Skip to main content

Posts

Mencipta Kebutuhan

Handphone telah menjadi sebuah kebutuhan yang menjengkelkan. Kemana-mana kita harus membawanya agar selalu terkoneksi dengan orang-orang. Bahkan sekarang ketinggalan handphone lebih menyengsarakan dibanding ketinggalan dompet berisi uang dan kartu-kartu yang setia mendekam di sana.
Manusia seringkali menciptakan sesuatu yang membantu mereka melewati kehidupan yang rumit. Dengan sesuatu itu manusia bisa hidup lebih mudah. Misalnya terciptanya mesin cetak tahun 1450 oleh Guttenberg yang memudahkan penyebaran dokumen, atau penciptaan telegraf yang memudahkan pengiriman pesan jarak jauh.
Alih-alih menciptakan benda penolong, manusia malah bergantung dengan benda tersebut. Bahkan tingkat keterbutuhan manusia terhadap benda yang diciptakannya sendiri sudah merisaukan. Itulah yang terjadi jika kita ketinggalan handphone, juga ketika seorang mahasiswa malas datang ke tempat demo karena tidak punya sepeda motor.
Manusia menjadi menggantungkan seluruh kehidupannya pada benda-benda ciptaan ters…
Recent posts

Skripsi

Gegara skripsi mahasiswa bisa ngambek dan bunuh diri, bisa juga berantem dengan pacarnya lalu menyumpahi dosennya dengan kutukan paling mematikan 'avra kadavra' milik 'you know who'. Tetapi di sinilah mahasiswa bisa serius, sekali saja dalam empat tahun kuliah, mahasiswa akhirnya serius.
Saya sering berfikir, atau sebetulnya bertanya-tanya, apa gunanya kuliah? Karena saya mendapat simpulan bahwa kuliah memang tidak berguna. Paling tidak, dari segi pencapaian ilmu pengetahuan, baik transfer knowledge dari dosen maupun dari usaha mandiri mahasiswa untuk belajar di rumah, tidak menunjukkan perubahan yang signifikan.
Semenjak semester satu hingga semester tujuh, sudah berapa mata kuliah yang ditempuh, berapa ribu pohon yang ditebang untuk kertas print tugas-tugas makalah yang tak berefek, atau berapa ratus jam dihabiskan yang seharusnya bisa digunakan main ML dan PUBG, tetapi tak satu materi pun  yang bertahan di kepala. Di lingkungan kampus manapun, itulah gambaran terbu…

Oligarki Media di Indonesia

Jika ingin memahami tentang bagaimana oligarki media bekerja, maka bacalah buku Kuasa Media di Indonesia. Sejauh ini, buku karya Ross Tapsell ini adalah buku terbaik yang pernah saya baca soal oligarki, kepemilikan, juga cara bermain culas media massa.
Sebagai pengajar jurnalisme di program studi ilmu komunikasi, saya sangat bersyukur telah membacanya. Buku ini dengan akurasi tinggi memotret peta kepemilikan yang menguasai media di Indonesia. Banyak kejutan menyenangkan membaca buku dengan basis data berdasar penelitian selama 8 tahun tersebut.
Selama ini pembahasan mengenai kuasa media atau konglomerasi media merupakan sesuatu yang abstrak dan tanpa data. Kita hanya menebak dari pergerakan pemberitaan media massa, cara-cara mereka menyusun framing dan tata bahasa, dan juga kecondongan dari pemilik media yang ikut serta dalam partai. Tapi dalam buku ini kita akan dibuat terkejut dengan banyaknya data yang bertebaran.
Tampaknya begitulah ciri khas penulis barat yang daya literasinya j…

Keluargaku yang Bahagia

(tulisan ini mengandung narsisme dan pemujaan berlebihan terhadap diri sendiri. waspadalah!)
Sebenarnya mau membuat sebuah tulisan tentang Kartini, tapi versi istriku. Judulnya bisa jadi 'Kartiniku di Rumah' atau semacam 'Kartini di Hatiku'. Tetapi agak sulit membayangkan bahwa Kartini akan mengerti menjadi istri dari lelaki biasa yang memiliki cita-cita luar biasa, tetapi cita-cita itu terpendam bersama kenyataan dan keikhlasan haha.
Jadilah aku membuat tulisan tentang istriku, yang juga perempuan biasa tetapi karena kami berdua mencoba hidup bahagia, lalu saling mencocokkan seluruh persamaan dan perbedaan, saling mengerti dan menerima apa yang terbaik dan memperbaiki apa yang buruk, jadilah ia istri terbaik yang bisa aku temukan saat ini.
Setelah menulis agak panjang, ternyata harus kuubah lagi fokusnya. Bukan menjelaskan tentang istri, karena menulis sesuatu seperti itu, di blog yang dibaca umum, rasanya menjadi agak kurang etis, kalau tidak dibilang memalukan. Kar…

Sex Education by Netflix

Kita tidak sedang membicarakan wacana pembelajaran seks bagi siswa sekolah. Sex Education adalah tv series original dari Netflix yang saya tonton sejak satu minggu ke belakang. Ide ceritanya menarik, sebuah film yang mengisahkan kehidupan anak-anak sekolah menengah pertama di Amerika
Protagonisnya adalah Otis Milburn, usia 16 tahun, siswa SMP yang tidak pernah berhubungan seks sekalipun. Jauh setelah film diputar, baru diketahui bahwa Otis mengalami fobia seks. Teman akrabnya, Eric, seorang lelaki pecinta lelaki, suka dandan dan memakai outfit mencolok ke sekolah. Ia dan Otis adalah lelaki biasa di sekolah, minoritas, dan cenderung rendah diri.
Tokoh protagonis lainnya adalah Maeve Wiley, salah seorang perempuan yang punya stereotip murahan dan terkenal dengan julukan 'penis bitter'. Maeve seorang pembaca buku feminist dan memiliki kehidupan yang semrawut dengan orang tua dan kakak seorang penjual narkoba. Maeve termasuk sosok yang mandiri di sekolah, apatis, dan tangguh.
Oti…

Spiderman

Beberapa hari ini leher kananku terasa gatal. Aku tidak pernah melihatnya di cermin atau mencoba mencari tahu mengapa. Karena aku membayangkan bahwa besok pagi ketika bangun tidur, tanganku bisa lengket ke dinding, lalu tiba-tiba aku merayap di atap rumah. Aku menjadi spiderman.
Tapi jika memang aku memiliki kekuatan super, aku akan ikhlas menerimanya. Tentu saja, menjadi kuat dan keren, bisa melakukan apa yang tidak bisa manusia biasa lakukan; its cool. Berbeda dengan manusia kebanyakan adalah berkah yang kini digunakan motivator untuk kliennya.
Kita semua orang biasa, yang kadang ego membuat kita sok menjadi orang luar biasa padahal palsu. Kita rata-rata akrab dengan seorang lelaki biasa, memiliki istri biasa, anak lima, 2 nakal, 1 pasif, 1 penurut, 1 paling bisa diandalkan. Atau kalian adalah mahasiswa biasa yang berdebar-debar ketika pembayaran semester akan dimulai.
Maka ketika lelaki biasa, mahasiswa biasa, tukang bangunan yang membenahi kusen jendela, atau dia anggota dewan ya…

Ruang Kelas

Pikiran-pikiran manusia intelektual perguruan tinggi di Indonesia mudah ditebak : kubus, berisi coretan yang tidak teratur, keras seperti kursi kayu, pendiam seperti anak semester satu. Pikiran-pikiran kita dibatasi hanya 8 x 9 meter dan tidak boleh keluar dari ruangan itu. Dosen setuju dan merasa aman jika pikiran seluruh anggota kelas tidak liar, mengikuti metode yang telah dipatenkan dengan argumentasi kaku yang tak (boleh) terbantahkan.
Semua berjalan sesuai dengan kontrak kuliah, dan yang boleh melanggar kontrak hanyalah dosen. Keterlambatan mahasiswa adalah amunisi bagi dosen untuk marah sepanjang 3 SKS pertemuan, yang akhirnya membuat seluruh kelas terlihat bodoh dan terancam. Sedangkan keterlambatan dosen bisa dimaklumi; dosen itu sibuk dan banyak aktivitas yang tidak bisa dikalahkan oleh ruang kelas.
Pendidikan semacam ini adalah versi terbaik dari yang pernah didapatkan mahasiswa sepanjang masa. Untungnya, perjalanan kuliah semacam itu sudah dilaksanakan selama ratusan tahu…

About Me

My photo
Fathul Qorib
Lamongan, Jawa Timur, Indonesia
pada mulanya, aku adalah seorang yang cerdas sehingga aku ingin mengubah dunia. lalu aku menjadi lebih bijaksana, kemudian aku mengubah diriku sendiri.