Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2013

Fight Club

Sepertinya, dalam tiga film terakhir yang kutonton menyajikan sebuah kesimpulan yang agak melenceng dari pemahamanku. Fight Club (1999), Melancholia (2011), dan The Art of Getting By (2011), memunculkan tokoh utama yang sama-sama memikirkan tentang kematian. Yaitu, kerelaan hidup untuk menerima segala hal yang terjadi di dunia ini, bahkan kematian itu sendiri.
Aku mengambil sesuatu dari sini, semacam generalisasi atas orang-orang yang tak percaya kepada agama. Maka ada perbedaan mendasar antara orang beragama dan atheis dalam menyikapi kematian. Bagi orang beragama, terutama saya, akan menyikapi kematian dengan baik. Dalam artian, menyiapkan diri menjadi lebih baik demi menghadapi kematian. Ini mungkin, tak lain, karena tuhan telah menetapkan sebuah pengadilan yang maha adil setelah kematian ini. Sedangkan bagi orang yang tak beragama, tidak ada pertanggungjawaban apapun terhadap kematian. Pada skala lebih besar, orang yang tidak percaya kepada alam kubur, atau alam lai…

Makassar Menyala

Aku baru pulang dari sebuah rumah makan tempat Penyala Makassar melakukan konferensi. Setelah berbasah-basahan dengan seorang Agus, aku menyalakan laptop dan mulai menulis tentang sesuatu yang terlintas. Begitu banyak wajah baru, bermunculan seperti virus flu dibulan hujan seperti sekarang. Antara sadar dan tidak, aku telah melewati sebuah kegamangan antara harapan dan realitas. Dua hal yang selalu bertolak belakang, seperti hujan dan kemarau. Saling menghapus, saling terkam, dan bunuh membunuh.
Berada di sudut meja, aku mengenang masa ketika tes Indonesia Mengajar. Begitu banyak wajah cerah, penuh derita perjuangan yang tak kenal lelah, tapi semua bersatu padu, penuh tekat untuk ikut menggemukkan pendidikan indonesia. Mereka rela dikirim ke daerah pelosok dengan segala konsekuensinya. Aku tahu, banyak hal menjanjikan mereka di luar ini. Seorang pemuda-pemudi energik dengan semangat yang tumpah ruah, tentu memiliki cita-cita yang tinggi. Tapi mereka melimpahkan kekuatannya untuk memb…

Rumah Penyala

home is where the heart is –Pliny the Elder
Sambil menonton kembali film yang mengingatkanku pada neraka; SAW VI, aku secara tidak sengaja berfikir tentang rumah. Mulai membayangkannya, lalu tersenyum.
Kadang, dalam perjalanan panjang ini, kita menemukan sesuatu yang kita nyaman berada di dalamnya. Aku akan menyebutnya rumah. Sebagaimana ketika kita kecil, rumah menjadi tempat yang selalu kita huni, jaga, dan rindukan. Meski pada waktu itu kita tidak pernah memperhatikan perasaan, kita tahu bahwa rumah mendapatkan tempat yang istimewa dalam perasaan kita. Di samping ada ibu yang selau menunggu kita sepulang sekolah dengan masakan yang mesti pas di lidah, juga ada tempat tidur yang nyaman, yang tidak bisa digantikan dengan tidur di rumah teman.
Lalu semakin kita besar, kita terbiasa meninggalkan rumah yang indah itu karena beberapa pikiran realistis. Banyak hal yang membuat kita meninggalkan rumah, salah satunya adalah sebuah perjalanan menemukan diri sendiri, aku menyebutnya backpacke…

Menebar Terang di Makassar

(Usai Acara Say It With Books, @Fort Rotterdam - Makassar)
The purpose of life is not to be happy. It is to be useful, to be honorable, to be compassionate, to have it make some difference that you have lived and lived well.”Ralp Waldo Emerson Hal paling indah ketika menikmati perjalanan adalah bisa bertemu dengan orang-orang yang peduli pada nasib bangsanya. Dan kepedulian itu teraplikasi dalam kegiatan sosial yang tidak mementingkan diri sendiri, penuh senyum, semangat, dan jalinan persaudaraan yang akut. Aku merasakan itu di Penyala Makassar, sebuah gerakan yang kukira, tidak pernah kutemui keluarbiasaannya selama 20 tahun aku hidup.
Di sinilah aku berada, ditanggal cantik 14 Februari, bersama beberapa orang yang agaknya sinting, berkoar-koar tentang penyelamatan generasi bangsa. Di depan sebuah benteng peninggalan belanda, yang namanya tidak pernah kusetujui karena itu simbol penjajahan, kami berdiri di panas matahari sambil tetap berusaha mengembangkan kebanggaan.…

Tentang Menulis

“There is nothing to writing. All you do is sit down at a typewriter and bleed.” -ernest hemingway
Ingin menulis tapi tidak tahu apa yang hendak kutulis. Begitulah malam ini bermula. Dan itu adalah hal yang paling rutin kutemui pada diri setiap orang. Mungkin bagi beberapa adik tingkatku yang belajar menulisnya belum sekeras aku, menganggap bahwa aku selalu punya ide untuk ditulis. But it's wrong. Jelas sekali bahwa pada malam ini aku tidak bisa menulis apa-apa kecuali sebuah curhatan yang aku sendiri berharap, jauh dari sifat kekanak-kanakan masa remaja. Di sinilah aku akhirnya, dan memutuskan untuk menonton film.
Despicable Me (2010) ku ambil dari sarangnya. Film ini memiliki kisah unik yang tidak harus di tonton oleh anak-anak. Tapi tetap lucu dan tidak masuk akal bagaimana seorang penjahat berencana mencuri bulan untuk di masukkan dalam sakunya. Selesai menontonnya, aku merasa harus menulis. Merasa harus menulis tapi tidak tahu harus memulainya dari mana. Kemudian…

Mengasingkan Diri Into The Wild

"kau salah jika berfikir bahwa kebahagiaan hidup berasal dari hubungan sesama manusia. Tuhan meletakkannya di sekitar kita, ada dalam segalanya. Ada dalam apapun yang dapat kita alami. Orang hanya perlu mengubah cara mereka melihat hal-hal tersebut" -into the wild,
Kadang kita memang harus tidak peduli dengan semua hal yang ada di dunia ini. Berhenti menjadi shalih lalu mencoba memusuhi seluruh manusia yang jelas-jelas tidak berhak dipanggil manusia. Kita kemudian menjadi resi atau menjadi pendeta yang tidak pernah berkonotasi negatif pada ketamakan dan kesombongan. Karena menjadi Kiyai sudah jamak salahnya, sinetron telah mempertontonkan hal tersebut dengan brutal sekali –yang dari sini, bahkan saya tidak tahu siapa yang berbohong, apakah sinetron itu, apakah kiyai di dunia nyata.
Keluar diam-diam, membakar semua uang yang akan memonopoli kesadaran, membawa buku dan poplen kecil yang tahan cuaca. Kita juga tinggalkan keluarga yang seumur hidup kita benci. Ya,…