Skip to main content

Posts

Pendidikan

Saya percaya bahwa sistem pendidikan kita membunuh kreatifitas anak-anak yang berada di dalamnya. Menjadi paradox bahwa, anak-anak menginginkan sebuah pendidikan agar mereka bisa belajar tetapi pendidikan malah menjadikannya bodoh. Kita terus melakukannya berulang-ulang dan merasa baik-baik saja. Mengapa demikian? Karena pendidikan – yang bertujuan untuk mampu memahami dunia lebih baik – tidak memiliki kemampuan praktis seperti ‘cara kaya dalam 2 jam’ atau ‘cara menikung pacar kawan dekat’.
Perkara seperti ini tentu menjengkelkan, terutama bagi saya yang bekerja dan hidup dalam sistem tersebut. Namun ini adalah buah simalakama-nya pendidikan: kita tahu ada yang tidak beres dalam sistem pendidikan di Indonesia, sekaligus kita tahu bahwa Indonesia ‘semacam’ belum siap untuk berubah. Parahnya, hal semacam ini tidak hanya terjadi di dunia pendidikan, tetapi juga terjadi dalam lingkup yang lebih privat. Misalnya, kita berdoa agar diberi kemudahan rizki, tetapi pada saat yang sama kita mal…
Recent posts

Ukuran Kebahagiaan

Tuhan menciptakan kebahagiaan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Karena itu, bahagia menjadi hak setiap orang. Bahagia tidak bisa dimonopoli oleh sebagian orang karena ukurannya yang universal. Sehingga bahagia tidak bisa diukur hanya berdasarkan hal-hal yang artificial, permukaan, parsial, atau kebendaan. Bahagia bukan berarti orang itu kaya atau keturunan Raja Salman. Orang yang tidur di kolong jembatan juga bisa merasakan kebahagiaan yang ukurannya sama 100% dengan orang yang tidur di busa empuk.  Dalam perjalanan ini, ukuran-ukuran kebahagiaan akan terus mengalami perubahan. Paling tidak itulah yang saya alami. Seperti prediksi psikologi tentang pilihan pasangan berdasarkan usia seseorang, kebahagiaan juga berkembang secara dinamis. Ketika kecil, kebahagiaan kita hanyalah bagaimana memenangkan permainan kartu dan kelereng. Di sekolah, ukuran kebahagiaan mungkin berbeda, bisa karena nilai yang bagus, bisa bertemu teman sepenakalan, atau bisa juga karena ke…

Intelektual

Sering dalam kondisi menggebu-gebu saya ingin menjadi bagian dari pemikir dunia. Tetapi dalam satu waktu, ketika angin mulai berhembus ke barat dan hujan turun tidak stabil, pikiranku menjadi kalut. Dalam wilayah lokal saja, pemikiran saya gagap menangkap banyak hal yang berkaitan dengan permasalahan sosial. Banyak peristiwa yang saya tidak tahu bagaimana awal mulanya, apalagi mengurainya menjadi solusi. Lalu saya mulai bekerja acak, membaca acak, dan tidak mencoba merumuskan tujuan sama sekali.
Kegelisahan-kegelisahan ini menjadi gumpalan mendung yang sering menghantam tengkukku. Bagaimana tidak, saat ini aku bekerja dalam industri intelektual yang mengagung-agungkan kemampuan analisis yang tepat dan tajam. Aku bekerja dalam industri yang sama dengan Horkheimer, Einstein, Al Ghazali, Emile Durkeim, Roland Barthes, Ibn Rusyd juga Bertrand Russel. Karena itu, membaca karya mereka membuat kegelisahan menjadi tak berujung. Semacam rendah diri yang meledak-ledak. Karena dengan belajar se…

Pilkada Malang Tanpa Media Sosial

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memunculkan budaya cepat saji untuk segala urusan. Handphone, misalnya, bisa memutus jarak komunikasi ratusan kilometer yang awalnya terasa mustahil. Bepergian pun sudah semakin mudah: pesan tiket menggunakan aplikasi, pesan ojek dan taksi menggunakan aplikasi, hingga pesan makanan pun menggunakan aplikasi. Termasuk media sosial yang memudahkan interaksi antar manusia dengan jaringan internet yang tidak pernah delay.
Media sosial ini bergerak cepat melebihi media konvensional dalam penyebaran informasi. Bahkan informasi di media sosial tak terbendung karena kemampuannya menjangkau seluruh khalayak, akses yang friendly, hingga biaya super murah. Tidak hanya digunakan ala kadarnya, tetapi media sosial juga dipakai untuk berbagai keperluan yang membutuhkan penanganan profesional, seperti bisnis, pendidikan, social movement, hingga suksesi politik. Politik yang awalnya kegiatan serius, harus lebih cair demi mendapatkan keuntungan dari dukun…

Menjalani Hidup

Note : Aku menulis ini pada November 2016 sebagai suatu catatan tentang ketidakberdayaanku sebagai manusia. Banyak hal yang tidak menguntungkan, banyak hal yang sekarang lebih baik -sematamata menunjukkan bahwa kita semua sama.
Hujan terus turun sejak Subuh tadi. Aku tetap harus melakukan perjalanan Surabaya – Batu agaar bisa melampui kesendirianku di tempat yang teduh, dingin, dan hening. Biasanya aku mendengarkan lagu-lagu silampukau, bossanova jawa, payung teduh, dan lagu-lagu inggris yang tak kupahami liriknya sepanjang jalan. Tetapi saat ini, suara hujan di perjalanan selalu membuatku takjub, sehingga earphone hanya berakhir menjadi kalung leher. Hujan deras itu, mendebarkan jantungku sendiri, memperkirakan kehidupan beberapa minggu ke depan.
Aku terlahir dengan menanggung beban berat. Masa kanak-kanak hingga remajaku bukanlah hidup yang menyenangkan jika dihubungkan dengan kepemilikan terhadap benda material. Aku selalu menjadi anak terakhir yang memiliki kesenangan duniawi. Lalu …

Nikah

Bagiku, menikah adalah hal yang biasa. Sehingga kumaklumi keputusanku yang enggan menyebar undangan, bahkan untuk orang yang paling dekat denganku sekalipun. Banyak orang yang akhirnya bertanya-tanya, curiga, penasaran, dan beberapa dari teman dekat ini marah lalu enggan menyapaku lagi. Tampaknya, diantara teman-teman menganggap bahwa undangan adalah sebentuk pengakuan pertemanan sehingga tidak adanya undangan dianggap sebagai pemutusan hubungan silaturahim. Aku menghargai keyakinan-keyakinan macam itu, meskipun aku tidak ingin mengakuinya.
Sejak remaja aku memahami bahwa suatu saat aku akan menikah, dan aku juga memahami bahwa aku pernah dilahirkan, suatu saat akan beranak pinak, menjadi tua, lalu mati dan hilang tak berbekas. Aku akan menjadi debu, beberapa masih mengingatku dan banyak manusia yang lupa bahwa aku pernah ada. Hal itu sama dengan menikah. Minggu lalu aku telah menikah, lalu sekarang beranda Facebookku telah berganti dengan puisi lain dan atau foto narsis yang menggem…

Jurnalis

Calon mertua saya, memandang jurnalis sebagai tukang tagih bulanan di kantor kedinasan. Menurutnya, jurnalis adalah sosok yang menjengkelkan. Ia merasa aneh karena jurnalis tampaknya seperti orang-orang baik, dipuja dan dilindungi, tetapi kenyataannya beberapa jurnalis yang ia temui berperilaku nggateli. Hal yang sama terjadi ketika saya mengajar kelas sore yang terdiri dari perangkat desa. Mereka yang tau saya pernah berprofesi sebagai wartawan, langsung curhat panjang –melebihi jam kuliah- tentang beberapa wartawan tukang tagih di kantor kelurahan.
Tentu saja hal ini menggelisahkan, terutama bagi wartawan yang setiap hari bekerja dengan penuh integritas. Wartawan yang serius dan professional sebenarnya menyadari bahwa pekerjaannya amat berpotensi disalahgunakan. Beberapa wartawan yang akhirnya memanfaatkan pekerjaannya sebagai ladang uang tidak ‘sah’ ini biasanya disebut wartawan bodrex. Dan wartawan jenis ini, dapat dipastikan tidak akan pernah bercengkerama dan berkelakar secara …