Skip to main content

Posts

Kuliah Itu Gak Penting

Kuliah itu gak penting. Kesimpulan ini paling banyak disukai karena rata-rata kita malas kuliah, malas disuruh baca buku, malas mengerjakan tugas, malas bikin skripsi dan macam-macam kerjaan yang diberi dosen. Untuk mendukung asumsi kuliah tidak penting ini, disajikanlah data orang terkaya di dunia yang tidak makan bangku sekolah; terutama yang sering disebut adalah Bill Gates, dan tentu Susi Pudjiastuti.
Bahkan ada ilustrasi yang menggemaskan, bahwa suatu hari hidup seorang terpelajar, sarjana ekonomi. Dia membawa seluruh teori pemasaran yang jempolan, kemudian melamar pekerjaan di sebuah perusahaan besar. Ketika ia telah bekerja, bosnya ternyata adalah temannya yang tidak kuliah. Kata si bos, ketika si pekerja susah payah mencari teori pemasaran, ia langsung bekerja dan belajar hingga punya usaha besar. Uang kuliahnya dipakai modal wirausaha hingga sekarang dapat mempekerjakan sarjana.
Sampai di titik ini kita harus paham bahwa kuliah memang tidak sepenting itu. Siapa sih yang masi…
Recent posts

Mendamba Menteri Usia Muda

(Dimuat di Malang Post, edisi 6 Juli 2019)
Berbicara pemuda mengingatkan kita pada ungkapan presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno; “Beri aku seribu orang tua, niscaya kucabut semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda niscaya kuguncang dunia”.Quote tersebut mampu menggambarkan semangat pemuda yang luar biasa sehingga banyak orang berharap besar terhadapnya. Karena itulah, Presiden ke 7 Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) dalam pemberitaan akhir-akhir ini juga berkeinginan merangkul pemuda untuk menjadi menteri di dalam kabinetnya.
Jika melihat perhelatan politik tanah air, dominasi senior memang sangat terlihat. Sebut saja misalnya; Jokowi (58), Prabowo Subianto (67), Ma’ruf Amin (76), Jusuf Kalla (77), Mahfud MD (62), Wiranto (72), SBY (69), dan Luhut (71). Karena itu, melihat Jokowi ingin mengangkat generasi muda dan menggeser para veteran ini merupakan berita yang heboh meski tidak terlalu mengagetkan. Pemuda selama ini selalu diasosiasikan sebagai anak-anak yang tanpa penga…

Breaking Bad

Seseorang bisa berbalik menuju versi yang sangat bertolak belakang jika menghadapi kondisi yang sangat mendesak. Bayangkan, seorang guru kimia SMA, yang seharusnya mendidik dan mengajari kebaikan-kebaikan, lalu memutuskan menggunakan keahlian kimianya untuk membuat satu jenis narkoba 'methamphetamine', didistribusikan, dijual, dan memiliki keuntungan yang besar. Terlihat seperti film yang keren bukan? 
Kenyataannya, ketika Vince Gilligan, penulis dan produser Breaking Bad, menawarkan ide film itu ke studio Sony America, ia malah mendapat penolakan. Kata sang CEO, ide film ini adalah yang terburuk dari seluruh ide serial tv yang pernah ia dengar. Tapi toh ide ini tetap diakomodir meski tidak dengan keyakinan penuh. Lalu tiba-tiba 'Boom!!!', Breaking Bad menjadi serial TV terbaik sepanjang masa, mendapatkan 26 nominasi internasional, dan serial tv dengan rating tertinggi dari Guinnes World Records.
Galligan sebenarnya mendapatkan inspirasi menulis naskah film ini dari k…

Lelaki

Kita didefinisikan oleh banyak hal. Biasanya terkait kekuatan otot, pikiran yang cemerlang, atau adrenalin yang berpacu menembus pegunungan dan lautan. Lelaki tidak boleh feminim. Ia boleh jadi berambut gondrong, tetapi harus garang. Ia bisa mencuci, memasak, dan menjahit tetapi musti melakukan segalanya dengan cara-cara maskulin. Tidak menye-menye, gak boleh nangis, dan menyelesaikan persoalan dengan baku hantam.
Betapa pernyataan di atas mengandung bias yang teramat. Beberapa definisi seorang lelaki memang penuh problem. Lelaki suka ngomong seenaknya dan bisa tidak ambil peduli dengan perasaan orang. Kata Alexander Supertramp dalam In to The Wild, "Fuck Society". Kita dibentuk oleh masyarakat kita melalui praktek bahasa yang maskulin, kita juga mengamininya, dan sesekali kita harus berontak dari masyarakat yang membentuk diri lelaki. Atau sebagai lelaki, seringkali kita lebih bangga dengan arogansi, menang sendiri, suka-suka, dan mengacungkan jari tengah kepada masyarakat…

Mencipta Kebutuhan

Handphone telah menjadi sebuah kebutuhan yang menjengkelkan. Kemana-mana kita harus membawanya agar selalu terkoneksi dengan orang-orang. Bahkan sekarang ketinggalan handphone lebih menyengsarakan dibanding ketinggalan dompet berisi uang dan kartu-kartu yang setia mendekam di sana.
Manusia seringkali menciptakan sesuatu yang membantu mereka melewati kehidupan yang rumit. Dengan sesuatu itu manusia bisa hidup lebih mudah. Misalnya terciptanya mesin cetak tahun 1450 oleh Guttenberg yang memudahkan penyebaran dokumen, atau penciptaan telegraf yang memudahkan pengiriman pesan jarak jauh.
Alih-alih menciptakan benda penolong, manusia malah bergantung dengan benda tersebut. Bahkan tingkat keterbutuhan manusia terhadap benda yang diciptakannya sendiri sudah merisaukan. Itulah yang terjadi jika kita ketinggalan handphone, juga ketika seorang mahasiswa malas datang ke tempat demo karena tidak punya sepeda motor.
Manusia menjadi menggantungkan seluruh kehidupannya pada benda-benda ciptaan ters…

Skripsi

Gegara skripsi mahasiswa bisa ngambek dan bunuh diri, bisa juga berantem dengan pacarnya lalu menyumpahi dosennya dengan kutukan paling mematikan 'avra kadavra' milik 'you know who'. Tetapi di sinilah mahasiswa bisa serius, sekali saja dalam empat tahun kuliah, mahasiswa akhirnya serius.
Saya sering berfikir, atau sebetulnya bertanya-tanya, apa gunanya kuliah? Karena saya mendapat simpulan bahwa kuliah memang tidak berguna. Paling tidak, dari segi pencapaian ilmu pengetahuan, baik transfer knowledge dari dosen maupun dari usaha mandiri mahasiswa untuk belajar di rumah, tidak menunjukkan perubahan yang signifikan.
Semenjak semester satu hingga semester tujuh, sudah berapa mata kuliah yang ditempuh, berapa ribu pohon yang ditebang untuk kertas print tugas-tugas makalah yang tak berefek, atau berapa ratus jam dihabiskan yang seharusnya bisa digunakan main ML dan PUBG, tetapi tak satu materi pun  yang bertahan di kepala. Di lingkungan kampus manapun, itulah gambaran terbu…

Oligarki Media di Indonesia

Jika ingin memahami tentang bagaimana oligarki media bekerja, maka bacalah buku Kuasa Media di Indonesia. Sejauh ini, buku karya Ross Tapsell ini adalah buku terbaik yang pernah saya baca soal oligarki, kepemilikan, juga cara bermain culas media massa.
Sebagai pengajar jurnalisme di program studi ilmu komunikasi, saya sangat bersyukur telah membacanya. Buku ini dengan akurasi tinggi memotret peta kepemilikan yang menguasai media di Indonesia. Banyak kejutan menyenangkan membaca buku dengan basis data berdasar penelitian selama 8 tahun tersebut.
Selama ini pembahasan mengenai kuasa media atau konglomerasi media merupakan sesuatu yang abstrak dan tanpa data. Kita hanya menebak dari pergerakan pemberitaan media massa, cara-cara mereka menyusun framing dan tata bahasa, dan juga kecondongan dari pemilik media yang ikut serta dalam partai. Tapi dalam buku ini kita akan dibuat terkejut dengan banyaknya data yang bertebaran.
Tampaknya begitulah ciri khas penulis barat yang daya literasinya j…

About Me

My photo
Fathul Qorib
Lamongan, Jawa Timur, Indonesia
pada mulanya, aku adalah seorang yang cerdas sehingga aku ingin mengubah dunia. lalu aku menjadi lebih bijaksana, kemudian aku mengubah diriku sendiri.