2017-09-12

Ulasan Buku: Merekam Peradaban Melalui Teknologi



Identitas Buku
Judul Buku                         : Perkembangan Teknologi Komunikasi
Penulis                                : Nurudin
Penerbit                              : Rajagrafindo Persada
Tahun Terbit                       : 2017
Jumlah halaman                 : XV + 217

Pemikiran paling fenomenal yang sering dikutip untuk membahas perkembangan teknologi manusia adalah Marshall McLuhan (1911-1980). Konsepnya tentang determinisme teknologi membuatnya dikenal karena telah menyadarkan banyak orang bahwa kehidupan manusia salah satunya dibentuk dan ditentukan oleh teknologi. Padahal sebelum McLuhan mempopulerkan konsep itu, banyak pemikir yang sepakat teknologi dikendalikan oleh manusia bukan malah sebaliknya.

Penggunaan teknologi oleh manusia sangat menentukan bagaimana mereka bertindak. Penggunaan smartphone yang massif di zaman modern, membuat orang lebih sedih kehilangan telepon selulernya dibanding kehilangan dompet berisi uang. Di zaman tribal (kesukuan), orang-orang sering berkumpul untuk berinteraksi dan membicarakan berbagai persoalan. Sedangkan zaman sekarang, orang-orang lebih suka melakukan meeting melalui group dan jarang bertemu secara langsung untuk membicarakan sesuatu.

Untuk memahami peradaban manusia yang bergerak cepat, maka kita juga harus memahami perubahan teknologi. Ini adalah salah satu cara untuk bertindak tepat, efektif, dan efisien dalam berbagai lini. Dalam dunia pendidikan, pengajar sudah menggunakan teknologi komputer untuk membuat siswa lebih mudah memahami pelajaran. Di dunia bisnis, orang tidak lagi melakukan jual beli secara berhadap-hadapan, tetapi cukup dengan aplikasi di dalam smartphone. Siapapun dan apapun yang tidak mengikuti arus perubahan teknologi, dipastikan gulung tikar sebagaimana yang dialami Kodak, Nokia, dan raksasa Yahoo.

Dalam konteks inilah, buku “Perkembangan Teknologi Komunikasi” yang ditulis Nurudin, sangat penting untuk dijadikan rujukan pengetahuan, baik sebagai bahan bacaan diwaktu senggang, maupun bahan ajar perguruan tinggi. Pengarang buku ini telah melakukan riset awal bahwa bacaan tentang perkembangan teknologi di bidang komunikasi jarang ditemukan pada khazanah perbukuan Indonesia. Karena itu, kerja keras dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini patut diapresiasi karena turut membangun suatu peradaban yang dikatakan McLuhan sebagai ‘literature age’.

Buku yang diterbitkan Rajagrafindo Persada ini juga memuat informasi lengkap tentang perkembangan teknologi. Mulai dari alasan mempelajari perkembangan teknologi, pengertian-pengertian yang mengantarkan pada Teori Determinisme Teknologi, hingga faktor yang memengaruhi perkembangan teknologi. Nurudin juga memaparkan pendekatan untuk mempelajari tekonologi komunikasi, misalnya dengan pendekatan Dystopian yang paranoid terhadap perkembangan teknologi, pendekatan Neo-Futuris yang optimis bahwa teknologi adalah suatu keniscayaan sehingga harus diterima kehadirannya, atau dengan pendekatan Teknorealias yang mengkompromikan ketakutan dan optimisme terhadap teknologi.

Selain itu, Nurudin juga menulis dengan bahasa yang mudah dipahami terkait empat gelombang perkembangan teknologi komunikasi. Mengapa ini penting diketahui? Karena sekali lagi : “Sejarah teknologi komunikasi sejalan dengan peradaban manusia. Dengan kata lain, saat kita menceritakan perkembangan teknologi komunikasi, berarti juga bercerita tentang sejarah perdaban manusia, begitupun sebaliknya,” (halaman: 25).

Gelombang pertama tahun 8.000-7000SM. Manusia masih berkomunikasi secara interpersonal (tatap muka) untuk membangun pengertian sosial. Guna memudahkan kehidupannya, manusia zaman ini baru dalam tahap menggunakan tenaga hewan selain tenaganya sendiri. Gelombang kedua berada di tahun 1.700SM-1970 yang ditandai dengan munculnya revolusi industri. Mesin-mesin banyak diproduksi untuk keperluan industri, kesehatan, hingga pendidikan. Mobilitas manusia pun semakin cepat dengan dukungan transportasi.

Gelombang ketiga terjadi pada tahun 1979-2.000M yang juga disebut era informasi. Pada gelombang ini, manusia sudah berfikir untuk mencari sumber energi terbarukan (renewable energy), termasuk penggunaan satelit komunikasi yang memunculkan internet sebagai awal revolusi komunikasi. Gelombang terakhir adalah masa kontemporer atau saat ini yang memunculkan istilah global village (McLuhan) atau electronic cottage (Alvin Toffler), ditandai dengan media sosial yang memegang peranan penting dalam perubahan masyarakat.

Jika kita mampu memahami buku ini, bukan tidak mungkin kita akan tahu bagaimana cara membangun komunikasi yang efektif, baik bagi pendidik, pegiat sosial, hingga politisi. Karena penjelasan di dalamnya jelas dan lengkap, apalagi menggunakan bahasa popular yang jarang digunakan dalam buku teks perkuliahan. Pembahasan tentang Teknologi Komunikasi dan Masyarakat Maya di Bab 7 misalnya, berisi informasi terbaru mengenai ciri-ciri masyarakat maya, dampak, hingga kekuatan masyarakat maya. Dengan memahami ini, niscaya kita akan mampu merebut perhatian generasi milleneal yang lebih banyak mengakses media online dan media sosial.

Sisi menarik dari buku ini tidak hanya mengantarkan pemahaman pembaca pada pengertian-pengertian sempit sebuah teknologi, tetapi juga pada analisis persoalan sosial, budaya, ekonomi, hingga pendidikan yang diakibatkan oleh perkembangan teknologi komunikasi. Nurudin banyak mengutip pendapat pakar untuk menguatkan setiap analisisya sehingga buku ini bisa dijadikan rujukan yang terpercaya. Data-data dari berbagai sumber pun menyebar di seluruh halaman guna memberikan gambaran utuh sebuah wacana mengenai peradaban manusia yang dinamis.

Contoh dampak sosial yang diberikan Nurudin akibat perkembangan teknologi ini adalah teratasinya ruang dan waktu. Saat ini, orang tidak perlu bertemu untuk menjalin komunikasi yang intens. Kedua, manusia mulai akrab dengan benda, yang bisa dilihat bagaimana orang-orang di tempat umum yang selalu memainkan gadgetnya, tanpa memperhatikan orang di sekelilingnya. Ketiga, tidak hanya akrab dengan benda, manusia saat ini juga memiliki ketergantungan yang tinggi pada teknologi.

Nurudin mencoba memberikan latar, contoh, hingga solusi bagaimana cara mengatasi efek negatif dari sebuah teknologi. Solusi ini tidak hanya penting untuk diajarkan kepada mahasiswa di perguruan tinggi, tapi penting untuk diberikan kepada setiap remaja. Misalnya, Nurudin menawarkan solusi menggalakkan literasi teknologi, yang berarti mengajarkan kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengatur, dan menilai teknologi yang melibatkan proses dan ilmu pengetahuan dalam usaha memecahkan masalah serta memperluas kemampuan manusia. (Halaman 128).

Solusi lain adalah mendorong pemerintah untuk mengatasi dampak teknologi yang membahayakan. Menurut Nurudin, pemerintah memiliki daya paksa terhadap individu maupun kelompok yang ada di Negara Indonesia, baik melalui aturan-aturan maupun kebijakan turunan dari aturan tersebut. Peran negara yang minim untuk mengatasi persoalan negatif teknologi ini tampaknya membuat geram penulis:

Kegandrungan pada teknologi yang diproduksi bangsa asing bisa diatasi dengan kemampuan bangsa sendiri menciptakan teknologi. Namun lagi-lagi, ini membutuhkan peran pemerintah dalam menghargai produk-produk bangsa sendiri. Tidak sedikit dari penemuan bangsa sendiri, justru kemudian dibawa ke luar negeri karena di dalam negeri tidak dihargai (Halaman 130).

Terakhir, yang bisa kita peroleh dari buku ini adalah kemampuan menjadi cenayang yang bisa meramalkan masa depan. Bahasa ilmiah untuk orang yang bisa meramalkan masa depan menggunakan metode ilmiah adalah futurolog.kita bisa mengidentifikasi berbagai perubahan kaitannya dengan penerimaan, dampak, peluang, dan persaingan ekonomis di masa datang,” (halaman 6). Sebab itu, bagi orang yang berkepentingan terhadap perubahan sosial, ekonom, pendidik, dan secara khusus kepada akademisi dan praktisi ilmu komunikasi, buku ini bisa menjadi bacaan wajib yang mengenyangkan.

Tulisan ini pernah dimuat di Malang Post, 2017.

2017-08-31

Menjaga Kewarasan


Kehidupan ini penuh dengan hal-hal yang tidak masuk akal. Kita tidak bisa menambah mengurangi mengali dan membagi dengan tepat segala sesuatu. Kehidupan sosial kita berkembang secara alamiah –dengan beberapa konstruksi yang saya kira tetap bisa dikatakan sebagai ‘apa adanya’. Kita sebagai manusia mengalami kebahagiaan juga kesakitan, mengalami masa penuh semangat dan motivasi, tapi juga pernah terpuruk pada suatu lembah tanpa dasar. Jika kita bahagia kita akan lupa pernah susah, dan jika mengalami kesusahan kita akan lupa bahwa kebahagiaan pernah kita alami.

Semua hal itu normal selama kita menerimanya sebagai gambaran obyektif sehingga tidak bisa kita tolak. Itulah kerja-kerja tuhan yang ilmuwan sosial sebut sebagai realitas. Ada pernyataan-pernyataan pesimistis yang diakui secara berjamaah: jika kita tidak bisa mengubah realitas, maka ubahlah cara pandangmu terhadap realitas itu. Asal kalimat tersebut adalah 'karena kita benar-benar tidak bisa mengubah realitas itu', jadi kita memanipulasi pemikiran agar ‘terlihat’ bahagia. Jadi kita akan pandai menyimpan kebahagiaan padahal sebetulnya tidak sama sekali.

Persoalan yang hampir dialami seluruh pemuda, lulusan perguruan tinggi, hingga orang-orang idealis selalu sama: menganggur yang pada akhirnya tidak punya uang meskipun hanya untuk makan sehari-hari; lalu tidak punya kawan yang bisa dimintai bantuan, hingga orang-orang yang awalnya dekat kemudian menjauh hingga tak tergapai. Dalam kondisi tertekan, kita akan melihat segala sesuatu sebagai penolakan. Kita hanya akan bisa mendekam diri di pojok kamar, menangis terisak, luka hati yang dalam seakan-akan tuhan tidak lagi menganggap kita ada.

Sebagai anak rantau yang hidup di kos, saya mengalami banyak masalah yang penyelesainnya harus menggunakan seluruh daya dan upaya yang saya miliki. Masalah tidak bisa makan berhari-hari adalah hal yang lumrah. Menjadi pengangguran yang memalukan, lalu kita seolah-olah berpakaian rapi dan menaiki sepeda motor keliling kota tanpa tujuan. Bahkan saya sempat googling, apa yang harus dilakukan oleh pemuda yang tidak punya pekerjaan? Tidak ada jawaban. Karena itu aku ingin membuat tulisan bagaimana cara bertahan dalam kesulitan yang paling menyakitkan dalam sejarah kehidupan kita.

Menjadi pengangguran dan tidak berguna dalam masyarakat adalah suatu proses. Banyak orang yang mengalaminya lalu menjadi gila dan tersungkur menjadi gelandangan. Tetapi banyak pula yang bangkit lagi yang akhirnya sukses. Beberapa cara dapat ditempuh ketika kita dalam kondisi tertekan :

Pertama, tetap berusaha dengan melakukan apapun yang mungkin. Kita harus melihat lagi bahwa setiap manusia punya kemampuan yang bisa dijual. Jika memang betul seseorang tidak memiliki kemampuan khusus, maka belajarlah. Cara belajar orang bisa berbeda-beda, paling mudah melalui Youtube atau dengan belajar kepada orang yang berpengalaman secara langsung. Jika kita berada di perantauan maka akan punya nilai plus karena kita tidak harus malu untuk melakukan pekerjaan apapun.

Ketika saya keliling Indonesia dan sampai di suatu tempat dengan kondisi keuangan mengenaskan, saya dengan malu-malu menemui orang yang berjualan. Di Palembang saya jualan sate, di Makassar saya jualan roti bakar dan nasi goreng. Caranya, tunggu sampai pemilik toko atau warung tersebut mau tutup lalu datangi. Jelaskan keinginan untuk bekerja dengan bayaran semampu pemilik warung. Jika gagal, cari warung lainnya, dan jika berhasil maka perut kalian akan terselamatkan untuk beberapa minggu ke depan.

Jika kalian ingin yang lebih fokus guna menyambung kehidupan, maka mintalah bekerja di bengkel-bengkel sepeda motor dan mobil. Atau di tempat reparasi televisi, computer, HP, dan kulkas, yang keilmuan itu bisa dimanfaatkan untuk membuka sendiri. Intinya, jangan malu dan jangan menyerah. Satu tempat tidak diterima, dipermalukan, atau diolok-olok, maka tempat lain mungkin ada yang terbuka. Tidak ada yang mudah untuk menjalani seuatu bagi orang miskin dan tidak diharapkan. Tapi kita harus membuktikan bahwa kita berhak sukses bukan?

Kedua, tirakat. Jangan manja dengan urusan perut. Perut bisa menunggu, tapi masa depan tidak. Kurus kering tidak masalah demi mendapatkan kegemukan di tahun-tahun berikutnya. Cara menghemat makan adalah dengan membeli krupuk mentah, minyak, dan heater. Jika tidak punya tetangga yang bisa dipinjam kompornya, maka heater bisa digunakan memasak nasi, masak mie instan, hingga goreng krupuk. Pengalaman saya ketika kelaparan, hanya terjadi pada jam-jam ‘sangat lapar’ sekitar 6 jam setelah makan. Tetapi setelah melewati masa kritis itu, maka 8 jam berikutnya biasa saja.

Kadang rasa lapar membuat kita gemetar, tidak kuat untuk melakukan apapun. Caranya dengan makan krupuk, lalu minum. Makan krupuk lagi, lalu minum. Orang miskin biasanya mampu bertahan dengan tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup. Kita juga harus bisa mengatur waktu jika memang hanya bisa makan sekali dalam sehari. Saya pernah mengalaminya bertahun-tahun ketika sekolah SMP-SMA dan kuliah dengan predikat sukses. Karena itu, saya yakin siapapun yang dalam masa kritis bisa bertahan dalam kondisi yang paling tidak bisa dibayangkan sekalipun.

Ketiga, jalin hubungan yang baik dengan setiap orang. Kita tidak akan pernah tahu siapa yang akan menolong kita, dan siapa yang akan lari ketika kita mendapatkan kesulitan. Meskipun rata-rata orang yang mengalami nasib sial akan merasa bahwa orang-orang yang dulu ditolongnya malah berhampuran pergi. Karena itu menjalin hubungan baik degan setiap orang menjadi penting, baik di masa baik-baik saja ataupun di masa sulit. Seringnya, orang yang membantu kita saat kesulitan adalah orang-orang yang miskin, bukan orang yang kaya secara finansial. Hal ini bisa dibuktikan!

Hubungan yang baik juga bisa menjadi jalan keuangan. Jika memang kita memiliki kemampuan tertentu, maka kemampuan kita akan dimanfaatkan oleh orang-orang yang memang sudah kita kenal. Misalnya saya berkemampuan dalam bidang jurnalistik, maka saya menawarkan hal itu kepada guru sekolah. Saya juga belajar dair Youtube bagaimana cara diklat kepemimpinan dan game-game yang biasa digunakan untuk diklat sekolah. Jika pun gratis tidak masalah asalkan akomodasi ditanggung. Jadi jangan mematok tariff mahal untuk teman sendiri.

Keempat, cari peluang kerja. Selain memanipulasi kebahagiaan diri sendiri, kita juga harus mencari kebahagiaan yang sesungguhnya. Kebahagiaan dunia ini bisa didapat, kebanyakan dengan memiliki materi yang cukup. Materi bisa segala sesuatu yang sifatnya duniawi, misalnya uang, makanan, perempuan, dan juga jabatan. Kita adalah manusia biasa yang sedang berjuang untuk menjadi manusia normal. Kita bukanlah rasul yang jika punya kesulitan bisa langsung mencurahkan hati kepada tuhan. Karena itu, saya sarankan untuk menggunakan jalan-jalan yang masuk akal untuk mendapatkan kebahagiaan yang real.

Bekerja merupakan satu bagian yang bisa menjadi sebab bagian-bagian yang lain. Pekerjaan membuat kita bisa merencanakan kehidupan selanjutnya. Tidak masalah bekerja untuk orang alias karyawan atau menjadi entrepreneur. Saya setuju keduanya, terutama entrepreneur. Yang tidak kusukai dari seorang entrepreneur adalah kecongkakannya yang membahayakan, yang kemana-mana selalu bicara : buat apa kita bekerja untuk orang lain, menjadi bos dari diri sendiri meskipun kecil, dan ucapan lainnya yang senada. Mereka seakan-akan merendahkan karyawan yang bergaji bulanan, bekerja untuk orang lain, dan tidak bisa menjalankan segala sesuatu seenaknya sendiri. Tidak masalah berusaha mandiri atau berusaha untuk orang lain. Selama niat kita baik, yang kita lakukan sesuai dengan tanggung jawab, menjadi apapun adalah sebuah keselamatan.

Kelima, berdoa. Sebagai orang beragama, hal terkhir ini adalah kunci pokok dari yang awal-awal. Jika kalian tidak percaya pada tuhan, ya terserah. Bagi saya, percaya pada suatu kekuatan besar di luar kendali kita adalah sebuah anugerah yang tidak ada duanya. Karena agama dan tuhan bisa menjadi jujugan imajinasi untuk persoalan yang pelik. Betapa banyak orang yang tidak bahagia, lalu berlabuh pada suatu dini hari untuk munajat dan mendapatkan kebahagiaan. Paling tidak, curhat kepada tuhan membuat kita lebih kuat keesokan harinya.

Jika anda memilih berdoa, maka fokuskan doa itu pada satu tujuan yang pasti. Jika ingin mendapat pekerjaan, maka berdoalah : ya tuhan, saya butuh pekerjaan untuk membahagiakan diri sendiri dan orang lain. Saya butuh pekerjaan untuk membuat orang-orang di sekitar saya tidak khawatir. Saya harus mendapat pekerjaan sehingga saya bisa mengandalkan-Mu untuk sesuatu yang tidak bisa saya pasrahkan pada manusia. Itulah doa saya ketika menjadi pengangguran. Dan memang, tuhan itu maha baik sehingga saya mendapatkan pekerjaan yang keren lalu saya menulis ini.

2017-08-18

Puisi: lelaki tua, dan seterusnya

lelaki tua

lelaki tua bergegas pergi. hitam takdirnya menuntun ke pelosok sambil memesan segelas kopi, matanya tak berhenti. :dimanakah kutemukan wajah-wajah kesakitan?

ditelusurnya sunyi yang dirasakan setiap lelaki sebaya, juga pemilik warung yang lelah menatap ke arahnya. :disini tak kau temukan orang-orang, mereka seperti pecandu yang hidup dibawah bayang-bayangnya sendiri. mereka juga enggan pulang sepertimu.

didadanya ketakutan membayang bagai uap panas yang meletus, ia terkoyak, tapi terpaksa berjalan tuk mengejar orang-orang yang berkeluh ;betapa sakitnya hidupku, oh luka-luka dan tikaman dari diri sendiri.

saat malam hampir pupus dan ia menemukan seseorang, ia bersyukur dan berterimakasih sambil mendengar mereka mengumpat :istriku, anakku, mertuaku, dan saudara-saudaraku menikamku

jeruk

kau menelan kata-kata sejak pagi tadi. lelah, ujarmu. berdiam dalam pembicaraan yang itu-itu saja. di pepohonan, di dapur, atau ruang baca, kau menjadi mantra yang ajaib. kau, dengan dirimu sendiri dan pikirmu, hanya menbulat.

di seberang jalan, di kafe yang berisi nestapa dan bahagia yang tak jauh beda itu, kau juga sama. menawarkan kemasaman, lalu kepura-puraan yang membahagiakan. sungguh, kau tak tahu masa kecilku yang menggebu karena ingin mencecapmu -tepat di lidahmu.
26 Sep 2016

huru-hara

aku terlunta-lunta mengejar nama-nama dunia yang telah terciptakan dari huru-hara; bahasa yang terbagi-bagi dari dirinya sendiri, pikiran-pikiran yang menyelinap menjadi penanda petanda dan simulakra, mitos-mitos, riuh dalam lembar asing kosakata yang berakhir pada pengerdilan pengetahuan.
17 Sep 2016

menyuburkan kenangan

kau akan kubangun dari warna matahari, di suatu pucuk pohon yang penuh dengan kenangan, pada malam ke empat puluh saat dansa kita menafaskan satu kata-satu nama, lalu bergegas menjadi tertawaan gila pelalu lalang. kau kubangun dari kelindan kata-kata yang penyelesaiannya membutuhkan waktu selamanya.
15 Sep 2016

2017-08-13

Inovasi Clash of Clan


Gagasan akan inovasi terus dipercayai oleh komunitas ilmuwan ekonomi dan komunikasi sebagai aspek penting melanggengkan suatu produk. Di mana-mana orang membicarakan inovasi, meskipun para inventor (penemu) dan inovator (orang yang penuh ide) sangat sedikit jumlahnya. Kebanyakan perusahaan memang tidak membuat inovasi karena segala sesuatu sudah berjalan. Tidak jarang, tidak adanya kebaruan ini membuat karyawan seperti robot: karyawan di sini berarti dari jenjang direktur sampai cleaning service.

Perusahaan yang terus berinovasi cenderung akan lebih bertahan lama dibanding dengan perusahaan yang stagnan. Beberapa perusahaan telah terbukti mati karena tidak berinovasi, misalnya Kodak, Nokia, Blackberry, dan yang tahun 2016 sempat menggemparkan adalah ‘kematian’ Yahoo. Ke depan, perusahaan-perusahaan lain akan bertumbangan karena tidak ada inovasi. Menariknya, semua perusahaan yang mati tersebut karena tidak berinovasi untuk ‘menciptakan’ dan atau ‘mengikuti’ perkembangan teknologi. Mereka abai terhadap inovasi sehingga diinvasi oleh kompetitor.

Kodak bisa diambil contoh. Keengganan mereka yang tidak mengikuti perkembangan kamera digital akhirnya menjadi pemicu kehancuran perusahaan. Padahal diketahui, teknologi kamera yang dimiliki Kodak amat luar biasa, dan teknisi merekalah yang menciptakan kamera digital era pertama. Kodak yang terus fokus pada kamera analog akhirnya harus menyadari bahwa mereka tidak akan berkembang. Di saat mereka menyadari hal itu, segala sesuatu telah terlambat.

Hal yang sama terjadi pada Nokia dan Yahoo tampaknya memiliki kekayaan yang tak terbatas. Nokia hancur karena hanya fokus pada hardware dan melupakan software yang membuat konsumen nyaman. Sementara Yahoo, karena sudah terlalu mabuk uang sehingga tidak mempedulikan lagi inovasi. Bisa dikatakan, Yahoo kehilangan orientasi dari mesin pencari menjadi perusahaan pemasang iklan banner. Padahal sebagaimana Kodak, Yahoo adalah pemain utama di dunia digital. Saya sendiri mengenal email dan mesin pencari karena Yahoo. Jadi, Yahoo betul-betul kehilangan arah.

Sekarang tinggal menunggu aplikasi semacam Blackberry atau raksasa Blogger untuk bergerak menuju pencerahan. Karena saat ini, kedua perusahaan ini sedang berbenah untuk tidak menyusul kematian perusahaan teknologi lainnya. Pagi tadi, seorang gadis mengirim pesan BBM dengan bahagia karena BBM punya tampilan baru. Dia jadi exited untuk terus mengirim pesan karena banyak emoticon baru. Demikian pula ketika pertengahan 2017, blogger yang selama ini memiliki tampilan yang menjengkelkan, mempublish tema baru yang lebih ramah, minimalis, dan terkesan mahal.

Sebagai pengguna blackberry dan blogger, saya senang. Kebahagiaan semacam ini akan menular dan bisa menjadi salah satu cara pemasaran paling efektif sepanjang sejarah manajemen pemasaran : word of mouth atau pemasaran dari mulut ke mulur. Mereka tidak boleh berhenti berinovasi. Karena tidak ada yang tidak mungkin, tidak ada too big too fail sebagaimana Yahoo. Bahkan Apple yang dari kemunculannya dijadikan icon perusahaan paling inovatif, kini kesulitan mengembangkan produk pasca kematian Steve Jobs. Semuanya berdebar-debar bagaimana melewati persaingan usaha yang semakin ketat.

Clash of Clan

Pendahuluan di atas adalah upaya memberikan gambaran betapa pentingnya sebuah inovasi yang dilakukan game online satu-satunya yang kuikuti: Clash of Clan. Meskipun baru dirilis pada tahun 2012, COC sudah dimainkan hingga 100 juta orang setiap harinya. Dalam videonya di Youtube, pemilik Supercell mengatakan jumlah itu lebih banyak dari orang Amerika yang meminum kopi setiap harinya. Sebuah perbandingan yang tidak sebanding, tapi begitulah COC. 100 juta pengguna harian ini juga dibandingkan dengan total jumlah penduduk : London, Beijing, Delhi, New York, Tokyo, Seoul, Rio de Jeneiro, Moscow, Dawnbreak City, dan Buenos Aires.

Dengan jujur, Supercell mengakui telah menelan kematian 14 Game buatannya hingga memunculkan 4 game terbaik : COC, Clash Royale, Hay Day, dan Boom Beach. Kesemuanya mendapatkan sambutan yang luar biasa dari pemain game. Sepertinya, nama besar COC telah membuat Supercell mendapatkan kepercayaan yang sangat baik dari customernya. Ini adalah kekuatan citra yang dimenangkan oleh COC di hati gamers. Karena COC dianggap game yang simple, tidak berat, dan adil dalam permainannya, maka gamers percaya bahwa game-game buatan Supercell lainnya juga akan demikian.

Dengan kepercayaan konsumen yang begitu besar ini, Supercell mendapatkan keuntungan dari COC saja sebanyak USD 650.000 atau senilai Rp 8,5 miliar perhari pada tahun 2014 (detikcom). What the fuck bukan? Sekarang Supercell sudah dibeli oleh raksasa teknologi asal Cina bernama Tencent dengan nilai transaksi sebesar Rp 114 triliun. Itu sama dengan anggaran yang dimiliki 150-an kabupaten/kota di Indonesia, dan jika dihitung kasar dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) maka membutuhkan 400 daerah untuk menyamai Rp 114 triliun.

Inovasi yang dilakukan COC memang sudah sejak awal kemunculannya. Contohnya adalah kemunculan Town Hall (TH) 11 pada tahun 2015 dengan seorang ksatria bernama Grand Warden dan defense paling keren ; Eagle Artilery. Tetapi karena saya memainkannya sejak tahun 2015, maka saya hanya menceritakan inovasi yang dilakukan sejak tahun itu. Pertama, inovasi pertama yang kusadari adalah munculnya Bomb Tower di TH 8 pada Oktober tahun 2016. Saya kaget karena ada senjata baru yang kurang bermanfaat –hanya berfungsi besar untuk melemahkan Hog Rider.

Jika dirinci, beberapa inovasi yang dilakukan COC untuk menyenangkan gamers adalah penambahan level wizard yang awalnya hanya 6 menjadi 7 dengan damage yang lebih besar. Level Baby Dragon juga ditingkatkan, menurunkan hit point pada Bowler agar seimbang dengan damage yang dihasilkan, penambahan level untuk Tesla, dan Mortar sampai level 10. Banyak sekali inovasi yang dilakukan COC sehingga membuat gamers penasaran. Belum lagi update beberapa pasukan dan feature lain di TH 11, termasuk mengurangi harga yang dibayar untuk masak pasukan.

Selain soal upgrade pasukan, COC juga membuat inovasi lain berupa quict train yang sangat memudahkan gamers. Dengan adanya quict train ini, gamers bisa memasak dua peleton pasukan dalam waktu bersamaa. Bahkan ada pembuatan kombinasi pasukan yang bisa disave sehingga memudahkan gamers untuk mengatur strategi. Yang paling fenomenal tentunya adalah change village melalui sebuah kapal rusak yang akhirnya dapat diperbaiki. Barbarian yang melakukan perjalanan menggunakan kapal ini akhirnya menemukan sebuah pulau tak berpenghuni lalu menjadikannya desa ‘basis tukang’.

Di sana, gamers akan membangun ulang COC mode malam hari yang memiliki permainan yang berbeda. Seperti dalam Clash Royale, gamers akan menemukan musuh yang selevel lalu saling menyerang desa. Yang memperoleh point terbesar lah yang akan mendapatkan bonus gold dan elixir. TH Basis tukang ini nantinya akan dapat membuat defense di desa utama bisa dimaksimalkan kekuatannya dua kali lipat. Kini kita bisa bermain COC di level awal sehingga tidak mati kebosanan saat memainkan TH besar.

Inovasi semacam ini yang akan membuat COC terus disukai dan dimainkan oleh seluruh orang di dunia. Chief, your village is under attact, lets play!.

Bagaimana Berinovasi?

Pertama ‘setiap orang’ dalam perusahaan harus menyadari bahwa organisasi berjalan stagnan. Persoalan kuncinya adalah tidak setiap orang sadar bahwa perusahaan dalam kondisi jumud sehingga proses menuju inovasi tidak berjalan lancar. Kedua, perusahaan membutuhkan leader yang tangguh dalam menjalankan sebuah karya yang inovatif. Leader bukan berarti pimpinan manajemen, siapapun dapat dijadikan leader yang berfungsi sebagai ‘penyelesai masalah’ dalam satu waktu. Ketika manajemen ingin menyelesaikan tiga persoalan sekaligus, dibutuhkan tiga leader yang tepat sehingga pekerjaan selesai dengan sempurna.

Ketiga, tujuan jelas. Persoalan ini pasti sudah dipahami dengan baik, hanya saja pelaksanaannya kadang tidak sesuai. Merumuskan tujuan bisa dimulai dengan menginventarisir permasalahan yang ada. Jika ada 10 permasalahan, maka harusnya ada 10 solusi atas permasalahan tersebut. Keempat, konsisten dan komitmen. Jarang orang Indonesia yang memiliki komitmen dan konsisten yang tinggi dalam menjalankan suatu perusahaan, apalagi dia hanya karyawan. Orang-orang terlanjur oportunis sehingga muncul pernyataan ‘mengkayakan orang lain’ padahal dia juga bekerja di dalamnya.

Keempat tahap di atas bisa dilakukan dalam rangka suistain innovation (inovasi yang menyampurnakan kondisi sebelumnya) maupun disruptive innovation (inovasi yang mengubah total kondisi sebelumnya). Prinsip utama yang harus dipegang dalam setiap inovasi adalah keinginan pasar. Apapun organisasinya, perusahaan, manajemen, maupun lembaga non profit, pasti memiliki pasar yang menjadi tujuan. Jika suatu organisai tidak mengindahkan keinginan pasar maka dipastikan inovasi yang dijalankan sulit diterima sehingga ‘tidak laku’ lalu membongkar lagi setiap pekerjaan yang telah dilakukan.

Memahami pasar, tidak perlu menggunakan keruwetan berfikir akan kecanggihan suatu teknologi. Tetapi memahami pasar yang baik adalah menekankan pada kegunaannya. Jika suatu barang berguna untuk membantu orang lain, maka orang lain akan membelinya dengan puas. Karena itu mengembangkan suatu basis komunitas pelanggan juga perlu, sebagaimana yang dibuat oleh COC yang memiliki grup tersendiri bagi gamers untuk ngobrol dan mengutarakan pendapatnya secara terbuka. Memanfaatkan Kaskus bagi perusahaan Indonesia juga penting karena di sana terdapat berbagai komunitas yang secara setia dan aktif memberikan respon terhadap segala produk.

Everett M Rogers, merumuskan bagaimana suatu inovasi diadopsi oleh anggota masyarakat dalam bukunya berjudul “Diffusion of Innovations”. Inovasi di sini bisa digeneralisasikan pada segala sesuatu baik itu ide, praktik, atau teknologi yang baru dalam masyarakat. Menurut Rogers, ada empat tahap dalam mengembangkan kebaruan ini :

Pertama, inovasi itu sendiri. Menariknya, menurut Rogers, kebaruan atau inovasi ini diukur secara subyektif oleh pengguna/end user. Sehingga membuat suatu inovasi harus mengutamakan apa yang diperlukan oleh pasar, bukan apa yang menurut para innovator dalam perusahaan penting dan perlu. Karena itu survey terhadap pelanggan sering dilakukan peruahaan besar untuk mengetahui trend keinginan konsumen. Hal yang sama dilakukan dalam proses kampanye politik, kampanye ekonomi, maupun propaganda dan memenangkan opini publik.

Kedua, saluran komunikasi. Dalam keilmuan komunikasi, saluran atau media merupakan hal yang amat penting untuk mengomunikasikan setiap bentuk inovasi kepada pasar. Jika inovasi diharapkan dapat diterapkan oleh masyarakat luas maka media yang bersifat massif adalah jagonya, bisa media massa, media sosial, hingga pamflet dan spanduk. COC memanfaatkan Youtube untuk mengomunikasikan setiap inovasinya dalam bentuk video. Apalagi karakter tokoh COC unik dan menggelikan sehingga dibuat behind the story untuk memuaskan pelanggan.

Ketiga, jangka waktu. Tidak setiap inovasi yang diberikan akan langsung diterapkan kepada masyarakat. Semakin cepat suatu inovasi diadopsi, semakin bagus dan semakin dibutuhkan inovasi tersebut. Maka evaluasi harus terus menerus diadakan sehingga pasar memiliki banyak pilihan. Apa yang dilakukan Samsung dan Honda perlu dicontoh atas setiap inovasinya di masing-masing produk. Kadangkala, inovasi sekecil apapun dapat diterapkan dalam produk dengan nama yang lain. Meskipun bagi saya, pengguna menengah ke bawah, hal itu membingungkan, namun bagi pengguna menengah ke atas, inovasi kecil yang bersifat eksklusif amat dihargai.

Perusahaan juga harus memasang target maksimal suatu inovasi digunakan oleh pasar. Jika suatu inovasi tidak merebut hati pasar, maka cepat lakukan pergantian dengan inovasi yang lain. COC yang mematikan 14 games-nya demi menciptakan COC dan Hay Day juga dapat menjadi pelajaran yang berharga. Kita tidak tahu inovasi mana yang akan mendapatkan tempat layak di pasar. Perusahaan hanya bisa meramalkan dari survey, evaluasi, pendapat ahli, dan juga bisik-bisik konsumen. Persoalan suatu produk inovatif dapat diterima atau tidak, ya harus diluncurkan.

Keempat, system sosial. Sistem sosial memengaruhi banyak hal, mulai dari pilihan pribadi, politik, hingga sebuah adaptasi teknologi.  Seorang innovator harus dapat melihat bagaimana kondisi sosial di suatu wilayah yang menjadi sasaran inovasi itu diluncurkan. Karena system sosial ini juga memengaruhi jangka waktu dan saluran yang harus digunakan saat mengomunikasikan inovasi. Jika masyarakat masih memegang tradisi desa, cara mengomunikasikan inovasi bisa melalui opinion leader yang biasanya memiliki pengaruh lebih besar dari pada masyarakat perkotaan.

2017-07-23

Musik


Music adalah salah satu hal yang belum kukenal hingga saat ini. Sejarah musikku amat buruk. Hingga saat ini aku tidak punya kesukaan akan satu musik tertentu, baik genrenya, musisinya, maupun vokalis yang banyak dibanggakan teman-teman. Hal ini mengganggu mengingat orang-orang hidup dengan menjadi bagian dari sebuah music, baik musik sebagai budaya maupun industri. Rasa-rasanya ada yang kurang dalam hidup, namun mencintai segala sesuatu -termasuk musik- tidaklah mudah bukan?. Jadi ada beberapa hal dalam diri yang kita tahu kekurangannya, tetapi sulit menyembuhkannya.

Ketika Jokowi mengatakan bahwa ia penyuka music rock dan ia adalah penggemar berat Metallica, maka saya tidak paham apa itu rock dan apa itu Metallica. Begitu pun ketika Presiden SBY membuat beberapa lagu yang bahkan ia nyanyikan di hadapan para tamu negara, aku tidak paham sama sekali tentang musik yang ia bawakan. Sementara teman-temanku mengidentikkan dirinya pada OI dan Iwan Fals, aku sama sekali nggak paham sejarah OI atau pemberontakan yang dilakukan Iwan Fals dalam lagu-lagunya. Aku lugu soal lagu.

Pada 20 Juli 2017, Vokalis Linking Park Chester Bennington menggantung dirinya karena depresi. Aku mendengarnya dari salah satu penumpang mobil travel yang kukendarai. Ia bertanya tentang kematian Chester, dan aku mengangguk. “Iya mbak, bunuh diri”. Dan aku sama sekali tidak paham Chester itu siapa. Hanya berharap bahwa jawabanku benar. Karena setelah menjawab itu, aku pura-pura memindah lagu barat yang lebih enak didengar. Dari pertanyaan penumpang itu, aku menjadi gelisah akan sedikitnya pemahamanku soal musik.

Ketidakpahamanku tentang musik ini tentu ada sejarahnya. Dimulai dari pelajaran agama yang kudapat dari bapakku yang bercita-cita menjadi seorang kiyai. Bapak suka bercerita bahwa ia adalah santri yang taat sehingga cocok jika menjadi tokoh agama. Karena itu, seringkali ia mengkritik jika ada orang yang mengaji Al Quran dari speaker masjid, atau jika ada orang yang salah melafalkan tajwid ketika adzan magrib. Untuk meyakinkan ucapannya, bapak sering salat malam dengan wiridan berjam-jam. Kami adalah keluarga yang taat beribadah, meskipun dalam hal agama kami sering merasa kurang.

Dengan pendidikan agama yang ketat sebatas pemahaman kami yang kerdil, maka membuat bunyi-bunyian menjadi ‘haram’. Kata bapak, hal itu bisa mengundang setan. Akhirnya, sepanjang hidupku di rumah, tidak pernah sekalipun ada suara musik yang terdengar. Aku membayangkan betapa membosankannya hidupku waktu itu, meskipun tetap saja hidupku menggembirakan. Dan yang tidak disadari banyak orang adalah, musik erat kaitannya dengan kapital. Jikapun diperbolehkan adanya musik di rumah, maka hal itu tidak membantu karena tidak ada alat pemutar musik sama sekali. Kami tidak mampu beli bahkan sekadar tape dengan kaset pita. Hanya ada radio untuk memutar KH Zainuddin MZ dan Sandiwara "Arya Kamandanu" dan "Sandiwara Horor" di Radio Suzanna.

Meskipun pada saat Sekolah Menengah Pertama tahun 2003 aku memilih sekolah di luar desa, namun pendidikan yang kubawa dari rumah tetap melekat. Ketika teman-teman mulai menyanyikan "Demi Waktu"-nya Ungu di EBS FM, aku sama sekali tidak mengenalinya. Termasuk lagu "Kenangan Terindah" miliknya Samson yang merajai tangga nada di EBS FM dalam 8 minggu pun tak kuketahui. Seluruh pendengaran musikku berasal dari radio milik teman yang memiliki semangat belajar tinggi namun bernasib tragis karena persoalan ekonomi. Ketika itu, Sheila on7 sudah tidak terkenal. Tetapi sering kali teman-temanku kembali menyanyikannya karena memang saat aku SD, Sheila on7 sudah meraja lela.

Musik yang tak kupahami sama sekali membuatku ingin belajar gitar. Dua minggu belajar, aku merasa buntu dan memilih membaca buku. Suatu ketika pernah ikut main band bersama teman dengan menyewa studi musik di Paciran – Lamongan. Tetapi aku tidak sekalipun memahami nada yang ada sehingga kebingungan saat masuk ke sebuah lagu usai intro atau berhenti bernyanyi. Aku pun pernah belajar Banjari dengan menabuh musik yang memiliki ketukan DT TDD TTT DT. Meskipun pernah beberapa kali ikut lomba dan menang, tetapi tak kupahami satu pun nadanya. Sehingga aku hanya menghafalkan lagu dari vokalis, di mana aku harus berhenti, memulai, atau menepuk nada ‘naik’ dalam banjari.

Intinya aku gagal dalam memahami musik. Karena ketidakbecusanku dalam musik, maka musik tidak pernah menjadi prioritas dalam kehidupanku. Hal ini sama dengan orang lain yang tidak memahami nikmatnya membaca novel, maka ia tidak akan berteriak ketika menemukan Cantik Itu Luka (kubaca saat SMA dan menggelorakan gelisah asmara). Ini kaitannya dengan sebuah kemampuan yang berbanding lurus dengan hasrat pada sesuatu. Jadi semakin kita dipuji memiliki keahlian dalam satu hal, maka kita akan semakin berkemauan untuk belajar lebih banyak akan hal itu. Jika kita sudah tidak memiliki kemampuan dari awal akan suatu skill maka kita tidak akan punya niatan belajar lebih lagi.

Saat ini, entah dimulai berapa tahun yang lalu, aku mulai intens mendengarkan musik. Tidak ada genre tententu yang kusukai. Aku cenderung mendengar setiap musik yang aku merasa nyaman dengannya. Karena itu aku tidak fanatik pada salah satu genre atau benci dengan ganre yang lain. Aku biasanya mendengar Bob Dylan, aku juga mendengar Linking Park, Avril Lavigne, mendengar Kitaro, atau Mozart dan Beethoven, juga mendengar Rossa, Peterpan, Ungu, D’Massive, Kangen Band, Sting, Amy, Exist, hafal beberapa lagu dangdut semacam Bulan dan Bintang, Ilalang-Ilalang, Kandas, Birunya Cinta, Kimcil Kepolen, Suket Teki, juga hafal lagu Sewu Kutho, Stasiun Balapan, Terminal Tirtonadi, dan lain sebagainya.

Dan yang sekarang menemaniku setiap menyetir mobil Fiat 124s adalah lagu-lagu Bossanova. Aku merasa kembali tua, dilahirkan pada tahun 1970-an ketika sebuah mobil tidak membutuhkan spion kanan kiri. Sembari menyetir di Jalan Sultan Agung Kota Batu pada pukul 01.00 WIB aku akan melambatkan mobil lalu memutar musik Jass Java itu lumayan keras. Aku merasa bahagia, dan musik sejak dulu bisa membuat kita merefleksikan kekuatan maupun kelemahan diri sendiri. Apapun adanya pengetahuan musikku, kelemahan dan kebodohanku, aku tetap bahagia dengan apa yang telah kusadari sekarang.