Skip to main content

Posts

Sex Education by Netflix

Kita tidak sedang membicarakan wacana pembelajaran seks bagi siswa sekolah. Sex Education adalah tv series original dari Netflix yang saya tonton sejak satu minggu ke belakang. Ide ceritanya menarik, sebuah film yang mengisahkan kehidupan anak-anak sekolah menengah pertama di Amerika
Protagonisnya adalah Otis Milburn, usia 16 tahun, siswa SMP yang tidak pernah berhubungan seks sekalipun. Jauh setelah film diputar, baru diketahui bahwa Otis mengalami fobia seks. Teman akrabnya, Eric, seorang lelaki pecinta lelaki, suka dandan dan memakai outfit mencolok ke sekolah. Ia dan Otis adalah lelaki biasa di sekolah, minoritas, dan cenderung rendah diri.
Tokoh protagonis lainnya adalah Maeve Wiley, salah seorang perempuan yang punya stereotip murahan dan terkenal dengan julukan 'penis bitter'. Maeve seorang pembaca buku feminist dan memiliki kehidupan yang semrawut dengan orang tua dan kakak seorang penjual narkoba. Maeve termasuk sosok yang mandiri di sekolah, apatis, dan tangguh.
Oti…
Recent posts

Spiderman

Beberapa hari ini leher kananku terasa gatal. Aku tidak pernah melihatnya di cermin atau mencoba mencari tahu mengapa. Karena aku membayangkan bahwa besok pagi ketika bangun tidur, tanganku bisa lengket ke dinding, lalu tiba-tiba aku merayap di atap rumah. Aku menjadi spiderman.
Tapi jika memang aku memiliki kekuatan super, aku akan ikhlas menerimanya. Tentu saja, menjadi kuat dan keren, bisa melakukan apa yang tidak bisa manusia biasa lakukan; its cool. Berbeda dengan manusia kebanyakan adalah berkah yang kini digunakan motivator untuk kliennya.
Kita semua orang biasa, yang kadang ego membuat kita sok menjadi orang luar biasa padahal palsu. Kita rata-rata akrab dengan seorang lelaki biasa, memiliki istri biasa, anak lima, 2 nakal, 1 pasif, 1 penurut, 1 paling bisa diandalkan. Atau kalian adalah mahasiswa biasa yang berdebar-debar ketika pembayaran semester akan dimulai.
Maka ketika lelaki biasa, mahasiswa biasa, tukang bangunan yang membenahi kusen jendela, atau dia anggota dewan ya…

Ruang Kelas

Pikiran-pikiran manusia intelektual perguruan tinggi di Indonesia mudah ditebak : kubus, berisi coretan yang tidak teratur, keras seperti kursi kayu, pendiam seperti anak semester satu. Pikiran-pikiran kita dibatasi hanya 8 x 9 meter dan tidak boleh keluar dari ruangan itu. Dosen setuju dan merasa aman jika pikiran seluruh anggota kelas tidak liar, mengikuti metode yang telah dipatenkan dengan argumentasi kaku yang tak (boleh) terbantahkan.
Semua berjalan sesuai dengan kontrak kuliah, dan yang boleh melanggar kontrak hanyalah dosen. Keterlambatan mahasiswa adalah amunisi bagi dosen untuk marah sepanjang 3 SKS pertemuan, yang akhirnya membuat seluruh kelas terlihat bodoh dan terancam. Sedangkan keterlambatan dosen bisa dimaklumi; dosen itu sibuk dan banyak aktivitas yang tidak bisa dikalahkan oleh ruang kelas.
Pendidikan semacam ini adalah versi terbaik dari yang pernah didapatkan mahasiswa sepanjang masa. Untungnya, perjalanan kuliah semacam itu sudah dilaksanakan selama ratusan tahu…

Lelaki Harimau

Sinopsis
Pada lanskap yang sureal, Margio adalah bocah yang menggiring babi ke dalam perangkap. Namun di sore ketika seharusnya rehat menanti musim perburuan, ia terperosok dalam tragedi pembunuhan paling brutal. Di balik motif-motif yang berhamburan, antara cinta dan pengkhianatan, rasa takut dan berahi, bunga dan darah, ia menyangkal dengan tandas. “Bukan aku yang melakukannya,” ia berkata dan melanjutkan, “Ada harimau di dalam tubuhku.”
Overview
Judul novel ini begitu sastrawai, termasuk kisah di dalamnya. Sastrawi dalam pemahaman saya adalah gambaran karya fiksi Indonesia yang bisa membuat pembaca tidak hanya menikmati kisahnya, tapi juga mengagumi gaya kepenulisannya, dan yang paling utama, menakar penulisnya dalam kancah sastra nusantara. Maka dari itu, sulit bagi sebagian besar sastrawan menimbang sosok Andrea Hirata atau Tere Liye sebagai sastrawan; keduanya adalah novelis, sama seperti Denny JA yang bersusah payah membuat ‘puisi-esai’ yang dikagumi sebagian kalangan yang didug…

Era Digital; Kembalikan Pendidikan ke Orang Tua!

Pendidikan di Indonesia masih terjebak dalam rutinitas yang membosankan dan membahayakan. Setiap kita bicara tentang dunia pendidikan, rasa pesimis dan kecaman selalu ada. Nasib para siswa ini, mirip dengan siswa kelas 3 Sekolah Dasar (SD) dalam film Tare Zameen Paar bernama Ikhsaan Awasthi. Ikhsaan bernasib buruk karena gangguan dyslexia, yaitu ketidakmampuan membaca seperti yang banyak diharapkan guru dan orang tua. Setiap dia melihat tulisan dan angka, semuanya berubah menjadi bintang di langit dan bebek yang berenang di kolam. Di sekolah maupun di rumah, ia dituntut dalam perkataan yang sama: harus bisa membaca dan menghitung!
Apa yang dialami ikhsaan, dialami juga oleh seluruh siswa kita, bahkan siswa yang sehat secara fisik dan mental. Ahli pendidikan dari Amerika Serikat, Sir Ken Robinson, ketika mengisi ceramah di Ted (2006), menyebutkan bahwa kita semua terjebak dalam rutinitas dunia pendidikan yang tanpa tujuan. Mengajar yang harusnya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, ti…

Bilangan Fu

Pertama-tama, membaca bilangan fu adalah keinginan yang sudah lama tapi tertunda. Pernah sekali –sekali meliriknya di toko buku ketika masih kuliah di tahun 2011, bahasanya menarik, kisahnya seperti ‘lelaki banget; tetapi harga bukunya mahal; akhirnya tak terbeli. Kini di sela kesibukan yang sangat sibuk, aku membacanya dengan gaya tergesa, berharap besar, dan sering mengulang membaca karena beberapa kali tersilap dengan kisah yang tiba-tiba sampai di suatu tempat yang asing dan berbeda.
Di samping sekeranjang kelebihannya, novel ini tentu punya kelemahan di bagian narasi. Bagiku, narasi dalam sebuah novel menjadi sesuatu yang mutlak karena karya sastra harus melesat di benak pembaca, mengubah dengan lembut kecerdasan bahasanya, dan nikmat serta mengalir dalam pembacaannya. Aku lebih banyak mengulang karena satu hal: ingin lebih paham apa yang dimaksud penulis dengan berbagai pertarungan wacana yang ingin dibangun, dan lompatan kisah yang ke sana kemari. Jadinya, membaca novel ini me…

Bahasa

Abad ini, filsafat lebih banyak dipenuhi dengan debat persoalan bahasa. Dan persoalan bahasa yang paling mendasar adalah kegagapan manusia mengutarakan peristiwa dengan kalimat yang cacat. Misalnya, menggunakan kalimat-kalimat bertendensi dan judgement dalam ujaran keseharian maupun pemberitaan media massa. Penelitian tentang penggunaan kata, kalimat aktif-pasif, keberulangan, font khusus, penggunaan bold atau italic, hingga penyediaan ruang di media massa, sudah banyak dilakukan; tetapi hal-hal semacam itu merupakan aktivitas yang sulit dipahami oleh masyarakat umum sebagai kesalahan penggunaan bahasa.
Secara sederhana, kita bisa melihat bahwa kita tidak bisa memahami apapun tanpa bahasa. Menurut Heideggar (Ahmala, 2013) language is the house of being - bahasa adalah rumah bagi manusia. Artinya, dengan menggunakan bahasa kita bisa paham maksud dari tempat tinggal kita di dunia ini. Tanpa bahasa, kita akan kesulitan berkomunikasi dengan sesama manusia, juga kita tidak akan bisa memah…

About Me

My photo
Fathul Qorib
Lamongan, Jawa Timur, Indonesia
pada mulanya, aku adalah seorang yang cerdas sehingga aku ingin mengubah dunia. lalu aku menjadi lebih bijaksana, kemudian aku mengubah diriku sendiri.