Saya teringat bagaimana John Keating, seorang guru bahasa
Inggris sekolah elit dalam Dead Poet Society, mengajarkan siswanya untuk
membaca puisi. Bayangkan, sebuah puisi, yang dalam masyarakat modern akan
dicemooh sebagai karya imajinasi paling tidak berguna di dunia ini. Saya kutip bagaimana
ia mengatakan soal puisi ini:
“We don't read and write poetry because it's cute. We read and write poetry because we are members of the human race. And the human race is filled with passion. And medicine, law, business, engineering, these are noble pursuits and necessary to sustain life. But poetry, beauty, romance, love, these are what we stay alive for,"
Kutipan itu bukan sekadar pujian untuk puisi dan kesenian
–dua hal yang mulai hilang dalam kehidupan sosial kita. Ini sebagai pengingat
bahwa hidup manusia tidak hanya ditopang oleh hal-hal yang membuat kita
“bertahan hidup,” tetapi oleh hal-hal yang membuat hidup “layak dijalani.”
Keating menempatkan STEM seperti kedokteran, hukum, teknik, sebagai fondasi
biologis dan struktural masyarakat. Tapi puisi, gagasan, refleksi diri, dan
imajinasi —yang merupakan inti dari sosial-humaniora adalah ruang di mana manusia
menemukan arah, nilai, dan makna keberadaannya. Tanpa itu semua, kemajuan hanya
akan melahirkan masyarakat yang sibuk, cepat, dan efisien, tetapi kehilangan
inti kemanusiaannya sendiri.
Dan justru karena gagasan semacam ini mengandung daya kritis
yang dalam, kita bisa memahami mengapa beberapa tahun terakhir lembaga donor
dan penyandang dana internasional, termasuk program prestisius kita LPDP, lebih
banyak mengalirkan dananya ke bidang STEM. Pemerintah menyebut prioritas ini
sebagai “kebutuhan strategis negara.” Tetapi siapa yang mendefinisikan
“strategis”? Jika strategis hanya berarti peningkatan ekonomi (-ekonominya
siapa?), maka negara sedang membangun masa depan dengan kacamata sangat sempit.
Kita lupa bahwa persoalan bangsa seperti korupsi, birokrasi lamban, media yang
bias, ketimpangan dan ketidaksetaraan, adalah persoalan yang tak mungkin
disembuhkan oleh teknologi.
Kenapa negara lebih memilih STEM? STEM lebih “terukur.” STEM
memiliki output jelas, ada kompetensi yang langsung terserap industri, dan
secara politik, bidang ini relatif aman. Tidak ada risiko mahasiswa pulang
dengan pertanyaan-pertanyaan kritis tentang kuasa, struktur sosial, atau
ketidakadilan politik. Sementara itu, mahasiswa sosial-humaniora yang
seharusnya bertugas mengajukan pertanyaan paling penting ini malah sering
dipinggirkan. Saya ingin bilang dengan clear meskipun tidak banyak dipahami
oleh professor yang menjadi Menteri atau Dirjen Kementrian Pendidikan:
keberhasilan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan kecanggihan teknologinya,
tetapi juga kedalaman cara berpikir masyarakatnya.
Pada STEM Modernisme Bernaung
Tentu, tidak ada yang menyangkal bahwa STEM membawa
keuntungan besar. Dunia kerja membutuhkan insinyur, programmer, ahli
bioteknologi, analis data, dan berbagai profesi baru yang terus muncul. Negara
ingin memasuki persaingan global, dan STEM adalah jalur tercepat untuk itu.
Setiap teknologi baru dipandang sebagai solusi dari berbagai persoalan:
kemacetan dianggap selesai dengan aplikasi transportasi, korupsi diatasi dengan
digitalisasi layanan tanpa membenahi mental aparat, dan hoaks dilawan dengan
algoritma otomatis seolah masalahnya bukan pada literasi publik yang lemah.
Di mata pemerintah, inilah investasi mudah dijual sebagai
bukti kemajuan. Namun di balik semangat itu, kita sebenarnya sedang menyerap
logika modernisme: keyakinan bahwa kehidupan sosial dapat diselesaikan melalui
standarisasi teknis. Bahwa masalah manusia adalah soal efisiensi, bukan
pemaknaan. STEM membuat robot-robot baru berupa manusia yang bekerja tanpa
mempertanyakan pekerjaannya, hanya ada pekerjaan selesai, efektif, efisien,
menerima gaji, hidup kaya dan bahagia – bahagia yang semu.
Keunggulan STEM juga tampak dari struktur pendanaan
pemerintah kita pada bidang penelitian. Pendanaan riset di Indonesia cenderung
memberikan hibah penelitian untuk proyek-proyek yang memiliki korelasi aman
dengan politik: energi hijau, teknologi pangan, kecerdasan buatan, atau
kesehatan digital. Ketimpangan ini semakin diperparah oleh kebijakan nasional
yang menilai hampir semua proposal riset dengan standar Tingkat Kesiapan
Teknologi (TKT). Padahal, TKT adalah alat seleksi teknologis buatan NASA untuk
menilai kelayakan vendor—bukan instrumen yang dapat menangkap kedalaman
analitis riset sosial-humaniora (SSH). Namun, di Indonesia, TKT masih dijadikan
salah satu ukuran keberhasilan riset, sehingga SSH dipaksa mengikuti logika
yang bukan miliknya.
Akibatnya, penelitian SSH yang sifatnya analitis, semisal
analisis isi media atau studi etnografi, sering dinilai “kurang matang” hanya
karena tidak menghasilkan prototipe, alat, model teknologi, yang merujuk ke
skala TKT itu. Ketimpangan ini juga muncul dalam laporan penggunaan anggaran:
penelitian SSH yang sebagian besar dialokasikan untuk membaca dan buku,
perjalanan lapangan, transkripsi, waktu berpikir yang panjang dan mendalam,
justru kesulitan menyerap anggaran ratusan juta karena tidak ada alat lab yang
dibeli. Dan ketika anggaran tidak terserap, kesimpulan yang muncul bukan “laporan
SSH tidak cocok dengan format pendanaan STEM”, tetapi “SSH tidak bekerja
maksimal karena tidak mampu menyerap anggaran.” Dengan demikian, seluruh
mekanisme pendanaan, mulai dari instrumen evaluasi, cara pelaporan, hingga
logika output, secara struktural lebih mendukung STEM, sementara SSH harus
menyesuaikan diri pada kerangka yang tidak pernah dirancang untuknya.
Pola-pola ini memperlihatkan bias modernism dalam sistem
pemerintahan kita: riset dihargai sejauh ia menghasilkan produk, paten, atau
alat yang dapat diukur dampaknya. Pengetahuan yang tidak menghasilkan “output
teknis” dianggap kurang berguna. Dalam logika modernisme, semua itu mempesona
karena dapat distandarkan. Tetapi di balik keteraturan itu, ada bahaya besar:
hilangnya kapasitas untuk bertanya, meragukan, dan mengkritik. “Apa gunanya
teori?” “apa gunanya membaca novel dan puisi?” atau “untuk apa kajian media
massa dan agama?” adalah pertanyaan khas masyarakat teknokratis yang terjebak
dalam rasionalitas instrumental – menganggap segala sesuatu bernilai jika
efektif, efisien, dan menghasilkan keuntungan.
Dengan logika ini maka STEM menjadi sekutu ideal bagi
kekuasaan yang ingin memastikan masyarakat berjalan rapi seperti mesin. Tetapi
justru karena itu kita perlu waspada. Ketika satu cara berpikir terlalu
dominan, maka cara-cara memahami manusia yang tidak dapat distandarkan perlahan
hilang. Nilai, seni, etika, imajinasi, semua dianggap “tidak produktif”. Pada
titik itulah modernisme berubah dari sarana kemajuan menjadi instrumen kontrol;
dan masyarakat kehilangan ruh kemanusiaannya.
Dan pola itu terus berulang hingga hari ini: Indonesia
membangun sistem digital canggih, tetapi warganya makin mudah dimanipulasi;
negara menggembar-gemborkan AI, tetapi kedisiplinan publik dan budaya
bekerjanya stagnan; universitas memajang robot, tetapi gagal melahirkan
warganya yang kritis. Bagi negara berkembang yang manusianya masih belum banyak
berpendidikan tinggi yang kritis seperti kita, pesan ini diterima begitu saja,
seakan-akan kemajuan hanya datang dari mesin baru, bukan dari transformasi
kebudayaan dan penghayatan dalam nilai kemanusiaan.
SSH Menggonggongi Kekuasaan
Berbeda dari STEM yang cenderung jinak di hadapan kekuasaan,
sosial-humaniora sering dianggap berisik. Mahasiswanya bertanya “mengapa,”
bukan hanya “bagaimana.” Mereka mempertanyakan kebijakan, menelusuri motif
kekuasaan, dan menganalisis struktur yang sering ingin disembunyikan negara.
Dalam konteks politik yang sensitif, suara-suara seperti ini dianggap mengancam
stabilitas. Maka tidak heran apabila riset SSH jarang masuk prioritas
pendanaan, karena terlalu mudah membawa publik pada pertanyaan-pertanyaan yang
tidak nyaman. Padahal, negara yang sehat justru membutuhkan pikiran kritis
untuk mencegah kesalahan yang sama terus berulang.
Di Indonesia, kita memiliki banyak profesor dan doktor
sosial-humaniora, tetapi pengetahuan mereka jarang diwujudkan dalam kebijakan
publik. Lihatlah bagaimana administrasi pengurusan KTP dan SIM tetap rumit dan
berbelit, yang sengaja dirancang begitu agar warga menyoogok petugas. Dalam
logika kekuasaan, kerumitan adalah alat kontrol. Birokrasi yang transparan akan
mempersulit praktik korupsi dan nepotisme, maka ia sengaja dibiarkan kusut.
Konteks serupa terlihat dalam ekonomi: ribuan sarjana ekonomi dihasilkan setiap
tahun, tetapi koperasi sebagai soko guru ekonomi Indonesia justru terpuruk.
Ekonomi yang terkonsentrasi pada segelintir konglomerat jauh lebih mudah
dikendalikan kekuasaan dibanding ekonomi rakyat yang merata. Ilmu ekonomi di
kampus berjalan, tetapi arah ekonomi politiknya dikunci oleh kepentingan elite.
Di ranah media, ironi itu semakin gamblang. Jurusan
komunikasi dan jurnalistik meluluskan ribuan mahasiswa setiap tahun, tetapi
kualitas media justru jatuh dalam kubangan sensasi, hoaks, dan pemberitaan
murahan yang menonjolkan konflik tanpa kedalaman investigasi. Bukan karena
akademisinya tak mampu, bukan karena jurnalisnya tumpul nalarnya, melainkan
karena ruang redaksi dikendalikan oleh pemilik modal yang bersekongkol dengan
kekuasaan. Jurnalisme investigatif dibungkam bukan melalui sensor langsung,
tetapi melalui logika rating, ancaman finansial, dan tekanan halus. Banyak
jurnalis idealis akhirnya memilih antara “tunduk atau hengkang,” dan ini adalah
kekalahan kolektif rakyat Indonesia. Lebih aneh lagi, jika ada jurnalis dan
akademisi yang kritis pada kekuasaan, masyarakat malah menuduh mereka sebagai
golongan sakit hati yang kalah pemilihan.
Puncak dari seluruh kekacauan ini adalah pembungkaman
terhadap tradisi pemikiran kiri yang telah terjadi puluhan tahun lalu. Sejarah
Orde Baru mengajarkan bagaimana seluruh perspektif kritis dibasmi
habis-habisan. Trauma itu masih hidup hingga hari ini, menjalari setiap warga
yang apatis dan aparat yang tidak populis. Kita kehilangan pisau analisis
paling tajam untuk membaca ketimpangan, relasi modal-kekuasaan, dan struktur
korupsi yang mengakar. Akibatnya, ketika kita membahas korupsi, kita hanya
mengejar “oknum,” bukan sistem yang melahirkan peluang korupsi. Ketika membahas
ketimpangan, kita hanya mengukur angka, bukan relasi kuasa. Tanpa tradisi
kritis, bangsa ini seperti dokter yang takut menyentuh penyakit pasien; hanya
memberi vitamin, tidak pernah melakukan operasi.
Karena itu, banyak riset sosial-humaniora berbenturan dengan
kepentingan politik. Penelitian tentang ketimpangan bisa menyinggung korporasi
besar; penelitian tentang media bisa membongkar kolusi pemilik modal;
penelitian kebijakan publik dapat memperlihatkan kegagalan pemerintah.
Akibatnya, akademisi terjebak antara kebutuhan untuk kritis dan risiko
dibungkam. Banyak dari mereka akhirnya memilih topik “aman” agar dapat terus
memperoleh hibah, beasiswa, atau akses penelitian. Dalam lanskap seperti ini, negara
tidak perlu mengeluarkan statemen “jangan kritis”, cukup dengan berkata “masa
depan ada di STEM,” “STEM adalah jalan keluar dari kemiskinan”, dan masyarakat
akan mengikuti demi jaminan beasiswa, pekerjaan, dan status sosial di kemudian
hari.
Dampak jangka panjang dari melemahnya SSH jauh lebih serius.
Ketika disiplin ini dikesampingkan, kita kehilangan generasi pemikir yang mampu
menyusun arah bangsa, membangun etika publik, mengawasi kekuasaan, dan
merumuskan visi jangka panjang yang manusiawi. Kita bisa saja memiliki ribuan
insinyur, programmer, ahli AI, tetapi hanya sedikit yang mampu menjawab
pertanyaan mendasar: untuk siapa teknologi dibangun? Kepentingan siapa yang
dilayani? Keadilan macam apa yang ingin kita tegakkan? Masa depan bangsa tidak
ditentukan oleh kecanggihan mesin semata, tetapi oleh kemampuan kita memahami
manusia dan merancang kehidupan bersama yang terbuka dan adil.
Dan di sinilah akar persoalan kita hari ini. Bukan pada
dualisme STEM–SSH, tetapi pada keengganan kekuasaan menata fondasi sosialnya.
Para pemegang kuasa nyaman dengan masyarakat yang tidak kritis, birokrasi yang
ruwet, media yang patuh, dan warga yang sibuk mengejar sensasi. Saya tidak
menolak STEM. Yang saya tolak adalah pembangunan teknologi di atas tanah yang
korup. Saya menolak agenda-agenda yang tampak mencengangkan dan bersinar di
masa depan tapi yang sesungguhnya yang terjadi adalah politisi berternak cara
membangun kekayaan diri sendiri. Saya menolak mereka membangun wacana STEM vs
SSH sehingga kekuasaan mereka terasa mutlak dan tidak akan pernah digugat oleh
rakyatnya.
Tulisan ini telah terbit di kumparan:



0 comments:
Posting Komentar
semoga artikel ini berniat baik pada pembaca, komentar pembaca akan membangun blog ini.