Friday, February 3, 2017

Tujuh Tradisi Ilmu Komunikasi


Sebagai ilmu yang lahir belakangan, mempelajari komunikasi sebagai sebuah ilmu membutuhkan pijakan yang kuat. Pijakan ini penting untuk memperjelas posisi ilmuwan ketika melakukan analisis komunikasi yang saat ini tengah pesat dipelajari. Karena peneliti pemula selalu dibingungkan dengan pertanyaan ‘letak komunikasinya dimana?’ ketika ia mengajukan obyek penelitian baru. Sehingga terjadi bias di beberapa keilmuan: sosiologi, psikologi, filsafat, antropologi, bahkan ilmu kesehatan dan kebudayaan.
 
Merumuskan hal-hal yang bisa digolongkan dalam keilmuan komunikasi sebenarnya agak mudah. Kita bisa melihatnya dari unsur-unsur yang terlibat dalam proses komunikasi : komunikator, pesan, media, komunikan, dan efek. Lima unsur itu sangat lekat hubungannya dengan model komunikasi Harold D Lasswell (1902-1978): who, ways what, in which channel, to whom, with what effect. Maksud Lasswell dengan membuat pertanyaan itu adalah untuk memudahkan orang mengetahui apa itu komunikasi.
Jika diperhatikan, Ilmu Komunikasi mencakup sebuah wilayah yang lebih luas dibandingkan psikologi, sastra, sosiologi, maupun politik. Karena dari semua yang saya sebutkan tersebut juga bisa dikaji menggunakan teori-teori komunikasi. Sebagai studi yang multidisiplin, Ilmu Komunikasi menjadi sulit untuk berdiri sendiri. Dibutuhkan waktu yang sangat lama hingga muncul teor-teori yang murni lahir dari ilmuwan komunikasi. Karena harus diakui, bapak ilmu komunikasi adalah ahli di bidang ilmu yang lain sebelum fokus meneliti persoalan komunikasi.
Di tengah pusaran keilmuan yang serba mengiris dan mempengaruhi, kita membutuhkan penjelasan yang mumpuni tentang keilmuan komunikasi. Tradisi-tradisi yang mempengaruhi ilmu komunikasi pada awalnya disusun oleh Profesor Komunikasi dari Universitas Colorado, Robert T Craig. Usulan untuk memahami komunikasi melalui tujuh tradisi ini mendapat banyak pujian, diantaranya adalah Profesor Emeritus Komunikasi dari Wheaton College, Illinois, EM. Griffin, dan Profesor Komunikasi University of New Mexico, Stephen W Littlejohn.
Pertama kali merumuskan ide itu, Craig mengurutkannya berdasarkan pada aktivitas komunikasi sehari-hari. Karena itu ia menempatkan tradisi retorika dibagian pertama, dan berurutan semiotika, fenomenologi,sibernetika, psikososial, sosiokultural, dan kritik. Sementara Griffin mengurutkan tujuh tradisi ini berdasarkan obyektivitas dan interpretatif tradisi. Jika diurutkan menurut obyktivitasnya, maka psikososial menempati urutan pertama, disusul sibernetika, retorika, semiotika, sosiokultural, kritik, dan terakhir tradisi fenomenologi.
Berbeda dengan dua ilmuwan itu, Littlejohn malah membuat daftar tujuh tradisi ini berdasarkan perbedaan dan persamaannya. Beberapa tradisi komunikasi ini bertentangan dengan yang lainnya, sementara yang lainnya saling melengkapi (Littlejohn, 2009). Urutan yang dissusun Littlejohn inilah yang akan kita bahas kali ini.
Tradisi pertama, Semiotik. Tradisi ini terdiri atas sekumpulan teori tentang bagaimana tanda-tanda merepresentasikan benda, ide, keadaan, situasi, perasaan, dan kondisi di luar tanda-tanda itu sendiri. Kebanyakan pemikiran semiotik melibatkan ide dasar triad of meaning yang menegaskan bahwa arti muncul dari hubunan di antara tiga hal: benda yang dituju, manusia sebagai penafsir, dan tanda. Semiotik selalu dibagi dalam tiga wilayah kajian, semantik, sintaktik, dan pragmatik.
Semantik berbicara tentang bagaimana tanda-tanda berhubungan dengan yang ditunjuknya atau apa yang ditunjukkan oleh tanda-tanda. Sedangkan sintaktik merupakan kajian hubungan diantara tanda-tanda. Jadi tanda tidak pernah berdiri sediri, karena hampir semuanya selalu menjadi bagian dari sistem tanda atau kelompok tanda yang lebih besar yang diatur dalam cara-cara tertentu. Pragmatik memiliki pengaruh yang paling penting karena ia memperlihatkan bagaimana tanda-tanda membuat perbedaan dalam kehidupan manusia secara praktis. Tanda harus dipahami bukan hanya sebagai kata-kata tetapi juga pada struktur bahasa, masyarakat, dan budaya, agar komunikasi dapat dipahami.
Tradisi kedua, Fenomenologi. Semiotik cenderung memperhatikan tanda dan fungsinya, sedangkan fenomenologi lebih memperhatikan sosok penafsir sebagai komponen utama dalam proses penciptaan makna. Asumsinya adalah bahwa orang-orang secara aktif menginterpretasikan pengalaman-pengalamannya dan mencoba memahami dunia dengan pengalaman pribadinya. Pengalaman nyata digunakan sebagai data pokok dalam tradisi ini.
Stanley Deetz menyimpulkan tiga prinsip dasar fenomologis. Pertama, pengetahuan ditemukan secara langsung dalam pengalaman sadar. Kedua, makna benda terdiri atas kekuatan benda dalam kehidupan seseorang. Ketiga, bahwa bahasa merupakan kendaraan makna. Intinya, kita bisa mendapatkan makna dari setiap sesuatu sesuai dengan pengalaman masing-masing. Suatu benda bisa sangat bermakna karena memiliki kenangan tertentu. Dan seluruh pengalaman itu akan diungkapkan melalui bahasa –sebagai kendaraan, sebagai cara mengekspresikan dunia.
Tradisi ketiga, Sibernetika. Bagi kebanyakan ahli, tradisi fenomologis itu naif. Kehidupan ini dibentuk oleh kekuatan-kekuatan yang kompleks dan saling berhubungan. Karena itu pemahaman sesungguhnya datang dari analisis yang cermat terhadap sistem efek. Ide sistem inilah yang membentuk pemikiran sibernetika. Sibernetika merupakan tradisi sistem-sistem kompleks yang di dalamnya banyak orang saling berinteraksi, memengaruhi satu sama lainnya.
Sistem merupakan seperangkat komponen yang saling berinteraksi, yang bersama-sama membentuk sesuatu yang lebih dari sekadar sejumlah bagian-bagian. Dalam sibernetika, komunikasi dipahami sebagai sistem bagian-bagian atau variabel-variabel yang saling mempengaruhi, membentuk, serta mengontrol karakter keseluruhan sistem, dan layaknya organisme, menerima keseimbangan dan perubahan.
Tradisi keempat, Sosiopsikologis. Teori-teori dalam tradisi sibernetika berguna memahami sebuah hubungan, tetapi tidak efektif dalam memahami perbedaan-perbedaan individu di antara bagian-bagian sistem. Karena dalam pengambilan keputusan, seorang individu akan memproses pesan, bagaimana ia merencanakan strategi pesan, dan memikirkan bagaimana efeknya, sebelum ia mengungkapkannya dalam sistem.
Teori dalam tradisi ini berfokus pada perilaku sosial individu, variabel psikologis, efek individu, kepribadian dan sifat, persepsi, serta kognisi. Ada tiga kajian penting dalam tradisi ini, perilaku, kognitif, dan biologis. Perilaku berkonsentrasi pada bagaimana manusia berperilaku dalam situasi-situasi komunikasi. Sementara kognitif fokus pada bagaimana individu memperoleh, menyimpan, dan memproses informasi untuk menghasilkan output perilaku. Sedangkan kajian biologis percaya bahwa sifat, cara berfikir, dan perilaku individu diikat secara biologis sejak lahir, seperti efek fungsi dan struktur otak, neurochemistry, dan faktor genetik.
Tradisi kelima, Sosiokultural. Tradisi ini mengedepankan persamaan individu dalam interaksi sosial, dari pada mengedepankan masing-masing keindividuannya. Pendekatan sosiokultural terhadap teori komunikasi menunjukkan cara pemahaman kita terhadap makna, norma, peran, dan peraturan yang dijalankan secara interaktif dalam komunikasi. Teori tersebut mengeksplorasi dunia interaksi yang dihuni manusia, menjelaskan bahwa realitas bukanlah seperangkat susunan di luar kita, tetapi dibentuk melalui proses interaksi di dalam kelompok, komunitas, dan budaya.
Tradisi ini memiliki enam sudut pandang, interaksi simbolik, konstruksionisme, sosiolinguistik, filosofi bahasa, etnografi, dan etnometodologi. Interaksi simbolik menekankan pada struktur sosial dan makna diciptakan serta dipelihara dalam interaksi sosial (Herbert Blumer, George H Mead). Konstruktivisme sosial mempercayai bahwa alam tidaklah sepenting bahasa yang digunakan untuk memberi nama, membahas, dan mendekati dunia. Identitas benda dihasilkan dari bagaimana kita berbicara tentang obyek, bahasa yang digunakan untuk menangkap konsep kita, dan cara-cara kelompok sosial menyesuaikan diri pada pengalaman umum mereka (Peter Berger, Thomas Luckmann).
Sosiolinguistik adalah kajian sosial budaya yang mengatakan bahwa manusia menggunakan bahasa secara berbeda dalam kelompok budaya dan kelompok sosial yang berbeda. Sosiolinguistik erat kaitannya dengan filosofi bahasanya Wittgenstein, yang menyarankan bahwa makna bahasa bergantung pada penggunaan nyatanya. Bahasa merupakan permainan karena manusia mengikuti aturan-aturan dalam mengerjakan sesuatu melalui bahasa. Ketika berbicara, seseorang sebetulnya menampilkan tindakan: memerintah, bertanya, berjanji, atau kemungkinan lainnya.
 Sudut pandang lainnya adalah etnografi yang merupakan observasi tentang bagaimana kelompok sosial membangun makna melalui perilaku linguistik dan nonlinguisti. Etnografi melihat bentuk komunikasi yang digunakan kelompok sosial tertentu, kata-kata, dan apa maknanya bagi mereka. Sedangkan sudut pandang etnometodologi yang mengobservasi secara cermat akan perilaku-perilaku kecil dalam situasi-situasi nyata. Ia melihat bagaimana kita mengelola dan menghubungkan perilaku dalam interaksi sosial pada waktu tertentu (Harold Garfinkel).
Tradisi keenam, Kritik. Tradisi ini banyak mengikuti asumsi tradisi sosiokultural, tetapi pada dasarnya sangat berbeda dibandingkan dengan tradisi lainnya. Tradisi ini banyak dipengaruhi feminisme, kajian post-modernisme, post-kolonialisme, marxisme, the frankfurt school, kajian budaya, dan post-strukturalisme. Banyak keragaman teori dalam tradisi ini, namun kesemuanya memiliki tiga inti: pertama, tradisi kritik mencoba memahami sistem yang sudah dianggap benar, struktur kekuatan, dan keyakinan –ideologi-, yang mendominasi masyarakat dengan pandangan tertentu.
Kedua, para ahli tradisi kritik pada umumnya tertarik membuka kondisi sosial yang menindas dan rangkaian kekuatan untuk mempromosikan emansipasi atau masyarakat yang lebih bebas dan lebih berkecukupan. Ketiga, tradisi ini ingin menciptakan kesadaran untuk menggabungkan teori dan tindakan. Tradisi ini juga tidak hanya tertarik pada tindakan sosial, tetapi juga fokus pada wacana dan teks-teks yang mempromosikan ideologi tertentu, membentuk dan mempertahankan kekuatan, meruntuhkan minat kelompok atau kelas tertentu.
Tradisi ketujuh, Retorika. Seluruh penyebaran ide menggunakan bahasa yang efektif agar dapat dipahami masyarakat umum. Jika ingin mengkomunikasikan ide-ide itu secara efektif maka kita harus mempelajari teknik rerotika. Meksipun zaman ini, retorika mengalami penyempitan makna menjadi: kata-kata kosong. Awalnya, retorika ini dihubungkan dengan teknik persuasi, yang kemudian dapat diperluas sebagai segala cara manusia dalam menggunakan simbol untuk mempengaruhi lingkungan sekitarnya dan untuk membangun dunia tempat tinggal mereka.
Referensi :
Littlejohn, Stephen W dan Karen A Foss. 2009. Teori Komunikasi. Salemba Humanika: Jakarta.
Craig, Robert T. 1999. Communication Theory as a Field. Artikel. International Communications Association.
Griffin, EM. 2009. A First Look at Communication Theory. McGraw-Hill Humanities.
Utari, Prahastiwi. 2011. Perspektif Tujuh Tradisi dalam Teori Komunikasi. Jurnal Komunikasi Massa. Vol 4 No 2 Page 1-13.
Liliweri, Alo. 2012. Telaah Tujuh Tradisi Perspektif Teori Komunikasi. Jurnal Communio Vol 1 No 1 Page 1-34.

Wednesday, January 4, 2017

Sejarah Ilmu Komunikasi



Perkembangan ilmu komunikasi demikian pesatnya sehingga seakan-akan, kita sudah hidup di dalamnya. Pada awalnya ilmu komunikasi merupakan pengetahuan yang lahir dari pernyataan untuk publik. Pengetahuan ini belum menjadi sebuah ilmu karena belum memenuhi persyarataan ilmiah, misalnya empiris, verifikatif, general, dan explanatory. Namun sejalan dengan perkembangan zaman, kajian-kajian akan pernyataan manusia ini terus dikaji sehingga membawanya pada riset komunikasi.

Ilmu komunikasi juga berawal dari beberapa kajian keilmuan yang lebih tua, seperti Sosiologi dan Psikologi. Faktanya, dua keilmuan itulah yang memberikan sumbangan terbesar untuk perkembangan dunia komunikasi. Bahkan ilmu matematika juga pernah menyumbangkan konsep dasar dalam teori komunikasi pada perkembangan awalnya (the mathematical theory of communication). Bisa jadi, nantinya setiap bagian dari ilmu komunikasi (interpersonal, massa, kelompok) juga menjadi keilmuan tersendiri saat komunikasi manusia semakin kompleks dan detail.

Dengan mengetahui sejarah ilmu komunikasi, kita dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasi secara bertahap. Sehingga efektivitas komunikasi antar manusia dapat dilakukan dengan lebih baik lagi. Ibaratnya, orang yang mengetahui asal muasal kemanusiaannya akan dapat memanusiakan manusia lainnya. Begitu pun orang yang mengetahui sejarah agama di dunia, maka mereka akan memahami perilaku beragama yang berbeda di setiap kelompok manusia.

Apalagi kita hidup di Indonesia yang mengalami lompatan budaya (jumping culture) yang membuat kita gagap terhadap perkembangan zaman. Karena itu, kita membutuhkan pemahaman dan skill berkomunikasi yang lebih dalam dibandingkan orang barat pada umumnya. Ketidakdewasaan berkomunikasi dapat menyebabkan kesalahpahaman yang fatal, melahirkan rentetan berita hoax, yang pada akhirnya membawa perpecahan bagi suku bangsa dan agama yang menjadi fondasi utama Indonesia.

Secara tidak langsung, hal ini menjadi tanggung jawab orang-orang yang bergiat di keilmuan komunikasi. Sebagai akademisi, kajian-kajian seperti ini penting dilakukan untuk mengikuti perkembangan ilmu komunikasi secara khsuus, dan budaya komunikasi pada umumnya. Karena saat ini, di belahan dunia lain ilmu komunikasi sedang berkembang pesat, tidak hanya membahas transmisi pesan, tapi mulai menganalisis tanda-tanda arbiter yang membangun sebuah pengertian kompleks yang tak berhubungan sama sekali dengan tanda-tanda itu, bahkan bertolak belakang (simulakra). 

Perlu digaris bawahi, pembahasan ilmu komunikasi dan komunikasi manusia adalah sesuatu yang berbeda secara prinsip. Komunikasi manusia berkembang terlebih dahulu seiring dengan perkembangan sejarah manusia itu sendiri. Mulai dari masa pra sejarah –yang masih dibagi-bagi menjadi beberapa periodeisasi, masa pengenalan tulisan, perkembangan teknologi, hingga dunia cyber di masa sekarang. Sementara ilmu komunikasi berkembang lebih anyar dengan fokus pada studi-studi khusus –yang secara umum dapat diikuti sejak tradisi retorika berkembang di Yunani dan Romawi. 

Retorika

Sejarah ilmu komunikasi bisa dilacak dari tradisi retorika yang merujuk kepada beberapa nama yang hidup pada masa Yunani dan Romawi –sekitar 500 tahun sebelum masehi. Ilmuwan yang pertama-tama mengkaji sejarah tentang pernyataan manusia ini adalah Georgias (480-370). Georgias inilah yang disebut sebagai bapak retorika. Tradisi ini bermula dari pengembaraan orang-orang bijak (sofis) yang menyebarkan imu dari satu tempat ke tempat lain. Karena itu mereka membutuhkan struktur pembicaraan yang tepat sehingga tujuan pembicaraan itu dapat tercapai.

Selain Georgias, ilmuwan pertama yang membahas tradisi ini adalah Protagoras (500-432) dan Socrates (469-399). Kemudian diperiode berikutnya, muncul nama Isocrates dan Plato (427-347). Puncak dari keilmuan retorika ini ada pada zaman Demosthenes (384-322) dan Aristoteles (384-322), yang tulisan-tulisan keduanya masih bisa didapatkan di beberapa perpustakaan tua di Eropa. Nama-nama itu adalah ilmuwan Yunani yang sudah diakui dunia barat awal mula kemunculan sebuah ilmu.
‘retorika adalah seni persuasi, suatu uraian yang harus singkat, jelas, dan meyakinkan, dengan keindahan bahasa yang disusun untuk hal-hal yang bersifat memperbaiki, memerintah, mendorong, dan mempertahankan’ – Aristoteles.

Perlahan, tradisi retorika ini kemudian merangkak ke Romawi. Ilmuwan Romawi yang pertama-tama dikenal jago beretorika adalah Marcus Tulius Cicero (106-43). Catatan-catatan megenai retorika ini terkumpul dalam bukunya berjudul ‘de oratore’. Cicero adalah orator masyhur yang menciptakan retorika menjadi ilmu. Ia merincikan apa yang harus dan apa yang tidka boleh diucapkan dalam retorika.

Ilmu retorika tidak akan hilang selama manusia berusaha membujuk dan atau menolak ajakan orang lain dengan penguasaan bahasa dan logika yang tepat. Sampai sekarang, ilmu retorika masih digunakan oleh, misalnya : pengacara yang membela cliennya di hadapan majlis hakim, atau seorang orator dalam demo-demo buruh. Mereka harus menerapkan teori retorika agar ucapan-ucapannya didengar dan membuat orang lain tergerak.

Publisistik

Setelah lama manusia berkomunikasi secara lisan, barulah komunikasi bermedia muncul. Bisa dikatakan munculnya media komunikasi cetak dimulai sejak Johanes Guttenberg menemukan mesin cetak untuk pertama kalinya di tahun 1440 di Jerman. Awalnya percetakan ini hanya untuk memperbanyak Alkitab. Baru di tahun 1609 muncul surat kabar untuk pertama kalinya di Jerman, di susul Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya.

Surat kabar pada masa ini masih berupa catatan-catatan peristiwa yang ditulis oleh reporter tanpa kaidah jurnalistik yang ketat. Sering kali media digunakan orang yang memiliki kuasa untuk menyebarkan opini yang tidak mendasar. Dari perkembangan surat kabar inilah, muncul kajian-kajian oleh cendekiawan terkait Ilmu Persuratkabaran (Zaitungwissenschaft). Mulailah para cendekiawan merumuskan berbagai macam teori tentang pers itu.

Hingga kemudian, Prof.Dr. Karl Bucher (1847 – 1930), ekonom asal Jerman, yang pertama kalinya membawa the science of the press ini ke dalam universitas. Ia mengajar sejarah pers, organisasi pers, dan statistik pers di Universitas Bazel di Swiss pada tahun 1884. Lalu pada tahun 1892, ia mengajar Ilmu Persuratkabaran dengan lebih luas lagi Universitas Leibzig. Kehadiran Ilmu Persuratkabaran ini menarik minta berbagai kalangan. Hingga Kongres Sosiologi pada tahun 1910, sosiolog sekaliber Max Weber ingin memasukkan Sosiologi Pers dimasukkan dalam wilayah kajian Ilmu Sosiologi.

Studi tentang pers ini terus berkembang dengan munculnya radio dan televisi. Di berbagai belahan dunia terus dibicarakan mengenai ilmu tentang retorika dan pernyataan pedapat umum melalui media cetak. Dengan munculnya media radio dan televisi, Ilmu Persuratkabaran mulai dianggap tidak mampu menampung gejala sosial yang disebabkan oleh surat kabar itu sendiri. Mulailah orang ramai menamakan keilmuan yang baru demi mengakomodir berbagai fenomena sosial yang disebabkan oleh media. 

Adalah Prof. Dr. Walter Hagemann, guru besaar publisistik di Munster, memberikan nama Ilmu Publisistik (publizistic) untuk menggantikan Ilmu Persuratkabaran (Zaitungwissenschaft). Sehingga obyek kajian ilmu ini tidak hanya media massa ceta, melainkan pula radio, televisi, retorika, dan pernyataan atau pendapat yang disebarkan untuk umum. Lama kelamaan, obyek kajian ilmu ini semakin berkembang hingga mengarah ke pernyataan yang tidak aktual antar manusia, dan ada pula pernyataan yang tidak peruntukkan untuk umum.

Ilmu juga harus menjawab akibat-akibat yang disebabkan oleh media massa. Sehingga obyek kajiannya semakin luas namun namanya sudah tidak pas digunakan. Akhirnya muncullah nama baru untuk ilmu ini, yakni Komunikasi Massa.

Ilmu Komunikasi

Ada sejarah yang terputus di beberapa referensi mengenai penamaan ilmu komunikasi. Karena penamaan ini merujuk pada keilmuan publisistik yang berkembang di Amerika Serikat dari pada di Eropa. Effendy (2003) misalnya hanya menyebut: Retorika berlari ke Jerman bernama publiziztik, sementara satu sisi menyebar ke Amerika Serikat bernama jurnalistik. Jadi baik ilmu komunikasi yang berkembang di Eropa atau di AS, sama-sama berawal dari kajian media massa.

Ilmu komunikasi awal berkembang di Amerika sejak kemunculan istilah jurnalistik –sebagai serapan kata diurnal pada masa Romawi, pada tahun 1700-an. Tetapi jurnalistik yang berkembang bukanlah sebuah ilmu, melainkan sebuah praktik. Salah satu tokoh jurnalistik pertama-tama adalah Joseph Pulitzer yang pada tahun 1903 menyisihkan kekayaannya untuk membangun School of Journalism. Ide Pulitzer ini diapresiasi oleh Rektor Columbia University, Nicholas Murray Butler, dan Rektor Harvard University, Charles Eliot, dengan membuat departemen publisistik di kedua universitas terkemuka itu.

Proses menuju penamaan Imu Komunikasi masih panjang dan berbelit. Karena di Amerika sendiri, pada awalnya ada pembedaan antara Speech Communication yang bersumber dari tradisi retorika, dan Ilmu Komunikasi Massa yang bersumber dari jurnalistik. Mereka berdiri sendiri dengan membentuk departemen masing-masing di beberapa universitas. Beberapa tahun kemudian barulah dua departemen ini menyatu karena tidak bisa memisah-misahkan obyek kajian, sebab keduanya mengkaji pernyataan antar manusia.

Speech Communication mengkaji pernyataan antar manusia secara langsung, sedangkan jurnalistik mengkaji pernyataan antar manusia melalui media massa. Mulai dari sinilah, research yang mengarah pada perilaku yang disebabkan oleh komunikasi mulai berkembang luas. Dimensi-dimensi komunikasi mulai terbentuk sehingga muncul studi dan riset tentang Komunikasi Intrapersonal, Komunikasi Interpersonal, Komunikasi Kelompok, Komunikasi Organisai, Komunikasi Lintas Budaya, Komunikasi Politik, Komunikasi Pemasaran, hingga Komunikasi Massa. Keseluruhan bentuk ini, pada akhirnya membentuk keilmuan komunikasi.

Ilmu Komunikasi di Indonesia

Ilmu Komunikasi relatif baru di peradaban Indonesia, tepatnya pada tahun 1982 melalui ilmuwan-ilmuwan yang telah menimba ilmu di Eropa maupun Amerika. Kita harus berterimakasih pada Drs. Marbangun, Sundoro, Prof. Sujono Hadinoto, Adinegoro, dan Prof. Dr. Mustopo, lalu muncul lagi dua nama besar : Dr. Phil. Astrid S. Susanto dan Dr. M. Alwi Dahlan. Mereka ini yang berjasa memasukkan studi publisistik ke dalam kampus-kampus besar di Indonesia, seperti UI Jakarta, Unpad Bandung, UGM Yogyakarta, hingga Unhas Makassar.

Wednesday, December 28, 2016

Catatan Menjadi Wartawan


semasa jadi wartawan yang alhamdulillah allahuakbar
Pekerjaan yang paling mengesankan adalah menjadi wartawan. Bagi sebagian besar orang, menjadi wartawan adalah pekerjaan idaman. Atau bagi sebagian besar mahasiswa lulusan Ilmu Komunikasi, menjadi seorang wartawan adalah impian sejak ikut pers kampus. Tidak jarang pekerjaan wartawan diidentikkan dengan pekerjaan yang mulia, semacam penyambung lidah rakyat –bagi Sukarno. Wartawan juga identik dengan sekelompok orang yang maha tahu. Karena itu jangan heran jika banyak orang menghormati kenalannya yang berprofesi sebagai wartawan.

Meskipun profesi ini dicintai, namun banyak juga yang membenci. Banyak orang yang ‘tampaknya saja’ menghormati orang yang berprofesi sebagai wartawan. Namun di balik itu, mereka mengolok-olok bahkan terkesan mencemooh wartawan. Sebabnya bisa jadi macam-macam, misalnya sekarang banyak berita hoax atau media yang meliput hanya mengandalkan angle yang menarik –bukan angle yang dibutuhkan masyarakat. Bisa juga karena perilaku wartawan yang dianggap sewenang-wenang, atau banyak wartawan bodrek yang memberlakukan tarif pada narasumbernya.

Terlepas dari dicintai atau dibenci, enakkah menjadi wartawan itu? Pertanyaan ‘enak atau tidak enak’ kebanyakan akan mendapatkan jawaban subyektif. Beruntungnya adalah saya pernah menjadi wartawan sehingga subyektifitas ini layak dipercaya. Dari pada menjawab dengan singkat, persoalan enak dan tidak enak ini lebih baik saya jabarkan di bawah :

Pertama, sibuk. Menjadi seorang wartawan selalu memiliki kesibukan yang teramat sangat. Ketika ada bencana alam, seorang wartawan tidak akan bisa istirahat dan ia malah mendatangi lokasi bencana. Ketika ada bom di sebuah pusat perbelanjaan, maka orang-orang akan berlarian menjauhi bom. Wartawan malah sebaliknya, ia datang, kalau bisa masuk ke dalam dan melihat rupa bomnya seperti apa, apakah hijau kekuningan, berapa jumlah kabel yang berjuntai, tidak lupa juga mengabadikannya.

Ketika tanggal merah berderet, orang-orang bisa terlena. Sedangkan bagi wartawan, tanggal merah berderet itu seperti dencit kereta api: waktunya berangkat menembus kabut. Ingat, jika tanggal merah maka orang pasti ramai memperingati sesuatu, bisa maulid Nabi, Natal, atau Waisak. Dan dalam acara-acara seperti itu, wartawan tidak bisa tidur tenang di rumah. Ia harus di sana, berjibaku dengan polisi yang mengatur kemacetan, atau membayangi kyai yang berkhutbah berapi-api.

Kedua, tidak punya waktu. Wartawan tentunya memiliki waktu 25 jam dibanding manusia normal pada umumnya. Namun wartawan sebenarnya tidak punya waktu untuk melakukan segala sesuatu. Terasa aneh dan janggal karena meskipun berjaga sepanjang waktu, seorang wartawan merasa telah melewatkan begitu banyak hal. Bagi orang yang tidak pernah menjadi wartawan, profesi ini diibaratkan profesi hantu. Pagi ia menyelinap di pasar, siang bertamu pemilik pabrik, sore meliput karnaval budaya, dan malamnya masih harus mengikuti polisi mengejar maling ayam.

Wartawan punya waktu 25 jam sehari untuk berita, tetapi ia tak pernah punya waktu untuk selain itu. Karenanya jangan heran kalau janjian personal dengan wartawan –bukan urusan berita- maka dipastikan terlambat, atau minimal berubah jam pertemuan. Karena bagi wartawan, bertemu dengan narasumber harus didahulukan dari pada bertemu dengan orang lain. Jika punya saudara atau teman wartawan, mereka sering kali tidak mendatangi undangan nikah, tidak ikut coblosan di kampung sendiri, jarang punya pacar yang bertahan hingga tiga bulan, bahkan tidak mendatangi upacara kematian tetangga rumah –kecuali tetangga rumah mati terkena malaria, atau tanggal kematiannya sama dengan tanggal lahir dan tanggal pernikahannya.

Ketiga, hidup untuk publik. Sudah lama diketahui bahwa fungsi pers adalah memberikan informasi kepada masyarakat luas. Di atas juga sudah disinggung bahwa wartawan hanya memiliki waktu untuk mengejar berita, dan berita adalah untuk publik. Karena itu bisa dikatakan, wartawan hidup untuk publik. Ia bisa jadi lupa kapan ulang tahun istrinya, tapi ia ingat dan diingatkan kapan istri Kapolres ulang tahun. Bukan karena istri Kapolres biasanya lebih cantik, tetapi ulang tahun istri Kapolres selalu dirayakan sehingga bernilai berita.

Bagi wartawan, publik adalah nomor satu. Meskipun tidak secara langsung berhadapan dengan publik, namun wartawan adalah kunci dari berita yang tersebar. Tanpa wartawan mustahil ada berita yang mampir di meja redaksi. Karena itu, apapun yang diketahui masyarakat tentang dunia luar, biasanya berasal dari kerja kewartawanan. Jika masyarakat merasa terbantu dengan berita itu, maka popularitas media yang bersangkutan akan naik –imbasnya adalah pujian kepada wartawan juga mengalir.

Konteks kerja untuk publik juga harus mengalir ke dalam nadi seorang wartawan. Ia tidak boleh dikekang oleh kantor redaksi, manajemen keuangan perusahaan, atau pun dikekang oleh pihak eksternal yang mencoba untuk menutupi informasi yang bernilai berita. Meksi demikian, seorang wartawan juga tidak boleh lebai, informasi ditutup sedikit saja oleh oknum aparat, langsung heboh dengan membuat pernyataan, aksi, atau melaporkan ke asosiasi jurnalisnya. Padahal dalam kerja investigative reporting, main kucing-kucingan dengan narasumber adalah hal biasa.

Jika wartawan sudah niat bekerja untuk publik, maka apapun yang ia lakukan di lapangan adalah demi rakyat. Ia bekerja demi kebenaran. Seorang wartawan akan rela bergelimang lumpur di sawah demi menguak kasus penjualan manusia, atau seorang wartawan demi berlarian di medan perang untuk meliput kejahatan yang dilakukan oleh negara kepada rakyatnya. Karena itu, jika sudah menyematkan diri menjadi pekerja publik, maka seorang wartawan tidak diperbolehkan manja lagi.

semasa jadi wartawan yang aduhai syalalalala
Keempat, tuntutan selalu tahu. Tidak jarang dalam diskusi umum, salah seorang akan berkata “ayo mas wartawan, menurut sampean gimana? Kan wartawan harusnya tahu persoalan seperti ini”. Ini jenis anggapan dan pertanyaan yang ngeri-ngeri sedap. Karena tidak semua wartawan tahu segala hal. Seorang wartawan hanya tahu apa yang ia pernah dengar atau apa yang pernah ia liput. Seorang wartawan yang pindah tempat liputan, dari kriminal ke pemerintahan, sudah jelas terlihat culunnya. Wartawan pemerintahan mana tahu bedanya pasal 351 dan 352, wartawan olahraga tidak akan ngeh dengan KUAPPAS dan PAK APBD, begitu pun wartawan kriminal tidak akan faham kenapa PSSI sampai sekarang memusingkan.

Karena itu, penyematan kategori ‘wartawan serba tahu’ adalah sesuatu yang jahat. Tuntutan serba tahu dari masyarakat ini kadang memaksa wartawan bicara asal bunyi. Yang terjadi wartawan kehilangan kredibilitasnya. Sehingga wartawan sebagai penulis berita yang mendidik, juga harus memberikan pemahaman kepada warga bahwa tidak semua wartawan tau kasus korupsi yang dilakukan kepala desa. Namun tuntutan masyarakat ini bisa diminimalisir dengan memperbanyak membaca berita temannya sendiri. Wartawan jangan malas membaca berita. Meskipun wartawan olahraga, ia harus tetap membaca berita kriminal dan budaya.

Tuntutan serba tahu yang paling sadis biasanya datang dari redaksi sendiri. Tidak jarang seorang editor, redaktur, dan pimpinan redaksi, memarahi  seorang wartawan karena ketinggalan berita dari media tetangga. Hal ini sering menjadi beban wartawan dalam pekerjaannya. Karenanya wartawan sering bekerja sama saat di lapangan. Mereka mengelompok, membuat grup, ngopi bareng, bahkan saling tukar berita demi tidak dimarahi redaktur di kantor. Padahal ketika rapat redaksi, selalu ditekankan bahwa wartawan media tersebut bekerja sendiri dan haram hukumnya barter berita dengan media lain. Kata wartawan : kayak redaktur tidak pernah jadi wartawan aja!.

Keenam, punya uang berlebih. Enaknya menjadi wartawan adalah punya uang yang lebih banyak dibandingkan dengan bekerja di tempat lain yang setara. Persoalan gaji, kita sering mengaku kurang –dimanapun tempat kerjanya. Karena saya pernah jadi wartawan, maka saya tahu dari mana saja sumber uang berasal. Misalnya, dari gaji pokok+tunjangan, dari penghasilan iklan, dan dari santunan narasumber. Untuk gaji dan uang persentase iklan, semua orang pasti sudah tahu. Misalnya jika wartawan berhasil mendapatkan iklan senilai Rp 50 juga, maka wartawan akan mendapatkan bagian, tergantung kesepakatan persentase dengan perusahaan persnya.

Khusus mengenai santunan narasumber ini biasanya ditutup-tutupi oleh wartawan. Kita juga tidak bisa menjustifikasi bahwa semua wartawan menerima amplop. Jadi lebih baik jangan menuding, dari pada wartawan marah dan akhirnya kita kena getahnya. Nilai dari santunan narasumber ini tidak sedikit, tapi juga tidak besar. Fungsinya pun bukan untuk menutupi suatu berita, tetapi lebih pada menjalin hubungan dan penghargaan narasumber atas kerja wartawan. Seringkali wartawan yang tidak diberi uang santunan ini ngomong; narasumber tidak menghargai kita sama sekali, saya tulis sedikit saja.

Mau membahas persoalan ini panjang-panjang kadang mengerikan juga. Karena banyak wartawan yang benar-benar tidak mau menerima apapun dari narasumbernya. Bahkan jika terpaksa menerima, uang itu akan dikirim ke kantornya untuk dikirim ke santunan anak yatim atau fakir miskin. Jadi kejadian ini tidak bisa digeneralisir. Percayalah hanya wartawan tertentu saja yang menerima uang dari narasumber, dan percayalah bahwa keuangan wartawan lebih banyak yang baik-baik saja dari pada yang kekurangan. 

Ketujuh, link bercabang. Jika kita sering ngobrol dengan orang lain, sering berdiskusi, apalagi sering menyenangkan hati orang, maka dengan sendirinya kita akan akrab. Keakraban semacam ini bisa mendatangkan manfaat berupa link jangka panjang yang serba guna. Misalnya memudahkan pengurusan proposal penggalangan dana Karang Taruna, memudahkan mengurus KTP dan SIM, hingga memudahkan keluarga wartawan untuk masuk ke tempat wisata gratis. Hal ini tidak dipungkiri, kadang dimanfaatkan oleh wartawan, dan banyak pula wartawan yang sering menolak fasilitas semacam ini.

Intinya adalah dengan link ini wartawan mendapatkan manfaat dan fasilitas. Sering kali kita harus menganggapnya sebagai fairness –karena orang-orang kadang suka menraktir wartawan agar nanti jika punya acara bisa diliput. Yang mengenaskan, wartawan diberi faslitas agar tidak menulis hal-hal yang buruk dari perusahaan multinasional atau personal. Kejadian ini juga banyak dialami profesi lainnya. Misalnya kita sering membawa rokok ke Kepala Desa agar ketika mengurus nikah sirri ketiga, tidak mendapatkan kesulitan. Jadi, selama masih di Indonesia, kejadian ini ‘dianggap’ sah-sah saja. 

Bekerja Serius

Itu adalah beberapa catatan indah dan tidak indah selama menjadi wartawan. Masih banyak hal yang bisa menjadi alasan kenapa kita tidak harus menjadi wartawan. Terutama adalah bagi kita yang sangat cinta sama keluarga, lebih baik tidak menjadi wartawan. Ketika saya sudah alih profesi sebagai pekerja kantoran, saya faham arti libur dan ketenangan batin. Karena saat menjadi wartawan, hape tidak pernah bisa di-silent, apalagi dimatikan. Hukumnya haram –menurut Pimred Malang Voice. Pun ketika ada bunyi WA, bbm, atau telepon dan sms, harus segera direspon seketika.

Perlu penggambaran memang, antara wartawan media serius dan tidak serius. Ketika wartawan bekerja di media yang serius, yang ingin bersaing dengan media lain, maka ia memberlakukan ketentuan kerja yang ketat. Wartawan tidak pernah bisa tenang bekerja di media yang seperti ini. Ia harus selalu memantau perkembangan, berfikir semalaman untuk berita besok yang spektakuler, memasang telinga di reserse kepolisian, hingga nongkrong sampai jam 02.00 demi wawancara dengan bencong yang berada di perbatasan Batu-Malang.

Wartawan jenis ini selalu tidak bisa tenang ketika mendengar dering hape. Rasanya di dada ada yang bergetar tidak mengenakkan. Sama seperti mahasiswa S1 semester 11 yang belum menyelesaikan skripsinya. Ketika ia ngopi santai di dermaga saksi bisu, kemudian ada temannya yang ngomong soal skripsi, dadanya langsung gemetar karena gentar. Serrr!. Nggak enak. Wartawan juga tidak punya jam pasti kapan ia harus liburan, kapan harus bekerja. Bahkan jika diberi libur pun, liburannya menjadi hal yang menggelisahkan karena setiap saat dihubungi narasumber.

Berbeda dengan wartawan yang bekerja di media tidak serius, ia bisa santai ngopi sampai pukul 12.00 siang tanpa khawatir tidak mendapat berita. Karena ia bisa mencontoh, kopi paste modifikasi, hingga mencuri berita wartawan lainnya. Wartawan model ini juga tidak dioyak-oyak (disuruh-suruh dengan keras) oleh kantornya. Kenapa? Karena kantor berita yang tidak serius tidak dapat menggaji wartawannya dengan pantas. Hukum jual beli berfungsi: tidak mampu memberi gaji tinggi, maka tidak mampu menyuruh pegawai untuk bekerja keras.

Sunday, December 11, 2016

Jangan Pecah : Umat dan Ulama

jumatan 212, sumber : Republika

Ada tiga kondisi umat islam di Indonesia saat ini; pertama, orang yang militan terhadap pengusutan hukum terhadap Basuki Tjahaya Purnama, kedua, orang cenderung mendukung ketidakbersalahan Basuki alias Ahok, dan terakhir adalah orang muslim yang memilih cuek dan tidak ambil pusing dengan seluruh kejadian tersebut. Persamaan diantara tiga kelompok ini adalah; mereka semua merasa benar dengan pilihannya sehingga banyak yang saling mencemooh dan menghujat di berbagai media publik.

Telah menjadi maklum bahwa Majlis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa bahwa Ahok telah menistakakan agama Islam dalam pidatonya di Kepulauan Seribu. Dan fatwa seperti itu, bagi golongan muslim pertama bisa menjadi tongkat musa. Bagi golongan kedua, MUI akan semakin dibenci dan diduga diisi oleh ulama tak berilmu, dan bagi golongan terakhir, MUI adalah lembaga yang ada ataupun tidak adanya sama saja (wujuduhu ka’adamuhu). Kita patut menyayangkan kondisi yang silang sengkarut ini, namun selalu ada hikmah di setiap peristiwa.

Harus diakui bahwa sesalah-salahnya kemarahan umat islam, hikmah dari peristiwa ini juga sedemikian besar. Bagi masyarakat yang mau berpandangan obyektif, tentunya mengakui bahwa aksi yang dilakukan umat islam pada 411 maupun 212 merupakan aksi yang menggetarkan hati. Media sudah banyak mencuplik kisah-kisah di dalamnya, mulai dari massa yang berjalan kaki karena bus dilarang mengangkut mereka, makanan gratis bertebaran, hingga ketertiban umat islam saat melakukan aksi, salat, dan tetap kokohnya tanaman di taman Jakarta.

Kebersatuan umat islam ini bukanlah berdasar sesuatu yang diimajinasikan –sesuatu yang seperti konsep bangsa dan nasionalisme ala Bennedict Anderson. Kebersatuan ini mengambil Agama Islam secara mendalam sebagai dasar pergerakannya. Mereka bergerak karena mereka satu agama, satu rasa –yang sama marah dengan perkataan Ahok. Tentu saja banyak ulama’ yang aktif dalam aksi super damai tersebut,termasuk juga banyak umat yang taklid di sana. Tapi tidak salah juga bahwa banyak ulama yang tidak ambil bagian dalam aksi salat Jumat di Monas itu. Jadi semuanya sah demi alasan dan ijtihad masing-masing.

Peran Ulama

Di Indonesia, ulama masihlah sosok yang dimuliakan karena dipercayai sebagai warosatul anbiya’. Sehingga titah ulama sangat dipegang oleh jemaahnya; digunakan sebagai pedoman, bahkan digunakan senjata yang tidak mempan tembakan aparat bersenjata. Ada tanggung jawab besar yang dipegang ulama’ pada persoalan penistaan agama oleh Ahok ini. Karena sebagai pewaris para nabi, jangan sampai mereka mengeluarkan fatwa yang membuat umat pecah belah. Kita harus memahami bahwa banyak umat yang tidak mempraktekkan kearifan ‘undzur ma qola, wala tandzur man qola’ : lihatlah apa yang dibicarakan, bukan siapa yang berbicara.

Karena itu, sosok ulama masihlah menjadi tumpuan bagi Negara Indonesia untuk ‘menjinakkan’ umat islam ketika suatu persoalan terjadi –dan dengan kekuatan umat islam, persoalan itu akan selesai. Karena itulah, pemerintah berkali-kali mengunjungi markas NU dan Muhammadiyah untuk berkonsolidasi. Kita tidak tahu apa yang mereka bicarakan, namun dalam konteks positif, tentulah pemerintah ingin agar NU dan Muhammadiyah menjinakkan jemaahnya. Dan tebakan ini hadir dalam ‘kenetralan’ NU dan Muhammadiyah untuk aksi 212.

Namun keyakinan bahwa ulama’ dan organisasi keagamaan masih memegang kendali atas umatnya, kadang tidak terbukti 100 persen. Karena kekuatan media saat ini jauh melampaui kekuatan ulama dan organisasinya. Diakui ataupun tidak, banyak jemaah yang kini merasa memiliki kemandirian pola pikir –entah karena terprovokasi atau karena benar-benar berfikir. Hal itu yang menjadi sebab, banyak umat NU, Muhammadiyah, maupun organisasi keislaman lainnya tetap memenuhi Monas dan sekitarnya dalam aksi bela Islam. Seruan NU, Muhammadiyah, dan MUI malah cenderung ambigu, antara memperbolehkan atau melarang.

Tapi meski terlihat ambigu, langkah yang diambil organisai keislaman ini bisa menjadi langkah strategis. Banyak orang yang mencintai NU menganggap langkah NU adalah langkah sakral pengorbanan diri. Meskipun dihina karena dianggap tidak punya ghirah memperjuangkan nama baik islam, NU tetap kokoh untuk melarang jemaahnya demo ke Jakarta. Alasannya jelas; pertama hukum terhadap Ahok tidak dapat diintervensi; kedua, NU memilih jalur aman agar tidak terjadi gelombang massa yang maha besar jika NU memfatwakan jemaahnya agar datang ke Jakarta –ingat bahwa massa NU lebih tunduk pada fatwa kyainya dibanding jemaah ormas lain, dan NU adalah ormas yang punya massa islam terbesar di Indonesia.

Langkah-langkah yang sudah ‘benar’ tersebut jangan sampai dinodai lagi. Perkataan Ulama jangan ditambah-tambahi dan jangan mau dipancing oleh wartawan untuk mengomentari kasus ini tanpa pikiran yang jernih. Kalau dianggap keliru bisa menyebabkan blunder karena bermusuhan dengan jutaan massa aksi, kalau dianggap benar oleh massa 212 maka muslim golongan kedua dan ketiga bakal mecucu. Karena itu, tweet Gus Mus yang menyebut Jumaatan di jalan raya sebagai ‘bid’ah sedemikian besar’ itu menimbulkan polemik baru. Terjungkal-jungkal lah pecinta Gus Mus dengan muslim yang tergerak hatinya untuk jumatan bareng di Monas.

Di sini Gus Mus sepertinya membela Ahok, padahal di statusnya di facebook, beliau pernah menunjuk Ahok sebagai virus yang telah menyerang akal sehat jutaan umat muslim. Mungkin saya memahami bahwa Gus Mus hanya ingin meletakkan masalah pada tempatnya –yang menurut beliau: Ahok jelas salah, tapi mengumpulkan umat islam untuk salat Jumat di jalan raya Jakarta demi persoalan ini juga langkah yang tidak tepat. Gus Mus tidak memberikan jalan keluar secara syariat, hanya hakikat yang ia sampaikan : Jangan berlebih-lebihan. Termasuk sedang-sedang saja dalam menyenangi dan tidak berlebih-lebihan dalam membenci.

Saya tidak merasa lebih baik dibanding ulama, tapi ada perkara yang harus ulama ambil dari kasus Gus Mus ini. Bahwa suatu hal yang mengerikan ketika ulama memberikan pernyataan, lalu beberapa umatnya malah menjadi musuh dan melayangkan perkataan yang buruk. Karena itu, dalam kasus Sari Roti yang saat ini menjadi viral gara-gara pernyataannya yang ‘tidak mengenakkan’ peserta aksi 212, ulama pun mesti berhati-hati. Fikirkan juga ketika memasang foto sarapan Sari Roti bersama teh di facebook, akan ada orang yang menjadi musuh secara mendadak.

Bukankah hal itu harus dihindari agar umat Islam tidak semakin terpecah? Pemahaman umat jelas berbeda-beda, ada yang awam dan ada yang pemahamannya tinggi. Sehingga ulama sebagai orang yang kuasa pengetahuannya lebih banyak, harusnya lebih bijak menyampaikan hal kontroversial ini. Sungguh suatu kerugian jika umat terpecah, jika bersatu lebih baik.

Proses Hukum

Karena gema penolakan yang menggelegar ini, akhirnya Ahok mengucapkan permintaan maafnya. Ini adalah langkah yang bagus, kalau tidak bisa dianggap luar biasa, bahwa seorang pejabat Indonesia akhirnya mengucapkan permintaan maaf atas kesalahannya. Biasanya, kita cenderung berkaca ke Jepang, yang jika pejabatnya terlibat dalam kesalahan yang tak termaafkan, akan mengakui kesalahannya dan mengundurkan diri. Jadi Ahok sudah meminta maaf, meskipun akhirnya kita tahu bahwa permintaan maaf saja tidak cukup. Dan sekarang, Ahok sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polri, apakah cukup?

Umat islam sudah menunjukkan kekuatannya yang luar biasa dengan dua aksi yang super mengejutkan. Presiden dan Polri harusnya tidak main-main dalam kasus ini karena hal ini bisa membahayakan status mereka di masa mendatang. Karena itu, umat islam lebih baik mendinginkan kepala terlebih dahulu. Ada proses hukum yang berjalan. Persoalan penahanan, memang hak subyektif dan obyektif kepolisian berdasarkan hukum materiil dan formil untuk melakukannya. Apakah penahanan ini akan disamakan antara Buni Yani dan Ahok, itu susah-susah gampang. Yang penting, jika ada hal yang tidak janggal, mereka tahu bahwa muslim tidak tinggal diam.

Yang perlu kita lakukan saat ini adalah berbuat santun di media sosial. Berminggu-minggu ini umat Islam seperti kesetanan karena debat yang tak berkesudahan di dunia antah berantah; mulai warung kopi, masjid, kampus, media konvensional dan media sosial, bahkan mungkin dalam tidurnya sekalipun. Jangan pedulikan orang yang ingin memancing pembicaraan yang tak berujung pangkal, karena sekali kita terperosok, agama yang dikorbankan. Kita musti menyontohkan bahwa Islam adalah agama yang damai dan agama yang benar.

Wednesday, October 26, 2016

Ketakterbatasan S Ramanujan


poster film the man who knew infinity
sebuah persamaan tidak mempunyai makna bagiku, 
kecuali persamaan itu mengekspresikan pikiran tuhan.
-ramanujan

Orang yang menyandang nama besar menciptakan dirinya sendiri dari antah berantah. Kita akan kesulitan menemukan orang-orang yang memiliki kecerdasan yang luar biasa. Namun yang lebih menyulitkan lagi adalah menemukan mereka menjadi orang yang mengubah arah dunia. Saya bisa membayangkan satu nama –Lintang, yang dalam buku Laskar Pelangi digambarkan sebagai anak kecil jenius. Namun ia tidak beruntung karena harus menjadi nelayan miskin, lalu tinggal selamanya di sana dengan bakat tidak tersalurkan sama sekali.

Orang-orang seperti Lintang mungkin teramat banyak sekali. Beberapa diantara tidak terselamatkan dan dianggap gila, lalu beberapa lagi terselamatkan oleh kegigihannya sendiri. Dari orang-orang genius yang terselamatkan inilah, kita kemudian mengenalnya dan menuai pengetahuan dari kecerdasannya. Salah satu genius yang ada di dunia ini berasal dari India, Srinivasa Ramanujan. Biografi Ramanujan telah ditelusuri oleh Robert Kanigel lalu dibubukan dengan judul The Man Who Knew Infinity pada tahun 1992. Buku ini kemudian diadaptasi ke layar lebar oleh sutradara Matt Brown tahun 2015 lalu, dengan Dev Patel sebagai tokoh utamanya.

Bagi orang yang tidak mengenal matematika, mungkin nama Ramanujan sangat asing. Namun banyak orang percaya bahwa dia adalah salah satu dari genius matematika yang pernah dimiliki dunia, seperti : Phytagoras, Newton, Blgollo alias Fibonacci, hingga Euler dan Gauss. Oleh ahli matematika Inggris sekaligus mentornya, G.H Hardy, Ramanujan disamakan kedudukannya seperti Euler, Newton, Gauss, dan Archimedes. Beberapa penemuannya dalam bidang matematika menjadikan para matematikawan terperangah. Namun sayangnya, film ini tidak memaparkan pentingnya penemuan Ramanujan, atau setidaknya aplikasi dari penemuannya. Sehingga kita tidak bisa menyematkan emosi yang maksimal saat mengetahui bahwa Ramanujan hanya berakhir di usia 32 tahun.

Seperti penjelasan di awal, menjadi pria jenius bukan berarti bisa berbahagia selamanya. Kesulitan yang dihadapi oleh Ramanujan, bahkan terjadi tersebab ia lahir di India. Bagi orang-orang Eropa, keturunan bangsa Asia tidak pernah menarik sehingga akan diabaikan betapapun geniusnya mereka. Apalagi India adalah bangsa jajahan Inggris, sehingga sangat tidak masuk akal jika harus menerima kejeniusan Ramanujan. Selain persoalan rasis, Ramanujan juga diuji dengan ke-brahmana-annya. Ia  tidak bisa makan daging sehingga harus menyiapkan sayur-sayuran sendiri padahal jika makan di kantin, semuanya gratis.

Ditambah, Inggris pada waktu itu dalam masa peperangan sehingga makanan serba sulit. Berhari-hari ia tidak bisa mendapatkan sayur (sebagai satu-satunya bahan yang dapat ia makan) di pasar karena seluruh pasokan makanan dikirim untuk tentara perang. Ia hanya memakan sayur seadanya, bahkan sering mengunyah sayur yang sudah lembek dan basi. Hal-hal seperti ini, tidak hanya dibuat oleh industri perfilman untuk menunjukkan kesan dramatis. Tetapi penghayatan kita akan hidup harus lebih dari sekadar artistik film. Karena faktanya adalah kebanyakan orang-orang cerdas dan rajin memiliki ketegangan dengan keuangan. Itu harus mereka terima.

Dalam film ini, Ramanujan juga digambarkan sebagai orang India yang taat. Ia sering menulis persamaan matematikanya di lantai tempat persembahyangan. Dan sejak sekolah menengah pertama, kejeniusan Ramanujan dalam bidang matematika sudah dapat dilihat oleh guru-gurunya. Hal itu yang menjadikannya gagal di selama pendidikan formalnya. Bisa dibilang, Ramanujan tidak mendapat pendidikan yang semestinya dalam bidang matematika. Sehingga ia belajar secara otodidak dari beberapa buku matematika, seperti Synopsis of Elementary Results in Pure Mathematics oleh G.S Carr. Lalu pada usia 12 tahun, ia telah menguasai Trigonometri karya S.L. Loney yang diperuntukkan tingkat mahir.

Ramanujan menulis seluruh pengetahuan matematikanya dalam buku dua buku tebal. Ketika ia bekerja di sebuah instansi pemerintah sebagai juru ketik dan juru hitung, pimpinan perusahaan pribumi melihat kemampuannya yang luar biasa. Untunglah ia mendukung Ramanujan, yang kemudian dihadapkan dengan pimpinan perusahaan yang berasal dari Inggris. Ia kemudian disuruh menulis surat beserta teorema yang dimilikinya ketiga orang. Dua surat pertama ia tulis untuk Baker dan Hobson (keduanya ahli matematika yang aku tidak tahu nama lengkapnya), lalu surat ketiga dialamatkan ke G.H Hardy di Trinity University London.

Surat setebal belasan halaman berjudul orders to infinity yang memaparkan berbagai teori matematika di tingkat mahir itu menerangkan antara lain : teorema barisan tak hingga, teori angka, dan pecahan berkelanjutan (continued fraction) hanya dijawab oleh Hardy. Memang mengherankan bahwa, teman Hardy yang menjadi bos di perusahaan India, mengirimkan surat berisikan teorema matematika yang ditulis oleh seorang juru hitung. Hardy tentunya berfikir matang. Setelah didesak oleh koleganya, Littlewood, Hardy akhirnya harus jujur bahwa pemikiran dan penemuan Ramanujan harus disebarkan, tidak boleh dibiarkan mati di India.
S. Ramanujan
Demikianlah, Ramanujan akhirnya mendapat undangan dari Hardy untuk pergi ke Trinity University di Cabridge London. Hardy dan Littlewood inilah yang berjasa besar dalam mengembangkan bakat alamiah yang dimiliki Ramanujan. Meskipun jenius, namun jangan dikira bahwa Ramanujan langsung mendapatkan ketenarannya tanpa usaha yang ketat. Karena rumus-rumus yang datang ke pikiran Ramanujan sudahlah menjadi bentuk rumus yang valid/baku sehingga dibutuhkan pembuktian melalui penjabaran bertingkat sebagaimana yang digunakan dalam keilmuan matematika.

Ramanujan mengatakan, rumus-rumus itu datang dari dewanya melalui penglihatan maupun mimpi yang jelas. Seluruh penjabaran dan pembuktian tentang rumus itu sudah berada dalam kepalanya –yang oleh Hardy tidak dapat diterima begitu saja. Hardy yakin akan kebenaran rumus yang dimiliki Ramanujan, namun ia tidak bisa membantu publikasi karyanya jika pembuktiannya tidak disertakan. Hardy membimbing Ramanujan dengan keras sehingga hampir mereka puasa bicara karena kekukuhan Ramanujan yang khas seperti jenius pada umumnya. Hardy tentunya bukan sosok yang menyenangkan bagi Ramanujan. Tapi begitulah yang memang harus dilakukan Hardy.

Bahkan Ramanujan diminta mengikuti perkuliahan meskipun akhirnya seorang profesor harus dipermalukan oleh kecerdasannya. Demikian beratnya untuk mendapat pengakuan dari orang lain, Ramanujan akhirnya memutuskan untuk tidak mau kalah dengan egoismenya. Ia dalam masa sakit TBC-nya, semakin tekun menulis pembuktian teoremanya dan menghasilkan tanggapan yang luar biasa dari masyarakat matematika.

Meninggal pada usia 32 tahun karena penyakit TBC, Ramanujan telah mencatat sebanyak 3.900 teorema yang memberikan kontribusi untuk analisis matematika, teori bilangan, seri terbatas, dan pecahan. Beberapa teorema yang dihasilkan oleh Ramanujan membawa perubahan besar dalam bidang matematika. Salah satu tulisan menyebutkan, beberapa teorema yang ditulis Ramanujan muncul karena membawa buku matematika karya G.S Carr. Buku itu berisikan 5.000 teorema baik yang sudah maupun belum terpecahkan. Ramanujan menuliskan semua teoremanya dalam buku tulis, dan beberapa tulisan orisinilnya ternyata sudah dipecahkan oleh matematikawan terdahulu seperti Euler, Gauss, Jacobi dan sebagainya, namun ia tidak pernah tahu.

Salah satu teori yang membuat orang terkagum-kagum dalam film itu adalah adalah keberhasilannya memecahkan teka-teki partisi. Konsep ini sederhana namun tidak pernah terpecahkan. Partisi adalah jumlah pemotongan yang mungkin dari sebuah bilangan. Misalnya, partisi dari angka 5 adalah 7 karena ada tujuh cara pembagian yang dimungkinkan agar menjadi lima. Ia juga menyisakan beberapa rumus yang ada dalam catatannya, namun ia belum kerjakan pembuktiannya. Bahkan Ramanujan juga dianggap telah memecahkan rumus yang selama 1 abad tidak terpecahkan bernama ‘Mock Modular Forms’. Sekali lagi sangat disayangkan bahwa kita sama sekali tidak mengetahui kegunaan dari rumus-rumus yang telah ditemukan Ramanujan sehingga kurang dikenal.

Ramanujan adalah pemuda yang taat dalam agamanya. Meskipun dikaruniai kejeniusan yang luar biasa, ia tetap mengedepankan agamanya, apalagi ia terlahir dari kasta Brahma. Untuk meyakinkan istrinya, Ramanujan memaparkan bahwa dengan mempelajari matematika, seorang manusia bisa melihat ekspresi ilahiah. Ia terpesona dengan matematika karena tampaknya, dunia ini diciptakan dari teorema matematika. Ia melihat pasir yang berkilau dan warna-warna dalam cahaya membentuk suatu pola yang khas dan menawan. Pola yang berbeda pada tiap benda ini menunjukkan keindahan yang tiada tara. Sehingga ia semakin yakin bahwa matematika adalah jalan hidupnya. Yang pasti, ia berucap: sebuah persamaan tidak mempunyai makna bagiku, kecuali persamaan itu mengekspresikan pikiran tuhan.

Friday, October 14, 2016

Bob Dylan, Musik yang Menggerakkan

DylanPostcard - sumber : nobelprize[.]org
Komite Nobel Sastra 2016 dengan berani memberikan hadiah paling bergengsi di dunia itu kepada seorang pemusik dan penulis lirik lagu; Bob Dylan. Keputusan ini sangat berani mengingat ada beberapa kandidat penulis – sastrawan kelas dunia yang diunggulkan, seperti Haruki Murakami yang dalam tiga tahun ini selalu diharapkan menang, penulis AS Joyce Carol Oates, penulis Irlandia John Banville, juga penulis asal Indonesia; Eka Kurniawan yang baru-baru ini muncul dalam pemberitaan.

Penghargaan yang diberikan kepada Bob Dylan ini bakal menimbulkan dampak yang besar di kalangan sastrawan, terutama dalam hal menerapkan standarisasi karya sastra dan sastrawan itu sendiri. Selama ini, karya musik –khususnya lirik lagu, masih belum dianggap sebagai karya sastra yang diperbincangkan dalam diskusi kebudayaan. Lirik lagu dan musiknya hanya akan menjadi bahasan dalam diskusi musik, bukan diskusi karya sastra. Maka dengan penghargaan Nobel Sastra kepada pemusik ini, sastrawan akan mulai membincang lirik lagu sebagai ‘awal pergerakan baru’, sebagai sastra yang hidup.

Nobel Sastra adalah penghargaan yang paling dinanti di seluruh dunia. Tidak ada yang punya kuasa untuk menggugat penghargaan ini, meskipun banyak orang yang tidak puas terhadap keputusan mereka dari waktu-waktu. Namun demikian, penghargaan nobel masihlah sesuatu yang membanggakan dan akan dijadikan tolok ukur dari sebuah penilaian. Jika panitia nobel kemudian membuat pemusik legendaris AS ini sebagai pemenang di bidang sastra, maka demikianlah ke depannya pemusik punya kesempatan mendapatkan hadiah serupa.

Sementara pemusik mendapatkan tempatnya yang memukau di kalangan sastrawan dunia, pemusik di Indonesia masihlah belum menunjukkan keberhasilan sama sekali. Kecuali Anggun C Sasmi dan Agnes Monica yang diberitakan sudah mendunia, namun lirik ataupun aliran musik yang mereka mainkan belum banyak dibicarakan. Kita boleh sedikit senang karena masyarakat kelas menengah yang diwakili pemuda-pelajar, sekarang dibuat terpesona dengan pemusik yang membawakan lagu-lagu di luar mainstream. Kebanyakan pemusik seperti ini bekerja sendirian bersama teman-temannya (pemusik indie), dan tidak bakal dilirik sesentipun oleh perusahaan rekaman mayor kecuali terikat kontrak yang mengerikan.

Karena itu, pemusik-pemusik indie ini sudah seharusnya mengambil langkah secepatnya agar mendapat penghargaan yang serupa. Saya kira, mendorong pemusik indie kepada penghargaan semacam nobel adalah kesulitan level dewa. Namun bukankah kita tidak boleh menyerah? Jika bukan nobel yang didapatkan, paling tidak pemusik akan turut mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemusik harus membuat tempatnya sendiri karena musik adalah bahasa universal yang dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat.

Bagaimanapun juga, sebuah bangsa dipastikan punya lagu kebangsaan dibanding dengan syair kebangsaan. Sehingga tentunya musik punya prestasi yang harusnya lebih menggerakkan karena pekerjaan pemusik adalah menyentuh hati pendengarnya. Di manapun orang demo, mereka akan menyuarakan lagu-lagu perlawanan. Bahkan ketika terdapat kematian diantara keluarga kita, sebagian besar bangsa dan peradaban membuat lagu saat persemayaman. Apalagi, musik adalah budaya yang sangat tua yang bisa kitemukan di berbagai daerah pelosok, musik adalah hiburan yang menyenangkan dibanding menonton televisi.

Ini adalah momen kebangkitan bagi pemusik. Kita harus menggunakan cara-cara penyadaran yang paling masuk akal, dan jangan terjebak oleh klausul klasik : yang penting niatnya. Jika kalian menulis syair berjudul “Jancuk” lalu di dalamnya berisi syair-syair yang keji dan urakan, maka kalian hanya akan diterima oleh generasi remaja yang seperti itu. Yang memiliki pembenaran yang masuk akal terhadap alasan mendengarkan musik macam itu. Sebagus apapun niatnya, lagu berjudul ‘Kelamin’ tidak akan didengar oleh generasi yang lebih lanjut. Bahkan bisa jadi, lagu itu dimasukkan dalam daftar hitam.

Hal yang patut saya banggakan saat berkunjung ke teman saya di Mojokerto selama beberapa waktu lalu adalah adanya social movement dari pemuda-pemuda setempat yang ingin membangkitkan musik indie. Saya kira gerakan ini bisa tumbuh menjadi sesuatu yang berpengaruh tidak hanya di Mojokerto, tapi juga di Indonesia. Selain manajemen media dan pengorganisasian yang perlu ditata oleh pemuda-pemuda ini, hal lain yang krusial adalah masalah lirik. Sebagaimana Bob Dylan, pemusik dan penulis lirik ini harus mempertimbangkan kekuatan sebuah musik.

Sebatas yang saya dengar beberapa kali di warung kopi, lagu-lagu yang digagas oleh mereka belumlah membawa perubahan ke arah positif. Terakhir kali saya mendengar lagu di warung kopi tersebut adalah saat vokalisnya bolak-balik meneriakkan kata ‘Kimcil’. Saya tidak tahu bagaimana lirik itu secara keseluruhan. Tetapi teman saya dan beberapa temannya sangat menyukai musik ini dan ikut bernyanyi. Sepersekian menit berikutnya, saya berfikir apakah sesuatu yang seperti ini bisa diubah? Benar bahwa kemunculan gerakan punk di Amerika berawal dari penentangan terhadap kapitalisme. Tapi apakah, lagu-lagu yang memiliki lirik ‘tabu’ ini juga diniatkan untuk hal-hal yang demikian?

Jika kita bena-benar menginginkan perubahan, sebagaiknya kita memikirkan kembali apa yang telah kita lakukan. Khususnya mengetahui sejarah bermusik Bob Dylan yang akhirnya ia diakui dunia dan memenuhi takdirnya sebagai penerima Nobel Prize dengan hadiah sebesar Rp 11,8 miliar. Lagu-lagu Dylan dianggap menginspirasi masyarakat untuk demonstrasi menentang peperangan di Vietnam dan menyuarakan kebebasan sebagai hak yang asasi. Lagu-lagu Dylan, sebagaimana lirik puisi Widji Tukul yang kemudian dimusikalisasi, telah menjadi lagu wajib bagi pergerakan sosial dan pejuang anti perang.

Bahkan, siapa sangka, The Beatles sekalipupun sering mendapatkan semangat dari lagu-lagu Dylan lalu menjadi kelompok musik terbaik sepanjang massa. Seperti rilis yang dikeluarkan majalah musik paling kredibel di dunia, The Rolling Stone, Bob Dylan adalah the second greatest artist of all time -pemusik terbaik kedua sepanjang massa setelah The Beatles. Dan memang tidak mendadak tiba-tiba Dylan diganjar berbagai hadiah yang dipungkasi dengan Nobel Sastra, karena sejak tahun 1960-an hingga saat ini, Dylan tidak pernah berhenti berkarya dan memberikan inspirasi melalui lagu-lagunya.

Sekretaris tetap penghargaan Nobel, Sara Danius, menganggap penghargaan kepada Dylan mengingatkan manusia akan pencapaian sastra dari zaman sastra klasik seperti Homer dan Sappho. Homer adalah penulis buku-syair-mitos berjudul Odyssey tahun 700 sebelum Masehi yang merupakan buku terlaris sepanjang masa dan buku yang paling dicari. Sementara Sappho adalah penyair perempuan yang berasal dari abad ke 600 sebelum Masehi. Persamaannya, adalah karya mereka masih dibaca hingga saat ini, dan karya Dylan sekalipun masih didengarkan hingga saat ini sejak 50 tahun yang lalu.

Musik Penyadaran

Musik yang saat ini dipandang sebagai kebutuhan tak terleakkan dari manusia, masihlah belum mengarah ke pergerakan yang memiliki daya ubah. Musik masih mengedepankan kecantikan seorang artis, lagu-lagu yang sekadar enak didengar, dan penjualan ala kapitalistik. Ketika musik menjadi sebuah pergerakan, pendengar pun akan semakin berkurang. Dan itu bisa jadi mimpi terburuk bagi seorang pengarang lagu dan pemusik secara umum.

Namun bagaimana jika lirik bernada perjuangan tapi dikemas dalam lagu yang menyenangkan? lagu-lagu Bob Dylan bisa dijadikan referensi. Coba saja mulai dari blowin in the wind-nya yang menggerakkan masyarakat Amerika. Kata-katanya mendalam dan sangat luar biasa, bahkan jika tidak dinyanyikan. Kalau tidak mau jauh-jauh, kita bisa mendengarkan lagu Rhoma Irama yang saat ini orang-orang mulai membencinya gara-gara keterlibatannya dalam persoalan politik. Jika mau yang agak nasionalis, bisa kita dengar lagu Iwan Fals dan Slank, dan versi lain adalah Efek Rumah Kaca atau pemusik lainnya yang tidak saya kenal. Jika masih ingat tentang sejarah, lagu ‘Darah Rakyat’ sempat disebarkan ke seluruh orang saat rapat akbar di Lapangan Ikada. 

Sungguh banyak sekali pemusik yang menjadi penggerak kebangkitan sosial, seperti John Lennon, di Chile ada Victor Jara, kemudian Silvio Rodríguez di Cuba, Karel Kryl di Czechoslovakia, Jacek Kaczmarski di Polandia, dan Vuyisile Mini di Afrika Selatan. Dan jangan sampai, remaja-remaja kita masih terjebak dalam arus industri musik yang melahirkan generasi cengeng. Tetapi jangan pula kita membuat lagu-lagu yang ngglambyar,kehilangan bentuk dan kekuatannya, dan cenderung tidak dapat dipahami sebagaimana yang dibuat oleh beberapa pemusik indie.

Musik memiliki peran penting dalam membuat suatu gerakan karena memiliki dua hal yang pokok, pertama lirik yang dinotasikan ke dalam bahasa, dan musik yang hanya bisa dirasa. Bahasa adalah alat utama manusia untuk saling bertukar simbol sehingga menimbulkan interpretasi dan persepsi  lalu melahirkan sebuah tanggapan. Sementara emosi yang dihasilkan oleh musik membawa dampak yang dalam dari sisi psikologis, yang mampu membangkitkan manusia dari keterpurukan yang mengerikan.

Dalam ilmu neuro-linguistik, emosi menempati peran penting dalam hal menggerakkan fisik. Dalam satu hari seminar misalnya, kita hanya akan memahami 1-10 persen dari materi yang disajikan. Namun jika kita menggunakan emosi, maka kita akan dapat meningkatkan pemahaman hingga 90 persen. Karena itu, jika suatu musik sudah mengena ke hati seseorang maka lirik yang ada di dalamnya pun akan ditangkap dengan sempurna. Jika liriknya mengajak perubahan, maka perubahan akan bergerak. Namun jika lirik yang disuguhkan berupa ‘tai kucing’, maka dijamin orang yang mendegarnya juga akan merasa bau dan tidak tergugah sama sekali.

Jika kita misalnya memandang setengah hati akan lagu-lagu Sonata dan Rhoma Irama, maka penelitian William H Frederick terhadap musik dangdut akan memecahkan argumentasi kita. Karena pada tahun 1975, Islam di Indonesia mengalami kebangkitan yang diduga disebabkan musik-musik Bang Haji. Seiring berkembangnya penelitian di Indonesia, diketahui bahwa musik bisa menggerakkan perubahan sosial sehingga sudah ada genre baru mata kuliah bernama Sosiologi Musik. Musik yang juga digolongkan menjadi karya seni, selalu bisa diterima banyak orang sehingga secara langsung maupun tidak, orang akan ikut bergerak karena menyentuh emosional mereka.

Jika seseorang sebagai pemusik enggan mengetengahkan perlawanan dalam musik-musiknya, maka dunia tidak akan berubah. Pemusik sama berharganya dengan penyair Rendra, demonstran Gie, dan aktivis Munir. Saat pemusik-pemusik indie mengambil bagian dari perlawanan terhadap hal-hal yang tidak akan pernah selesai dari bangsa ini, betapa beruntungnya orang-orang yang mendengar musik itu. Karena lirik musik dengan bahasa yang kita pahami dan mengangkat persoalan yang tidak hari kita geluti, akan lebih mudah menyadarkan dari pada membaca kitab suci itu sendiri -yang masih perlu banyak penafsiran. Jadi, Bob Dylan yang saat ini berusia 75 tahun mungkin akan segera luruh dalam debu, namun apa yang dilakukannya pasti akan dikenang. Bukti awalnya, Nobel Sastra telah ia genggam.

Untuk melengkapi tulisan ini, berikut saya kutip lagu Bob Dylan berjudul Blowin In The Wind;

How many roads must a man walk down Before you call him a man? Yes, 'n' how many seas must a white dove sail Before she sleeps on the sand? Yes, 'n' how many times must the cannon balls fly Before they're foreve banned? The answer, my friends, is blowin' in the wind, The answer is blowin' in the wind

Lihat juga cuplikan lagu berjudul Master of War di bawah ini :

Come you masters of war

You that build all the guns

You that build the death planes

You that build the big bombs

You that hide behind walls

You that hide behind desks

I just want you to know

I can see through your masks



You that never done nothin’

But build to destroy

You play with my world

Like it’s your little toy

You put a gun in my hand

And you hide from my eyes

And you turn and run farther

When the fast bullets fly



Like Judas of old

You lie and deceive

A world war can be won

You want me to believe

But I see through your eyes

And I see through your brain

Like I see through the water

That runs down my drain
 

Fathul Qorib Indonesia Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger