Skip to main content

Gunung Penanggungan



Kami melakukan perjalanan dengan penuh keyakinan di suatu Sabtu. Tentu setelah browsing tentang jalur pendakian, estimasi waktu, dan biaya ditambah sedikit drama karena ketidaktepatan janji. Mata menyala, otot menguat, dan teriakan seperti remaja kota, kami seakan hendak mencari sebuah kebijaksanaan yang berada di puncak gunung; barangkat dari sana kami akan menjadi resi yang sakti mandraguna.

Tetapi sebuah perjalanan sakral sekalipun akan terkotori dengan pertanyaan-pertanyaan profan. Misalnya, untuk apa sebenarnya kita naik gunung? Atau dengan siapa kita harus naik gunung? Dengan pacar atau teman? Itu pertanyaan remeh yang harusnya tidak usah ditanyakan karena malah membuat perjalanan sangat duniawi. Kami sepakat untuk tidak yakin dengan jawaban klise semacam; naik gunung untuk mencari jati diri, atau naik gunung untuk belajar tentang kehidupan.

Karena itu, tanpa perhitungan yang matang, 10 bungkus mie instan kami masukkan ke tas carrier yang penuh dengan baju hangat. Hitung-hitungan dimulai, di mana beras harus diletakkan, dan kompor, dan nesting, dan tenda, juga matras, harus ditenggelamkan ke tasnya siapa. Semua harap-harap cemas agar tidak kebagian barang banyak dan berat. Di situlah seni menata isi tas carrier, juga seni berjalan bareng. Semua ingin enteng, semua ingin menuju puncak dengan beban ditanggungkan ke pundak kawannya.



Dari pengetahuan di internet, kami menjadi tahu bahwa di Gunung Penanggungan ada satu jalur khusus yang sepanjang menuju puncak terdapat candi-candi peninggalan jemaat hindu-budha; namanya Jalur Jolotundo. Namanya juga khas dan angker, tidak seperti jalur pendakian lewat Tamiajeng yang ramai. Tetapi google rupanya menyesatkan kami, karena setibanya kami di sana, bukan Jalur Jolotundo yang kami jejak, malah jalur yang baru dibuka; yaitu melalui Desa Ngurirejo.



Tapi rejeki tidak jauh juga tampaknya, karena di jalur ini terdapat 6 candi yang dapat membuat foto selfie kita jempolan hingga membuat sebal haters. Dengan ragu-ragu, sekitar pukul 15.00 WIB kami mulai menanjak pelan. Saya sebagai slow climber garis keras harus berkali-kali berhenti untuk mencari nafas. Maklum!. Sementara remaja lainnya yang bareng dalam pendakian, penuh semangat dan bergegas seakan hendak mengejar matahari yang mulai meredup. Kuteriaki mereka dan kuminta untuk pelan-pelan, tapi mereka tetap kencang di depan.

Pos Pendaftaran - Pos 2

Perjalanan dari pos pendaftaran menuju pos 2 cenderung menanjak santai. Di sinilah harusnya saya mulai beradaptasi. Karena otot pegawai memang terbuat dari agar-agar sehingga musti banyak penyesuaian. Karena itu, baru 15 menit kemudian kami sampai di Pos 2 -yang bangunannya berupa gubuk tanpa dinding. Kalau pendaki pro, menuju pos 2 tidak akan berkeringat, dan mungkin hanya memakan waktu 5 menit.


Oya, pos pendaftaran ini tampaknya tidak resmi karena uang yang kami berikan tidak berbalas kwitansi atau tiket apapun. Hanya ada list nama asal-asalan, peta yang habis sehingga harus diambilkan ke desa, dan air yang mengalir semacam kencing batu. Sempat khawatir karena sepeda motor rentalan kami harus ditaruh di sana selama 2 hari. Tetapi tawakal kami kepada Allah semesta alam, maka hati kami kuatkan. Kami pasrahkan sepeda motor itu kepada penduduk desa tanpa jaminan apapun.

Pos 2 - Candi Carik

Kami hampir putus asa dan merasa salah jalan karena tidak bertemu Candi Carik hingga 2 jam. Menurut perkiraan kami yang asal-asalan, harusnya kami sampai di Candi Carik sekitar setengah jam. Karena itulah kami ragu dan akhirnya, tepat sebelum magrib kami berbahagia karena bertemu candi. Kami langsung melakukan ritual foto-foto dibarengi dengan semangat 45 karena merasa jalurnya sudah benar.


Carik, dalam terminologi Jawa, adalah sekretaris desa yang bertugas mengurusi seluruh administrasi -sering juga mengurusi segala macam persoalan- yang ada di kampung. Tapi untuk arti dari Candi Carik sendiri saya tidak tahu menahu. Candi ini bentuknya menggunung ke atas dengan sekitar 20 undakan. Kami tidak berhenti lama karena matahari mengejar di belakang. Tas segera kami panggul, bergerak menuju ketinggian.



Candi Carik - Candi Lurah

Perjalanan menuju Candi Lurah tidak begitu mengesalkan karena hanya dalam waktu 10 menit kita sudah sampai. Itu membuat kami takjub dan sangat bersemangat. Tapi malam sudah menjelang sehingga foto-foto tidak berguna. Kami hanya istirahat secukupnya lalu kembali melanjutkan perjalanan. Perjalanan malam memang lebih aman bagi pendaki. Karena suasana yang temaram, hawa dingin, dan julang pegunungan tidak kelihatan, perjalanan menjadi lebih mudah.


Candi Lurah - Candi Siwa

Menuju ke Candi Siwa tidak begitu berat karena jalanan agak landai. Hanya membutuhkan 10 menit untuk sampai Siwa. Bonusnya gunung penanggungan memang ada beberapa, salah satunya menuju Candi Siwa. Tetapi candi ini letaknya di bawah jalan sehingga tidak akan kelihatan ketika malam. Sehingga ketika mau ke Candi Siwa kita harus turun sedikit. Dengan beberapa pertimbangan kami akhirnya hanya istirahat sebentar lalu melanjutkan perjalanan tanpa mampir ke Candi Siwa.


Candi Siwa - Candi Wisnu - Candi Guru

Dua candi terakhir ini berada di ketinggian yang lumayan sehingga beban berat akan semakin kerasa. Dalam peta yang diberi oleh petugas di Pos 1 nama candi Wisnu tidak ada sehingga membuat kita pusing. Kami ragu untuk melanjutkan perjalanan karena begitu tersesat di pegunungan, jalan kembali tidak akan mudah ditemukan. Jika tersesat di hutan atau gunung, maka kembalilah ke bawah, bukannya terus melanjutkan perjalanan. Keyakinan ini pula yang membuat kami bingung.


Lalu kami bersepakat untuk terus maju dengan perasaan was-was. Kami berjanji akan kembali jika perjalanan buntu. Jadi, selama jalan setapak masih kelihatan jelas, kami yakin itulah jalan yang benar menuju ke puncak. 20 menit perjalanan yang meragukan itu akhirnya berhenti di Candi Guru. Ini menunjukkan bahwa jalan kami benar karena sesuai dengan peta. Lumayan melegakan untuk meneguk air botol yang kami bawa bersama.

Candi Guru - Gua Butol

Setelah kami melewati Candi Guru, semak semakin tebal dan savana tampaknya sudah terlihat di beberapa tempat. Perjalanan kami teruskan sampai kembali bertanya-tanya dimana Gu Butol yang ada dalam peta. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 2 jam sehingga pikiran semakin kalut. Kami meyakini harusnya Gua Butol tidak jauh. Waktu itu di Kota Malang seringkali suhu menunjukkan angka 15 derajat sehingga sangat dingin. Di perjalanan malam ini, kami juga merasakan hal yang sama, dingin sangat terasa menembus jaket dan kaos yang kami pakai.


Kami akhirnya berhenti di suatu tanah lapang yang tidak cukup untuk dua tenda. Kami ragu mau melanjutkan. Dua orang yang masih setrong mencoba mendaki lagi untuk mendapatkan petunjuk. Tapi mereka turun lagi setelah mendapati beberapa pepohonan yang muncul tiba-tiba. Agak ambigu karena di sekeliling hanya ada ilalang. Beberapa dari kami memutuskan untuk membuat camp di tempat ini karena melanjutkan perjalanan tampaknya berbahaya.

Setelah hampir setengah jam mendekap tubuh yang kedinginan, dari bawah ada senter dari pendaki lain yang berkilat-kilat. Kami teriak, mereka teriak. Semakin lama kami semakin yakin bahwa mereka sedang menuju ke arah kami. Dengan keyakinan itu, berarti jalan ini jalan yang benar. Dengan semangat tinggal separuh, kami memutuskan melanjutkan perjalanan. 15 menit kemudian kami sampai di wilayah pepohonan yang rapat.

Wilayah ini agak menyenangkan karena banyak pohon untuk dipakai pegangan. Istirahat juga bisa bersandar ke pepohonan. Perjalanan berlanjut dengan nafas yang memburu karena tanjakan semakin sadis. Kami saling membantu untuk mendaki karena beberapa tanjakan cenderung curam. Setelah 30 menit, teman yang berjalan duluan berteriak kalau ada gua gelap di bebatuan. Kami yang di bawah bersemangat lalu berhamburan sampai tiba di depan gua.

Gua Butol

Goa ini bisa menampung sekitar 3 tenda ukuran sedang. Malam itu dingin sekali. Jadi beruntung kami bermalam di gua sehingga tidak seberapa dingin, bahkan cenderung hangat. Kami membawa lontong dari Pasar Landungsari sehingga tidak perlu memasak nasi malam itu. Keuntungan membawa lontong ini juga bisa menghemat air, karena tidak perlu bersihkan beras, dan memasak beras dengan air yang lumayan.


Tetapi memakan lontong saja tidak menarik jadi kami tetap masak mie instan sebagai penambah rasa. Hmm...nyam nyam. Kaki yang menegang sepanjang perjalanan akhirnya bisa istirahat dengan leluasa. Kami seduh kopi dan minum pelan-pelan sambil menikmati suasana di atas pegunungan. Kondisi istirahat semacam ini akan sangat dirindukan ketika sudah turun. Hingga larut kemudian, lampu tenda meredup karena kehabisan baterai. Kami tidur lelap hingga jam 04.00 WIB alarm berbunyi.

Gua Butol - Puncak

Perjalanan di pagi hari merupakan perjalanan yang paling malas. Bagaimana tidak, enak-enak tidur harus bangun dengan mata terbuka lebar. Bukan hanya bangun, tetapi harus melakukan perjalanan menuju puncak yang tanjakannya cukup untuk membuat nyari menciut. Tetapi apapun kondisinya, kalau kepalang tanggung sudah di sana ya akan tetap dilakukan. Bagaimana lagi.


Dua botol air kami siapkan di satu tas yang di bawa satu orang. Kami mendaki dengan semangat baru karena ada beberapa perempuan yang juga bersemangat di depan. Seolah-oleh kita tidak mau kalah dengan mereka. Pendakian menuju puncak sangat berbeda karena tiba-tiba banyak orang yang sekarang menuju ke titik yang sama. Lampu senter berkilau dari bawah, atas, dan segala arah. Mengherankan karena kemarin tak satupun orang kami. temui.

Dalam waktu 40 menit perjalanan kami ternyata sudah sampai puncak. Jam 5 yang masih terlalu dini, tetapi di puncak sudah penuh orang. Beberapa tenda juga terpasang di sana. Rupanya mereka menginap di puncak gunung, wow, pasti dingin dan berangin. Camp di puncak gunung sebenarnya tidak disarankan karena langsung beratapkan langit dan tidak ada apapun yang bisa menghalau angin.

Matahari muncul pukul 05.30 pelan-pelan. Tiba-tiba puncak gunung penanggungan seperti pasar dadakan yang ramai dan bergerombol di mana-mana. Naik gunung sekarang bukan aktivitas eksklusif lagi, tetapi sudah menjadi kegiatan populer sebagaimana ke pantai atau pusat wisata lainnya. Kamera bersiap, orang memperebutkan monent matahari terbit di setiap bagian gunung. Penuh sesak dan menggemaskan.

Kami juga bagian dari budaya populer tersebut. Foto-foto di setiap moment, lalu jengah dan duduk saja sambil ngobrol. Sekitar satu setengah jam kemudian kami turun dari puncak menuju Gua Botol. Turun dari puncak cukup cepat karena hanya 15 menit saja. Saya yang masuk Gua Butol duluan langsung menyiapkan makanan; nasi, mie instan, tempe goreng, dan sarden. Teman-teman yang datang belakangan packing sekadarnya, lalu makan bersama sebelum benar-benar turun gunung.

Setelah semuanya merasa siap, kami packing dengan cepat, memastikan semua api telah padam, memastikan semua sampah telah terangkut ke dalam tas, lalu turun dengan cita-cita makan mie ayam beserta es teh lengkap dengan gorengan dan tambahan nasi pecel.

Comments

About Me

My photo
Fathul Qorib
Lamongan, Jawa Timur, Indonesia
pada mulanya, aku adalah seorang yang cerdas sehingga aku ingin mengubah dunia. lalu aku menjadi lebih bijaksana, kemudian aku mengubah diriku sendiri.