Skip to main content

Posts

Media Siber, Pidana, dan Kualitas Jurnalistik

  Kita sedang berada pada satu-satunya kapal yang dapat mengantarkan seluruh penumpangnya pada daratan, tetapi kapal itu sedikit bocor, gelombang tinggi, arah angin tidak menentu, dan layar setengah berkembang. Itulah gambaran aktivitas jurnalistik yang terjadi pada media siber masa kini. Alih-alih menjadi mercusuar yang mengarahkan masyarakat pada kebenaran, media siber malah membuat bingung masyarakat itu sendiri. Media siber punya tanggung jawab yang lebih besar dibanding media massa konvensional. Televisi memang masih mendominasi konsumsi media massa di berbagai wilayah (Nielsen, 2017; CSIS, 2017; IDNTImes, 2019) tetapi sudah tidak ada lagi yang membicarakan televisi sebagai media yang secara fisik harus ada di setiap ruangan rumah tangga. Televisi sudah beralih ke ponsel pintar yang di dalamnya terdapat lebih banyak ragam pilihan. Demikian pula radio, dan media cetak yang harus bekerja keras untuk mendapatkan pelanggan. Semuanya beralih ke media siber yang hampir menjadi sum
Recent posts

Memahami #IndonesiaTanpaPacaran di Twitter

Persoalan sosial yang memperlebar kesenjangan antar masyarakat tidak pernah berhenti. Indonesia seperti kapal setengah tua yang terombang-ambing di tengah badai, sementara nahkodanya tenang di anjungan sembari memberi perintah yang sulit dipahami kru dan penumpang kapal. Kapal tidak berhenti melainkan terus maju ke tengah badai. Belum selesai konflik gara-gara Pilpres 2019, West Papua, konflik RUU KPK dan PKS, ditambah konflik mengucapkan selamat Natal, banjir Jakarta, dan penolakan valentine dalam gerakan Indonesia Tanpa Pacaran (ITP) Perlu dicatat, konflik ini rata-rata terjadi di dunia nyata tetapi kehebohannya bisa disaksikan di media sosial. Bahkan media sosial, terutama Twitter, menjadi kenyataan yang lebih real dibanding kehidupan itu sendiri. Kondisi ini persis seperti yang dijelaskan Baudrillard terkait dengan simulacrum yang disebabkan oleh media massa. Menurutnya, alih-alih media menjadi cermin dari realitas, media malah menjadi agen pengonstruksi realitas. Ti

Memutus Intoleransi di Negeri (Paling) Beragama

Menjelang Natal, umat beragama di Indonesia pasti digaduhkan dengan isu-isu intoleransi. Isu ini berputar pada pelarangan pemakaian atribut Natal, pelarangan pengucapan ‘selamat Natal’ dari muslim kepada umat kristiani, bahkan sampai pada isu larangan pelaksanaan Natal. Meskipun sangat disayangkan, tetapi kondisi tersebut belum menggambarkan keseluruhan cerita intoleransi di Indonesia. Masih banyak kasus intoleransi yang tidak diketahui orang awam sehingga belum menjadi agenda penting bagi banyak kalangan untuk memutus rantai intoleransi tersebut. Wahid Foundation yang concern di bidang penelitian toleransi beragama, mencatat adanya ratusan peristiwa intoleransi di Indonesia. Tahun 2016, misalnya ada 315 kasus intoleransi. Tahun 2017 turun sedikit menjadi 265 kasus, dan tahun 2018 meningkat lagi menjadi 276 kasus. Tiga aktivitas intoleransi tertinggi adalah pemidanaan berdasarkan agama/keyakinan, penyesatan agama, dan pelarangan aktivitas. Adapun pelaku dari tindakan intole

Pemuda: Puja-Puji di Era Disrupsi

Berbicara tentang pemuda dan prestasinya di tingkat dunia, kita cenderung akan pesimis. Layaknya berbicara tentang pendidikan, olahraga, kreativitas, dan teknologi, kesemuanya membuat pandangan langsung menunduk. Padahal dalam sedetik kita searching di mesin mencari internet, akan ditemukan banyak prestasi mengesankan yang diraih oleh pemuda Indonesia dari tahun ke tahun. Belum lagi 23 pemuda Indonesia yang masuk dalam Forbes 30 Under 30 Asia di tahun 2019 yang sukses membangun ekonomi digital, atau pahlawan olahraga yang mengharumkan bangsa selama Asian Games 2018. Masih banyak alasan agar kita membanggakan pemuda Indonesia dengan prestasinya yang luar biasa. Bahkan jika kita memasukkan Nadiem Makariem dan Ahmad Zaki sebagai pemuda, maka betapa spektakulernya pemuda Indonesia. Banyak orang mengharapkan masa depan Indonesia gemilang karena surplus demografi yang akan diterima Indonesia di tahun 2030-2040 mendatang. Hampir 64 persen warga negara ini akan berusia produk

Intelektual Retoris

Kaum intelektual mendapatkan posisi penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di manapun, golongan terpelajar dan terdidik ini memperoleh perlakuan khusus dengan dongengan bahwa mereka mampu memecahkan masalah dengan cepat, tepat, dan obyektif. Kaum intelektual dijadikan tim ahli anggota dewan, dijadikan penasehat di pemerintahan, juga diberi alokasi waktu khusus untuk berbicara sebagai ahli di berbagai media massa. Secara singkat, kaum intelektual adalah permata bagi negeri di manapun ia berada. George Orwell, penulis asal Inggris yang terkenal dengan novel “Animal Farm”-nya, memperjelas posisi penting kaum intelektual dalam kalimatnya yang menarik; “Rakyat jelata secara keseluruhan masih hidup di dunia yang baik dan jahat absolut, yang mana kaum intelektual telah lama melarikan diri” . Ia beranggapan bahwa kaum intelektual telah terbebas dari masalah dikotomi kehidupan yang hanya ada hitam dan putih, salah dan benar, malaikat dan iblis. Bisa jadi itu adalah pernya

Nadiem dan Pendidikan Berbasis Industri

Beberapa hari ini nama Nadiem Makarim meroket. Headline media massa, opini di berbagai platform media, hingga meme di media sosial, semuanya membicarakan sosok menteri termuda dalam Kabinet Indonesia Maju tersebut. Hal ini sebenarnya menunjukkan bahwa posisi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan merupakan jabatan strategis yang berkaitan dengan harapan rakyat Indonesia akan pendidikan berkualitasa, bukan sekadar persoalan anggaran yang besar dan kewenangan yang luas. Masyarakat tampak lelah melihat kondisi pendidikan di Indonesia yang jauh tertinggal dari negara lain. Karena itu tidak menjadi soal apakah menterinya seorang professor atau seorang praktisi, hanya prestasi yang membuat menteri dibanggakan. Seperti yang diketahui, jabatan menteri Pendidikan dan Kebudayaan sebelumnya diisi oleh profesor -yang merupakan jabatan tertinggi dunia akademik- juga seorang mantan rektor —yang merupakan jabatan tertinggi di struktural perguruan tinggi. Tetapi apakah mereka telah membawa pe

Mahasiswa Baru; Sebuah Transformasi Intelektual

Menjadi mahasiswa semakin digemari, bukan hanya karena intelektualnya yang mumpuni, tetapi juga karena gengsi. Orang tua, om, tante, kakek, dan nenek, sudah menyadari bahwa menyekolahkan anak hingga jenjang kuliah sudah menjadi kewajiban. Kuliah menjadi semacam standar sosial baru di lingkungan kampung yang sarjananya masih bisa dihitung jari. Apalagi di daerah Jawa Timur masih didominasi oleh pedesaan sehingga sarjana memiliki potensi dihormati yang tinggi. Di kampung, sarjana tidak hanya dipandang mampu mengurusi persoalan yang sesuai dengan jurusannya. Seorang sarjana Ilmu Komunikasi tidak hanya dituntut untuk bisa mendesain banner atau menjadi MC suatu acara, tetapi ia juga harus bisa memberikan komentar soal hukum jika ada anggota keluarga yang berurusan dengan polisi. Seorang sarjana pertanian bisa jadi diminta berdoa di pernikahan saudara. Sama dengan sarjana teknik arsitektur harus bisa membenahi handphone dan printer jika rusah. Kondisi ini bisa dianggap lucu, tet

About Me

My photo
Fathul Qorib
Lamongan, Jawa Timur, Indonesia
pada mulanya, aku adalah seorang yang cerdas sehingga aku ingin mengubah dunia. lalu aku menjadi lebih bijaksana, kemudian aku mengubah diriku sendiri.