Skip to main content

Kekeliruan Penelitian Teks Media


Penelitian sosial adalah aktivitas ilmiah yang didalamnya terdapat beberapa syarat utama: logis, empiris, dan universal. Sebuah penelitian harus menerapkan dasar keilmiahannya sehingga dapat dipercaya sebagai suatu kebenaran ‘subyektif’. Kenapa subyektif? Karena penelitian memiliki batas permasalahan, baik itu kajian, teori, metode, tempat, hingga waktu. Seluruh penelitian akan dipandang memiliki hasil yang berbeda jika ditempatkan dalam konteks yang berbeda pula.

Dalam keilmuan komunikasi, banyak sekali kajian yang menjadi obyek penelitian, misalnya psikologi, kelompok, politik, opini publik, gender, perilaku, hingga cultural studies. Mereka semua memiliki kekhasan tersendiri yang kadang unik, dan kadang dicampuradukkan dengan metode yang tidak cocok. Namun semuanya menjadi sah jika melihat tidak ada yang benar-benar benar di Indonesia. Jadi kita akan memakluminya sampai masing-masing dari kita paham bahwa kebodohan manusia tidak ada batasnya (menurut Einstein).

Salah satu penelitian komunikasi yang dilakukan sejak tahun 1910 oleh Max Weber adalah tentang media massa. Penelitian ini juga membawa beberapa nama tokoh besar: John Dewey, Robert E Park, Paul F Lazarfeld, Kurt Lewin, dan Carl Hovland, atau di abad-abad lebih baru seperti Marshall McLuhan dan Jurgen Habermas. Mereka semua meneliti media massa sejak percaya dengan ‘the bullet/the hypodermic needle theory; spiral of silence; hingga penyanggahan-penyanggahan yang terus berulang sampai munculnya filsafat modern.

Sejarah panjang ini akhirnya berujung juga di Indonesia dengan banyaknya penelitian media massa. Jika kita mengesampingkan kualitas penelitian, maka seharusnya setiap tahun ada ribuan kalau tidak jutaan, mahasiswa semester akhir yang menulis skripsi. Kebanyakan mereka tentu saja memodifikasi dari penelitian orang lain, meskipun dengan percaya diri memasukkan ‘penelitian terdahulu’ agar terkesan mereka tidak menyontek.

Hal yang menjadi keresahan saya adalah banyak penelitian komunikasi yang hanya menyimpulkan teks-teks dalam suatu kategori yang meyakinkan. Analisis yang sering digunakan dalam penelitian semacam ini adalah semiotik, framing, wacana kritis, hingga analisis isi. Mereka meneliti teks tanpa mempedulikan kebenarannya sama sekali. Seakan-akan, hasil penelitian ini dapat menuding suatu kebijakan media tidak populis, memihak kapital, atau media tidak independen. Penelitian ini benar dalam konteks kebenarannya berdasarkan metode mekanik, tetapi tidak cukup untuk menggambarkan kenyataan yang sesungguhnya.

Tapi memangnya kenyataan itu apa? Apakah segala sesuatu yang kita lihat sekarang nyata? Banyak sekali keraguan jika kita mengetahui segalanya. Bagaimana, misalnya, jika bumi tidak bulat? Atau ternyata memang bumi itu bulat? Atau mereka ini hanyalah pantulan dari dunia ide yang ada di kepala kita masing-masing? Apakah kebenaran itu obyektif atau hanya berupa ilusi di dalam kepala setiap orang? Apakah ada kebenaran universal? dan lain sebagainya.

Penelitian yang kita lakukan harus menunjukkan kenyataan yang sesungguhnya. Itu adalah suatu keniscayaan. Jangan sampai penelitian yang mengartasnamakan dunia ilmiah ternyata menyajikan kebenaran sepotong yang digunakan untuk menentukan/menjustifikasi nasib orang banyak. Penelitian-penelitian teks di Indonesia sering tidak memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan agar bisa dijadikan rujukan pemikiran yang matang. Kita sering tergesa-gesa untuk ‘terpaksa’ menyelesaikan kajian terhadap suatu objek karena alasan yang subyektif. Seperti dana yang terlalu sedikit, tenaga kurang, data sulit didapatkan, atau alasan agar cepat wisuda (bagi skripsi) dan cepat naik pangkat (bagi penelitian dosen).

Khusus kajian semiotik, saat ini banyak sekali dosen yang melarang mahasiswanya meneliti menggunakan metode dan atau teori tentang tanda itu. Alasannya simpel: bahwa semiotik terlalu mudah sehingga mahasiswa menggampangkan penelitian menggunakan analisa tersebut. Tentu saja ini alasan yang keliru. Pertama, semiotik bukan kajian gampangan yang bisa dikerjakan sambil lalu. Meskipun banyak mahasiswa pengguna teori ini yang dengan mudah (baca : menyepelekan) menyelesaikan skripsinya tidak bisa menjadi dasar bahwa semiotik itu ilmu gampangan.

Kedua, semiotik bukan sekadar menebak tanda yang arbiter (acak) dengan pengetahuan pas-pasan ala mahasiswa malas mikir. Untuk mengkaji tanda di dunia teks media atau video dibutuhkan pemahaman tentang relasi-relasi kenyataan yang ada di kehidupan sehari-hari. Semiotik tidak mengkaji sesuatu yang jauh dari kehidupan manusia, ia mengkaji bagaimana kita merasa bahagia mandi dengan sampo lidah buaya, atau bagaimana sesosok gadis lebih memilih mawar dan puisi dibanding kekayaan –yang nyatanya masih banyak gadis macam ini.

Tapi sekali lagi, bukan berarti kajian mengenai sesuatu yang sepele di sekitar kita bisa dilakukan dengan bercanda. Lagi pula, banyak mahasiswa dan dosen pembimbingnya yang menjengkelkan, hanya mampu menganalisis makna tanda di tatanan konotatif bagi semiotika Barthes. Tidak ada penelitian yang bisa sampai pada mitos. Kendalanya tentu ada, bisa jadi karena memang tidak serius untuk penelitian semiotik, bisa juga karena tidak memahami betul bagaimana mitos itu. Dalam hal apapun, kita mestinya disiplin untuk belajar sehingga hasil penelitiannya akan betulbetul berharga.

Sebagai bahan eyel-eyelan, semiotika bisa digunakan menganalisis bagaimana seorang dokter menggunakan tanda-tanda tertentu pada pasien (symptom) untuk menengarai diagnosis atas suatu penyakit dan obatnya. Semiotika juga bisa dipakai Ilmu Ekonomi untuk menjelaskan tanda-tanda pasar yang memengaruhi harga komoditi, dan dalam skala lebih luas bisa digunakan menentukan negara yang dapat ditanami investasi. Demikian pula di bidang pertanian, kimia, biologi, dan lain sebagainya. Semiotika yang pada dasarnya digunakan untuk mengkaji bahasa, kini berkembang menjadi kajian sosial.

Sebagaimana semiotika, kajian framing dan analisis wacana juga jeblok pemikirannya dalam penelitian di Indonesia. Buku yang selalu digunakan adalah milik Eriyanto, yang memang sangat berguna untuk memahami bagaimana analisis framing dan wacana bisa digunakan membedah realitas semu media massa. Tetapi pelaksanaannya, kajian ini berhenti hanya pada teks dan melupakan kerangka sosial yang membangun teks itu sendiri. Analisis teks media ini tidak bermual dan berakhir pada bagaimana pilihan kosakata, susunan pemberitaan, tebal dan besarnya judul, induk-anak kalimat, lebih dari itu adalah kognisi sosial yang menggerakkan seorang wartawan atau editor membungkus pilihannya pada bangunan beritanya.

Persis di situlah masalahnya. Karena framing dan wacana itu berhubungan langsung dengan konteks sosial, maka penelitian ini berhenti sebatas di analisis teks yang bisa dikatakan ‘parsial’. Analisis-analisis teks ini membuat semua redaksi media massa cacat ideologi karena lebih mengutamakan capital dibanding kebenaran. Sebatas pengalaman saya jadi wartawan, kami tidak pernah rapat redaksi kemudian memutuskan akan memihak suatu ideologi membabi buta. Jika berita yang kita buat kemudian dianalisis dengan tanpa mempertanyakan alasan-alasannya pada wartawan, maka saya ragu bahwa penelitian itu dapat dipercaya.

Ke depan, penelitian-penelitian teks harus lebih diperhatikan. Pertimbangannya, banyak dosen yang memanfaatkan skripsi mahasiswa untuk dijadikan jurnal sebagai salah satu nilai untuk kepangkatannya. Jadi, mengapa si dosen tidak memberlakukan penelitian yang ketat kepada mahasiswa tersebut? Padahal kualitas skripsi akan menentukan kualirtas jurnalnya, sekaligus mengantarkan pada kredibilitas sang dosen sebagai dosen pembimbing maupun penulis kedua jurnal itu. Itu adalah pertimbangan teknis yang memalukan. Tetapi ada pertimbangan yang lebih akademis dan teoritis, yakni dalam rangka mengembangkan keilmuan. Maka seriuslah membimbing mahasiswa yang punya potensi untuk mengerjakan skripsi dengan metode analisis teks yang baik.

Comments

Popular posts from this blog

Ebook Di Bawah Bendera Revolusi Gratis

Buku berjudul "Dibawah Bendera Revolusi" merupakan buah ide, pikiran dan karangan yang ditulis langsung oleh Sukarno dimasa pra kemerdekaan baik di pengasingan atau penjara dan setelah kemerdekaan. Buku ini diterbitkan tahun 1964. Ini adalah sekapur sirih yang dikutip dari buku Di Bawah Bendera Revolusi oleh Ir. Soekarno.
"Buku “DIBAWAH BENDERA REVOLUSI” ini dipersembahkan kepada rakjat Indonesia dengan maksud djanganlah hendaknja hanja sekedar untuk penghias lemari buku, akan tetapi dengan penuh tjinta dan sadar mempeladjarinja setjara ilmiah betapa pasangsurutnja pergerakan kemerdekaan dizaman pendjadjahan.

Persatuan bangsa,--persatuan antara golongan-golongan Nasional, Agama, dan Marxis, atau lebih terkenal dengan istilah NASAKOM sekarang ini, pada hakekatnja bukan “barang baru” dalam rangka perdjoangan rakjat Indonesia jang dipelopori oleh Bung Karno. 

Dengan meneliti buku ini setjara ilmiah, akan lebih memperdjelas pengertian bahwa Revolusi Agustus 1945 j…

Global Paradox ; small is power

Mengapa buku-buku Naisbitt menjadi fenomenal? Sebelum kita membahasa lebig lanjut tentang Megatrend dan Global Paradox, sebaiknya kita mengenal dahulu bagaimana bigrafi dari John Naisbitt. Biografi John Naisbitt (lahir 15 Januari 1929 di Salt Lake City, Utah) adalah seorang penulis Amerika dan pembicara publik di bidang studi berjangka. Megatrends pertama bukunya diterbitkan pada tahun 1982. Ini adalah hasil dari hampir sepuluh tahun penelitian. Itu di daftar buku terlaris NewYork Times selama dua tahun, kebanyakan sebagai # 1. Megatrends diterbitkan di 57 negara dan terjual lebih dari 14 juta eksemplar. John Naisbitt belajar di Universitas Harvard, Cornell dan Utah. Dia mendapatkan pengalaman bisnis ketika bekerja untuk IBM dan Eastman Kodak. Dalam dunia politik, ia menjadi asisten Komisaris Pendidikan di bawah Presiden John F. Kennedy dan menjabat sebagai asisten khusus untuk Departemen Pendidikan Sekretaris John Gardner selama pemerintahan Johnson. Dia meninggalkan Washington di tahu…

Filosofi Diam

Kita berjalan di atas catwalk bersama-sama sambil memainkan peran masing-masing, lalu kita menyebutnya hidup. Seseorang terlihat bahagia, seseorag terlihat sedih, dan seseorang terlihat cuek dengan hidupnya. Namun sejatinya mereka semua adalah “terlihat”, bagaimana kejadian yang sebenarnya hanyalah dia, sahabatnya, dan Allah yang tahu. Kita bahkan lebih sering memberikan kesan bahagia kepada orang lain dari pada kesan bahagia terhadap diri kita sendiri. Ini adalah kebutuhan manusia untuk diaggap sukses, yang kemudian mereka berharap dengan anggapan itu, mereka akan lebih di hormati, diperhatikan, dan ditaati. Semua itu merupakan upaya untuk menyembunyikan diri dari orang lain, dan tidak jarang, kita juga mencoba menyembunyika diri kita dari diri sendiri, upaya ini disebut sebagai diam.
Teman saya –biasa saya panggil Ny Robinson- adalah salah orang yang saya hormati. Dia memiliki kehidupannya sendiri dan seringkali membuatku tercekik, tersenyum, bersedih, bahagia, dan juga merasa aneh…