri yang melakukan obrolan itu: tentang cinta, takdir, masa depan, tentang orang tua, anak-anak, keluarga -obrolan mendalam bagi orang-orang yang mencintai kehidupan.

Rasa film ini juga begitu intim karena kita bisa mendengarkan seluruh percakapan yang panjang, tidak terpotong, dan mendalam. Namun bagiku, unpopular opinion mungkin, karakter lelaki Jesse sebenarnya membosankan karena terlalu sinis pada segala sesuatu, termasuk pada cinta. Ia banyak berargumen yang membela kaum lelaki lebih dari yang dibutuhkan. Si perempuan romantis ini jelas berada situasi yang berbeda dan jika kehidupan nyata pasti si perempuan tidak akan tahan lalu kisah berakhir bahkan belum satu jam. Karena itu, fakta lain yang menjengkelkan, adalah bahwa Celine mungkin berharap sesuatu yang romantis dari si tampan Jesse, yang akhirnya lelaki yang memenangkan film ini.

Tapi hal itu jugalah yang membuat film ini real dan nyata. Karena begitulah lelaki pada umumnya. Keduanya sudah punya pacar namun, seperti kehidupan teman-temanku saat ini, pacaran tidak selalu berjalan baik. Ada pertengkaran hampir tiap minggu, hendak putus tapi bingung nanti siapa yang mau ngajakin jalan, siapa yang bisa diajak makan bareng, siapa yang akan menanyakan kabar. Remaja memang ahli dalam membuat segala situasinya menjadi rumit. Tapi ia bertahan pada kerumitan itu. Jesse dan Celine sama-sama tahu bahwa mereka tidak mungkin bisa bersama -setidaknya ketika mereka bertemu. Tapi mereka adalah sosok yang percaya untuk menikmati momen saat ini, sebisa mungkin.

Saya dulu bukanlah penikmat momen. Saya tipe orang yang rela tidak bahagia saat ini demi kebahagiaan di masa depan -puasa dari kenikmatan sesaat. Tetapi sepertinya kehidupan tidak berjalan semacam itu. Tidak semua yang menahan kenikmatan saat ini bisa merasakan kebahagiaan di masa depan. Dunia bukanlah tempat terbaik untuk kita berharap yang ideal. Kenikmatan yang sesaat atau kebahagiaan abadi harus diraih sebisa-bisanya, berperang, bertengkar, adu mulut, hingga titik darah penghabisan. Saya mengalami momen ini dan sekarang menjadi sadar bahwa saya tidak bisa menunggu takdir begitu saja. Dan Jesse, dipicu ingin menggapai kecantikan perempuan perancis, mencoba meyakinkan Celine bahwa kehidupan ini begitu singkat, sehingga hari ini adalah momen menikmatinya. Celine yakin tidak yakin, ingin mengalamai kehidupan yang singkat itu lalu bersedia turun menjalani one night love with no sex scene dengan Jese.

Jika melihat tata kota yang indah dalam film ini, patut saya mengingat film keren lainnya “Midnight in Paris”. Film ini juga demikian, semacam pameran tempat-tempat eksotis di Vienna. Mereka berjalan di jembatan zollamtssteg yang di bawahnya mengalir Sungai Wien. Naik ke trem, dengan adegan ketika Jesse hendak merapikan rambut Celine di telinganya, lalu masuk ke toko kaset legendaris The Teuchtler Schallplattenhandlung und Antiquarität di Windmühlgasse 10 lalu melakukan adegan ikonik saling menghindari tatapan. Menggemaskan dan bikin geram.

Setelah before sunrise, sutradara Richard Linklater melanjutkan perjalanan Jesse dan Celine ke Before Sunset -sembilan tahun setelah pertemuan pertama mereka, yang tentu membuat hati saya patah hati, lalu Before Midnight, kita melihat mereka sudah menikah, sudah tua, dan saling curhat kehidupan.

2015-02-20

Ulasan Buku: Muhammad Sang Nabi - Karen Armstrong


Jika saya percaya bahwa Muhammad adalah manusia biasa yang menggunakan akal dan budinya sebagaimana manusia biasa, dan melakukan segala sesuatu sebagaimana manusia biasa, apakah saya akan dicap murtad? Sebab, sesungguhnya dengan mengetahui bahwa Muhammad adalah manusia biasa, saya merasa lebih percaya, lebih beriman bahwa dia memang benar diterangi oleh nur Allah dan bahwa dia adalah Rasulullah.

Ketika membaca buku berjudul Muhammad Sang Nabi yang ditulis oleh Karen Armstrong, saya menyadari bahwa ada banyak hal yang tidak kita ketahui tentang Nabi kita sendiri. Aneh rasanya mengetahui bahwa Armstrong, seorang non-Muslim, mampu menyajikan sosok Muhammad dengan begitu mengagumkan. Dia berhasil menghadirkan Muhammad sebagai sosok yang istimewa, meskipun dalam sifatnya yang tampak sederhana dan cuek.

Kepiawaian Armstrong dalam menyusun narasi terletak pada pendekatannya yang berbasis sejarah bangsa Arab. Dia menjelaskan Islam pada masa awal dengan membandingkannya dengan dua agama Samawi lainnya, yaitu Kristen dan Yahudi. Praktis, pendekatan semacam ini tidak pernah kita dapatkan, bahkan dalam pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dari sekolah dasar hingga menengah atas.

Selama ini, sosok Muhammad yang kita pahami dalam konteks Islam lebih cenderung pada dimensi teologis. Artinya, segala kisah yang disampaikan bertujuan untuk membangkitkan keimanan, seperti mukjizat Nabi yang mampu membelah bulan atau peristiwa ketika dadanya dibelah oleh Jibril dan Mikail saat masih menggembala kambing. Kisah-kisah seperti ini mustahil untuk diverifikasi secara historis menggunakan ilmu modern.

Mukjizat-mukjizat tersebut hanya dimaksudkan untuk menguatkan dimensi teologis kita tentang Muhammad yang luar biasa. Oleh sebab itu, kisah-kisah tersebut tidak ditelusuri dalam sejarah karena mustahil menemukan bukti sejarah yang mendukung mukjizat seperti itu. Bahkan, Munim Sirry pernah berpendapat bahwa sirah Nabi yang ditulis oleh umat Muslim lebih merupakan refleksi imajinasi kaum Muslim tentang sosok ideal seorang Nabi.

Memahami Muhammad sebagai manusia biasa menjadi penting. Dengan melihat bahwa Muhammad melakukan segala sesuatu sebagaimana manusia lainnya, kita bisa mengetahui kualitas luar biasa yang dimiliki oleh beliau. Hal ini cukup masuk akal ketika Armstrong mengulasnya dalam bukunya. Nabi Muhammad berhasil mengubah suku Arab yang barbar menjadi umat yang penuh kasih sayang dan bermartabat.

Yang menarik, sumber-sumber penulisan Armstrong sebagian besar bukan berasal dari Al-Qur'an atau sirah nabawiyah yang ditulis umat Muslim, tetapi dari karya-karya seperti Muhammad at Mecca dan Muhammad at Medina oleh W. Montgomery Watt, serta Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources oleh Martin Lings. Sebagian lainnya berasal dari karya Muhammad bin Ishaq, yang hidup 150 tahun setelah Nabi wafat.

Dalam pandangan saya, sejarah Nabi Muhammad yang ditulis oleh umat Muslim sering kali masih mengandalkan unsur-unsur di luar nalar yang sulit dipahami oleh orang lain. Hal-hal yang bersifat mistis, seperti dipeluk malaikat Jibril di Gua Hira ketika menerima wahyu pertama, dibelah dadanya oleh dua malaikat, hingga kehadiran malaikat dalam Perang Badar, masih ditulis dengan begitu gamblangnya. Kisah-kisah semacam ini tentu sulit diterima oleh nalar modern.

Karena itu, sumber-sumber Islam kemudian dibatasi demi kepentingan penulisan sejarah Nabi Muhammad yang lebih ilmiah, yang tidak melibatkan hal-hal yang tidak masuk akal. Ketika orang meminta penjelasan rasional, sering kali jawaban yang diberikan adalah bahwa kita hanya perlu beriman, sebagaimana kita percaya pada angin yang tidak dapat dilihat. Jawaban seperti ini, meskipun benar secara teologis, sering kali terasa menjengkelkan, seperti yang kerap saya dengar dari beberapa kiai.

Kebaruan

Apa yang kita cari dari sebuah buku yang temanya telah kita baca ratusan kali? Jawabannya adalah kebaruan. Dan saya merasa puas dengan kebaruan yang ditawarkan oleh buku Muhammad karya Armstrong ini. Armstrong menjelaskan bahwa tujuan utama penulisan buku ini adalah untuk menjembatani pemahaman antara kaum Muslim dan Kristen Barat, yang sering kali saling tidak sepakat dan saling memandang sebagai rival yang mengerikan.

Hal pertama yang diungkap oleh Armstrong adalah kebingungan orang Kristen Barat dalam memahami kemurkaan umat Islam terhadap novel The Satanic Verses karya Salman Rushdie. Umat Islam mencemooh, menggugat, bahkan membakar buku ini. Menurut pandangan Kristen Barat, umat Islam tidak memberikan kebebasan terhadap perkembangan seni sastra.

Bahkan, dalam karya sastrawan besar seperti Dante, The Divine Comedy, terdapat polemik yang memperburuk posisi Nabi Muhammad. Armstrong mencatat bahwa Dante sendiri gagal menggambarkan Muhammad sebagai tokoh religius yang mandiri. Kesalahpahaman-kesalahpahaman seperti ini menjadi-jadi, hingga banyak yang memandang Islam sebagai sesuatu yang sulit dicerna.

Peran Armstrong menjadi penting sebagai jembatan pemahaman. Ketika umat Islam di Inggris membakar novel Rushdie, Armstrong mengingatkan bahwa selama berabad-abad, umat Kristen Barat juga membakar buku-buku yang bertentangan dengan keyakinan mereka, bahkan diorganisir oleh kerajaan. Tidak hanya buku, tetapi ratusan pria dan wanita juga dibakar hidup-hidup karena dianggap heretik.

Hal-hal yang tampaknya tidak masuk akal dalam Islam juga kerap dibandingkan dengan praktik dalam tradisi Yahudi dan Kristen. Misalnya, kebiasaan Nabi Muhammad bangun malam untuk bertahajud dikaitkan dengan kebiasaan rabbi Yahudi yang bangun sepertiga malam untuk membaca kitab Talmud. Bahkan cara Nabi menerima wahyu di Gua Hira, yang digambarkan sulit dan berat, juga memiliki kesamaan dengan pengalaman spiritual Nabi Isa.

Dengan memahami pendekatan seperti yang dilakukan Armstrong, kita belajar untuk melihat bahwa Islam bukan hanya sebuah agama, tetapi juga sebuah tradisi yang berakar kuat pada konteks sejarah dan budaya. Bagi saya Armstrong berhasil menunjukkan bahwa Islam dan Nabi Muhammad bukanlah sesuatu yang sepenuhnya terputus dari dunia yang lebih luas. Nabi Muhammad adalah bagian dari sejarah besar manusia yang melibatkan interaksi dengan tradisi-tradisi lain, juga memahami bahwa Islam adalah agama dan kebudayaan.

Memahami Nabi Muhammad sebagai manusia biasa yang memiliki keistimewaan luar biasa justru membuat kita lebih menghargai ajarannya. Dengan cara ini, kita, atau lebih khusus saya, tidak hanya memahami beliau sebagai utusan Allah, tetapi juga sebagai seorang manusia yang melalui perjuangan berat demi memperjuangkan nilai-nilai kebenaran. Buku ini memberikan perspektif baru dan unik untuk memandang Nabi Muhammad dengan penuh rasa hormat sekaligus mendalam secara intelektual.

2015-01-27

Selamat Setelah 11 Hari di Lautan




Hanya Makan Ikan Mentah dan Minum Kocokan Air Garam

Tidak pernah terlintas di pikiran Elisa Pihahei (50) bahwa dirinya akan hanyut dan terombang-ambing selama 11 hari di Laut Utara Jayapura. Berhari-hari ia hanya berdoa agar dapat diselamatkan, dan jika tidak selamat, maka ia memohon kepada Tuhan Yesus untuk menyertainya di perahu kecilnya tersebut.

Fathul Qorib – Jayapura

 Selasa (13/1), Elias Pihahei merasa bahwa ia harus pergi melaut untuk menangkap ikan sehingga bisa menghidupi keluarganya. Ia tahu saat itu bahwa laut sedang bergelombang, namun ia tidak rela jika keluarganya akan kelaparan. Maka dari itu, berbekal pancing dan perahu motor kecil dengan mesin 15 PK, ia melaut di perairan antara Biak dan Yapen.

 Malang tidak dapat ditolak, saat ia sudah memenuhi perahunya dengan ikan cakalang, malah perahunya dihantam gelombang hingga mesin perahunya mati. Gelombang disertai angin yang kencang tidak memberinya kesempatan untuk mengayuh sama sekali, bahkan untuk menebar jangkar juga sudah tidak bisa karena perahu terus melaju terbawa angin dan gelombang hingga melewati Pulau Padaido.

 Saat malam mulai datang, Elisa hanya dapat melihat daratan semakin jauh dan tidak mungkin dijangkaunya lagi. Dayungnya patah, mesin perahu mati, dan air memenuhi perahunya hingga hampir tenggelam. Alhasil, satu-satunya yang dapat menolongnya adalah menjaga agar perahu kayunya tersebut tidak tenggelam. Ia terus menguras perahunya meski air yang datang bergelombang terus menghantam.

 “Malam-malam itu saya terus lihat Pulau Yapen sudah tenggelam. Sampai perahu jauh di laut sudah tidak ada lagi daratan yang dapat saya lihat. Saya tidur sebentar, lalu bangun, menguras perahu, tidur sebentar, lalu menguras perahu, terus begitu sampai saya tidak tahu di mana lagi,” kata Elisa kepada Cenderawasih Pos saat ditemui di rumah saudaranya yang ada di Hamadi, Senin (26/1).

 Selama 11 hari terapung di laut, Elisa menceritakan bahwa ia hanya makan ikan yang sudah didapatkannya selama memancing tersebut. Karena perahu tidak tenggelam, sehingga ia bisa menjaga agar masih ada ikan yang ada di dalam perahu. Ketika siang hari, ikan-ikan tersebut akan dijemur di bawah matahari, lalu di makannya sedikit demi sedikit untuk menambah tenaga.

 Sementara untuk minuman ia mengaku kesulitan, karena di laut tidak pernah datang hujan. Maka ia kemudian memasukkan air ke botol minuman, lalu mengocoknya terus menerus hingga rasa air garamnya berkurang lalu diminumnya pelan-pelan. Dengan ikan yang dipanggang matahari dan air garam yang telah dikocok inilah ia hidup selama 11 hari di lautan dari Selasa (13/1) sampai Sabtu (24/1).

 Meskipun makanan dan minuman sudah bisa didapatkannya, namun bukan berarti kekhawatiran akan keselamatan dirinya tidak ada. Elisa mengaku sangat khawatir dengan kondisi dirinya jika tidak mendapatkan pertolongan secepatnya. Hingga hari ke-11 ia terus berdoa agar diberi keselamatan. Lalu ia mulai melihat Pulau Jayapura dari kejauhan yang tampak kecil. Waktu itu air tenang sehingga ia juga tenang.

 “Tubuh saya terlalu lemas sehingga saya tidak berani untuk ambil resiko berenang ke daratan. Jadi saya tetap berjaga di perahu sembari terus menguras. Tapi malam hampir tiba dan angin darat muncul sehingga perahu saya terdorong lagi menjauh dari daratan hingga saya sampai di perbatasan PNG itu. Sudah, saya sudah tidak ada harapan lagi,” ujar Elias.

 Di saat itulah ia kemudian memohon kepada Tuhan agar diberi keselematan jika memang ia memiliki umur panjang. Dan jika memang sampai di sana saja umur Elias, maka Elisa berdoa agar Tuhan turun ke dalam hatinya untuk memberi kedamaian dan menerima semua kenyataan. Ia minta Tuhan mendampinginya di perahu itu untuk menuntunnya menuju kematian yang damai.

 Saat ia berdoa dengan penuh kepasrahan itu, ia tertidur agak lama. Tiba-tiba ia mendengar ada suara mesin motor dari nelayan yang mencari ikan. Sontak ia terbangun lalu berdiri di atas perahu dan mulai mencari sumber suara. Lama kelamaan ia melihat ada perahu nelayan yang mendekat sehingga ia berteriak kepada dua nelayan Hamadi tersebut.

 Dua nelayan yang mendengar teriakan itu langsung menuju ke Elisa dan kemudian membawa Elisa ke daratan untuk mendapatkan pertolongan. Kondisi tubuh Elisa waktu itu sudah sangat lemas sehingga harus dipapah saat ke darat. Namun setelah beberapa waktu istirahat, ia kembali sehat dan sudah dapat dibawa ke RSUD Jayapura untuk melakukan medical check-up guna mengetahui kondisi tubuhnya.

 “Saat ini tenaga sudah seperti semula, saya bilang terima kasih kepada Tuhan, dan kepada nelayan yang menyelamatkan saya. Sekarang saya tinggal di sini dulu, keluarga di rumah juga sudah diberi tahu sehingga semuanya baik-baik saja,”tutup bapak dua anak tersebut.

Note:
Tulisan ini terbit di Koran Cenderawasih Pos

2015-01-18

Ulasan Film: Rise of the Planet off the Apes - Manusia dan Kebencian

bagaimana jika dari manusia mereka belajar sebuah kebencian?

Banyak hal yang dapat dipelajari dari manusia, kebaikannya, atau keburukannya. Tapi sekelompok kera cerdas ini, lebih banyak belajar tentang kebencian dari manusia dari pada sisi lainnya. Sekelompok kera (Apes) ini menyebut diri mereka sebagai bangsa kera, belum bersifat kerajaan, namun sudah mulai membentuk aliansi antar kera yang kuat, solid, dan penuh percaya diri.

Tentu pembaca sudah dapat mengingat bagaimana film Rise of The Planet of the Apes 2011 ini hendak membuat obat penyembuh kepada orang-orang yang memiliki penyakit alchezeimer. Dianggap sebagai binatang yang paling dekat dengan manusia dari segi penciptaannya, kera akhirnya dipilih untuk dijadikan “kelinci percobaan”. Inilah yang disebut Koba –salah satu tokoh antagonis kera- sebagai human work.

Garis besar dari film ini sebenarnya sangat sederhana, yaitu bagaimana jika bangsa kera menginvasi bangsa manusia? Memang semua orang ingin mengetahuinya, seandainya umat manusia ini dijajah oleh binatang-binatang yang sebelumnya di jajah. Persis seperti imajinasi beberapa pengarang komik yang mengisahkan bahwa di dalam neraka  nanti, manusia yang suka mengadu binatang akan diadu oleh binatang.

Dari sekuel pertamanya ini, kemudian muncul sekuel kedua pada Juli 2014 lalu dengan judul Dawn of the Planet of the Apes. Di sinilah, kera ini dengan jelas merepresentasikan umat manusia yang penuh dengan pergulatan. Bahkan dari kehidupan kera di dalam hutan ini, mulai dari membuat koloni, membuat sistem pemerintahan, peraturan-peraturan, lalu kehidupan sosialnya, meniru umat manusia pada zaman dulu –yang pada intinya adalah meniru umat manusia.

Namun bagaimana mungkin, Caesar, Sang Pemimpin Apes, kemudian memunculkan statemen mengejutkan bahwa Koba hanya belajar kebencian dari manusia? Koba merupakan sosok yang unik, komplek, dan menjadi semacam manusia kera yang penuh dengan pengalaman buruk. Mukanya buruk rupa karena ada jahitan di bagian muka sebelah kiri, tangannya penuh jahitan, kakinya, dan seluruh tubuhnya. Jahitan itu, didapatnya dari manusia yang membedah-bedah tubuhnya untuk dijadikan percobaan.

Dari pengalaman mengerikan itulah, Koba bangkit untuk menjadi antagonis dalam sebuah film yang penontonnya manusia. Dia menyatakan sikap perang terhadap manusia, tidak mau berdampingan, dan siap kehilangan segalanya untuk memusnahkan manusia. Kalau mau jujur, dalam bangsa kera (dan seluruh binatang lainnya), tentu Koba-lah yang akan menjadi pahlawan. Karena dunia binatang tidak mengenal memaafkan, hanya ada balas dendam dan mempertahankan kekuasaan.

Pemikiran Koba yang tidak bisa diterima oleh pemimpinnya yang menjadi tokoh utama, Caesar, akhirnya melahirkan sifat pengkhianat dan kelicikan pada dirinya. Tepat ketika manusia datang ke pedalaman Hutan Muir untuk mencari sungai dan sumber PLTA, konflik dimulai. Para manusia yang tersisa ini, adalah yang selamat dari virus Simian Flu yang penyebarannya dibantu oleh para kera, namun pembuatnya sendiri adalah manusia di GenSys (ingat sekuel pertama).

Satu anak kera mati ditembak, lalu suarannya membahana ke seluruh hutan sehingga puluhan kera lain berdatangan mengerumuni lima manusia ini. Caesar berdiri paling depan, berdiri, pandangannya menelisik dalam membuat manusia gentar; kera macam apa yang dapat membuat gelagat sebaik itu. Caesar kemudian mengeluarkan kata : Pergi. Sang manusia terkaget-kaget, caesar mengulangi perkatannya menjadi sebuah perintah : pergi.

Caesar lalu memerintahkan Koba untuk mengikuti perjalanan manusia itu, untuk mengetahui dimana mereka bersembunyi. Setelah mereka kembali dan tahu persis tempat persembunyiannya, Koba tidak bisa bersabar untuk menghabisi manusia yang tersisa. Namun Caesar dengan kebijaksanaan seorang manusia mengatakan bahwa jika mereka berperang, maka apa yang telah dibangun akan seluruh rusak. Dari sini, Koba dan Caesar mulai berseteru, namun Koba tahu bahwa dia tidak bisa mengalahkan Caesar.

Kebencian

Bermula dari kebenciannya dengan manusia inilah, Koba akhirnya nekat melakukan segala cara. Lalu dengan modal mencuri sebuah senjata api dan topi manusia, Koba menyelinap di kejauhan dan menembak Caesar yang sedang merayakan kelahiran anak keduanya, sekaligus kesembuhan istrinya. Caesar sempat melihat Koba, namun ia tak sempat berbicara apa-apa karena timah panas langsung menembus dadanya hingga terjatuh ke jurang.

Invansi ke daerah manusia akhirnya terjadi di bawah komando Koba. Beberapa kera yang tidak mengikutinya kemudian dipenjara, lalu satu kera dibunuh oleh Koba dengan dijatuhkannya dari menara. Blue Eye, anak dari Caesar menyadari bahwa Apes mengikuti Koba karena ketakautan. Padahal satu pantangan yang ditekankan oleh Apes adalah, Apes not Kill Apes. Dengan melakukan pembunuhan terhadap kera inilah, Koba akhirnya tidak diakui sebagai kera oleh Caesar dan bangsanya.

Setelah semua selesai, perseteruan antara kera dan manusia, perseteruan antara kera dengan kera, akhirnya Caesar termangu. Ia dikelilingi seluruh anak buahnya, dan kepada bue eye ia berkata bahwa : Aku selalu berfikir, kera lebih baik dari manusia, tetapi sekarang aku tahu betapa miripnya kita dengan manusia. Kemiripan itu adalah dari segi ketamakan, kebencian, pengkhianatan, egoisme, dan lain sebagainya, hingga menyebabkan koloni yang dibangun hilang.

Tampaknya memang manusia penuh dengan kebencian di dalam hatinya. Jika kita lihat film ini, perjuangan antara Koba dan Caesar, maka kita akan melihat wajah kita sendiri. Kera Koba dalam aksinya, ternyata mewakili sekian banyak manusia yang rela melakukan apa saja demi mewujudkan ambisinya.