2014-10-31

Kisah Guru SM3T Mengabdi di Pegunungan Papua Bagian II



Semangat para siswa-siswi di Disktrik Kiwirok untuk mengenyam pendidikan begitu tinggi tapi tidak dibarengi dengan fasilitas yang memadai. Namun demikian, hal itu tidak membuat para siswa berkecil hati karena mereka tetap bertekad sekolah meski harus menempuh perjalanan sejak pukul 02.00 WIT tanpa alas kaki.

Fathul Qorib - Pegunungan Bintang

Ketika pembicaraan antara Cenderawasih Pos dan para guru Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Terpencil ini sampai kondisi pendidikan dan para siswa, mereka mendadak antusias. Mata mereka berbinar dengan senyum mengembang. “Kami punya siswa yang luar biasa, andai semangat ini bisa sampai pendidikan tinggi, sungguh Papua akan jauh berbeda,”ujar Bekti, salah satu pengajar SM3T.

Bagaimana tidak, para sarjana ini, Bekti, Dimas, Irin, Hesty, Rezky, Aprillia, dan Fera, memiliki siswa yang begitu luar biasa karena bisa menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk datang ke sekolah. Mereka bercerita bahwa beberapa siswanya memiliki rumah yang jauh dari Distrik Kiwirok, dimana satu-satunya Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA) berada.

“Mereka sudah harus berjalan dari rumahnya jam 02.00 WIT, ada yang jam 03.00 WIT, menuju ke Distrik Kiwirok. Ini yang membuat kami, betapapun sulitnya hidup di sini, tetap betah demi menularkan sedikit harapan dan cita-cita. Hal-hal seperti ini yang nantinya akan menjadi kenangan manis kami,”sambung Dimas disertai anggukan teman-temannya.

Sekolah yang menjadi tempat mengajar para guru SM3T ini terletak di bebukitan, yaitu SMP dan SMA, sedangkan SD ada di kawasan perumahan penduduk. Dengan kondisi ini, setiap siswa yang datang dari lembah akan naik ke SMP dan SMA dengan kondisi geografis yang cukup ekstrem. Pertama kali wartawan koran ini mengunjungi SMP tempat mereka mengajar, wartawan harus berhenti lima kali agar mata tidak berkunang-kunang.

Yang lebih ekstrem lagi adalah rumah yang disediakan untuk para guru tersebut juga terletak di atas perbukitan, lebih tinggi dari SMP tempat mereka mengajar. Rumah ini terletak cukup jauh dari rumah penduduk yang ada di lereng dan lembah, dimana landasan pesawat terbang berada. Namun dari ketinggian itu, mereka dapat mengawasi seluruh area yang memiliki pemandangan yang luar biasa.

“Kalau kami bosan, biasanya ya kami ada belajar kelompok dengan anak-anak. Dulu katanya tidak ada namanya anak-anak belajar selesai sekolah, adanya ya mereka ke kebun atau main-main. Tapi sekarang kita senang karena anak-anak juga senang belajar,”tambah Irin.

Untuk siswa-siswi yang belajar di SD, SMP, dan SMA Kiwirok, para guru ini mengakui bahwa mereka tidak ada yang pakai sepatu ketika belajar. Hal itu tidak dipermasalahkan sama sekali oleh para guru SM3T karena yang dituju bukanlah secara fisik, tetapi mental pembelajar yang dimiliki oleh para siswa. Apalagi kondisi alam di Kiwirok memang tidak ramah terhadap sepatu karena memiliki geografis yang bergunung-gunung sehingga becek ketika hujan.

Selain tidak ada yang pakai sepatu, kepemilikan buku tulis juga merupakan barang berharga. Karena harga buku di Kiwirok juga mahal sebagaimana harga kebutuhan pokok. Satu eksemplar buku tulis di sana berharga Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu, dan harga pena Rp 5 ribu yang paling murah. Dengan kondisi ini, wajar jika buku adalah kemewahan bagi para siswa. Untuk menyiasati kebutuhan buku ini, termasuk seragam, mereka pesan di Jayapura baru kemudian dititipkan agar dibawa ke Kiwirok.

Terkait kehadiran para guru SM3T ini, Pelaksana Harian Kepala Sekolah SMP Negeri I Kiwirok, Nixon Nawipa,S.Pd mengatakan bahwa itu adalah suatu karunia yang besar. Ketujuh guru yang disebar di SD, SMP, dan SMA ini banyak membantu para guru yang bertugas di sana sehingga kekurangan guru sementara dapat teratasi, dan perluasan cakrawala pengajaran dapat terpenuhi.

“Kami senang dengan kehadiran para guru ini karena dapat menutupi kekurangan para guru. Ini kan tahun ke dua, jadi kami berharap setiap tahun di Kiwirok ini terus diadakan bantuan guru dari Jawa sehingga kualitas pendidikan juga dapat ditingkatkan,”kata Nixon.

Kata Nixon, sebenarnya guru yang ada di sekolah yang saat ini dipimpinnya tersebut sangat banyak dan cukup. Namun sebagian besar dari menghulang menghilang berbulan-bulan dan tidak pernah kembalu ke Kiwirok, termasuk Kepala Sekolahnya. Sehingga Nixon yang merupakan anak asli dari Kiwirok itu bertekad akan terus mengajar meskipun dibantu oleh beberapa guru yang tidak mencukupi.

“Ini anak-anak kalau kuliah ada yang ke Jayapura itu banyak yang prestasinya bagus, masuk ke jurusan-jurusan yang sulit dibidang eksakta. Tapi saya yakin ke depan prestasinya akan terus meningkat apalagi dengan kehadiran para guru dari SM3T yang membantu kami mengajar siswa-siswi,”tandasnya.***

*oleh Fathul Qorib, dimuat oleh Koran Cenderawasih Pos

bagian I
http://www.fathulqorib.com/2014/12/kisah-guru-sm3t-mengabdi-di-pegunungan.html

Kisah Guru SM3T Mengabdi di Pegunungan Papua I


Bagi orang pegunungan tengah Papua, makan keladi dan sayur tanpa lauk adalah hal yang biasa. Namun bagaimana jika orang yang terbiasa tinggal di jawa dengan fasilitas lengkap, kemudian harus tinggal setahun di pegunungan Papua demi pendidikan? berikut kisah tujuh orang guru yang ada di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang.

Fathul Qorib - Pegunungan Bintang

Tujuh orang guru program Sarjana Mengajar di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) dari Universitas Negeri Malang, Jawa Timur, ini telah berada di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang sejak dua bulan yang lalu. Mereka adalah Agung Subekti (22), Dimas Aji Bagus Saptanu (24), Wasirin (22), Hesty Yussanti (25), Rezky Astarina (23), Fera Indrawati (26), dan Aprillia Fitriani (24).

Menuju Distrik Kiwirok ini, kita harus menggunakan pesawat khusus yang berbadan ramping sehingga hanya cukup untuk memuat 12 orang saja dari Banadara Sentani, Kabupaten Jayapura. Perjalanan memang hanya memakan waktu kurang lebih 45 menit, tetapi itu lebih dari cukup untuk mencari kehidupan masyarakat terluar sebagaimana tujuan dari program SM3T: Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia.

Apalagi Distrik Kiwirok termasuk daerah terluar yang berbatasan langsung dengan PNG dengan 12 kampung yang tersebar dalam medan yang luar biasa sulit. Dari kampung-kampung inilah, anak-anak sekolah setiap paginya pergi ke Distrik Kiwirok, dimana terletak satu-satunya Sekolah Dasar, Sekolah Memengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas baru berusia dua tahun.

Saat Cenderawasih Pos berkunjung ke base camp para pengajar ini, mereka tengah memasak nasi dan sayur di tungku yang terbuat dari tumpukan batu. Berbeda dengan kebiasaan saat di kampus, mereka masih bisa menggunakan magiccom yang untuk menanak nasi tinggal mencolokkan ke listrik. Di sini, setiap kali memasak mereka harus bersusah payah mencari kayu bakar dan minyak tanah agar kayu bisa menyala.

“Pertama kali tiba di sini, kami jengkel sekali karena api tidak mau menyala. Kita coba berkali-kali tapi tidak mau menyala. Yah, kami belum pengalaman menggunakan kompor alami begini, tapi sekarang kita sudah biasa,”kata Agung Subekti yang biasa dipanggil Bekti itu.

Lelaki asal Pemalang, Jawa Tengah itu mengatakan bahwa kesulitan di Kiwirok bagi kelompoknya adalah harga kebutuhan bahan-bahan pokok yang amat mahal, sinyal HP tidak ada, listrik yang sering kali mati, termasuk tidak adanya hiburan sama sekali. Hal-hal ini, kata Bekti, kadang membuat frustasi, namun sering malah dijadikan sebagai tantangan untuk menjadi lebih tangguh di pedalaman.

Ditambahkan oleh Dimas, bahwa untuk mendapatkan sinyal HP, mereka harus menuju ke bukit yang disebut penduduk sebagai Puncak Dua, dengan jarak kurang lebih empat jam berjalan kaki bagi penduduk Kiwirok. Namun Dimas ragu, bahwa dalam waktu empat jam dirinya akan mampu berada di Puncak Dua.

“Kalau kita mungkin enam jam baru sampai di atas, bisa dibayangkan 12 jam kita butuh untuk pulang pergi. Makanya kita sampai sekarang belum ke sana padahal kami belum pernah menghubungi keluarga di rumah juga,”jelas lelaki asal Lumajang ini.

Mengenai soal listrik, Wasirin melanjutkan, disuplai dari Pembangkit Listrik Tenaga Air Microhidro atau PLTAM yang terletak di sungai sebelah barat Distrik. Empat hari pertama sejak kedatangannya berasama enam kawannya itu, dia disambut dengan matinya listrik sehingga tidak bisa melakukan pekerjaan apapun pada saat malam hari.

“ Di sini kalau hujan deras lampu mati karena turbin PLTA tidak jalan. Makanya kita selalu jaga-jaga lilin. Kalau dulu pertama kalinya ke sini, empat hari tanpa listrik, kita pakai lampu tempel bikin sendiri,”tambah Wasirin yang rindu dengan kampung halamannya di Brebes.

Hesty dan Fera, dua perempuan asal Banyuwangi dan Malang ini, mengaku sebenarnya menikmati berada di Kiwirok. Namun pernah selama dua minggu bulan lalu, kehabisan bahan makanan berupa beras sehingga harus makan tela dan keladi yang harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan beras. Hesty tidak pernah membayangkan akan mengalami hal seperti itu di perantauan.

“Harga beras 1kg itu Rp 60rb, harga Rinso 1kg Rp 60rb, harga minyak 1lt Rp 60rb, dan harga gula 1kg juga Rp 60rb. Jadi setiap harga satuan di sini itu Rp 60 ribu. Dibandingkan dengan di Jawa misalnya, ini puluhan kali lipat. Ini yang kadang membuat uang yang kami bawa tidak cukup sehingga menyulitkan kami yang ingin bertahan dengan nasi,”sambung Fera, mahasiswi asli Malang.

Maka dari itu, tidak heran jika di sana para guru ini tidak pernah makan daging sejak berada di Kwiirok. Sehari-hari mereka hanya makan nasi, sayur, dan ikan asin yang dipesannya jauh-jauh hari dari Sentani, Kabupaten Jayapura. Jika selama satu tahun bertugas di daerah Kiwirok tersebut, maka otomatis selama itulah mereka tidak akan menyentuh daging, kecuali ada yang menjamu mereka.

“Di sini semua warganya wellcome banget jadi kita betah di sini. Meskipun pernah kekurangan bahan makanan, tapi warga di sini baik sehingga kami dipinjami beras, dan tidak jarang dikasih sayur-sayuran. Kangen keluarga itu pasti, tapi kami akan bertahan karena tujuan kami mulia, untuk mencerdaskan bangsa Indonesia,”tegas Aprillia yang disambut senyum oleh Bekti, Dimas, Wasirin, Hesty, Fera, dan Rezky.

Itu hanyalah sekelumit dari kehidupan awal ketujuh guru SM3T yang merelakan dirinya mengajar di daerah terdepan, terluar, dan terpencil. Bagaimana dengan suasana belajar di sekolah yang ada di Kiwirok? Termasuk kisah seorang siswa yang harus berjalan sejak pukul 02.00 WIT demi bisa sekolah.. (bersambung)

sambungan 2
http://www.fathulqorib.com/2014/12/kisah-guru-sm3t-mengabdi-di-pegunungan_22.html

2014-07-29

Puisi: pertemuan dan jembatan, dan lainnya



pertemuan

bertemu aku ingin segelas kopi,
diterangi parasmu sembari memuncak pada jilatnya api unggun. 

malam bisu, malam membayang dari kayu-kayu
yang bergemeretak karena terbakar api cemburu. 

aku ingin kopi, pada secarik waktu 
yang bergerak menemuimu 
16 Mei 2014

jembatan kamu

waktu menjadi jembatan,
panjang dan gelap. kamu yang hilang
dari dirimu sendiri, susuri laut
temaram senja, teluk dan tanjung
di sela-sela hidup nan menjauh
kamu berfikir; tak berujung
ujung itu di sini
matahari terbit seperti kawanan
cita cinta bertemu mimpi
tak jarang jarak memuncak
meski batas telah tertebas, kubabat
tetap memudar, dari jembatan
waktu mencari jati diri
9 Juni 2014

kita dan cahaya

aku batu, mengalun dari dadaku rindu
dengung jangkerik dan air sendu menjadi kabur
sesat dalam renungan, keajaiban petani menanam
dendam dari jarak yang tak ia percayai
ia tak pernah selesai, dadaku batu.
kau yang bergemuruh, merasuk menjadi bingkai
tiap cahaya yang mengetuk genting kaca
bilur-bilur hujan menjadi warna, antara kita dan cahaya
adalah tuhan di dalam mata. matamu beku, lagi
menerima cintaku.
17 Juli 2014


2014-07-14

Upaya Memotong Generasi-ku


Mulanya, aku adalah pelancong yang percaya bahwa papua merupakan rumah singgah untuk sementara. Tidak kurang tiga bulan lamanya, maka aku akan berpindah lagi mencari rumah singgah lainnya di kota lain dan di pulau lain. Namun hingga sekarang sudah mencapai satu tahun lebih, aku malah tidak bisa pulang –tepatnya tidak mau pulang. Alasan yang paling logis muncul saat ini, aku sedang mencoba memotong generasi dari keluargaku.

Memang berat untuk bisa menjadi pencetak generasi. Saya membayangkan bahwa adanya marga atau klan dalam satu keturunan adalah karena hadirnya satu sosok yang paling menonjol dalam keturunan tersebut. Menonjol dari segi kekayaan, keilmuan, atau juga hal lain, seperti kejujuran dan kebaikan, bahkan keluarbiasaan. Namun dalam diriku, hal-hal itu masih kucari seluruhnya.

Mengapa memotong generasi? Aku berfikir bahwa sebagaimana bangsa Indonesia, jika dipimpin oleh orang-orang generasi orde baru yang usianya sudah tidak siap memikirkan perubahan, maka akan tetap saja seperti ini; kemiskinan, kelaparan, banjir, kemarau, suara-suara kemerdekaan di Papua, dan berbagai kasus korupsi yang semakin membebani citra bangsa Indonesia.

Maka di Indonesia pun harus ada potong generasi, menjadikan pemimpin seorang generasi cemerlang masa kini, yang tidak ada hubungannya dengan masa lalu Indonesia. Satu-satunya yang dimiliki oleh generasi yang akan memimpin Indonesia ini adalah generasi yang telah pulang menjadi orang Indonesia asli, setelah bertahun-tahun menjadi penduduk dunia. Dia yang berfikiran inovatif dalam memandang setiap permasalahan bangsa, lalu mengubahnya menjadi kekuatan kita.

Begitulah upaya memotong generasi yang kulakukan. Sepenuh hidup, turun temurun, keluargaku akan selalu memiliki siklus yang sama; lahir menjadi buruh tani, pergi merantau jualan pentol atau nasi lalapan, mengirim uang ke rumah, lalu setelah merasa cukup tua, kembali ke kampung untuk dihidupi oleh anak-anaknya. Lalu anak-anaknya, karena dilahirkan dari generasi kampung yang tidak memiliki inovasi, akan berakhir jadi buruh tani, lalu siklus itu tidak pernah selesai.

Aku hendak memotongnya mulai dari diriku sendiri, mempertaruhkan segala keinginanku, cita-citaku, keegoisanku, dan hal-hal yang bersifat pribadi lainnya. Aku tidak akan kembali pada siklus yang melelahkan itu, siklus yang masih dijalani oleh saudaraku yang lain. Dijalani dengan tabah, tanpa memandang bahwa takdir seharusnya bisa lebih baik.

Sebenarnya dengan keinginan memotong generasi ini, dengan cara tidak pernah pulang demi memperbaiki hidup, menjadikanku sadis dan tidak punya hati. Seakan-akan aku adalah kacang yang lupa pada kulitnya, seorang anak yang tega meninggalkan kedua orang tuanya, sementara disekeliling mereka tak ada seorang anak yang bisa memikul beban hidup di sana. Tetapi apalah daya, demi masa depan, demi melahirkan generasi yang berbeda dari generasi yang sama terus menerus, aku harus tabah, dan juga harus tega.

Saat ini, di Papua, aku benar-benar enggan pulang. Saat ini aku adalah seorang jurnalis di surat kabar paling besar di Papua, sebuah profesi yang jauh dari rencanaku. Profesi yang tidak pernah berani kuimpikan karena letaknya berada di menara gading sebuah kesuksesan. Namun akulah ini, yang menjadi jurnalis meskipun tak sesungguhnya. Lalu sebentar lagi, bulan Agustus mendatang, aku direncanakan oleh takdir akan menjadi staf pengajar di sebuah kampus swasta di Abepura. Maka sempurnalah carakumemotong generasi ini.

Paling tidak, generasiku ke depan akan lebih dekat dengan dunia akademis disebabkan aku menjadi pengajar di kampus. Lebih dekat dengan dunia tulis menulis karena aku merasa hidup menjadi seorang jurnalis, dan juga generasiku harus lebih dekat dengan dunia berbagi karena aku masih hidup dengan menyimpan mimpi, menggagas harapan, bahwa Sekolah Menulis Papua yang kudedikasikan untuk generasi muda Papua bisa tumbuh dewasa. Aku harap demikian.

Jadi saat ini yang kulakukan adalah bekerja sebaik-baiknya, membaca sebanyak-banyaknya, dan belajar seserius-seriusnya. Demi melancarkan segala tujuan pemotongan generasi yang benar-benar tidak gampang. Namun hal yang paling bisa membuatku berdiri tegak, sungguh, bukanlah jurnalis atau akan menjadi pengajar, namun karena aku memiliki Sekolah Menulis Papua. Aku masih bisa berbangga, dan yakin bahwa usahaku tidak akan sia-sia.

2014-06-11

Keberpihakan Obyektif Sebuah Media

Media massa atau pers harus independen dalam setiap pemberitaannya. Itu adalah pernyataan yang selama ini dipercaya sebagai kebenaran absolut terkait keberadaan media massa. Namun sebagaimana semua peraturan yang ada di dunia ini, tampaknya sengaja dibuat untuk dilanggar. Realitas politik hari ini, media massa berturut-turut menunjukkan ke-tidakindependensi-annya dengan memihak kepada presiden tertentu atau partai tertentu.
Hal ini tentu saja telah menciderai demokrasi di Indonesia. Padahal media massa merupakan pilar keempat demokrasi setelah legislatif, eksekutif, dan yudikatif, sehingga harus benar-benar memihak kepada rakyat, bukannya kepada elite atau golongan tertentu saja. Bahkan media massa merupakan salah satu pilar yang terkuat dari tiga pilar lainnya karena media massa bisa manjangkau hingga ke pelosok tanah air sehingga mempengaruhi pilihan khalayaknya.

Melihat masyarakat Indonesia yang belum sepenuhnya melek media sehingga tidak memahami bahwa apa yang ada di media massa tidak melulu benar, maka keberadaan media massa menjadi sangat kuat. Dengan tidak mempertimbangkan variabel lain, media massa memiliki kemampuan untuk mempengaruhi masyarakat secara langsung, cepat, dan terarah untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sebagaimana yang dijelaskan oleh Wilbur Schramm dengan The Bullet Theory of Cummunication.

Maka dari itu, jika Indonesia konsisten dan percaya akan sistem demokrasi yang dianutnya, maka pers juga harus demokratis karena berada dalam negara Indonesia. Sedangkan unsur-unsur demokrasi, sebagaimana yang dikatakan oleh Abraham Lincoln, bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan yang dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, maka menjadi mutlak bahwa pers yang demokratis adalah pers yang dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Pers yang berdiri dengan niat untuk rakyat maka tidak akan mencederai niatnya dengan memihak kepada kepentingan politik tertentu. Jika kita garis bawahi tentang pers yang demokratis, maka satu-satunya keberpihakan yang boleh dilakukan oleh media massa adalah keberpihakan kepada rakyat; selain itu maka pers tersebut telah melanggar apa yang dinamakan demokrasi.

Karena pers yang memihak inilah, beberapa waktu yang lalu Aliansi Jurnalis Independen (AJI) misalnya, membuat siaran pers yang berisi kecaman terhadap praktek jurnalisme yang berpihak pada calon presiden tertentu. Bahkan AJI menganggap bahwa prakterk jurnalisme yang berpihak tersebut mengingatkan publik pada praktek jurnalisme masa Orde Baru di mana pers seringkali dijadikan alat propaganda penguasa politik dan gagal menjalankan fungsinya sebagai elemen kontrol sosial.

Selain AJI, Dewan Pers Nasional (DPN) dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang memiliki kewenangan untuk memberikan nilai kepada media massa di Indonesia, membentuk gugus tugas guna melakukan kordinasi pemantauan isi siaran jurnalistik yang ada pada beberapa media massa sesuai dengan prinsip-prinsip jurnalistik, seperti prinsip independensi dan prinsip beretika dalam jurnalistik.

Pemantauan itu sendiri, sebagaimana yang disiarkan dalam website KPI, dilakukan dengan mengacu pada Kode Etik Jurnalistik dan Peraturan-Peraturan Dewan Pers dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Berdasarkan hal tersebut, DPN dan KPI menemukan indikasi penyimpangan sehingga memberikan peringatan kepada lima media massa televisi, yaitu TVOne, Metro TV, RCTI, MNC TV, dan Global TV karena “keterlaluan” dalam menyiarkan calon presiden tertentu.

Tidak ketinggalan juga BBC Indonesia merilis hasil kajian dan penelitian dari empat lembaga survey yang digawangi oleh masyarakat sipil; PR2Media, Remotivi, Masyarakat Peduli Media, dan Inmark Digital. Dari hasil penelitian mereka ditemukan bahwa media digunakan oleh pemilik untuk publikasi kepentingan pribadinya, bahkan terdapat keompok media yang memiliki tendensi untuk menyembunyikan kebenaran. Ini adalah hal yang miris, dan jika bocor ke publik, maka betapa hendak lari kemana jika eksekutif, legislatif, yudikatif, dan media massa sudah tidak bisa dipercaya?

Obyektifitas yang Subyektif

Media massa didirikan memang tidak bisa terlepas dari sebuah kepentingan, dan kepentingan melahirkan keberpihakan; yang biasanya dimaknai dengan ketikdak-indepenan. Banyak media didirikan karena tidak bersepahaman dengan media yang sudah ada, dan hal ini terutama ingin dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa yang masih belum mengenal realitas politik tanah air.

Mereka masih berpegang teguh pada doktrin di Perhimpunan Pers Mahasiswa bahwa media harus independen, dan keberpihakan yang boleh dilakukan satu-satunya adalah pada rakyat. Namun kenyataannya, sebagaimana yang sudah disebutkan di awal tulisan, bahwa media massa akhirnya keluar dari independensinya untuk kemudian memihak pada salah satu elite atau kelompok tertentu.

Pertanyaannya kemudian, bisakan sebuah media massa tetap berada dalam keberpihakannya dalam membela sesuatu yang benar “menurut dia”? Untuk menjawab pertanyaan tersebut memang susah-susah gampang, susahnya dia kali lipat dari pada mudahnya. Namun dari pada tidak ada solusi sama sekali dan hanya menghujat keberadaan media massa, lebih baik ada sebuah cara agar pemberitaan bisa memihak namun tetap dalam koridor kode etik junalistik.

Karena harus diingat bahwa kerja pers mau tidak mau harus memegang teguh prinsip jurnalistik yang telah dikenal insan pers secara umum, bahkan masyarakat umum juga mulai memahaminya, seperti; obyektif, covering both side, fairness, akurat, tidak bias dan tidak mengejar sensasi, komplit, memisahkan fakta dari opini, bisa diandalkan, cek dan ricek, dan masih banyak lainnya.

Dalam Mass Communication Theory, Westertahl mengatakan bahwa sebuah media massa harus memenuhi salah satu prinsip pemberitaan yaitu factuality. Factually berarti berita yang ditulis sesuai dengan kenyatannya, tidak ada kebohongan atau kebenaran yang dibuat-buat. Dari prinsip ini juga mengandung unsur kebenaran (truth) yang biasanya dibangun melalui kakuratan data dan kekomplitan (completeness) peliputan. Data yang akurat dan komplit, secara sederhana bisa ditentukan dengan memasukkan unsur 5W+1H, termasuk dengan data dan bukti di lapangan yang tidak bisa dibantah.

Maka sebuah tulisan jurnalistik di media massa, asalkan tetap memperhatikan prinsip factually dengan rinciannya tersebut, bisa-bisa saja diterbitkan. Selain memperhatikan fakta, kebenaran, dan kekomplitan sebuah berita, keberpihakan harus ditulis dengan tanpa mendistorsi sebuah kebenaran yang ada, begitu pula tidak diperbolehkan memanipulasi fakta apalagi mengurangi dan menambahi informasi untuk disesuaikan dengan kepentingan.

Keberpihakan media memang mutlak tejadi di Indonesia, namun harus dilakukan dengan cara yang bersih. Keberpihakan media terhadap satu goal memang mutlak terjadi, namun harus tetap obyektif memberitakan dengan tidak memanipulasi fakta. Hasil akhirnya mari kita serahkan pada khalayak pembaca, karena dalam beberapa teori komunikasi yang lebih modern, mereka percaya bahwa publik sekarang lebih rasional dan selektif terhadap conten media. Semoga.

*Tulisan ini pernah dimuat di Harian Cenderawasih Pos ediri Rabu (11/6/2014)
Fathul Qorib, wartawan Cenderawasih Pos dan pendiri Sekolah Menulis Papua

2014-05-19

Mencari Hilangnya Kritik Sastra di Indonesia

Disampaikan dalam diskusi Sekolah Menulis Papua (2014).

Orang-orang Indonesia memiliki budaya malu dan tidak ingin mempermalukan orang lain; pada satu dan lain hal akan sangat berpengaruh pada cara hidup, bahkan cara bersastra dan berbangsa. Budaya malu sangat penting bagi orang Indonesia (mewakili bangsa timur) untuk mencounter budaya tidak tahu malu yang sering kita alamatkan pada bangsa barat. Karena budaya itulah, kita menjadi terkenal sebagai bangsa yang ramah, santun, tidak pernah marah (sendiko dawuh –dalam bahasa kritis kita adalah bangsa penghamba).

Budaya malu, pada akhirnya mendapatkan tempatnya pada dunia sastra. Hal yang paling sederhana dari perasaan kita adalah ketidakmauan untuk menerima kesalahan dari apa yang kita produksi, terlebih bila diungkapkan di depan umum. Jika hal ini benar adanya, maka kritik, yang sejatinya berarti judgement atau penghakiman akan menjadi menyakitkan, dan rerata kita tidak ingin di hakimi di depan publik atas tulisan kita.

Saking mewabahnya budaya ini, akhirnya orang yang suka mengkritik akan dianggap sebagai momok, pencari masalah, sumber segala penderitaan. Ia akan diasingkan, tidak memiliki teman, bahkan bisa saja dia tiba-tiba dihilangkan dari kehidupan.
Hal-hal seperti ini menimbulkan sikap malu-malu juga sebenarnya, bagi sastrawan yang hendak mengkiritik suatu karya sastra. Sehingga, demi tidak membuat judgement yang menyakitkan, kata kritik ini pada awal perkembangannya di Indonesia tidak disebut dengan kritik, tetapi disebut sebagai penyelidikan. Salah satunya dalam buku kritik sastra karangan J.E Tatengkeng diberi judul “Penyelidikan dan Pengakuan”.

Begitulah budaya malu orang Timur ini membuat segala sesuatu menjadi tertutupi, yang membuat orang menjadi bingung hendak meletakkan diri sebagai apa. Perkembangan berikutnya, sebelum dimaklumi dengan penyebutan “kritik sastra”, orang masih terkamuflase dengan kata sorotan, ulasan, bahasan, telaahan, yang semuanya bisa ditemui dalam ulasan-ulasan yang dibuat oleh sastrawan angkatan Pudjangga Baru, dalam majalan Pudjangga Baru.

Hingga tahun 1967, Hans Bague Jassin menerbitkan buku berjudul “Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Essay” yang secara eksplisit langsung menyebutkan kata “kritik”. Meskipun demikian, hal itu tidak menimbulkan suatu gebrakan yang luar biasa untuk memunculkan kritik sastra secara luas pada sastrawan lainnya.

Kalau boleh dihitung dalam batas ingatan saja, maka sastrawan yang seringkali saya dengar pula menjadi kritikus adalah Subagio Satrowardoyo, Goenawan Mohammad, Suat Situmorang, atau saya menjadi ragu dan tidak bisa membedakan antara sastrawan dan kritikus sastra, seperti AS Laksana, Armijn Pane, Merari Siregar, Nenden Lilis, Ignas Kleden, Linda Christanty, Damhuri Muhammad. –ketika mengetahui ini, saya menjadi yakin bahwa masa kritik sastra indonesai tidak akan pernah mati.

Hal lain yang membuat kritik sastra kurang diminati adalah anggapan bahwa kritik sastra itu tidak ilmiah, kalau mau dikatakan ilmiah, maka kritik sastra digolongkan sebagai pseudo ilmiah atau semo ilmiah. Banyak dikatakan bahwa kritik ilmiah hanya didasarkan pada intuisi penulis tanpa pertimbangan teori yang pasti serta metode kritik yang benar. Dan pada akhirnya, keilmuan kritik sastra di Indonesia juga patut dipertanyakan jika masih banyak orang yang menganggap bahwa kritik sastra tidaklah ilmiah.

Jika boleh membagi cara orang melakukan kritik sastra, maka bolehlah dibagi antara kritik akademis dan kritik populer. Dari namanya, tentu sudah bisa ditebak bahwa dalam kritik akademis, kritik sastra dilakukan untuk kepentingan ilmu pengetahuan sastra. Dengan demikian, orang-orang yang sedang bergelut dengan dunia akademis ini, baik mahasiswa, dosen, guru bahasa indonesia, profesor sastra, berkewajiban untuk melakukan kritik sastranya berdasarkan teori dan metode yang terukur dan teruji.

Contoh paling sederhana adalah dalam skripsi, serang mahasiswa akan melakukan kritik terhadap ide marxisme dalam karya-karya Pramoedya Ananta Toer, melakukan pengungkapan psikologi sastra yang ada dalam karya Ayu Utami, atau yang lebih sederhana namun kompleks, melakukan penyelidikan terhadap gaya dan bentuk puisi milik Sutardji Cholzum Bahri. Dari sana, seorang mahasiswa harus menggunakan metode shahih, serta teori yang benar-benar teruji sehingga didapat kritik sastra atau ulasan sastra yang “keren”.

Cara kedua dalam membuat kritik sastra adalah dengan menggunakan dalil ilmu populer. Ilmu populer ini, bisa dibentuk menjadi esai, makalah, opini atau artikel, yang mengungkap beberapa hal yang menjadi dasar dalam kritik sastra. Hal itulah, yang saya kira, dilakukan oleh sastrawan (yang profesi maupun pekerjaannya adalah menulis sastra), penikmat sastra, wartawan, maupun akademisi.

Menulis kritik sastra secara populer ini bisa menjadi alternatif bagi beberapa komunitas atau perorangan yang ingin tetap ‘menjaga’ tradisi menulis kritik yang telah dimulai oleh pujangga baru. Maka bagi orang yang tidak punya dasar ilmu kesusasteraan yang memadai sebagaimana akademisi sastra, atau bagi penggiat sastra yang secara otodidak belajar sastra, maka menulis secara popular bisa menjadi salah satu jalan menulis kritik.

Mengapa diperbolehkan menulis kritik secara populer? Karena keobyektifan ilmu pengetahuan saat ini sedang dipertanyakan. Menurut Karl Popper yang dikutip oleh Ignas Kleden, bahwa obyektifitas adalah suatu keadaan yang tidak akan pernah tercapai. Bahkan diyakinkan lagi oleh Tyutchev yang dikutip oleh Zoest bahwa dalam kajian multikultural dan cultural studies atau kajian posmo, paradigma objektivitas sudah runtuh.

Meskipun belum membaca secara mendalam terkait keruntuhan obyektivisme tersebut, namun saya hampir yakin bahwa tidak semua hal yang obyektif itu yang terbaik dalam membahas karya sastra. Karena dalam kritiknya terhadap karya sastra, ia tetap membutuhkan perasaan dan hati terdalam untuk bisa tergugah sehingga pemaknaan terhadap karya sastra bisa hidup –dalam artian tidak mekanistik seperti ilmu alam.

2014-04-20

Menjadi Manusia



Semakin kita tahu, semakin kita tidak berdaya. Kalimat itu beberapa tahun terakhir membuatku benar-benar tidak berdaya. Premis di atas tidak berarti aku membenarkan bahwa kalimat motivasi semacam “aku bisa” akan membuatmu menjadi manusia serba bisa. Ini tidak ada hubungannya, hanya saja ini adalah sebuah kebenaran yang menyakitkan.

Kita tahu perselisihan di dunia ini tidak bisa diselesaikan oleh PBB meskipun dia adalah kumpulan dari bangsa-bangsa. Kita tahu bahwa masyarakat Indonesia tidak pernah ikut menikmati tambang emas di Papua. Kita tahu bahwa pemerintah Indonesia adalah sarang koruptor. Kita tahu rakyat Indonesia tumbuh dalam kemiskinan. Kita tahu bahwa pendidikan rakyat Indonesia di sebagian besar wilayah tidak bisa mencapai pendidikan wajib 9 tahun. Kita tahu bahwa dimana bumi dipijak, di situ langit djunjung, tapi kekerasan berada di mana-mana.

Pilih satu saja dari permasalahan mendasar itu, dan pikirkan solusinya. Kita tidak akan mampu memikirkan solusinya meskipun kita mengadakan penelitian selama 100 tahun. Karena penelitian tinggal penelitian, tinggal menjadi telaah dalam naskah akademik, menjadi mata kuliah, dikutip sana-sini dengan kebanggaan, kemudian Indonesia tetaplah seperti itu.

Kita tahu Madura misalnya, berapa banyak professor sosial, baik yang dalam negeri sekelas Koenjaraningrat hingga professor luar negeri, mendapat gelar kehormatan karena melakukan penelitian di Madura. Atau di Papua dan perbatasan Kalimantan, berapa ratus orang telah melakukan telaah dan kajian, tapi rakyat Indonesia yang kusebutkan itu masih saja tetap seperti seratus tahun yang lalu.

Bahkan, menurut orang Papua, semasa dijajah Belanda, pendidikan lebih terjamin dan lebih dsiplin daripada ketika bergabung Indonesia dalam kondisi merdeka. Guru-guru masih rajin mengajar dan diperhatikan kesejahteraannya. Buku-buku dan Al Kitab disediakan sehingga siswa-siswa rajin membaca dan beribadah. Sedang ketika merdeka (katanya merdeka) guru-guru banyak yang menghabiskan waktu di kota dan menerima gaji buta. Menyakitkan bukan?

Itulah makanya semakin kita tahu, semakin kita lumpuh.

Menyerah atau Berjuang Sendirian

Untuk pengetahuan yang menjebak seperti yang kusebutkan diatas, rasa-rasanya lebih baik menyerah dan melarikan diri. Seidealis apapun kita, ketika dihadapkan pada kebuntuan birokrasi pemerintahan, kita akan tepar dan sebagai cacing kepanasan. Seberapapun kuatnya hati kita, akan segera membusuk ketika berhadapan dengan orang-orang yang bekerja sama dengan kita, ternyata hanya memanfaatkan kesempatan itu untuk mendapat keuntungan yang lebih besar buat dirinya sendiri.

Lebih baik menyerah dan melarikan diri sejauh-jauhnya, lalu sibuk berada di kantor, bekerja, pulang ke rumah, mengurusi anak-anak, dan rutinitas seperti itu.

Tapi ada kalanya tekad baja itu ada pada beberapa orang yang tidak pernah kita duga. Di mana ada kemiskinan maka di sana pasti akan ada orang yang bertekad baja mengurusi orang-orang tersebut. Mereka sendirian, berjalan pelan sambil tersenyum, mengacuhkan setiap godaan untuk mendapatkan hidup yang lebih layak. Mereka berjuang seorang diri tanpa pamrih, pelan-pelan melafalkan huruf abjad, a, b, c, d, mengajari anak-anak, menyeka ingus yang menempel sehari semalam dihidungnya sehingga membuatnya susah bernafas.

Siapapun yang menyerah dengan kondisi Indonesia, adalah manusia normal. Manusia yang memang diciptakan dari akal dan nafsu. Manusia yang secara kodrati memiliki hasrat kehewanan yang tidak ingin hidup susah serta bisa makan dan minum tanpa banyak basa-basi. Kita memaklumi mereka karena mereka manusia yang terdiri darah dan daging. Mereka yang menyerah dan melarikan diri, atau bahkan menutup mata dengan kondisi sekitar yang begitu mengerikan ini, adalah wajar dan memang bisa dimaklumi oleh logika. Silahkan, silahkan berada di kawasan nyaman yang tidak perlu lalat mengerubuti makanan kalian karena sudah kadaluarsa beberapa bulan.

Bagi mereka yang berjuang sendirian, mereka memang bukan manusia. Mereka adalah bintang-bintang yang ada di muka bumi. Sebagaimana penggambaran suatu ayat, ketika dilihat dari langit, mereka yang baik adalah seperti bintang yang berkelap-kelip, bisa dilihat oleh penduduk langit sembari tersenyum dan penuh haru. Kemudian penduduk langit menangis dan meneteskan air mata, lalu terjadilah hujan yang disebut sebagai rahmat tuhan.

Bagaimanapun bintang itu, dia bisa terbakar, bisa juga tetap utuh. Dan itu yang menjadikannya manusia.

2014-04-17

Sesuatu yang Ada Dalam Diriku


Aku seperti ingin membunuh sesuatu dalam diriku sendiri. Ada sesuatu yang tertahan, ada beberapa hal yang tidak aku sukai dari diriku sendiri, yang sesuatu itu sangat menyukai diriku. Ia kebal terhadap doa, ia kebal tehadap segala puasa dan ibadah. Ia seperti diriku, yang jika aku membunuhnya, aku takut kalau akupun akan terbunuh.

Tetapi dikehidupan yang sama, aku ingin hidup di dalamnya. Memenuhi rongga nafasku dengan keinginan dan rencana, terbuai, dan mabuk, terlena, dan jatuh pada kubangan. Aku ingin jatuh sejatuh-jatuhnya, menikmati embun yang memenuhi bibirku, mencecapnya seperti ciuman perawan. Mengunyahnya seperti lemak, menggigitnya seperti serat yang keras.

Lalu aku berdiri di sebuah jalan yang panjang berliku. Hanya ada jalan dengan pinggiran ilalang, pinggirannya bisa berubah kapan saja, menjadi gunung berbatu, menjadi pepohonan lindung. Sejauh yang kupandang, yang ada hanyalah jalanan. Lelampu juga kadang berdiri beriring, bersama taman dan satu dua bangku taman yang berukir. Aku duduk, merenung, dan memandangi diriku sendiri yang berjalan-jalan dengan sesuatu yang kubenci.

Jika sudah demikian, yang kurindukan adalah pergi dari setiap apapun. Meninggalkanmu, meninggalkannya, mereka, dan setiap tetek bengek yang meringkuhi jejak langkahku. Oh tuhan, kuatkanlah hatiku pada jalan yang terpotong, jalan yang ujungnya ada dihatiku sendiri. Jalanan yang kita ciptakan memang tidak berujung, menyajikan petualangan tanpa akhir yang menerbitkan liur seperti anjing.

Berhenti dari segala keinginan, apakah itu berarti berhenti menjadi manusia? Tapi keinginan itulah cita-cita paling masyuk yang tidak teperi. Ia menyajikan janji, menyebutkan beberapa kata yang memiliki arti cinta dan rindu. Tetapi yang tertuju oleh mataku, semata-mata kesepian yang senyap, itulah rindu. Berdiri di sinar matahari yang tidak berpengaruh apapun terhadap keringat, ia hangat sekaligus dingin. Hangat matahari, dingin angin, harum humus dan pucuk dedaunan.

Tidak, tentu tidak, kadang keinginanlah yang menjadikan kita manusia. Meskipun keinginan yang besar selalu membuat bencana, tapi itulah manusia. Sosok yang selalu ingin mendekatkan diri pada kebencanaan yang besar. Aku ingin, seperti sosok yang mengalahkan rasa inginnya sendiri. Tapi apakah benar, manusia yang bisa menakhlukkan keinginannnya itu tetap bisa disebut manusia?

Tetapi jika semuanya harus sama, jika semuanya harus kubenci karena beberapa hal yang tidak masuk akal, apakah aku akan terus hidup menghadapinya? Saat ini banyak harapan yang besar, lalu kematian meraba-raba seperti saudara dekat yang berkunjung diawaktu yang tidak tepat. Duh, bagaimana bisa kuperoleh kembali diriku yang dulu.

Tunggu, apakah diriku yang dulu adalah diri yang paling baik yang kupunya? Aku adalah produk diriku di masa lalu, apa yang kulakukan waktu itu telah menciptakanku sebagaimana sekarang ini. Jika memang benar, bahwa aku tidak lagi mengerti apa yang meresahkanku, maka aku menolak kehadiranku sendiri.

Aku memang memiliki masa yang buruk, tetapi ia adalah masa terbaik selama ini hingga datang pengganti yang menyengat hatiku dengan lidahnya. Mengaitkan tubuhku pada kesempurnaan, dendam, sekaligus keinginan ingin membunuh yang mengerikan. Aku tak tahan lagi, biar kubanting setiap pintu yang mengeluarkanku dari diriku sendri. Agar aku terkurung, dalam sepi, gelap, dan benci; lalu keluar menjadi pertapa yang jengah dengan kehidupan, menerima segala rupa, mendedah segala suci, menjadi hening bersama embun pagi hari. Entah, apakah aku masih benci sesuatu dalam diriku.

2014-03-31

Dosa Sosial


“Jika pemimpin baik akan dicintai rakyatnya dan jika buruk maka dosa sosial yang akan dihasilkannya” –Gandhi (1869-1948)

Dalam amatan penulis, di Indonesia saat ini banyak sekali gerakan sosial/organisai sosial-kemasyarakatan yang bermunculan di Indonesia dengan iming-iming mengentas kemiskinan, menjangkau masyarakat yang tidak terjangkau, membuka jendela pendidikan di pelosok, dan lain sebagainya. Gerakan tersebut sudah tidak digawangi lagi oleh tokoh agama atau pekerja sosial, namun malah didirikan oleh calon politikus dan bahkan oleh politikus itu sendiri.

Untuk tidak menyebut semuanya, marilah kita melihat beberapa contoh: Ormas Nasional Demokrat didrikan oleh tokoh politik Surya Paloh yang gagal menjadi Ketua Umum Golkar lalu menjadi Parpol dengan nama yang sama. Kemudian ada organisasi sosial Barisan Indonesia (Barindo) yang meskipun tidak didirikan dengan niat politik, saat ini diketuai oleh Gita Wirjawan sebagai peserta Konvensi Partai Demokrat. Lalu ada Rumah Pergerakan Indonesia yang didirikan oleh Anas Urbaningrum bahkan ketika menjadi tersangka kasus Hambalang.

Masih ada lagi, Anies Baswedan membuat Gerakan Indonesia Mengajar dan kemudian membuat lagi yang lebih khusus dengan nama Relawan Turun Tangan. Lalu Relawan Demi Indonesia yang diprakarsai oleh Dahlan Iskan yang juga bersama-sama Anies dan Gita menjadi rival dalam Konvensi Partai Demokrat. Dan satu lagi, Pergerakan Indonesia (Perindo) yang didirikan oleh Bos MNC Group Harry Tanoesudibyo yang akhirnya menjadi Cawapres Partai Hanura.

Jika kita mau curiga, maka ke depannya, masyarakat umum akan bertambah apatis terhadap segala sesuatu yang berbau organisasi. Sebelum ini, masyarakat pada akar rumput telah muak dengan adanya parta politik dan segala macam sistem politik yang ada di Indonesia. Bahkan pemuda, jika kita melihat di kampus-kampu yang ada di kota besar di Indonesia, sudah tidak ada lagi yang mau terjun dalam organisasi politik seperti PMII yang menjadi basis partai kaum nahdliyin, IMM bagi partai berbasis muhammadiyah, GMNI yang menjadi basis PDI-P/PNI, serta organisasi ekstra kampus lainnya yang lebih banyak bermain dalam tataran politik kampus –mereka kekurangan generasi.

Bramkhacharya

Tentu saja pembaca sudah bica menebak kemana arah tujuan dari masing-masing organisasi massa (ormas) yang penulis sebut di atas. Kita sebaga masyarakat umum berhak untuk mencurigai setiap hal yang dibuat oleh politikus Indonesia, apalagi melihat track record politikus di Indonesia yang terjebak dalam lubang korupsi jauh lebih banyak daripada yang bersih.

Jika kita cermati, sesungguhnya tujuan organisasi massa/organisasi masyarakat dibentuk untuk menjadi lawan dari partai politik yang biasanya mengabaikan kepentingan masyarakat. Ormas juga didirikan sebagai bentuk kepedulian perorangan atau kelompok terhadap masyarakat yang berdasarkan prinsip-prinsip kerelaan. Antara ormas dan parpol bisa sangat berbeda karena parpol bertujuan meraup suara sebanyak-banyaknya dari masyarakat yang mungkin diberikan bantuan olehnya, sedangkan ormas sama sekali tidak mengharapkan demikian.

Pamrih inilah yang mendasari setiap kegiatan yang bersifat politis. Partai politik selalu menuntut pamrih atas apa yang dilakukannya, berbeda dengan organisasi sosial yang melakukan segala sesuatu untuk masyarakat demi kesejahteraan mereka saja. Jika orang-orang politik kemudian masuk ke dalam organisasi massa ini, maka bisa berlamat buruk dengan tidak dipercayainya lagi ormas tersebut oleh masyarakat. Lihat saja, berapa banyak orang yang kemudian mengatakan : nah benar kan apa yang saya curigai, kalau Nasdem itu akhirnya jadi kendaraan politik, dan lain sebagainya.

Inilah apa yang disebutkan oleh Gandhi[1] sebagai salah satu dari tujuh dosa sosial, yakni Politik tanpa Prinsip, Kekayaan Tanpa Bekerja, Kenikmatan Tanpa Nurani, Ilmu Pengetahuan Tanpa Kemanusiaan, Pengetahuan Tanpa Karakter, Bisnis Tanpa Moralitas, Agama Tanpa Pengorbanan. Dosa sosial ini merupakan sebuah dosa yang diciptakan oleh seseorang ataupun kelompok karena mengkhianati kepentingan publik. Politikus inilah yang seringkali menggunakan berbagai kesempatan untuk mendapatkan saranya, sehingga tidak mendasari apa yang dilakukannya dengan prinsip bramkhacharya yang juga dikenalkan oleh Gandhi.

Bramkhacharya yang dalam arti sebenarnya adalah mengendalikan hasrat seksual, yang dalam catatan harian milik Gandhi disebutkan sebagai cikal bakal segala kejahatan. Hasrat seksual inilah yang menyebabkan seorang politikus tidak lagi menghormati kesucian niatnya untuk benar-benar membantu masyarakat dimanapun ia berada, dalam keadaan apapun kondisinya. Dan bramkhacharya ini bisa ditakhlukkan dengan menolak seluruh pamrih yang hampir selalu menyertai dalam perbuatan kepada orang lain.

Mencermati ajaran Mahatma Gandhi ini, bisa kita lihat bahwa keberadaan organisasi sosial yang dibuat oleh politikus merupakan salah satu dosa sosial yang dilakukannya; jika hasrat meminta pamrih/imbalan ada di dalam setiap kegiatannya. Seorang politikus, mau tidak mau adalah public figure yang akan dilihat masyarakat secara umum setiap perbuatannya. Sekali dia berkhianat kepada masyarakatnya dengan penipuan berkedok organisasi sosial ini, maka selamanya masyarakat akan mencatatnya. Kata Nelson Mandela[2], masyarakat bisa saja memaafkannya, tapi tidak akan bisa melupakannya.


[1] Mahatma Gandhi (Jiwa Agung) : pejuang kemerdekaan India, tokoh spiritual, dan tokoh perdamaian dunia.
[2] Nelson Rolihlahla Mandela : pejuang revolusi antri apartheid, dan politisi Afrika Selatan

2014-02-21

Invisible Hand


Setiap orang memiliki masa dimana dirinya merasa bahwa kehidupannya telah berakhir. Nasib mempecundanginya seperti teman sebangku yang jahat, atau takdir membawanya kepada jalan menurun yang tidak ada harapan untuk menanjak. Dalam masa itu, tiba-tiba ada sebuah tangan-tangan gaib (invisible hands) yang mengangkatmu pelan-pelan, memberimu pegangan, memberimu kekuatan untuk bernafas lalu meredakan setiap rintangan yang membelenggu. Jika benar itu ada, maka tentunya orang tersebut tidak akan melupakan invisible hands tersebut.

Bagiku, invisible hands ini adalah lembaga pendidikan yang pertama-tama memberikan inspirasi bahwa pendidikan adalah hal yang utama. Lembaga ini, kita biasa menyebutnya dengan MA Roudlotul Mutaabbidin, yang telah membentukku sedemikian rupa, dari lempengan besi menjadi bola pingpong. Kenapa lempengan besi bisa bermetamorfosis menjadi bola pingpong?

Ketika aku masih kelas tiga (sekarang kelas XII) di Madrasah Aliyah yang bersahaja itu, aku pernah memberikan materi motivasi kepada siswa-siswi yang baru datang –MOS istilahnya. Aku memberikan gambaran bahwa menjadi manusia itu bukan hanya menjalani takdir sebagaimana mestinya, namun harus bisa merubah takdir dan berdamai dengannya, sehingga menaikkan kita kepada derajat yang tinggi. Dalam mencapai itu, aku memberikan analogi kekuatan jiwa kita dengan ranting kayu, lempengan besi, dan bola pingpong.

Jika kekuatan jiwa kita adalah ibarat ranting kayu, sedangkan takdir adalah sebuah hentakan mendadak pada ranting tersebut, maka tentu kita akan kalah. Orang yang jiwanya seperti ranting kayu, akan mudah patah jika mendapatkan tekanan. Ranting kayu tidak akan pernah tersambung lagi, sekali patah, dia akan patah selamanya. Sama dengan manusia, ada kalanya jiwa kita seperti ranting kayu kering, yang ketika ada takdir jahat mendatangi kita, jiwa kita langsung ambruk tanpa bisa bangun lagi.

Bebeda dengan ranting kayu, lempengan besi lebih mampu menghadapi setiap tekanan dengan kekuatan sempurna. Setiap hempasan palu kehidupan, dia akan menahannya terus menerus. Namun ketika tekanan semakin keras dan bertubi-tubi, akhirnya lempengan besipun akan bengkok. Begitulah jiwa manusia, jika kekuatannya sama seperti halnya lempengan besi, dia akan kuat menghadapi segala halangan dan rintangan dalam satu waktu. Itu adalah awalnya, tapi ketika rintangan tersebut semakin berat lalu berhasil menghancurkan jiwa lempengan itu, maka kita juga akan kalah.

Yang terakhir adalah prinsip bola pingpong yang seharusnya kita anut. Karena bola pingpong, semakin dia ditekan dan dilemparkan ke lantai, semakin dia terbang tinggi melampaui saat dimana dia berasal. Ada orang-orang seperti bola pingpong ini, ketika dia mendapatkan masalah, dia lalu melejitkan potensi dirinya  sehingga sang penekan sendiri tidak sanggup menyusulnya.

Bagaimanapun, aku telah mencoba menjadi bola pingpong yang ingin terbang jauh menyusuri setiap mimpi yang ada. Mimpi-mimpi yang pernah tenggelam ketika masa sekolah begitu sulit, rumit, dan seperti menghadapi jalan buntu. Lalu MA Roudlotul Mutaabbidin ini, dengan salah seorang guru yang paling getol menyengat kita bagai lebah, memberikan keyakinan-keyakinan terhadap mimpi itu –berkali-kali. Mimpi-mimpi yang memang harus diperjuangkan melalui setiap masalah dan kegelisahan, mimpi-mimpi yang memang tidak akan terwujud sebelum kita berani melangkahkan kaki lebih jauh –lebih jauh dari ketakutan kita sendiri.

Semuanya sudah jelas, jejak awal yang menjadikanku begitu memahami kehidupan ini justru ketika aku berada di sekolah swasta yang pernah mendapatkan predikat paling butut –ibarat sepatu, dia sepatu usang dengan tumit telah terbuka laksana buaya. Dianggap paling butut itu, tidak membuat kami patah semangat, justru ingin membuktikan diri bahwa kitalah yang paling hebat. Meskipun hal seperti itu tidak akan berjalan instant, kita telah memulainya.

Maka dari itu, generasi berikutnya harus terus mengucap janji bahwa lembaga kita tercinta ini akan tetap melekat hingga kita menjadi pingpong sesungguhnya. Ini bukan warisan yang menyakitkan, menjadi siswa Aliyah adalah kebahagiaan tertinggi yang bisa didapatkan oleh seorang “aku” yang datang dari pelosok desa, memeras mata dan telinga, hanya untuk belajar menjadi dewasa. Jadi, sesungguhnya, ucapan terimakasih saja tidak layak kita layangkan karena masih banyak –seharusnya- yang bisa kita sumbangkan untuk almamater ini. Namun lebih dari apapun, MA Roudotul Mutaabbidin harus tetap bisa mempertahankan dirinya sendiri –itu adalah tugas dan janji kita semua.