Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2016

Mantan

Ia menundukkan kepala. Di seberang meja dalam sebuah acara resmi. Senyumnya sesekali kepadaku. Ia adalah mantan kawanku, yang kini kawanku itu duduk di sebelahku. Kawanku ini sosok yang bagi sebagian besar perempuan, adalah lelaki keren. Wajahnya ganteng, puisinya jago, paling kinclong kalau sudah dandan. Tentunya, kemampuan otaknya membesar karena teman-temannya tidak sejago dirinya. Minunsnya hanya satu: dia sudah menikah.
Sementara perempuan di seberang meja adalah remaja centil yang digemesin banyak orang.Entah bagaimana hubungan mereka itu tiba-tiba selesai. Karenanya, siang ini terjadi kecanggungan yang hendak ditepis dalam diam keduanya. Mereka berhasil, untung saja. Meskipun aku melihat isyarat-isyarat yang tak bisa dijelaskan. Sehingga tiba-tiba aku ingin bertanya pada mereka, bagaimana kita bisa berhadapan dengan mantan?
Menghadapi mantan, sebagian besar perempuan akan kesulitan, berbeda dengan lelaki. Karena seorang perempuan lebih bisa menghargai sebuah hubungan dibanding…

Spotlight: Menjadi Jurnalis

Jarang sekali kita melihat seorang jurnalis bekerja. Sebagai orang awam, biasanya kita hanya melihat sekilas-sekilias, lalu tiba-tiba keesokan harinya sudah ada berita. Kita tak faham bagaimana para jurnalis mulai mencari dan mengumpulkan data, lalu mengolahnya hingga menjadi sebuah news yang biasa kita konsumsi sebagai sebuah kebutuhan.
Dalam film berjudul Spotlight, kita dapat melihat hal itu. Bahkan bagi seorang wartawan pun, film spotlight mampu memberikan wawasan teknik mencari berita yang keren. Tentunya, sangat sulit melihat kualitas jurnalis sebagaimana yang ada dalam film tersebut, khususnya di Indonesia. Apalagi melihat jurnalis lokal yang cenderung terpuaskan dengan berita yang sudah ada, semacam rilis kepolisian, ataupun jumpa pers dari tokoh dan kegiatan.
Mungkin orang yang tidak pernah menjadi wartawan akan biasa saja dalam menangkap film ini. Spotlight hanya akan menjadi sebuah film yang mengesankan. Tapi bagi seorang jurnalis di Indonesia, Spotlight akan menjadi sebuah t…

Dilan

Dalam dua malam, aku sudah menyelesaikan dua novel terbaik milik Pidi Baiq, Dilan 1990 dan Dilan 1991. Selesai membaca Dilan 1990, hatiku berbunga-bunga, ikut senang, bangga, dan menatap masa depan cerah. Dan selesai membaca Dilan 1991, hatiku terluka, sakit, batuk, flu, mimisan, gigi berlubang, panas dalam, disebabkan dua tokoh utama putus.
Begitulah, seringnya novel begitu mudah masuk dalam emosi pembacanya. Karena dengan membaca, seluruh imajinasi kita akan bermain. Bahkan bisa jadi, imajinasi kita lebih bagus dari pada apa yang tertulis dalam novel itu. Meskipun, bisa jadi sebaliknya. Dengan begitu, saya harus percaya bahwa dengan membaca novel Dilan 1990, mood dapat meningkat, dan kebahagiaan juga akan meningkat.
Sementara ketika membaca Dilan 1991, kita akan terpuruk dan mungkin saja mempengaruhi ketidakbahagiaan di dunia ini. Memang awalnya aku akan menyangka bahwa dua tokoh ini akan putus. Karena di awal novel, sudah diketahui bila kisah yang diceritakan hanyalah masa lalu. D…