Skip to main content

Meru


Kalian tahu gunung yang paling sulit didaki di dunia ini? Adalah Meru, salah satu puncak di Pegunungan Himalaya, yang menjadi top scorer bagi pendaki kelas wahid. Puncak Meru dikenal dengan nama Shark’s Fin (Sirip Hiu), yang telah menumbangkan puluhan pendaki profesional saat berhadapan dengan tembok raksasa di atas ketinggian 6000 meter tanpa celah. Bisa dibilang, adalah satu hal yang mustahil untuk menjejakkan kaki di puncak Meru.

Meski tampaknya mustahil, tiga orang pendaki profesional akhirnya mampu menakhlukkannya pada Oktober 2011. Mereka adalah Conrad Anker, Jimmy Chin, dan Renan Ozturk. Jimmy yang juga wartawan National Geographic merupakan pendaki ulung yang menjadi rekan Conrad selama 10 tahun terakhir. Dengan kemampuannya dalam bidang jurnalistik, Jimmy membuat perjalanan mereka bisa difilmkan secara dokumenter sehingga release-lah film Meru tahun 2015.

Saya bisa membayangkan betapa sulit pendakian yang telah mereka lakukan untuk menakhlukkan Meru. Apalagi di tahun 2008, mereka bertiga pernah menemui kegagalan saat mendaki Meru. Karena timing yang kurang pas, akhirnya mereka harus turun setelah selama 17 hari merangkak di tebing batu dan es. Bahkan, kekalahan itu mereka rasakan saat puncak Meru kurang 100 meter lagi. Tapi toh mereka akhirnya memilih turun. Alasannya jelas, hari sudah sore dan tidak memungkinkan untuk memanjat lagi, ditambah perbekalan yang sudah habis, dan jika memaksa, mereka harus membuat tenda sederhana di puncak Meru berketinggian 6.600 meter tanpa safety. Hal yang membahayakan nyawa seperti ini, bagi mereka, bukanlah suatu hal yang patut diperjuangkan.

Saya kira, inilah perbedaan ambisi dan obsesi. Ketika tujuan yang telah direncanakan dengan baik itu menemui jalan buntu yang berakibat pada hilanagnya keselamatan, maka bolehlah tujuan itu diurungkan –itulah ambisi. Mereka masih bisa berfikir jernih, meskipun sudah menempuh pendakian setinggi 6.500 meter dalam badai, tapi saat terjadi kendala yang tak mungkin dihindari, mereka harus berfikir rasional. Lalu mereka turun dengan gaya “setidaknya saya pernah mencoba dengan seluruh kekuatan”.

Jika yang mereka bawa untuk menakhlukkan Meru adalah obsesi, bisa jadi nama mereka tinggal kenangan. Tanpa memperhatikan akal sehat, mereka akan memaksakan diri untuk menggapai 100 meter tersebut. Yang jika gagal, malah akan memperburuk citra mereka sebagai pendaki profesional. Karena seorang pendaki profesional pasti memahami manajemen risiko pendakian, dan tidak memaksakan atau mempertaruhkan nyawa dengan kemungkinan yang minimal –demikian kata John Krakauer, penulis buku Into Thin Air.

Dan perlu diketahui, bahwa Conrad maupun Jimmy merupakan pendaki sukses yang menakhlukkan everest (puncak tertinggi di dunia) empat atau lima kali dengan mudah. Bahkan Jimmy berselancar dari atas Everest. Lagi pula, menunggangi Everest bisa menyewa jasa porter yang bisa melakukan hal-hal berat dengan mudah untuk membantu pendaki. Banyak pula jasa pendaki profesional yang bisa mengantarkan menuju Everest. Beban dipunggung dapat berkurang hingga puluhan kilo. Namun di Meru, yang merupakan pendakian profesional penuh risiko, tidak ada porter atau jalan lunak. Pendaki harus berjalan sendiri, memanggul tasnya sendiri, dan membawa seluruh peralatannya sendiri.

Dalam beberapa pemberitaan mengenai pendakian bersejarah ini, Jimmy mengakui dibutuhkan standar yang tinggi untuk dapat berjuang merambati tubuh Meru. Seperti ice climbing, rock climbing, big wall climbing, mixed climbing dan juga expedition climbing, bahkan diperlukan kemampuan khusus mengelola logistik untuk bertahan hidup. Seperti dalam film, mereka harus menginap empat hari di ketinggian 4.000 meter dengan cara ‘menggantung’. Benar-benar menggantung, yakni menggantungkan alas tidur sedemikian rupa pada cantolan-cantolan dinding batu, dan menutupi bagian atasnya dengan tenda.

Empat hari mereka hanya bisa berdiam diri di tenda menggantung karena serangan badai salju. Tentu saja hal itu menguras logistik dan tenaga. Bahkan secara emosional, mereka akan tertekan karena harusnya bisa melewati Shark’s Fin sesuai hari yang ditentukan. Ini adalah gangguan yang besar bagi pendaki meskipun sangat berpengalaman. Kalau tidak dipandu Conrad yang pernah mencoba mendaki di tahun 2003 dan 30 tahun pengalaman menakhlukkan berbagai macam gunung tertinggi di dunia, maka mereka akan turun begitu badai reda.

Menurut Krakauer, mendaki Meru tidak hanya membutuhkan skill pemanjat dinding profesional, tapi juga pemanjat es, pemanjat batu, dan pemanjat profesional dataran tinggi. Jika dihadapkan dengan tebing tegak lurus di atas ketinggian 6.000 meter, orang akan merinding. Tapi Conrad dan Jimmy adalah pendaki profesional –yang sama dengan tukang kayu, tukang batu, atau arsitek – bisa membuat jalannya sendiri. Dalam film itu, terlihat Jimmy mengetuk-ketuk setiap dinding batu dengan saksama. Lunak, keras, sekuat tenaga, lunak lagi, begitu terus hingga ada satu dinding yang bisa dimasuki pengait guna rolling tali pemanjat.

Lalu dilanjutkan perjuangan Conrad untuk menakhlukkan lapisan es tebal yang menyelimuti dinding-dinding itu dengan tanjakan terjal, dan bertemu lagi dengan batu granit raksasa yang dinamakan House of Cards yang membentang hingga puncak. Jika harus dikalkulasi, kemampuan mendaki Meru sungguh mendekati kemampuan dewa yang mustahil. Menurut Krakeuer, mereka harus membawa 100 kg perbekalan untuk mendaki Meru. Meskipun dalam pendakian pertama mereka gagal karena logistik yang sudah mencapai klimaks di saat pendakian masih 90 persen, namun di pendakian kedua tahun 2011, mereka berhasil.

Jimmy yakin 99 persen, bahwa sekelas pendaki profesional pun, ketika selesai menonton film dokumenter yang mereka buat, akan bergegas menuju Shark’s Fine. Paling-paling pendaki akan menutup riwayat Meru, dan memilih memuncaki Everest yang memiliki rute perjalanan lebih populer –meski tetap saja susah. Kita akan lihat di tahun-tahun mendatang.

Jimmy Chin, Conrad Anker {Sang Kapten}, dan Renan Ozturk

Comments

Popular posts from this blog

Ebook Di Bawah Bendera Revolusi Gratis

Buku berjudul "Dibawah Bendera Revolusi" merupakan buah ide, pikiran dan karangan yang ditulis langsung oleh Sukarno dimasa pra kemerdekaan baik di pengasingan atau penjara dan setelah kemerdekaan. Buku ini diterbitkan tahun 1964. Ini adalah sekapur sirih yang dikutip dari buku Di Bawah Bendera Revolusi oleh Ir. Soekarno.
"Buku “DIBAWAH BENDERA REVOLUSI” ini dipersembahkan kepada rakjat Indonesia dengan maksud djanganlah hendaknja hanja sekedar untuk penghias lemari buku, akan tetapi dengan penuh tjinta dan sadar mempeladjarinja setjara ilmiah betapa pasangsurutnja pergerakan kemerdekaan dizaman pendjadjahan.

Persatuan bangsa,--persatuan antara golongan-golongan Nasional, Agama, dan Marxis, atau lebih terkenal dengan istilah NASAKOM sekarang ini, pada hakekatnja bukan “barang baru” dalam rangka perdjoangan rakjat Indonesia jang dipelopori oleh Bung Karno. 

Dengan meneliti buku ini setjara ilmiah, akan lebih memperdjelas pengertian bahwa Revolusi Agustus 1945 j…

Paradigma Politik

Mata Kuliah Teori Politik
Ilmu politik tidak bisa lepas dari ilmu sosial yang telah lahir terlebih dahulu teori-teorinya. Meskipun kita tahu bahwa politik sudah ada sejak manusia pertama kali ada dan membentuk sebuah kelompok untuk bertahan hidup dari serangan kelompok lain, atau dari hewan dan alam. Disini kepemimpinan juga telah muncul, manajemen organisasi sudah ada, dan perpolitikan mulain berjalan.

Paradigma politik ini adalah suatu kerangka berfikir untuk mendapatkan pengertian tentang politik dan kemudian akan menyeluruh pada bagian-bagian lainnya dalam ilmu politik. Karena sebuah paradigma akan melahirkan cara, teknik, metode, strategi hingga teori pada suatu jenis ilmu.

1. Evolusi

Evolusi adalah perubahan yang membutuhkan waktu yang sangat lama. Tidak ada batas pasti, namun sampai ribuahn tahun. Dalam paradigma politik evolusi, prinsip dasar yang diusung adalah bahwa politik itu perubahan yang alamiah. Sehingga dalam cara pandang ini, seorang pemimpin tidak bisa dibentuk tapi …

Global Paradox ; small is power

Mengapa buku-buku Naisbitt menjadi fenomenal? Sebelum kita membahasa lebig lanjut tentang Megatrend dan Global Paradox, sebaiknya kita mengenal dahulu bagaimana bigrafi dari John Naisbitt. Biografi John Naisbitt (lahir 15 Januari 1929 di Salt Lake City, Utah) adalah seorang penulis Amerika dan pembicara publik di bidang studi berjangka. Megatrends pertama bukunya diterbitkan pada tahun 1982. Ini adalah hasil dari hampir sepuluh tahun penelitian. Itu di daftar buku terlaris NewYork Times selama dua tahun, kebanyakan sebagai # 1. Megatrends diterbitkan di 57 negara dan terjual lebih dari 14 juta eksemplar. John Naisbitt belajar di Universitas Harvard, Cornell dan Utah. Dia mendapatkan pengalaman bisnis ketika bekerja untuk IBM dan Eastman Kodak. Dalam dunia politik, ia menjadi asisten Komisaris Pendidikan di bawah Presiden John F. Kennedy dan menjabat sebagai asisten khusus untuk Departemen Pendidikan Sekretaris John Gardner selama pemerintahan Johnson. Dia meninggalkan Washington di tahu…