Skip to main content

Posts

Sarjana dan Problem Manusia Dewasa

Banyak hal di dunia ini yang membutuhkan keberanian. Beberapa hanya keberanian di level remah-remah rengginang, misalnya berani mandi di pagi hari, berani bertanya di dalam kelas, atau berani beol ketika sedang naik gunung. Beberapa hal lainnya membutuhkan keberanian level sultan, seperti menjadi sarjana dan pada akhirnya adalah menjadi dewasa. Kita akan menanggung beban beserta semua konsekuensinya sendirian –tidak ada manusia lainnya yang bisa kita jadikan kambing hitam.
Menjadi sarjana adalah sebuah kesalahan. Menjadi dewasa adalah sebuah pilihan. Mengapa sarjana bersalah? karena sebagian besar sarjana di dunia ini akan berakhir menjadi sampah; sebagian lainnya memunguti sampah-sampah tersebut lalu membuangnya ke laut; dan sebagian kecil lainnya mengais sisa-sisa sampah di laut untuk dihancurkan atau diolah menjadi barang berguna. Kondisi ini tampaknya bombastis dan halusinasi –terutama bagi saya- sebagai pengajar perguruan tinggi, tetapi percayalah itu kondisi sebenarnya.
Karena …
Recent posts

Gunung Penanggungan

Kami melakukan perjalanan dengan penuh keyakinan di suatu Sabtu. Tentu setelah browsing tentang jalur pendakian, estimasi waktu, dan biaya ditambah sedikit drama karena ketidaktepatan janji. Mata menyala, otot menguat, dan teriakan seperti remaja kota, kami seakan hendak mencari sebuah kebijaksanaan yang berada di puncak gunung; barangkat dari sana kami akan menjadi resi yang sakti mandraguna.
Tetapi sebuah perjalanan sakral sekalipun akan terkotori dengan pertanyaan-pertanyaan profan. Misalnya, untuk apa sebenarnya kita naik gunung? Atau dengan siapa kita harus naik gunung? Dengan pacar atau teman? Itu pertanyaan remeh yang harusnya tidak usah ditanyakan karena malah membuat perjalanan sangat duniawi. Kami sepakat untuk tidak yakin dengan jawaban klise semacam; naik gunung untuk mencari jati diri, atau naik gunung untuk belajar tentang kehidupan.
Karena itu, tanpa perhitungan yang matang, 10 bungkus mie instan kami masukkan ke tas carrier yang penuh dengan baju hangat. Hitung-hitung…

Kuliah Itu Gak Penting

Kuliah itu gak penting. Kesimpulan ini paling banyak disukai karena rata-rata kita malas kuliah, malas disuruh baca buku, malas mengerjakan tugas, malas bikin skripsi dan macam-macam kerjaan yang diberi dosen. Untuk mendukung asumsi kuliah tidak penting ini, disajikanlah data orang terkaya di dunia yang tidak makan bangku sekolah; terutama yang sering disebut adalah Bill Gates, dan tentu Susi Pudjiastuti.
Bahkan ada ilustrasi yang menggemaskan, bahwa suatu hari hidup seorang terpelajar, sarjana ekonomi. Dia membawa seluruh teori pemasaran yang jempolan, kemudian melamar pekerjaan di sebuah perusahaan besar. Ketika ia telah bekerja, bosnya ternyata adalah temannya yang tidak kuliah. Kata si bos, ketika si pekerja susah payah mencari teori pemasaran, ia langsung bekerja dan belajar hingga punya usaha besar. Uang kuliahnya dipakai modal wirausaha hingga sekarang dapat mempekerjakan sarjana.
Sampai di titik ini kita harus paham bahwa kuliah memang tidak sepenting itu. Siapa sih yang masi…

Mendamba Menteri Usia Muda

(Dimuat di Malang Post, edisi 6 Juli 2019)
Berbicara pemuda mengingatkan kita pada ungkapan presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno; “Beri aku seribu orang tua, niscaya kucabut semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda niscaya kuguncang dunia”.Quote tersebut mampu menggambarkan semangat pemuda yang luar biasa sehingga banyak orang berharap besar terhadapnya. Karena itulah, Presiden ke 7 Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) dalam pemberitaan akhir-akhir ini juga berkeinginan merangkul pemuda untuk menjadi menteri di dalam kabinetnya.
Jika melihat perhelatan politik tanah air, dominasi senior memang sangat terlihat. Sebut saja misalnya; Jokowi (58), Prabowo Subianto (67), Ma’ruf Amin (76), Jusuf Kalla (77), Mahfud MD (62), Wiranto (72), SBY (69), dan Luhut (71). Karena itu, melihat Jokowi ingin mengangkat generasi muda dan menggeser para veteran ini merupakan berita yang heboh meski tidak terlalu mengagetkan. Pemuda selama ini selalu diasosiasikan sebagai anak-anak yang tanpa penga…

Breaking Bad

Seseorang bisa berbalik menuju versi yang sangat bertolak belakang jika menghadapi kondisi yang sangat mendesak. Bayangkan, seorang guru kimia SMA, yang seharusnya mendidik dan mengajari kebaikan-kebaikan, lalu memutuskan menggunakan keahlian kimianya untuk membuat satu jenis narkoba 'methamphetamine', didistribusikan, dijual, dan memiliki keuntungan yang besar. Terlihat seperti film yang keren bukan? 
Kenyataannya, ketika Vince Gilligan, penulis dan produser Breaking Bad, menawarkan ide film itu ke studio Sony America, ia malah mendapat penolakan. Kata sang CEO, ide film ini adalah yang terburuk dari seluruh ide serial tv yang pernah ia dengar. Tapi toh ide ini tetap diakomodir meski tidak dengan keyakinan penuh. Lalu tiba-tiba 'Boom!!!', Breaking Bad menjadi serial TV terbaik sepanjang masa, mendapatkan 26 nominasi internasional, dan serial tv dengan rating tertinggi dari Guinnes World Records.
Galligan sebenarnya mendapatkan inspirasi menulis naskah film ini dari k…

Lelaki

Kita didefinisikan oleh banyak hal. Biasanya terkait kekuatan otot, pikiran yang cemerlang, atau adrenalin yang berpacu menembus pegunungan dan lautan. Lelaki tidak boleh feminim. Ia boleh jadi berambut gondrong, tetapi harus garang. Ia bisa mencuci, memasak, dan menjahit tetapi musti melakukan segalanya dengan cara-cara maskulin. Tidak menye-menye, gak boleh nangis, dan menyelesaikan persoalan dengan baku hantam.
Betapa pernyataan di atas mengandung bias yang teramat. Beberapa definisi seorang lelaki memang penuh problem. Lelaki suka ngomong seenaknya dan bisa tidak ambil peduli dengan perasaan orang. Kata Alexander Supertramp dalam In to The Wild, "Fuck Society". Kita dibentuk oleh masyarakat kita melalui praktek bahasa yang maskulin, kita juga mengamininya, dan sesekali kita harus berontak dari masyarakat yang membentuk diri lelaki. Atau sebagai lelaki, seringkali kita lebih bangga dengan arogansi, menang sendiri, suka-suka, dan mengacungkan jari tengah kepada masyarakat…

Mencipta Kebutuhan

Handphone telah menjadi sebuah kebutuhan yang menjengkelkan. Kemana-mana kita harus membawanya agar selalu terkoneksi dengan orang-orang. Bahkan sekarang ketinggalan handphone lebih menyengsarakan dibanding ketinggalan dompet berisi uang dan kartu-kartu yang setia mendekam di sana.
Manusia seringkali menciptakan sesuatu yang membantu mereka melewati kehidupan yang rumit. Dengan sesuatu itu manusia bisa hidup lebih mudah. Misalnya terciptanya mesin cetak tahun 1450 oleh Guttenberg yang memudahkan penyebaran dokumen, atau penciptaan telegraf yang memudahkan pengiriman pesan jarak jauh.
Alih-alih menciptakan benda penolong, manusia malah bergantung dengan benda tersebut. Bahkan tingkat keterbutuhan manusia terhadap benda yang diciptakannya sendiri sudah merisaukan. Itulah yang terjadi jika kita ketinggalan handphone, juga ketika seorang mahasiswa malas datang ke tempat demo karena tidak punya sepeda motor.
Manusia menjadi menggantungkan seluruh kehidupannya pada benda-benda ciptaan ters…

About Me

My photo
Fathul Qorib
Lamongan, Jawa Timur, Indonesia
pada mulanya, aku adalah seorang yang cerdas sehingga aku ingin mengubah dunia. lalu aku menjadi lebih bijaksana, kemudian aku mengubah diriku sendiri.