Tuesday, July 5, 2016

Takmir



Bulan Ramadan tidak hanya membawa cerita tauladan dari para pemuka agama, tetapi juga tingkah menggelikan dari orang yang katanya ahli masjid. Kisah-kisah mengenai takmir masjid ini, sudah saya alami sejak kecil di kampung. Tidak ada yang berubah, mereka sama-sama memiliki keyakinan bahwa kunci surga berada di tangannya. Sehingga ia bertingkah, seolah-olah, kebaikan adalah dirinya, sehingga siapapun yang datang harus cium tangan.

Penjelasan di atas memang terlalu abstrak. Mari kutunjukkan bagaimana tingkah ketidakdewasaan manusia yang berprofesi sebagai takmir masjid ini. Dahulu kala, ketika usiaku masih menginjak sekolah dasar, ada tradisi setiap Hari Jumat seluruh penduduk kerja bakti kampung. Salah satunya adalah kerja bakti mengepel masjid yang luasnya alhamdulillah. Sebagai anak kecil, saya senang sekali bisa mengepel masjid yang maha luas, berkeramik, dan bisa menjadi ajang selancar.

Namun belakangan, kebahagiaan kami terusik karena anak kecil sudah tidak boleh lagi bermain selancar (ikut mengepel) di masjid. Alasan si takmir masjid yang dulu kupanggil Mbah To ini, karena anak kecil bisa saja kencing sembari berselancar. Sehingga akan menjadi najislah seluruh masjid, dan menjadi tidak sah salat setiap jemaah di sana. Aku dan kawan-kawan dituding sebagai penyebab tidak masuk surganya orang yang ke masjid.

Kedua, cerita menjengkelkannya takmir masjid kampus Universitas Trunojoyo Madura di mana saya kuliah tahun 2008. Tiga orang takmir pada waktu itu, adalah ngengat yang bekerja di masjid demi gengsi keislaman. Sebagai anak kampung yang akhirnya bisa kuliah, tempat pertama yang kutuju adalah masjid. Masjid paling aman tentu saja masjid kampus, yang aku tidak perlu jauh-jauh berjalan untuk kuliah. Pendeknya, dengan kesantunan pura-pura aku diusir dari rumah tuhan itu.

Cerita berikutnya, adalah kisah-kisah yang sangat dekat dengan para pelancong. Bagi kita yang sering bepergian dan membuat masjid sebagai jujugan, tentu pernah mengalami betapa menggelikannya takmir masjid ini. Banyak takmir yang gusar ketika melihat kedatangan kita yang hendak mandi dan berak di sana. Ketika saya tidur di suatu masjid pun, tiba-tiba si takmir datang membawa pancuran air dan pura-pura hendak mengepel masjid agar tidak dipakai tidur. Hal ini terjadi di masjid desa, masjid kampus, juga masjid terminal dan stasiun.

Di bulan Ramadan lebih mengerikan lagi.  Para takmir yang diberi tanggung jawab membagikan takjil dan makan kepada jemaah ini berlaku seolah-olah dialah pemilik makanan itu. Di masjid kampus misalnya, ketika adzan magrib didendangkan, berduyun-duyunlah kelompok manusia yang jarang ke masjid; anak kesenian, pecinta alam, band, sampai anak-anak berandalan. Sang takmir dengan memicingkan mata, melihat setiap gerak-gerik perebutan takjil dengan kemuakan yang mengerikan.

Ia merasa makanan itu miliknya, makanan itu tidak pantas buat para pendatang dekil itu. Mungkin, di dalam hatinya, orang-orang yang harus makan takjil itu adalah jemaah yang biasanya ke masjid, atau minimal orang-orang tau diri yang menyalami dirinya dan bilang permisi. Aduh, tuhan, takmir macam apa yang selama ini berada di masjid dengan sorot mata penuh api itu. Sungguh, ia tidak sadar dengan semua pikiran dan kata hatinya sendiri.

Memasjid

Seorang takmir yang setiap hari membersihkan masjid, biasanya merasa memiliki masjid. Masjid ini, paling tidak, dianggap sebagai rumahnya sendiri. Hal itu tentu bagus sekali. Hal yang harus dilakukan hanyalah bagaimana caranya ia wellcome kepada setiap orang yang datang. Masjid adalah rumah tuhan, dan biarkan tuhan yang menjaganya secara mendalam. Sebagai takmir, harusnya berupaya membuat kerasan masyarakat, bukan hanya jemaah masjid, tetapi masyarakat secara umum.

Seperti diketahui, orang-orang yang malas selalu lebih banyak dari pada orang yang rajin. Sebagaimana ibadah, selalu lebih banyak orang yang hanya beragama melalui kartu tanda penduduknya. Dalam kehidupan sehari-hari, Salat dan semacamnya hanyalah produk yang diyakini, bukan dijalani. Bahkan, beberapa orang yang jauh dari sarung dan kopyah, malu untuk pergi ke masjid karena sepertinya semua orang memandang ke arahnya.

Jika kita hidup di desa yang mayoritas penduduknya menganut ormas Nahdlatul Ulama, mungkin fenomena itu terasa janggal. Persis seperti seorang santri yang tidak mau diberi ‘ijazah’ kiyainya agar terjauh dari perbuatan zina. Ketika ia pergi ke Surabaya atau Jakarta, perzinaan sudah di batang kelamin. Karena itu, membuka masjid kepada setiap orang, apapun kebajikan dan kebajingannya, adalah jalan yang lebih lurus. Jika masjid sudah menjadi tempat yang nyaman bagi kebanyakan orang, salat jemaah adalah satu hal yang pasti.

Karena tak satupun orang kerasan tidur-tiduran di masjid sementara adzan berkumandang dan jemaah sedang berjalan.

Saturday, June 4, 2016

Kedianggapan

minuman keras seperti ini juga menjadi bahan pembicaraan agar dianggap


Aku menjadi teringat cerita tentang seorang perempuan yang hampir tua. Bertempat tinggal di rumah susun dekat rel kereta api, ia kemudian menjadi saksi kunci tentang pembunuhan anak kepada bapaknya. Sekilas, semua orang percaya apa yang dicakapkannya. Tetapi seorang lain, yang mengalami kehidupan yang sama dengan perempuan ini, melihat adanya kecenderungan yang aneh.

Perempuan ini datang ke pengadilan dengan dandanan menor. Ia tidak lagi memakai kaca mata meskipun di dua sisi hidungnya ada bekas yang tak bisa dihillangkan. Senyumnya melambai, dan ia memberi kesaksian di hadapan orang-orang. Suaranya didengar, ia menjadi pusat perhatian. Puluhan tahun hidup di dunia, baru sekali ini ia merasa bahwa ia berguna. Lalu ia mengarang cerita, begitu saja.

Kejadian orang tua itu merupakan cuplikan dari film 12 Angry Men. Memang hal yang luar biasa saat kita dianggap orang lain. Bahwa omongan kita didengar, keinginan kita dituruti dengan patuh, dan tingkah laku kita diberi jempol, adalah pengalaman yang luar biasa. Banyak orang ingin dianggap di hadapan manusia lainnya. Sehingga ia berbohong, mengarang cerita, menjadi orang lain, hingga merekayasa segala sesuatu demi agar dianggap itu.

Hal yang paling tidak masuk akal terkait kedianggapan –yang tidak jauh dari kesombongan yang aneh- sering dilakukan laki-laki. Kesombongan-kesombongan mereka terhadap temannya terasa janggal, menggelikan, memuakkan, hingga aku tersedak dan tak doyan makan. Hampir semua lelaki melakukan kesombongan yang dibuat-buat ini. Menganggap bahwa hal itu didengar lalu ia dianggap sebagai sosok pejantan tangguh. Buktinya tidak lain adalah nol.

Misalnya saja, seorang lelaki yang menyebut temannya sebagai ‘tidak laku’ karena tidak pacaran. Bagi sebagian orang, kejadian ini adalah hal yang biasa. Namun bila kita berfikir jernih, ada yang tidak beres dengan pemikiran lelaki zaman sekarang. Karena mengolok-olok temannya ini, hampir pasti dibarengkan dengan hikayat tentang kehebatannya sendiri. Bagaimana ia dalam usia 20 tahunan, telah berpacaran dengan 5 wanita sekaligus.

Kemudian ia mengarang cerita bagaimana ia mengencani semua pacarnya itu, membagi waktu, dan mengajak hubungan seksual yang nikmat. Ia bercerita dengan kesombongan luar biasa, seakan-akan kehormatan lelaki diletakkan pada banyaknya pacar, dan kemampuan memerawani pacarnya. Coba perhatikan, bagaimana ia bercerita tanpa henti dengan gaya tertawa yang jumawa. Memuakkan bukan?

Lebih sering dan lebih parahnya, kejadian ini ditimbali oleh teman lainnya. Yang juga bercerita hampir sama, terkait betapa banyak perempuan yang bisa dikencaninya, dan berapa banyak yang sudah menjadi tumbal malam pertama. Lalu diberi tambahan, bahwa ia lelaki yang doyan minum-minuman keras seberapapun banyaknya gelas, mengenal berbagai jenis minuman keras, lalu ditandasi dengan rokok dan segala macam ganja dan heroin.

Aku harap kejadian-kejadian seperti ini tidak asing sehingga bisa melihat dengan jelas bagaimana lelaki masa sekarang. Sengaja hal ini kutulis karena kegerahan yang luar biasa. Bukan persoalan haram-halal sebagaimana keagamaan, tapi lebih ke sosial kemanusiaan. Bagaimana bisa hal-hal seperti itu menjadi kompetisi imajiner antar lelaki. Karena hampir 99 persen, cerita itu gombal semua.

Bahkan seorang lelaki yang sudah menikah, kemudian mengaku telah menakhlukkan perempuan-perempuan lainnya. Berbangga karena pernah mengenal lokalisasi yang ada di beberapa daerah. Ketika disebut banyak mengerjai perempuan-perempuan malam itu, dia tidak berhenti membusungkan dada. Lebih ngerinya lagi, dia mengaku ‘perkasa’ sebagai sosok lelaki, dan bisa menyantap siapapun; mulai dari daun muda hingga janda-janda.

Padahal dalam psikologi seksual, seorang lelaki hanya digambarkan sebagai kompor gas yang menyala dengan cepat dan padam dengan cepat. Sedangkan perempuan adalah magic com yang lambat panas dan ketika dimatikan lambat pula dinginnya. Karena itu, banyak obat kejantanan pria karena kebanyakan mereka besar mulut tapi mencari cara bagaimana membesarkan kemaluan dan mempanjang hubungan seksual. Munafik kan?

Mau tahu kenapa lelaki mudah keluar saat berhubungan seksual? Menurut buku psikologi seksual itu, semuanya berasal dari sejarah. Di zaman purba, peperangan bisa terjadi secepat kita mengedipkan mata. Karena itu, lelaki harus cepat panas sehingga bisa mengeluarkan spermanya dan membuahi di perempuan. Setelah terpuaskan itu, ia bisa langsung berperang karena generasi berikutnya sudah pasti ada di perut perempuan. –butuh tulisan khusus mengupas hal ini.

Bagi lelaki yang banyak bergaul ke sana kemari, dengan berbagai kalangan, kejadian itu tidaklah langka dan bukan sesuatu yang tabu. Dalam kehidupanku sendiri, persoalan itu hampir tiap hari dibicarakan lelaki yang ada di lingkunganku. Aneh dan aneh. Mereka mengaku menyimpan nama-nama perempuan, menunjukkan sebagian pesan bbm dan whatsapp-nya kepada kita agar dipercaya bahwa dia banyak yang mau.

Wednesday, May 4, 2016

Kesadaran Naruto dan Sasuke



Bagi anak kecil, menonton naruto tentunya hanya untuk menghafalkan jurus kage bunsin no jutsu dan pertarungan antar ninja yang keren. Namun bagi kita yang telah melewati masa kanak-kanak, harusnya ada hal yang lebih dari sekedar pertarungan. Masa-masa kegelapan yang dialami naruto, sebenarnya adalah kegelapan yang dialami oleh kita semua yang mulai menyadari ada kehidupan yang tidak beres.

Naruto awalnya bukan orang yang sadar. Ia adalah buah dari kebajikan gurunya, yang menularkan ilmu merenung sehingga ia dapat mengetahui adanya ketidakberesan itu. Diperparah dengan kepergian sahabat sekaligus kompetitornya untuk mencari kekuatan untuk membalas dendam –yang bagi naruto, balas dendam tidak ada gunanya. Dari sinilah semua itu bermula.

Bahkan bukan hanya Naruto yang punya pandangan terbaik untuk menyelamatkan dunia. Bagi kelompok Akatsuki yang dijadikan tokoh antagonis, mereka juga memiliki tujuan luar biasa; menjadikan dunia tanpa kebencian. Dunia ninja, dalam anime naruto, adalah dunia yang penuh kebencian. Balas dendam antar bangsa, antar klan, dan dituruntemurunkan, menjadikan dunia ninja penuh kegelapan.

Siapa yang bisa membenahi dunia yang sudah berada dalam sistem kehancuran? Waktu itu di anime Naruto, sepertinya tidak  mungkin dunia terselamatkan. Karena itulah muncul sosok seperti Jiraiya –guru Naruto-, yang punya cita-cita menyelamatkan dunia dengan mempercayai adanya kedamaian. Ada pula sosok seperti Uchiha Itachi yang rela berada di kelompok Akatsuki yang jahat untuk menyelamatkan dunia –mengingatkan kita pada sosok Adipati Karna bukan?. Dan ada pula yang seperti Madara yang menghalalkan segala cara untuk mendamaikan dunia.

Jadi menonton film Naruto ini dapat membawa kita pada pilihan-pilihan yang tak terduga. Dua tokoh utama yang memiliki hubungan tak terjelaskan ini, Naruto dan Sasuke, ternyata juga harus memilih diantara hal yang tidak mengenakkan di dunia ini. Mari kita pilih, Naruto yang meneruskan cita-cita Jiraiya agar menyelamatkan dunia dari kebencian dengan kebaikan –yang pastinya harus siap sakit hati-, atau menggunakan cara Sasuke yang membiaskan cita-cita Itachi, Orochimaru, dan Madara, untuk menyelamatkan dunia dengan menghancurkan dunia –yang pastinya akan dibenci banyak orang.

Beban Berat

Bagi Sasuke, mungkin beban beratnya adalah ketika mengetahui seluruh klannya dibantai oleh kakaknya sendiri atas keinginan ‘Pemerintahan Desa Konoha’. Ia kemudian bersikap dingin, tidak bersahabat, dan terobsesi dengan kekuatan yang luar biasa guna membalaskan dendam kematian klannya ini. Ia rela berurusan dengan kematian, ia rela teguh di jalan sendirian tanpa seorang pun di dalamnya. Ia harus berada dalam kegelapan –tanpa tahu kapan akan berakhir, demi sebuah kekuatan.

Sementara Naruto, menahan beban berat sepanjang hidupnya untuk memulangkan Sasuke yang berbelok ke jalan kegelapan. Jalan ninja Naruto adalah menyelamatkan dunia. Bukan sekedar mengurusi keinginan hati untuk begini dan begitu. Naruto, dalam berbagai hal, menanggung beban yang lebih berat dari siapapun juga. Karena ia satu-satunya teman Sasuke yang tidak bisa ia hentikan, yang membuat Konoha terus mendapatkan masalah.

Salah satu scene yang membuatku tercenung dan membuatku ingin mengalaminya berkali-kali, adalah ketika Naruto bertemu dengan Pain. Lelaki dengan lima tubuh yang masing-masing memiliki kekuatan luar biasa ini, mampu memporak-porandakan Konoha dalam beberapa menit. Seluruh ninja di desa itu hancur berkeping-keping, mati, dan membuat darah Naruto mendidih, marah, dan ingin membunuh Pain meskipun harus menghancurkannya berkali-kali.

Saat pertarungan yang menggetarkan hingga kemenangan berada di tangannya, Naruto malah ingin berhadapan dengan tubuh asli Pain; Nagato. Padahal ia bisa saja dari jarak jauh membunuh Nagato ini. Saat pertemuan itu, Naruto berkata : aku hanya ingin mengonfirmasi, apa yang akan aku lakukan ketika bertemu dengan musuh terbesarku. Bisa saja, Naruto langsung membunuhnya. Tapi Naruto adalah sosok yang memang dipersiapkan untuk menjadi pahlawan. Pengalaman pahit sepanjang hidupnya, menjadikannya sosok yang bijaksana.

Mengonfirmasi kebencian, adalah menghadirkan kesadaran saat ia tengah berada pada suatu hasrat yang siapapun tak akan bisa mencegahnya. Ia cukup menyelami dirinya sendiri, menimbang dengan penuh kewarasan. Sebagaimana sabda Nabi yang pernah kuingat, orang yang kuat bukanlah orang yang gagah perkasa, tetapi orang yang mampu meredam amarahnya ketika ia berkuasa untuk marah.

Jadi, dunia ini bagaimanapun baiknya, tetap menyimpan seribu kebrengsekan juga. Kita harus menjadi salah satu dari beberapa orang yang bertugas untuk menyelamatkan dunia itu. Baik dengan jalan kebaikan, atau dengan jalan keburukan. Karena kita tidak pernah tahu mana yang akan bertahan dan berhasil. Karena soal keburukan atau kebaikan, urusannya dengan Tuhan. Dan kebijaksanaan kita memahami kehidupanlah yang akan menentukan kemana hati kita bersandar.

Wednesday, April 13, 2016

First Turonggo, Fiat 124 Special



Seluruh pengalaman harus kita dapatkan. Itu adalah prinsip yang bagus untuk memahami hidup yang begitu panjang kita alami ini. Karena kebanyakan kita, tidak punya cukup kesempatan untuk mencoba, dan jikapun punya kesempatan, tidak punya cukup keberanian untuk melakukannya. Terlalu banyak pertimbangan, dalam beberapa hal, sangat tidak disarankan.

Paling tidak itulah yang mendasari pilihanku untuk menerima tawaran membeli sebuah mobil. Pilihan ini memang tidak sempurna, melihat kemampuan keuanganku juga masih pas-pasan. Namun berpengalaman memiliki mobil sangat menggodaku. Bagaimana membawanya, merawatnya, menyervicenya, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan mobil, aku ingin tahu.

Dan mobil yang aku beli ini, tampaknya sempurna. Aku tidak pernah sebangga ini melihat sosok mobil imut, keren, gagah, klasik, memukau, dan menderu dengan bangga di jalanan. Dan mungkin perlu diketahui, saat aku membeli Fiat 124 Spesial ini, tidak ada pertimbangan yang berarti. Karena seluruh kebutuhanku masihlah berkeliling menggunakan sepeda motor. Sehingga membeli mobil adalah pilihan tersier yang bisa saja membuatku terseok-seok merawatnya.

Aku tidak pernah faham sebuah mobil. Sama persis dengan waktu SMA, ketika teman-teman sudah bisa membedakan nomor 0856xxx berarti IM3 Indosat dan nomor 0813xxx adalah Simpati Telkomsel, namun aku tidak faham sama sekali. Persis juga ketika orang-orang membicarakan betapa iritnya sepeda motor Honda dibandingkan dengan Yamaha, dan betapa sulitnya merawat sepeda motor Suzuki karena harus memakai oli samping, tapi aku tak tahu sama sekali.

Jika nomor hape pertamaku adalah Indosat, HP pertamaku adalah Nexian, sepeda motor pertamaku adalah Honda Beat, maka mobil pertamaku adalah Fiat 124 Spesial Tahun 1974 ini. Namun satu-satunya kebanggaan di masa kepemilikan ini adalah yang terakhir. Karena ia adalah sebuah turonggo, dalam bahasa normal adalah kuda untuk kendaraan, namun dalam filsafat jawa, turonggo bukan hanya sekedar kuda atau kendaraan.

Turonggo malah diibaratkan sebagai salah satu prasyarat pria jawa mendapat keistimewaannya. Karena ada lima hal yang harus dimiliki oleh lelaki jawa, yaitu wismo, wanito, turonggo, kukilo, dan curigo. Wismo berarti rumah, wanito berarti istri, turonggo berarti kuda, kukilo berarti burung, dan curigo berarti keris. Turonggo di sini, bisa jadi adalah tunggangan yang membanggakan. Karena di masa lalu mendapat kuda begitu susahnya, sehingga saat ini bisa diartikan dengan kendaraan yang mahal harganya.

Namun bagi saya, harga bukan soal untuk menentukan betapa istimewanya barang kita. Lebih dari itu, keistimewaan lain harus bisa kita banggakan, selain harga. Misalnya, Fiat 124 ini keluaran tahun 1974 yang merupakan raja di jalanan waktu itu. Dengan kendaraan buatan Italia, tentunya akan sangat berbeda dengan tunggangan laiin yang berasal dari Jepang. Belum lagi bodinya yang berbeda dengan kendaraan lain di zaman sekarang sehingga semua mata akan memandangnya bila di jalanan.

Ketika kendaraan ini saya bawa di kampung, anak-anak kecil banyak berteriak bahwa Mr Bean sedang lewat. Padahal yang dikendarai Mr Bean adalah mini cooper yang tentunya berbeda dengan Fiat yang saya naiki. Ada pula komentar, ternyata kendaraan yang ada di film Marsha and The Bear ada di dunia nyata. Hal-hal seperti ini membuat saya bangga dengan turonggo yang pertama kalinya kumiliki ini.

Sebagai orang yang nggak faham sama sekali soal mobil, memiliki Fiat adalah keberuntungan. Dari pada memiliki mobil yang sudah banyak di jalanan, lebih baik menggunakan kendaraan yang sangat berbeda sehingga tahu sensasinya. Mungkin sensasinya sama dengan memiliki mobil di saat semua orang pakai sepeda sepeda motor. Jadi saat sekarang di jalanan banyak mobil lalu lalang, tak musim jika kendaraan pertama kita adalah semacam avanza, innova, atau jazz sekalipun.

Sekarang, setiap kali aku memandang Fiat ini terparkir di manapun, terlihat sekali bagaimana antiknya. Selalu saja aku ingin memfotonya, menguploadnya di instagram dan facebook.  Tetapi suatu saat, Fiat ini tak selalu harus kumiliki. Memiliki kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan adalah pikiran orang dewasa. Karena Fiat ini hanya memenuhi hasrat sesaatku saja, karena suatu saat ia harus jadi modal kerja dalam bentuk uang. Ya, suatu hari akan kugadaikan.

Paling tidak, aku sudah pernah merasakan memiliki dan merawat mobil. Merasakan dingin saat terik Surabaya membakar kepala orang-orang, merasakan hangat saat hujan mengguyur pengendara sepeda motor. Jadi, semua ini adalah karunia dari Tuhan yang tak bisa kutaksir harganya. Terimakasih, Tuhan, karena setiap pengalaman yang Kau berikan membuatku semakin bahagia.

Monday, April 4, 2016

Menjadi Penulis Terkenal



Menjadi penulis terkenal adalah cita-cita yang menggiurkan bagi –minimal- seseorang yang hobi membaca. Orang yang suka membaca kebanyakan bercita-cita bisa menulis sebagaimana buku yang dibacanya. Namun demikian, sampai saat ini masih banyak orang yang akhirnya galau karena menjadi penulis buku terkenal demikian sulitnya.

Menjadi penulis terkenal bukan soal tulisannya bagus atau tidak bagus. Banyak penulis yang bermodalkan kemampuan menulis pas-pasan lalu memiliki jaringan luas tak terbatas dalam bidang ini sehingga bukunya diberi gelar best seller. Maka dari itu, diperlukan tips dan cara agar seorang penulis pemula bisa menapaki jalan menjadi penulis terkenal.

Tips yang akan saya tulis, tidak akan membuat kepala pening. Ya saya bisa jamin. Mungkin saya belagak seperti AS Laksana yang memiliki tips-tips jitu dalam bukunya. Sebuah tips realistis, bukan fatamorgana. Maka demikianlah saya akan merumuskan beberapa cara agar seseorang bisa menerbitkan buku dan menjadi terkenal.

Pertama : Membaca

Untuk menjadi seorang penulis, tentunya kita harus banyak membaca. Itu adalah rumusan yang setiap hari kita dengar. Dan suatu rumusan yang dibenarkan oleh seluruh manusia di bumi ini, kalau tidak dilakukan, maka kita tidak akan mendapat manfaat apapun. Rumusan tinggal jadi rumusan. Karnea itulah, mulai sekarang membacalah.

Apa yang harus dibaca? Segala hal yang menarik hati. Hal ini bisa kita mulai dari genre. Seorang anak SMA mungkin akan lebih menyukai novel bergenre tenlet atau checklit. Novel ini bergaya anak muda banget, lu gue, dan biasanya penuh drama yang menguras emosi. Seorang mahasiswa, bisa jadi lebih menyukai novel yang agak dewasa sedikit. Atau menyukai novel sastra yang memiliki logika bebas beraturan.

Apapun buku yang tulisan yang kita baca, akan membawa manfaat yang luar biasa. Saat kita membaca novel detektif, kita akan memiliki keinginan menulis novel detektif. Saat membaca novel dongeng, kita akan merasa bisa menulis novel dongeng. Saat membaca roman percintaan atau novel sejarah, kita juga akan memiliki keinginan menulis ke arah sana. Tidak peduli bagaimana memulai, mulai saja.

Beberapa orang akan membenci saat kita membaca novel teenlet yang dikelompokkan dalam genre sinetron cemen. Atau orang akan sinis dan wow saat kita membaca novel milik pramoedya, ahmad tohari, ayu utami, atau novel-novel sejenis. Biasanya, seorang penulis yang baik, juga seorang pembaca yang hebat. Bila kita serius membaca, kata-kata akan mengalir demikian mudahnya sehingga tidak ada istilah mandeg jegrek dan kehilangan kata-kata untuk dituliskan.

Kedua : Ikuti Lomba Menulis

Setelah banyak membaca dan sedikit-sedikit menulis, selayaknya bila kita mengikuti perlombaan. Perlombaan menulis saat ini sudah banyak, mulai dari yang tak berhadiah hingga hadiah jutaan. Untuk pemula, hal ini bisa dijadikan semangat. Karena ada beberapa karakter perlombaan yang pemenangnya akan diikutkan untuk antologi. Sehingga sambil belajar menulis, kita menang kemudian sudah punya buku. Semakin banyak ikut, kesempatan menang semakin besar. Itu saja yang perlu dipegang.

Perlombaan yang bisa menjadi ajang belajar adalah penulisan short story. Kalau cerita yang sangat pendek, biasanya menjadi flash story. Ikutlah lomba di blogger, facebook, atau komunitas-komunitas, terlebih dahulu. Jika beberapa kali ikut kemudian tidak menang, jadikan pelajaran. Karena biasanya perlombaan disesuaikan dengan tema. Sehingga tema ini akan membuat ide dalam kepala kita dengan sendirinya.

Maka semakin banyak mengikuti lomba, kita akan semakin banyak memiliki ide. Kumpulkan setiap tulisan yang disertakan dalam lomba untuk dipelajari. Maka yakin saja, belajar sambil harap-harap cemas menunggu pengumuman pemenang akan sangat menyenangkan. Karena prinsip dasarnya, semakin banyak menulis, maka kemampuan kita akan semakin terasah. Dalam waktu enam bulan saja, kita akan punya gairah kepenulisan yang luar biasa.

Ketiga : Ikut Komunitas Menulis

Di mana-mana, komunitas adalah sekelompok orang yang menyenangkan bagi anggotanya. Apalagi komunitas ini sesuai dengan hobi kita, dan sesuai dengan keinginan kita menjadi seperti mereka. Dalam suatu komunitas pasti memiliki anggota yang lebih senior, atau pembina keren yang pengalamannya melebihi anggota lain. Dalam komunitas kepenulisan, keberadaan praktisi dan akademisi kepenulisan sangat penting.

Saat penulis pemula ikut dalam komunitas, ia akan dibuat senang menjalaninya. Selain banyak support, kita juga akan nyaman karena banyak orang yang satu tujuan. Saling asah akan terjadi antar anggota komunitas. Saling memberi saran dan kritik adalah hal yang membangun. Sehingga orang yang belajar seorang diri akan lebih lama kemampuannya dari pada orang yang belajar menulis bersama-sama.

Di dalam komunitas, kita juga akan diajak untuk berkomitmen kepada tujuan kita. Saat kita kendor, ada orang lain yang menyemangati. Informasi terbaru dalam dunia kepenulisan akan cepat kita dapat. Baik tips menulis cepat dan bagus, maupun cara menerbitkan buku. Bergaul dengan orang yang hobi menulis, yakinlah bahwa kita juga akan bisa menjadi penulis.

Keempat : Buat Buku Kumpulan Tulisan

Tahap berikutnya memang agak berat saat kita melihat langsung ke sini. Namun ketika kita mengikuti proses kreatif diri sendiri sejak membaca, mengikuti lomba kepenulisan, hingga ikut komunitas menulis, maka membuat kumpulan tulisan bukan sesuatu yang sulit. Bayangkan, saat kita banyak membaca, maka kemampuan kita akan terus meningkat.

Lalu saat kita ikut 10 lomba kepenulisan, maka paling tidak kita sudah punya 10 tulisan. Kalau 5 diantaranya jelek, buang, dan buat lagi 5 tulisan yang baik. Revisi tulisan terdahulu sehingga lebih layak dibaca. Dengan punya 10 tulisan, ditambah pelatiha-pelatihan menulis saat berada di komunitas, maka setidaknya kita sudah memiliki 15 tulisan. Yang mana, 15 tulisan ini sudah sangat layak menjadi satu buku.

Saat kita selesai mengumpulkannya dalam satu dokumen, mintalah teman untuk membacanya. Tidak perlu bagus-bagus bila memang ‘bagus’ masihlah sangat jauh. Cepat lakukan proses editing, minta tolong buatkan sampul buku kepada teman yang berada di jurusan photoshop, sehinga tampillah buku kita sendiri. Lalu terakhir, cetak. Cetak, dan biarkan teman-temanmu bertepuk tangan.

Semangat ini akan terbawa dalam kehidupan. Akan membuat kita lebih optimis di dalam dunia kepenulisan. Orang sekomunitas juga akan mulai meniru jejak kita. Sementara adik kelas atau adik komunitas, juga akan menganggap kita sudah lebih jago sedikit. Dengan semangat semacam ini, membaca mutlak diperlukan, dan menulis lebih banyak juga mutlak dilakukan. Kita akan melihat dunia dengan cara yang berbeda.

Kelima : Buat Blog

Saat ini, kita bisa sedemikian mudah menyebarkan gagasan. Gagasan-gagasan kita yang sudah tertuang dalam tulisan, bisa diposting dalam blog. Tentu saja blog gratisan bila kita masih belajar menulis. Semata-mata menulis adalah pekerjaan keren sehingga orang yang terlihat sering menulis juga bisa dikatakan keren. Apalagi dengan menulis di blog, kita bisa langsung menyebarkan link tersebut ke beberapa teman di dunia maya ini.

Dengan memiliki blog, kita bisa pamer kekerenan kita sedemikian rupa sehingga semangat menulis juga terpacu. Dari pada menulis di media massa atau menulis buku, lebih mudah menulis di dalam blog karena tidak ada kurator, dan tidak ada biaya apapun kecuali secangkir kopi di warung ber-wifi. Bahkan dengan memiliki blog yang aktif tulisannya, profesionalitas kita akan terlihat. 

Kelima : Kirim Tulisan ke Media

Hal yang juga luar biasa adalah saat kita sanggup memunculkan nama di media massa. Pertama-tama memang akan sungguh teramat sulit. Tetapi orang media bukanlah orang yang bodoh. Dengan banyak pengalaman, mereka akan mempertimbangkan tulisan kita. Paling tidak, pilihlah topik-topik yang aktual dan banyak diperbincangkan saat itu.

Baik menulis puisi, cerita pendek, atau opini, aktualitas menjadi sangat penting. Bacalah karya penulis lain, juga bacalah tajuk rencana media massa yang hendak kita kirimi tulisan. Dengan begitu, kita akan tahu karakter media tersebut. Saat kita sudah tahu karakter media itu, tinggal kita sediakan tulisan yang layak dan sesuai dengan ideologinya.

Semakin sering kita menulis, semakin sering editornya melihat nama kita. Akhirnya semakin dia yakin bahwa kita penulis yang serius, dan berharap besar padanya. Orang paling suka kalau dia merasa sangat dibutuhkan. Karena itu, suatu saat, bila kita konsisten dengan tulisan layak kita, menembus media bukanlah hal yang mustahil. Di saat inilah, kita sudah siap menjadi penulis yang setingkat lebih tinggi.

Keenam : Sering Memberi Materi Kepenulisan

Mengajar juga belajar. Saat kita sudah punya pengalaman dan bisa menulis, teruslah memberikan manfaat pada orang lain. Suatu saat, ketika kita mengajar, kita bisa mendapat pengetahuan baru mengenai teknik menulis yang baik. Kesalahan-kesalahan kita di masa lalu, kebebalan di masa lalu, akan menjadi pijakan tak terduga dalam merumuskan cara menyelamatkan generasi muda dari ketidakbisaan menulis. Keren kan?

Ini adalah hal yang tidak pernah akan ditemukan oleh orang yang tidak menjadi pengajar. Bukan dalam arti yang resmi, namun menjadi pemateri dalam suatu komunitas saja sudah cukup. Dari sana, kita akan terus menerus belajar bagaimana cara menjadi penulis yang efektif. Dengan menemukan teknik itu, selain menulis kita jadi semakin hebat, kita juga bisa menjadi cahaya bagi orang lain. Di sanalah kemudian, kita akan menjadi orang yang paling baik.

Tuesday, March 15, 2016

Tak Selesai


Awalnya aku hanya berambisi tidak akan menyulitkan siapapun. Hidup mandiri, di mana saja, dalam kondisi apa saja. Kemudian aku menjadi dewasa dan tidak lagi berfikir sempit seperti itu. Rupanya aku harus lebih bijaksana dengan tidak membiarkan keluargaku hidup sengsara. Karena sejak kecil, hidup begitu menjengkelkan. Mulai dari bangun pagi hingga dalam mimpi sekalipun, urusan perut tak pernah meyakinkan.

Kakak lelaki satu-satunya pun diperlakukan takdir secara kasar. Ia polio sejak kecil sehingga harus menggunakan tongkat kemana-mana. Pikirku waktu itu, aku tidak menjadi beban keluarga saja sudah cukup. Dan itu sudah hampir aku lakukan sejak lulus Sekolah Dasar. Aku mandiri, meminimalisasi ketergantunganku dengan keluarga hingga 10 persen saja. Alhamdulillah, tuhan memelukku dan aku berhasil.

Dua kakak perempuanku saat ini dalam titik nadirnya. Orang tua semakin sepuh. Dan aku hanya begini-begini saja tanpa mampu berbuat sesuatu yang luar biasa. Aku hanya dikagumi sebagian orang yang tak pernah benar-benar mengerti arti berdarah-darah. Jadi aku mengelilingi Indonesia dengan tabah, tidak pernah makan untuk suatu kebahagiaan kecuali untuk bertahan hidup. Hingga aku di Papua dan secercah cahaya hinggap di pelupuk mata.

Aku bisa mengirimi keluarga uang. Takdir menunjukkan kenaifannya. Ternyata kebahagiaan orang yang selalu lapar adalah nasi. Kebahagiaan orang yang selalu kepanasan adalah es teh. Kebahagiaan orang yang selalu diguyur hujan bahkan saat tidur adalah rumah yang nyaman. Secara materi aku mampu menyediakan hal itu semua ketika masih di Papua. Tentu aku akhirnya berbangga dengan diri sendiri.

Dan sekarang, semua hal menjadi abstrak lagi. Aku pulang ke Jawa dan melanjutkan cita-cita yang dulu terasa tidak mungkin. Aku akhirnya menggunakan paspor yang telah kubuat sejak tahun 2012 untuk keliling Asean di tahun 2015. Dan lagi, aku akhirnya melanjutkan studi master dalam bidang ilmu yang sama. Aku menjadi manusia biasa, bekerja seperti orang normal, ngopi dan nonton film seperti orang kebanyakan, bersedih dan bahagia layaknya manusia, punya pacar baik dan cantik.

Cita-citaku untuk tidak membiarkan keluargaku dalam kesengsaraan materi, mandeg. Aku kehilangan penghasilan yang besar karena kebutuhanku saat ini sama besarnya. Dulu, aku mempercayai bahwa kaya hati merupakan kekuatan utama kehidupan. Tapi bagi ibuku, itu adalah halusinasi yang dibawa ayahku sendiri. Ibuku lebih logis memandang kehidupan, sementara ayahku berlindung dibalik janji-janji surga agama.

Dengan contoh keluargaku, uang adalah segalanya. Dan aku belum bisa memenuhi hal itu sehingga membuatku berpikir terus-menerus. Ini adalah fase ke puluhan kalinya saat aku terjebak dengan hal-hal yang ambigu. Sesuatu yang hanya bisa kuidentifikasi tanpa tahu jalan keluarnya. Tentu saja karena beberapa pertimbangan yang rasa-rasanya, kesalahan seumur hidupku.

Tapi pilihan-pilihan ini memang sesuatu yang harus aku jalani. Takdir akan membawa pada kesanggupan-kesanggupan baru. Sekarang hanya harus dijalani untuk menyongsong takdir berikutnya. Tapi bagi seorang visioner, hidup mengandalkan takdir begitu membingungkan. Namun harus kusadari, cita-cita untuk bisa kuliah pascasarjana dan keliling Indonesia sudahlah menjadi sesuatu yang muluk. Sehingga ketika keduanya tercapai, aku kehilangan pegangan.

Namun tidak apa, aku yakin tuhan sedang melucu saat ini. Dalam beberapa hal, aku telah dikaruniai pengalaman yang luar baisa. Baik dalam segi hal-hal yang positif maupun hal-hal yang negatif. Orang-orang yang dulu kupandang berkelakuan bejat, aku sudah sedikit faham bagaimana rasanya. Meski semua hal negatif tetap aku sembunyikan dalam manajemen impression yang hampir sempurna. Sehingga orang tetap memandangku baik-baik saja, sedangkan pikiran bergejolak gila.

Membandingkan apa yang sudah dan akan kulakukan, memunculkan keraguan yang luar biasa. Aku sudah pasti bersyukur, namun sudah pasti pula banyak berdoa. Misalnya, aku harus memberangkatkan umrah atau haji kedua orang tua. Aku harus menikah dengan gadis yang baik. Aku harus mendapatkan pekerjaan yang membanggakan. Aku harus menyelesaikan tulisan-tulisan dengan tema beragam. Aku harus membuat organisasi sosial yang bekerja dan berjuang untuk sosial. Dan banyak lagi.

Pikiranku masih menuju ke lautan luas, udara bebas, dan daratan tanpa akhir. Tapi diam-diam banyak batasan yang hendak mengekang. Karenanya, aku butuh ketabahan tambahan. Aku butuh ketabahan tambahan. Aku butuh bersyukur tanpa batasan. 

Thursday, March 10, 2016

Kakakku dan Belalang Tempur



Ini tentang kakak lelakiku satu-satunya. Orang yang banyak memberiku pengalaman, pengetahuan, hingga pelajaran-pelajaran yang tak pernah aku sadari. Dia temperamental, mencoba rasional tapi lebih sering terjebak dalam dogma agama, mencoba memahami sesuatu tapi sering terjebak dalam pikirannya sendiri. Terlepas dari semua ketidaktahuanku akan dia, aku merasa bahwa dia adalah sosok yang mencoba berada di tengah-tengah suatu kaum. Dia ingin menjadi NU sepenuhnya.

Kadang ia punya prinsip, tugas seorang manusia hanyalah menyampaikan sesuatu yang benar.  Ketika kebenaran telah disampaikan dan orang lain tak menerimanya, itu sudah tidak menjadi kewajibannya lagi. Tapi kadang ia berprinsip, penyampaian suatu kebenaran lebih dibutuhkan dari pada kebenaran itu sendiri. Sehingga, saat orang menyampaikan suatu kebenaran, harus dengan cara-cara yang kebenaran itu bisa diterima.

Tapi semua itu tak pernah mengejutkanku karena dalam pergulatan pikirannya, aku selalu berada di sana –setidaknya menurutku begitu. Yang membuat mataku terpejam dan berdoa keras-keras adalah karena ia polio. Kaki kirinya mengecil dan tidak tidak bisa dipakai berdiri. Kaki kirinya bisa merespon sentuhan tapi tidak kokoh. Kaki yang selalu menjadi perhatian dan tanda tanya bagi anak kecil yang polos.

Waktu kecil dulu, dialah yang mengajakku kemana-mana. Tentu saja aku menjadi supir sepeda ontel. Dia orang yang hobi bicara, hobi bercerita, hobi menanggapi sesuatu, dan hobi yang berkaitan dengan mulut. Sehingga kita sedikit banyak akan cepat akrab dengan dia sekaligus mengetahui pikiran-pikirannya. Sebagai supir dan adik, dulu aku hanya mendegar apapun darinya. Aku hanya akan mengantarkan kemanapun ia pergi.

Dari Lamongan ke Tuban, aku pernah menjadi supir sepeda ontelnya. Melewati belantara hutan, jalan setapak, jalan menanjak, kerikil jalanan, bebatuan, dan semua jalan yang bisa diceritakan sudah aku lewati. Rupanya ia hobi jalan-jalan. Dengan caranya mengajak dan berbicara itu, aku yakin banyak yang ditularkannya kepadaku. Bisa jadi, hobiku jalan-jalan menular darinya.

Begitulah hingga aku kemudian keliling Indonesia, dan di suatu tahun 2013 aku berada di Jayapura. Ayahku memberi kabar bahwa kakakku sudah punya sepeda motor roda tiga. Uangnya, menurut ayahku, tentu saja dari dia. Sementara dari kakakku, itu uang dari dia sendiri. Dan aku boleh saja berasumsi, itu uangku dan uang ibuku. –kalimat terakhir tidak usah dipercaya–. Intinya,  dari Lamongan kakakku sudah berani naik sepeda motor sendirian ke Tubah untuk beberapa bulan.

Lalu tiba-tiba, suatu ketika ayahku memberitahukan, kakakku yang polio ini sudah berada di Surabaya menggunakan kendaraan belalang tempur itu. Aku kembali terkaget-kaget dan bertanya-tanya, apakah yang sedang terjadi? Ternyata ia berada di Surabaya dalam waktu yang lama, dan katanya: ia telah berhasil. Hingga aku pulang ke Jawa, aku tahu bahwa ia telah merantau dan berhasil memperoleh penghasilan yang luar biasa.

Ia bekerja sebagai tukang pijat dan mendapatkan penghasilan perbulannya seperti pegawai tingkat menengah. Bagiku, ini adalah kabar yang maha besar. Suatu kisah yang diciptakan tuhan, dan aku selalu bersyukur untuk itu. Karena dalam bayanganku dulu, aku akan menanggung seluruh beban keluarga. Mulai orang tua, ketiga kakakku, dan dua adikku. Mungkin kakakku satu ini hanya berfikir: paling tidak aku tidak menyusahkan orang lain. Dan itu adalah pemikiranku sejak SD hingga di perguruan tinggi.

Ternyata kakakku yang polio ini menunjukkan bahwa kecacatan tidak membawa pada kesengsaraan terus menerus. Ia persis seperti tokoh-tokoh video Youtube yang menginspirasi orang lain karena kecacatannya. Semacam tulisan, dia adalah orang cacat tapi bisa mencukupi kehidupannya sendiri. Dia mampun berhasil dengan kemampuan yang ia miliki. Lalu kenapa kalian yang normal tidak bisa bekerja lebih dan menghasilkan sesuatu yang lebih besar seperti orang cacat itu? Sering kan mengetahui hal ini?


Dan puncaknya hari ini, kakakku tiba-tiba memberi kabar sudah berada di Jember dengan belalang tempurnya. Kendaraan yang banyak menyusahkannya, dan banyak membawanya ke pengalaman baru. Tampaknya ia memutuskan akan tinggal di Jember dan meninggalkan Surabaya. Jarak Lamongan Surabaya adalah 3 jam sepeda motor kecepatan normal. Jarak Lamongan ke Jember adalah 6 sampai 7 jam berkendara. Sungguh, aku terkesiap dan menunggu apa rencana tuhan selanjutnya. Tentu saja aku bahagia dan berteriak keras-keras.

Aku memang tidak tahu apa dan bagaimana akhir kisah ini. Tetapi sebagai adik yang punya cita-cita yang luar biasa tinggi, kakakku yang satu ini membuatku terus bergelora. Ia akan berusaha dengan dirinya sendiri. Ia tidak harus menanggung beban keluarga besar yang kebutuhan duitnya melonjak terus menerus. Ia sudah cukup diberi ujian cacat sehingga pantas untuk bahagia. Karena bagi sebagian yang lain, kecacatan akan mematikan cita-cita hingga berakhir bunuh diri.

Itu adalah kisahnya, yang dalam perjalanannya banyak mendewasakan dan membuatnya belajar terus menerus. Sekarang memang giliranku, selalu akan menjadi giliranku.

Saturday, February 27, 2016

Mantan


Ia menundukkan kepala. Di seberang meja dalam sebuah acara resmi. Senyumnya sesekali kepadaku. Ia adalah mantan kawanku, yang kini kawanku itu duduk di sebelahku. Kawanku ini sosok yang bagi sebagian besar perempuan, adalah lelaki keren. Wajahnya ganteng, puisinya jago, paling kinclong kalau sudah dandan. Tentunya, kemampuan otaknya membesar karena teman-temannya tidak sejago dirinya. Minunsnya hanya satu: dia sudah menikah.

Sementara perempuan di seberang meja adalah remaja centil yang digemesin banyak orang.  Entah bagaimana hubungan mereka itu tiba-tiba selesai. Karenanya, siang ini terjadi kecanggungan yang hendak ditepis dalam diam keduanya. Mereka berhasil, untung saja. Meskipun aku melihat isyarat-isyarat yang tak bisa dijelaskan. Sehingga tiba-tiba aku ingin bertanya pada mereka, bagaimana kita bisa berhadapan dengan mantan?

Menghadapi mantan, sebagian besar perempuan akan kesulitan, berbeda dengan lelaki. Karena seorang perempuan lebih bisa menghargai sebuah hubungan dibandingkan dengan lelaki. Lelaki melihat semua dari kacamata pragmatis –kesenangan sementara pun menjadi jujugan lelaki. Padahal perempuan menikmati hubungan sebagai sebuah kesenangan jangka panjang, yang kalau bisa, akan dibawanya hingga mati.

Klaim-klaim dalam tulisan ini tak terbantahkan bagi diriku sendiri. Kita akan melihat bagaimana perempuan ketika berbicara dengan temannya, menggunakan sentuhan, usapan, pelukan, dan bermacam gaya untuk menguatkan sebuah hubungan. Bahkan saat mereka berbicara banyak, curhat, meracau, itu adalah cara mereka menjalin hubungan. Hubungan bagi perempuan, adalah keniscayaan.

Lelaki, memiliki hubungan untuk sesuatu yang lebih janggal. Bersama kawan-kawannya, kebanyakan digunakan membahas sesuatu yang aneh, body seksi seorang wanita, lelucon seksual, kata-kata kotor, dan tertawa terbahak-bahak di sebuah warung kopi. Lelaki tak menggunakan sentuhan karena itu hal yang aneh. Ketika temannya curhat pun, kebanyakan lelaki akan diam, tertegun, dan langsung memberikan jalan keluar.

Dari dua sifat berbeda ini, seharusnya hubungan antar mantan akan sangat sulit bagi seorang perempuan. Meskipun kalau mau dibantah, ada-ada saja lelaki yang lebih terluka dibandingkan dengan perempuan saat putus cinta; atau ketemu mantan. Dari gambaran besar itu, saya ingin mengerucutkannya menjadi sebuah kesimpulan yang sebenarnya mendekonstruksi apa-apa yang ada di atas, yaitu kesakitan putus cinta dan kegalauan bertemu mantan, akan lebih berat dirasakan oleh salah seorang yang menaruh hubungannya sebagai ‘segalanya’.

Besar kecilnya rasa galau ini ditentukan dari konsep dirinya. Dalam konsep diri, kita diberikan clue, bahwa pandangan kita terhadap diri sendiri salah satunya karena bentukan lingkungan luar. Kekasih adalah lingkungan luar. Masalahnya, kekasih lebih sering dibela mati-matian dibandingkan keluarga  atau teman-teman lain. Ketika mendapat penolakan, kita akan rela meninggalkan semuanya demi kekasih.

Sehingga, ketika kekasih telah membentuk konsep diri kita sedemikian rupa, maka kita akan bergantung kepadanya. Tinggal menunggu waktu hingga kita sakit hati karena manusia berubah. Manusia yang tak berubah adalah batu. Karenanya, konsep diri dan penilaian tentang diri sendiri harus dibentuk dengan kesadaran. Sadar dengan kelebihan, kemampuan,: sadar dengan teman dan musuh: sadar dengan kondisi ekonomi dan sosial, maka konsep diri kita tidak akan berpengaruh terhadap ada tidaknya orang lain.

Dalam konsep diri ada komponen bernama harga diri atau self esteem. Harga diri juga bisa didapat dari orang lain. Misalnya perasaan dihargai, dipuji, dan dihormati. Bila kita dihargai sejak kecil, harga diri kita akan naik. Bila harga diri naik, maka kita akan hidup dalam kepoisitifan; bahagia dan menyenangkan. Hal itu berbeda saat kita hidup dalam kecemburuan dan dibenci orang orang lain. Kita akan murung, mudah marah, penuh aura negatif, dan hidup tidak bahagia. Nah masalahnya, kepada siapa kita meletakkan harga diri itu? Jika kita meletakkan harga diri dan penilaian pada pasangan, maka kita akan celaka. Khususnya saat pasangan sudah menjadi mantan.

Begitulah, bagaimanapun lelaki dan perempuan berhubungan, siapa yang paling besar terpengaruh dengan hubungan itu, akan menjadi orang yang paling tertekan. Karena itu, meskipun kita sudah memiliki kekasih, hiduplah untuk sesuatu yang lebih besar. Tidak bisa kita memutuskan tujuan bahagia kita adalah kekasih itu sendiri. Kekasih adalah teman seperjuangan menuju kebahagiaan. Bila kebahagiaan tidak dapat diraih bersama kekasih, maka berpisah adalah jalan terbaik.

Nah, bagaimana saat kita bertemu mantan? Cobalah percaya diri, bahwa kelebihanmu tidak ditarik seluruhnya oleh dia. Kita masih punya semiliar pesona untuk mendapatkan kekasih baru. Kita masih punya sejuta kesempatan bahagia bersama siapapun. Asalkan kita bahagia, apa saja patut dipertaruhkan. Maka, bye bye mantan.

Friday, February 12, 2016

Spotlight: Menjadi Jurnalis



Jarang sekali kita melihat seorang jurnalis bekerja. Sebagai orang awam, biasanya kita hanya melihat sekilas-sekilias, lalu tiba-tiba keesokan harinya sudah ada berita. Kita tak faham bagaimana para jurnalis mulai mencari dan mengumpulkan data, lalu mengolahnya hingga menjadi sebuah news yang biasa kita konsumsi sebagai sebuah kebutuhan.

Dalam film berjudul Spotlight, kita dapat melihat hal itu. Bahkan bagi seorang wartawan pun, film spotlight mampu memberikan wawasan teknik mencari berita yang keren. Tentunya, sangat sulit melihat kualitas jurnalis sebagaimana yang ada dalam film tersebut, khususnya di Indonesia. Apalagi melihat jurnalis lokal yang cenderung terpuaskan dengan berita yang sudah ada, semacam rilis kepolisian, ataupun jumpa pers dari tokoh dan kegiatan.

Mungkin orang yang tidak pernah menjadi wartawan akan biasa saja dalam menangkap film ini. Spotlight hanya akan menjadi sebuah film yang mengesankan. Tapi bagi seorang jurnalis di Indonesia, Spotlight akan menjadi sebuah tuntunan. Terutama memang, bagi media investigasi yang membutuhkan waktu dalam mengolah isu menjadi manis. Tapi bagi media harian, apa yang dilakukan tim Spotlight akan sulit dilakukan –meskipun tidak ada hal yang tidak mungkin.

Kisah dalam film ini bermula saat Marty Baron (Liev Schreiber) mengambil alih posisi semacam Pimpinan Redaksi di The Boston Globe. Sebagai pimpinan baru di redaksi, Baron kemudian mengumpulkan masing-masing kepala bagian liputan. Mereka saling berkenalan, kemudian memaparkan “apa yang sedang dikerjakan”. Di sanalah Baron menelisik suatu persoalan yang tidak diangkat oleh redaksi menjadi sebuah berita.

Tim Spotlight awalnya menyelesaikan kasus proyek konstruksi yang buruk. Kemudian tinggal satu minggu investigasi, mereka tampaknya dapat menyelesaikan kasus manipulasi di kepolisian. Saat pertemuan redaksi dengan Pimrednya yang baru ini, Baron melihat ada kasus yang sudah pernah ditulis 2 kali, tapi kemudian hilang ditelan kelindan perkotaan Boston.

Keputusan pertama diambil oleh Baron, ia ingin agar The Boston Globe sebagai koran lokal, mengangkat kasus pencabulan yang dilakukan oleh Pastur. Karena beberapa waktu sebelumnya, ada seorang penulis kolom yang membahas tentang itu. Kuncinya sudah dipegang, ada seorang lawyer yang bisa memiliki bukti bahwa kejadian itu ada, dan seorang Kardinal mengetahuinya.

Ketika semua jurnalis sekelas editor itu kebingungan, Baron memberikan gambaran : aku tidak tahu hukum di sini, tapi bila di Florida, aku akan mulai dari pengadilan. Maka di sanalah seluruh cerita ini berjalan. Hampir pasti, drama yang diperankan Liev sebagai Baron ini memukau. Ia selayaknya seperti pimpinan Tempo yang ‘hanya’ jalan ke sana kemarin bertemu dengan para pimpinan kota, koordinasi, mencari dukungan, menekankan superioritas, dengan bahasa-bahasa yang halus.

Sementara anak buahnya, bekerja sesuai kapasitasnya; datang ke pengadilan, menemui lawyer para korban cabul yang mengetahui kasus ini, hingga menghubungi seorang peneliti pencabulan yang dilakukan oleh pastur di seluruh negeri. Oya, Baron sebagai Pimred, juga sudah melakukan silaturahim ke sang Kardinal Law, head to head, pimpinan media langsung ke pusat kekuasaan gereja. Sebagai seorang jurnalis yang agak-agak tahu, aku tersenyum dengan plotting yang dilakukan oleh penulis skenarionya: Josh Singer dan Tom McCarthy, ia seperti tahu apa yang harus dilakukan.

Salah satu sosok yang kuat dalam film ini adalah Michael Rezendes yang diperankan oleh Mark Ruffalo. Aksi pertamanya adalah saat ia harus menemui lawyer para korban cabul. Ia sebagaimana reporter lainnya yang tidak tahu siapa narasumbernya, datang ke kantor, tanya ke asisten, lalu disuruh menunggu. Saat ada orang keluar dari ruangan sang pimpinan, Rezendes berdiri, bertanya kepada sang asisten, “apakah dia orangnya?”. Saya yakin, semua jurnalis bisa merasakan bagaimana menjadi dirinya.

Dan ternyata tidak, si asisten mengejar orang yang baru keluar itu. Kosonglah kantornya. Rezendes kebingungan. Akhirnya ia langsung mengetuk dan membuka ruang sang Lawyer, Garabedian –yang temperamen, tidak suka berteman, dan awut-awutan. Tentu saja, Renzendes langsung akan diusir keluar. Tapi sebagai jurnalis handal, ia memiliki alibi, alasan, berbagai komunikasi yang menarik agar si narasumber mau ditemui. Kalau wartawan lokal, akan laporan ke Pimred : wah, saya diusir, dia nggak mau diwawancara.

Mungkin yang menarik dari film ini adalah pelajaran yang didapatkan dari peran yang dimainkan para jurnalis ini sendiri. Meskipun kalau digeneralisir, setiap persoalan yang tertutup rapat membawa permasalahan di dalam internalnya. Dan itulah makanan empuk dari media massa zaman ini. Masalahnya, terlalu banyak wartawan bodrek dan kepala-kepala dinas yang mau-mau saja dipermainkan oleh wartawan bodrek.

Monday, February 1, 2016

Dilan


Dalam dua malam, aku sudah menyelesaikan dua novel terbaik milik Pidi Baiq, Dilan 1990 dan Dilan 1991. Selesai membaca Dilan 1990, hatiku berbunga-bunga, ikut senang, bangga, dan menatap masa depan cerah. Dan selesai membaca Dilan 1991, hatiku terluka, sakit, batuk, flu, mimisan, gigi berlubang, panas dalam, disebabkan dua tokoh utama putus.

Begitulah, seringnya novel begitu mudah masuk dalam emosi pembacanya. Karena dengan membaca, seluruh imajinasi kita akan bermain. Bahkan bisa jadi, imajinasi kita lebih bagus dari pada apa yang tertulis dalam novel itu. Meskipun, bisa jadi sebaliknya. Dengan begitu, saya harus percaya bahwa dengan membaca novel Dilan 1990, mood dapat meningkat, dan kebahagiaan juga akan meningkat.

Sementara ketika membaca Dilan 1991, kita akan terpuruk dan mungkin saja mempengaruhi ketidakbahagiaan di dunia ini. Memang awalnya aku akan menyangka bahwa dua tokoh ini akan putus. Karena di awal novel, sudah diketahui bila kisah yang diceritakan hanyalah masa lalu. Dilan adalah masa lalu bagi Milea. Dan Milea menulis novel diary ini dalam posisi sudah menikah dan tinggal di Jakarta, yang katanya sudah mandi.

Satu hal yang harus kubenci adalah, kenapa Dilan harus keren, dan Milea harus cantik. Karena dua hal ini sangat sulit ditemukan di dunia ini. Di akhir cerita, memang Milea mengakui bahwa kisah mereka adalah kisah yang terlalu hebat untuk menjadi kenyataan. Memang begitulah adanya. Seperti sinetron, lelaki sebagai tokoh utama adalah sosok keren yang menjadi rebutan pembaca, lalu tokoh utama perempuan adalah sosok cantik kece yang menjadi rebutan lelaki dalam novel.

Bagiku, Pidi Baiq terlalu mainstream dalam menggambarkan tokohnya. Meskipun tetap saja, kisahnya asyik dan berbeda dengan novel pada umumnya. Dilan yang konyol, cerdas, dang geng motor. Lalu Milea yang sangat cantik, biasa saja, dan anak rumahan. Bisa membayangkan bukan bagaimana kisah mereka? Sangat 1990-an. Dilan disulap oleh Pidi menjadi sosok yang tak pernah menjemukan bagi Milea.

Bayangkan, bagaimana Dilan pertama kali menemukan Milea yang cantik, harus meminta doa ke Bundanya supaya berhasil. Kemudian menyapa Milea yang tengah berjalan menuju sekolah: “Milea ya? Boleh aku meramalmu? kita akan bertemu di kantin sekolah siang nanti”. Setelah gagal, Dilan mengirim surat lagi “Maaf ramalanku gagal, tapi aku akan meramal lagi, besok kita akan ketemu,”. Dan besok di dalam surat itu, adalah Hari Minggu.

Kisah lainnya, di Hari Minggu itu, Dilan mengirim surat undang kepada Milea. Tulisannya, mengundang si cantik untuk sekolah pada hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu, dengan tanda tangan pengundang adalah Kepala Sekolah. Belum lagi ketika Dilan mengirimkan surat cinta tapi dialamatkan kepada Ibu RT tempat tinggalnya Milea. Mengirimkan coklat lewat loper koran dan petugas PLN, serta mengirimi hadiah ulang tahun berupa TTS yang sudah diisi semua oleh Dilan.

Saya yakin, sebagaimana yang dirasakan Milea, seluruh perempuan di dunia ini akan terkesima, tersipu, dan merasa paling istimewa jika diperlakukan seperti itu. Dilan betul-betul menjadi panglima perang bagi Milea. Ia menjadi pelindung paling istimewa baginya. Dilan berkata: jika ada yang mengganggumu, nanti besok dia akan hilang. Atau kata Dilan : bila aku tidak menghubungimu, ketahuilah bahwa aku memperhatikan sekelilingmu untuk keselamatanmu.

Bagi Milea, Dilan adalah segalanya. Dalam Dilan 1990, hal ini sangat kerasa. Mungkin yang tidak disadari oleh Pidi, Dilan adalah representasi dari Pidi sendiri. Atau bukan sekedar Dilan itu, tetapi sifat mengejutkan dan menyenangkan dari Dilan, adalah representasi dari penulis. Kalau kita teliti, sifat Dilan bukan hanya ia miliki sendiri, tapi juga dimiliki oleh mamanya, dan adiknya yang bernama Disa.

Tentunya kita masih ingat saat Milea bertanya nama lengkap adiknya Dilan ini. Disa menjawab, Disaaa, dan nama lebih panjangnya adalah Disaaaaaaaa!. Demikian pula saat beberapa kali percakapan dilakukan antara Milea dan ibunya Dilan. Misalnya, Ibu DIlan saat marah harus meminta waktu kepada Dilan. Kalau sudah sama-sama siap, barulah ibunya bisa marah. Atau kisah lain yang saya lupa.

Namun marilah meninggalkan itu semua. Kembali kepada Milea dan Dilan yang memiliki hubungan yang romantis, manis, dan berubah miris sejak 1991. Sebagai seorang pacar, Milea menjadi perempuan pada umumnya. Meskipun mengerti apa yang dilakukannya, Milea tetap seorang perempuan. Ia menjadi pengatur, pencegah, pemarah, merajuk, dan sekian sikap wanita yang menjengkelkan hanya karena merasa memiliki.

Keretakan hubungan mereka bermula dari keinginan Milea mencegah Dilan yang hendak berperang dengan geng motornya ini. Berulang kali Milea menyegahnya meskipun awalnya Dilan menurut. Di sinilah letak kelemahan seorang lelaki. Saat membaca, saya menjadi sangat faham kegelisahan yang dirasakan Dilan. Saat ia sebagai panglima tempur bagi berandalannya, harus takluk dengan rengekan perempuan, meskipun si perempuan itu adalah pacarnya.

Dan memang akhirnya, tujuan pacaran adalah untuk putus. Bisa karena menikah, bisa karena berpisah. Begitulah kata Pidi yang diungkapkan lewat Dilan. Akhirnya mereka putus. Milea sedih, Dilan susah, dan pembaca kehilangan kebahagiaan.

Saturday, January 23, 2016

Selingkuh



Ada beberapa kenyataan dalam hidup ini yang mengalir begitu saja. Misalnya, orang tua kita yang sudah tidak memiliki rasa cinta sama sekali, tetapi terpaksa harus hidup berdua selamanya. Banyak pula yang tak terelakkan, yaitu perselingkuhan. Yakinlah, bahwa perselingkuhan terjadi –baik dalam pacaran atau pernikahan- salah satunya disebabkan kebosanan yang sudah akut. Bila pasangan merupakan orang yang tidak membosankan, mustahil ia akan keluyuran mencari mangsa.

Kenyataan-kenyataan seperti ini, lebih sering terungkap dalam diskusi kecil antar lelaki atau antar perempuan. Meskipun semua orang harus menyembunyikannya karena hal ini adalah tabu, tapi banyak juga yang melakukannya. Selingkuh adalah tabu. Dan dosa pastinya. Karena itu, kebanyakan dari kita adalah orang yang munafik. Dalam istilah barat dinamakan hipokrit. Kita bisa berlagak bersih, padahal bbm dan wa kita penuh dengan sampah rayuan.

Temanku seorang perempuan, tidak memiliki wajah yang menarik, tetapi menimbulkan kekaguman karena hal-hal di luar perhitungan fisik. Otomatis banyak lelaki yang jatuh hati, atau minimal menunjukkan tanda-tanda dengan rayuan mautnya. Temanku sudah menikah, punya anak-anak yang lucu, dan suami yang ganteng lagi bijaksana. Untungnya, hubungan mereka baik-baik saja sehingga kemungkinan perselingkuhan oleh temanku ini hampir tidak akan terjadi.

Tetapi, temanku yang perempuan ini terlalu banyak memiliki fans. Tidak jarang fans ini merajuk seperti perjaka yang sedang jatuh cinta, padahal mereka memiliki istri cantik dan anak lucu di rumah. Otomatis, temanku ini kebingungan setengah mati. Selesai satu lelaki, lelaki lain mendekati. Sebagai ibu rumah tangga yang baik, hal ini menggelisahkan. Karena seringnya, dicintai oleh orang yang tak kita cintai itu lebih sulit, dari pada mencintai seseorang yang tak mencintai kita. Rasakan deh!.

Kenapa hal itu bisa terjadi? Karena kebosanan itulah. Maka dari itu, beruntung sekali bisa seseorang diciptakan menjadi humoris. Dengan menjadi humoris, kita akan lebih menarik orang untuk mengenal, dan setelah mengenal, tidak akan ada rasa bosan. Bahkan orang humoris sering membuat kekangenan beberapa orang, karena tanpa orang yang humoris, suasana akan sendu dan pilu. Tapi sebagaimana semua teori, di sini pun ada pengecualian. Karena orang yang humoris dan menakjubkan di hadapan orang lain, ada yang tak berdaya saat berada di rumah.

Fahami

Selingkuh merupakan hal yang menakjubkan. Ia menggairahkan. Ia mendebarkan. Ia yang ditunggu-tunggu. Selingkuh adalah hal yang memompa semangat baru. Seorang yang tak pernah bangun pagi akhirnya bisa bangun dini hari. Orang yang biasa tidur larut, akhirnya bisa tidur awal karena pagi-pagi harus janjian. Karena itu, orang yang selingkuh akhirnya bisa terdeteksi karena ia mengubah tingkah laku secara drastis. Persis seperti remaja tanggung yang sedang belajar mencintai anak tetangga.

Orang yang suka selingkuh, bisa dicurigai punya kecepatan rasa bosan yang di atas rata-rata. Dalam ilmu psikologi, orang yang mudah bosan digolongkan dalam kategori kepribadian Sanguinis. Padahal dalam tubuh orang yang sanguinis ini, tertanam pula seorang yang humoris. Sehingga ia laksana orang munafik lainnya, mudah membuat orang suka padanya, tapi ia mudah meninggalkan orang-orang karena cepat bosan.

Jadi kelebihan orang sangunis ini, dia pribadi yang supel, humoris, easy going, dan ekspresif. Dengan kombinasi seperti ini, dia akan mudah disukai oleh setiap orang. Karena dia juga punya rasa ingin tahu yang besar sehingga bisa memimpin pembicaraan, yang akan membuat orang langsung mudah akrab dan nyaman kepadanya. Sayangnya, ditanamkan juga sifat mudah bosan dan cepat kehilangan antusiasme, bahkan egois.

Tetapi ilmu psikologi seperti ini, meskipun hasil penelitian dan diakui seluruh psikolog atau psikiater, belum tentu 100 persen benar. Mari kita menyikapi segala sesuatu dengan bijaksana. Setiap kita memiliki potensi untuk berbuat selingkuh, dan punya potensi menjadi orang yang paling membosankan. Jadi, kepribadian sanguinis, phlegmatis, koleris, ataupun kolaris, tidak semuanya harus plek seluruhnya.

Kadang kita punya kombinasi diantara beberapa kepribadian itu. Persis seperti sifat ambievert yang merupakan gabungan dari introvert dan ekstrovert. Karena itu, kita harus belajar menjadi pribadi yang tidak membosankan. Menjadi pribadi yang selalu menarik. Dan pula, kita harus belajar menerima segala sesuatunya sesuai dengan kadarnya. Kemunafikan hanya jalan kehancuran. Bila mendapati pasangan kita selingkuh, tabahlah. Bila memiliki pasangan yang membosankan, tabahlah.

Kembali ke kedua orang tua kita yang rela hidup bersama meskipun setiap hari ada pertengkaran kecil atau pun besar. Di sana ada tanggung jawab. Seseorang yang telah ikrar di depan penghulu untuk mencintainya sehidup semati, seharusnya bertanggung jawab atas janjinya itu. Bagaimanapun, apapun, asalkan tidak keluar dari jalan Allah, pantas dipertahankan. Bila memang tak tertahankan, mungkin Tuhan akan maklum, meskipun boleh dan dibenci setengah mati, selesaikan hubungan dengan baik.

Semua orang akan terluka, tapi semua orang pula menemukan obatnya.

Thursday, January 21, 2016

Diamput!

sepur nang singapura rodok penak tumpa'ane

Hal yang paling men-diamput-kan di dunia ini adalah pengen jadi orang lain. Bukan hanya soal wajah cakep, kekayaan, pekerjaan, atau bisa jalan-jalan wisata, tapi bahkan istri dan pacar orang lain juga pengen kita miliki. Istilah inggrisnya, rumput tetangga selalu lebih hijau. Bayangkan rumput kita yang sudah disiram tiap hari, ya tetap aja kering kerontang.

Memang pengen jadi orang lain bukan berarti kita kalah cakep atau kalah nasib baik. Soalnya, nasib itu nggak ditentukan oleh tuhan saja, tapi rupa-rupa usaha kita juga mempengaruhinya. Jadi persoalan pengen jadi orang lain itu bukan hanya soal enteng, tapi berat. Karena hubungannya jelas, harus dilihat dari berbagai sudut pandang, ya sosiologi, psikologi, ya vulkanologi, atau juga logi-logi yang  lain.

Nah masalahnya, kita harus bisa cepat menjadi orang lain. Kalau kita posisi jelek, bagaimana agar kita jadi ganteng, minimal nggak malu-maluin pas makan di Mc Donal atau kafe-kafe gaul. Kalau pas bokek, gimana caranya agar cepetan kaya. Kalau pas nggak punya pacar bahenol, ya gimana caranya agar dapat yang semok. Banyak cara bisa ditempuh, sayangnya kebanyakan kita goblok dan merasa oke dengan kegoblokan sendiri.

Jadi bagaimana agar bisa berubah menjadi orang lain?

Seorang ideolog pesohor, Marx, telah membagi kita semua dalam tiga kelompok besar. Yakni pemodal, buruh, dan pemilik tanah. Gaya hidup masing-masing orang ini berbeda. Kenapa berbeda? Karena yang dimiliki seseorang berbeda satu dengan lainnya, terlepas bahwa sifat kita sebagai individu juga sangat berbeda –yang akhirnya akan membedakan tingkah laku kita pula.

Seorang pemodal, akan lebih memikirkan bagaimana cara mempertahankan semua kondisi apa seperti sedia kala. Jadi pemodal yang memiliki uang banyak, yang dalam terminolog Marx disebut borjuis ini, punya gaya hidup manja atau memanjakan orang lain. Hal inilah yang mungkin kita anggap kehidupan gemerlap dan flamboyan. Kita pengen seperti orang itu. Padahal ya uang kita, diamput, pas pasan banget.

Menurut pengikut Hegel (hegelian) yang revolusioner ini, seorang pemodal akan berfikir bagaimana mempertahankan status quo, alias status nggak jelas, dari semua yang ada. Dengan begitu ia akan aman. Karena pemodal yang memiliki aset dimana-mana sangat benci dengan perubahan. Perubahan yang mengarah ke politik dan sosial, akan mempengaruhi perusahaannya sehingga kemungkinan rugi besar akan terjadi.

Pemikiran seperti itulah yang terjadi, sehingga saat Wali Kota atau Bupati turun ke lapangan, semua pemodal akan menyambutnya seakan-akan dia adalah dewa. Sebab, ditangan pimpinan daerah inilah segala ijin brengsek mereka dikabulkan. Kalau pimpinan daerah diberikan priviledge tertentu, semua pekerjaan akan aman. Keuntungan akan mengalir ke kantong pemodal terus menerus.

Sementara buruh, berfikirnya ya seperti kita ini. Progressif dan revolusiner. Progressif berarti punya pikiran ke depan yang lebih baik, sedangkan revolusioner berarti menghendaki perubahan secara menyeluruh dan mendasar. Ingat, menyeluruh dan mendasar, tapi dengan tujuan ke depan yang lebih baik. Itu yang musti kita pegang, karena saya yakin yang membaca tulisan ini adalah kaum buruh semua. Diamput kan?.

Dengan pemikiran seperti inilah, Marx sangat yakin bahwa suatu perubahan besar hanya akan terjadi ketika buruh bersatu. Dalam konteks Indonesia, perubahan terbesar karena para pemudanya, yang punya pemikiran progressif dan revolusioner pula. Maka jangan heran, pemuda dan buruh itu mirip-mirip seperti saudara. Tapi bila ada buruh namun masih muda, kemungkinan Marx akan senang setengah mati berkawan dengan orang itu.

Lalu apa hubungannya dengan menjadi orang lain? Ya itu. Pembagian peran. Bila kita ingin hidup seperti seseorang, berperanlah seperti dia. Peran yang dimaksud di sini adalah peran sosial yang seseorang itu mainkan. Bila kita iri dengan kehidupan seorang birokrat, bersiap-siaplah menjadi PNS. Kalau kita ingin hidup bebas dan bisa pergi ke mana saja, maka berhentilah jadi buruh sekarang juga. Jadilah pengusaha, terus jadilah backpacker.

Karena masih menurut Marx dalam Materialisme Dialektika-nya, yang menentukan semua ini adalah kelas-kelas sosial. Bila kelas sosial kita rendahan atau proletar atau kasta waisya dan paria, bersiaplah terus dihisap oleh pemodal. Jelas bahwa kelas-kelas sosial ini bukan ada dengan sendirinya, tapi diciptakan, dikonstruksikan. Bahkan segala pemikiran kita (yang di dalam otak  dan hati) juga dikonstruksi oleh sesuatu di luar kita. Diamput.

Jadi, bukan kesadaran kita untuk menentukan keadaan sosial, tetapi sebaliknya, keadaan sosiallah yang menentukan kesadaran manusia. Lihat, betapa semunya kesadaran kita. Termasuk keinginan kita menjadi orang lain adalah semu. Jadi apa yang kau inginkan sekarang? Tetap ingin menjadi ornag lain? Ambillah peranmu, sekarang juga!.

Tuesday, November 17, 2015

Kesadaran



Orang-orang yang gelisah, bisa jadi adalah orang yang paling sadar dalam berkehidupan. Ia terus berfikir,  terus menerus melihat ada yang tidak beres dalam dunia ini. Sementara yang lain sibuk dengan pekerjaan dan cintanya, orang yang sadar ini sibuk dengan memikirkan cara menyelamatkan dunia.

Ia menulis puisi, lalu berkelana. Ia membaca cerpen dan buku-buku sastra yang tinggi bahasa hingga merasakan dunia yang sesungguhnya merapat dalam sanubarinya. Orang-orang ini begitu yakin bahwa dunia bisa diubah menjadi lebih baik. Bersama beberapa orang lain yang memiliki hobi yang sama, ia merumuskan cara dan metode menyelamatkan dunia.

Lalu suatu ketika ia ditampar kenyataan. Menyelamatkan dunia adalah misi impossible yang berada di awang-awang. Semua orang yang sadar akan segera terbelalak karena dunia teramat bulat dan sukar dicari sudut-sudutnya. Kesadaran mula, yang dimiliki oleh mahasiswa dan pemuda bisa tiba-tiba menjadi kerdil saat ia keluar dari almamaternya. Dunia tampak congkak, dan butuh kecongkakan yang lain untuk menindihnya.

Jadi apakah bisa seorang yang sadar ini mengalahkan dan mengubah dunia?

Sudah lama kerendah hatian hanya menjadi bulan-bulanan. Orang baik tidak melulu harus bersinderela. Tidak perlu lagi sinetron menuntut laku kehidupan. Hanya sebuah pembodohan yang nyata.  Kebaikan-kebaikan hanya berakhir dalam ruang kosong, kejujuran menuju jurang, kerja-kerja kesenian yang pailit, tata kerama yang baik menyelimpet kerja-kerja taktis dan tidak efektif.

Jaman kekakank-kekanakan ini, orang baik perlu kuat, perlu pengikut sebanyak-banyaknya untuk meluluhkan kecongkakan dunia. Banyak kesombongan yang tak perlu obat, bahkan menjadi candu. Bisa dilihat, bagaimana cara mereka duduk di kafe-kafe dengan dompet menjerit. Orang-orang menakdirkan Minggu untuk berwisata dalam kepenuhan detik dan menit tiap harinya.

Sebetulnya, apa yang hendak kita perbuat untuk dunia ini? Kesadaran, mengandalkan kesadaran hanyalah menindihkan luka di atas luka. Berlipat-lipat kesadaran pun hanya akan menjadi pemuas saat menulis di blog lalu dibaca beberapa orang. Kita musti berubah, menjadi manusia super yang dapat memegang segala keangkuhan. Dengan begitu, keserakahan yang sudah lama berdiam dalam dada manusia akan menemukan tandingannya.

Orang-orang akan menemukan perpektif baru lagi. Mereka yang sudah punya kecenderungan serakah akan face to face dengan bangunan yang kokoh. Sementara orang-orang yang sudah lama di warung kopi dengan keluh kesah khas pemuda akan menemukan pahlawannya. Orang yang sadar, sekali lagi, orang yang sadar lalu memiliki segalanya akan berubah menjadi hebat.

Tetapi tidak semua orang sadar adalah orang yang tangguh, bukan? Ketangguhan adalah hal yang berbeda dengan kesadaran. Sementara sadar adalah pekerjaan mental, ketangguhan adalah mental dan fisik. Orang yang sadar bisa saja berfikir menyelamatkan dunia, tapi tidak ada jaminan bahwa ia akan mampu menanggungnya selama bertahun-tahun.

Ketangguhan datang dari kesungguh-sungguhan. Sehingga tuhan tidak menciptakan ketangguhan kepada setiap orang, karena kesadaran tidak dibangun di atas kata-kata, melainkan perbuatan.

Membangun ketangguhan, itu peniting. Orang yang penuh kesadaran lalu belajar tangguh, itu lebih penting lagi. Saat semua orang sadar menggeser kursinya guna di pakai orang yang sombong, orang yang tangguh ini menggeser kursi orang lain agar ia bisa duduk mewakili seluruh bangsa Indonesia. Tidak lagi dengan kata-kata, bahkan kebenaran menunjukkan kekuasaannya dengan tindakan yang tepat, terorganisir, dan terus menerus.
 

Fathul Qorib Indonesia Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger