2015-09-29

Sangat Berani


Merencanakan kehidupan bisa jadi adalah salah satu pekerjaan yang bisa membuat kita putus asa. Putus asa karena kita tidak punya banyak hal yang cukup membuat kita optimis. Bahkan bagi sebagian orang, optimis saja tidak cukup karena karena tidak bisa begitu saja mempercayakan segala nasib baik dan buruk kepada tuhan. Karena itu, kemungkinan untuk merasa senang dan baik-baik saja dalam zona nyaman adalah sesuatu yang wajar dan tidak perlu ditakuti.

Kenyataannya, dibutuhkan seseorang yang sangat berani untuk dapat berubah. Merencanakan kehidupan dengan tingkat keberhasilan hingga 80 persen juga butuh seseorang yang sangat berani. Kebanyakan kita sudah berani atau bahkan pengecut, namun itulah kewajaran hidup di dunia. Karena itu, tidak mungkin orang biasa-biasa saja dapat mencapai tingkat kepuasan sebab keberhasilannya hingga 100 persen.

Kesimpulan-kesimpulan ini bisa didapatkan saat kita menonton film, misalnya, atau membaca buku. Untuk sebuah film, marilah kita mengingat lagi Divergent. Di sana kita akan mendapati manusia yang hidup dalam suatu kota ini dibagi menurut pekerjaannya. Ada yang disebut sebagai Candor (jujur), Erudite (genius), Amity (suka damai), Dauntless (pemberani) dan Abnegation (penolong tanpa pamrih). Sedangkan Divergent adalah golongan yang memiliki sifat menonjol yang bisa jadi adalah gabungan dari beberapa golongan tersebut.

Untuk suatu kehidupan yang normal, seseorang tidak akan menciderai hal-hal yang telah ditentukan oleh pendiri suatu kota tersebut. Hal itu sama dengan film The Hunger Game yang membagi sebuah negara menjadi 13 distrik (Distrik 13 sudah punah). Orang-orang yang hidup setelah penegakan negara tersebut, tidak akan memiliki keinginan untuk merubahnya, atau memiliki keinginan tapi takut dengan keinginannya.

Kedua film ini memberikan gambaran bahwa orang yang berani sekalipun tidak akan dapat mengubah nasib yang telah ditentukan. Dibutuhkan Beatrice Prior atau biasa dipanggil Tris dan Katnis Everdeen yang sangat berani guna mengubah nasib diri sendiri, nasib keluarga, dan nasib seluruh bangsanya. Jika kebetulan keduanya adalah perempuan, maka bukan berarti saya ingin menggerakkan feminisme. Tapi disadari atau tidak, kedua perempuan itu tidak dapat berdiri kukuh tanpa peluk dan cium lelaki pasangannya.

Oleh karena itu, lihatlah di sekeliling hidup ini. Bagi orang-orang yang telah dilahirkan dalam keluarga biasa dan hidup pas-pasan, mereka akan kesulitan untuk bangkit lalu menjadi kaya dan bahagia. Apalagi orang yang dilahirkan dalam keadaan miskin, kemampuan berontak mereka sudah terkurangi sejak ia merasakan kemiskinan memenjarakannya. Kebangkitan dari keterpurukan ini, bukan hanya membutuhkan orang yang sekedar berani, tapi harus sangat berani.

Namun diam-diam pertanyaan seperti, kenapa orang tidak bisa sangat berani guna mengubah nasibnya sendiri? Perkiraan jawaban yang pas adalah karena ia merasa aman berada di lingkungannya sekarang, dan ia mau saja berubah menjadi orang yang sangat berani untuk mengubah nasibnya, tapi ia ragu bahwa apa yang dilakukannya akan membuahkan hasil.

Bila hasilnya bagus, maka ia hanya akan bersyukur karena mendapatkan keberuntungan. Tapi apakah ia akan sanggup bangkit lagi bila gagal? Terutama bila ia gagal lalu menyakiti banyak orang. Bisa jadi, saat ini mereka sudah memiliki janji dengan seseorang dan tidak ingin mengundi nasibnya untuk menjadi sangat berani. Karena bila ia gagal, maka ia akan kehilangan seluruh harapannya, termasuk kepercayaan orang disekelilingnya.

Menjadi sangat berani bukan persoalan mudah. Ia bukan hanya bagaimana agar lulus kuliah dengan nilai cumlaude, ia juga bukan hanya sekedar mendapatkan pekerjaan sebagai karyawan bank nasional. Meskipun dua hal tersebut menjadi prioritas sebagian orang yang menginginkan sebuah status dalam kehidupan –status yang bagus dan jelas sebagai sebuah pertanda kesuksesan di mata orang lain.

Tampaknya, semasa hidup ini, kita akan sangat kesulitan mendapatkan teman yang bisa kita golongkan sebagai orang yang sangat berani. Orang-orang yang sangat berani ini, selalu saja orang jauh yang sudah sukses lalu menulis buku. Kita hanya menjadi pembaca bukunya dan menunjang kesuksesannya sebagai penulis buku/novel motivasi. Jadi, adakah orang yang sangat berani di sekeliling kita, yang mampu mengubah nasibnya sendiri –pertama-tama- dengan keluar biasaan?

2015-09-27

Ulasan Film : Kon Tiki



“lakukan seperti penduduk asli, sampai ke detil terkecil. Jangan gunakan paku jika mereka menggunakan tali, jangan gunakan baja jika mereka  menggunakan tulang, nenek moyang perlu belajar 1000 tahun, dengarkan mereka”. –Peter Freuchen.

Akan ada banyak orang yang meragukan apa yang kau yakini meskipun disertai dengan sebuah argumentasi –yang sepertinya masuk akal. Entah orang-orang itu tidak setuju karena membencimu, ataupun karena memang keyakinanmu tidak masuk akal. Dan dimentahkan oleh orang lain adalah pengalaman yang menakutkan.

Namun dalam ketakutan ini, selalu akan ada ketakutan yang lain. Dan bagi kebanyakan orang, ketakutan akan membuat mereka putus asa. Sedangkan bagi sebagian yang lain, ketakutan membuatnya semakin berani. Paling tidak, itulah hal yang dapat kita lihat dari kisah akhir sebuah film yang di release pada tahun 2012 ini, Kon-Tiki.

Film Luar Biasa?

Bagiku, melihat film ini memang terlalu terlambat. Dirilis tahun 2012 namun baru saya lihat tahun 2015. Namun tidak apalah, hal-hal yang universal tetap bisa kita lihat dalam setiap hasil karya manusia. Dan di dalam film ini, kita akan melihat sebuah keberanian –dalam kata lain adalah kenekatan, bisa membawa perubahan besar –meskipun harus dibarengi dengan pengorbanan.

Dan apakah ini film yang luar biasa? Di satu sisi, film Kon-Tiki memiliki banyak kesamaan dengan film hollywood pada umumnya. Namun Kon-Tiki tidak dibuat oleh Hollywood melainkan oleh lembaga film di Swedia. Untuk perjuangannya sendiri, hampir sama dengan film “semacam” the Son of God dan Noah yang memperjuangkan keyakinan agamanya meskipun diolok-olok oleh kaumnya.

Kalau dari kisahnya ditengah lautan, memang tidak dapat mengimbangi film Life of Pi yang begitu dramatis, artistis, dan penuh teatrikal di tengah lautan dengan hanya Pi dan seekor Harimau Benggala. Dan perjuangan hidup semacam film ini, bisa kita dapatkan pada tokoh utama Cast Away atau Chris Gardner dalam The Pursuit of Happynes.

Jadi apakah film luar biasa? Ada satu hal yang membuat film ini luar biasa. Bahwa film ini bukanlah fiksi (sama dengan cast away dan the pursuit of happynes). Namun keunikannya, film Kon-Tiki memperjuangkan sesuatu yang bernilai ilmiah. Si Tokoh Utama, Thor Heyerdahl yang sekaligus seorang ilmuwan  ini begitu kuat keyakinannya untuk membuktikan bahwa penduduk Fatu Hiva, Polynesia, berasal dari Peru, Amerika Selatan.

Cobalah lihat peta, dan rasakan bagaimana hal itu mungkin terjadi.

Alkisah, film ini bermula dari seorang antropolog-etnografer yang melakukan penelitian di sebuah pedalaman bernama Fatu Hiva, Polynesia. Ia tinggal bersama mereka selama lebih dari 10 tahun demi melakukan penelitian doktoralnya bersama pacar-istrinya, Liv, hingga berjenggot lebat tidak terurus. Dari sanalah ia memahami budaya dan sistem sosial kemasyarakatan di sana, termasuk sistem beragamanya.

Dalam penelitiannya itu, ia mendapati kesimpulan bahwa masyarakat di Polynesia bukanlah berasal dari Asia sebagaimana pendapat ilmuwan antropolog pada umumnya. Thor ngeyel bahwa bangsa Polynesia ini keturunan orang Peru, Amerika Selatan yang telah berlayar melewati 8000 km lautan dengan rakit sederhana.

Setelah Thor pulang dengan kesimpulannya, sang Professor yang menjadi dosen pengujinya terkagum-kagum dengan hasil penelitian Thor. Namun sesuatu yang mengagumkan tampaknya tidak mudah dipercaya, sehingga sang professor juga enggan percaya –karena rasanya mustahil. Ia dengan enteng : “Rakit? Hahaha... apakah kau ingin teorimu di terima? Apakah kau merasa benar? Maka berlayarlah dari Peru ke Polynesia dengan rakit Kayu Balsa itu.” Sang professor melemparkan berkas penelitian si Thor, tidak lupa terkekeh sembari berkata: Good Luck!.

Percaya Diri


Thor menghadapi kenyataan pahit. Sejak ditantang oleh sang Professor, ia kemudian mencari sumber dana kemanapun untuk bisa membuktikan teorinya sendiri. Ia hendak berlayar dari Peru ke Polynesia yang memiliki jarak 5000 Mil atau 8.000 km melintasi Laut Pasifik yang ganas. Thor sangat yakin dan percaya diri, bahwa laut bukanlah hambata, tetapi jalan, bukanlah rintangan, tetapi jalur.

Ia berbicara dengan majalah ilmiah, ia berbicara dengan pelaut, ia berbicara kepada setiap orang yang diharapkan dapat membantu perjalanannya, namun nihil. Ia terpuruk di dalam kamarnya, tidur dalam kedinginan yang bukan oleh cuaca, tetapi oleh dinginnya tatapan setiap orang yang tidak mempercayai kepercayaan dirinya.

Orang-orang seperti ini, akan banyak sekali kita lihat di jalanan Indonesia. Orang yang memiliki idealisme tinggi, namun tanpa harapan. Dan ia harus ditolong. Saya sering kali melihat film yang mirip seperti ini. Mereka harus ditolong oleh sebuah harapan kecil dari teman. Pada saat keputusasaan Thor itulah, Herman Waltzinger datang dengan memperkenalkan diri sebagai insinyur, tetapi pekerjaan terakhirnya adalah tukang kulkas.

Dari sinilah Thor kembali memperoleh kepercayaan. Herman menunjukkan cara bagaimana agar kayu balsa yang akan digunakan rakit tidka bergesekan sehingga memutuskan tali-tali di tengah laut hingga kayu berpencaran. Keyakinan ini membawa perubahan. Ia akhirnya menemui raja namun tidak jelas raja mana, yang kemudian mengantarkannya kepada Angkatan Laut Kanada yang diminta untuk memenuhi seluruh kebutuhan Thor beserta enam kawannnya untuk ekspedisi ilmiahnya tersebut.

Keputusasaan yang hampir terjadi itupun tertolong. Dan inilah sesungguhnya kehidupan. Dalam film Divergent, pasukan Dauntless (berani) diajarkan untuk bertahan hingga titik terjauh, baik fisik maupun mental. Karena dari sanalah akan muncul mukjizat berupa pertolongan tuhan, berupa kemudahan-kemudahan sebagaimana yang dijanjikan: setelah kesulitan akan ada kemudahan.

2015-09-26

Pengalaman


budha laser, mencari pengalaman hingga keliling Asean
Ada dua macam pengalaman yang dikatakan seorang sastrawan saat memulai workshopnya. Dua pengalaman tersebut adalah pengalaman kognitif dan pengalaman empirik. Pengalaman kognnitif bermain dalam pikiran, pengandaian, dan ide-ide yang bersifat buatan di alam pikiran. Lalu pengalaman empirik adalah pengalaman yang terjadi pada diri seseorang secara nyata dan disadari.

Hebatnya dari pengalaman inilah kita mempersepsi sesuatu. Seseorang memiliki nilai standar, nilai moral, apa yang jahat dan apa yang baik, mana yang benar dan mana yang salah, segala sesuatu, didasarkan pada pengalaman. Maka dari itu, pengalaman menjadi penting bagi seseorang untuk memandang sesuatu sesuai dengan nilai yang dianutnya.

Membaca buku, baik buku fiksi atau nonfiksi adalah termasuk bagian dari mencari pengalaman itu sendiri. Pengalaman dari membaca buku ini akan menjadi dasar-dasar nilai yang akan kita anut, sehingga membaca buku termasuk dalam pengalaman empirik. Ia dengan sadar kita baca dan kita amini bila sejalan, atau kita tolak bila tak setujuan. Bahkan dari penolakan alamiah ini kita akan menemukan pengalaman yang akan kita gunakan dalam menilai.

Pengalaman sendiri berasal dari kata alam, sehingga peng-alam-an berarti alam yang sudah menjadi milik kita, atau kita menyerupai sosok alam itu sendiri. Ketika indera kita bersentuhan dengan alam, maka terjadilah pengalaman itu. Ketika pengalaman itu memberi kita sesuatu yang baru, maka terjadilah “tahu” atau akumulasinya disebut pengetahuan. Seseorang yang mengetahui suatu hal dengan porsi tertentu, maka akan disebut ahli.

Jadi tampaknya dasar segala sesuatu adalah pengalaman. Maka dari itu tidak heran jika salah satu dosen di Universitas Dr. Sutomo, Drs. Hartopo Eko Putro yang lebih akrab dipanggil “Papi” mengatakan “jangan pernah menolak pengalaman”. Dalam kuliahnya selama lima jam tersebut, dua jam pertama dihabiskan untuk merumuskan sebuah dasar dari pengetahuan manusia. Ia mengupas persoalan pengalaman yang rupanya, menjadi akar dari seluruh mata kuliah kehidupan manusia.

Pengalaman memiliki dua wilayah, frame dan field. Jika di-Indonesiakan, frame berarti kerangka, dan field berarti mendalam. Maka frame of experience adalah kerangka pengalaman yang dimiliki manusia dalam kesehariannya. Frame ini menjadi dasar pertama kali bagi seseorang untuk menangkap sesuatu, lalu menjadi persepsi. Persepsi yang paling awal ini, tidak lebih dari sekedar hipotesis (dugaan sementara) yang bisa saja 50 persen benar, dan 50 persen salah.

Misalnya kita melihat sosok lelaki berkulit gelap, tinggi besar, gondrong, lalu dari ujung bahu kaosnya terlihat sebuah tato berwarna biru melingkar-lingkar. Berdasarkan frame of experience, maka kita akan melihat sosok yang cocok berperan jadi penjahat. Mengapa kita melihat hal demikian? Karena citra tersebut menunjukkan sosok penjahat. Dari mana citra ini muncul? Ada dua jalur, pertama dari kenyataan di kampung-kampung, dan kedua dipatenkan dalam sinetron abal-abal made in Indonesia.

Inilah adalah frame yang kita bawa ke mana-mana. Pemikiran dan pengalaman yang cekak, ecek-ecek, cethek, membentuk sebuah persepsi yang bahkan bisa menjadi 90 persen salah. Paling tidak itulah pengalaman Papi dalam menghadapi seorang penumpang bus yang seperti sosok di atas. Ketika diajak ngobrol, bisa jadi dia usai mengantarkan gadis kecilnya mondok di Gontor, atau ia adalah penjual sayur keliling yang menghidupi puluhan anak yatim di panti asuhan, dan bisa jadi ia adalah sesuatu yang menakjubkan.

Ketika kita menggali apa yang ada dari frame of experience inilah, maka pengalaman akan menjadi mendalam lalu kita sebut field of experience. Jika hanya berhenti pada frame, maka kita menjadi kolot. Maka dari itu, menjadi manusia belum sempurna jika tidak sampai mendalami pengalaman guna memastikan bahwa persepsi kita tidak salah. Paling tidak, jika kita semakin banyak memiliki pengalaman mendalam, maka keterbukaan pikiran dan hati dalam memandang segala peristiwa menjadi jernih.

Maka dari itu betul, jangan pernah mencoba menolak pengalaman. Sebaliknya, jika ada kesempatan berpengalaman, maka ambillah sebanyak-banyaknya. Bisa jadi, mencoba pengalaman ini akan berakhir buruk. Tapi bisa jadi keberhasilan dalam genggaman. Memang begitulah kehidupan, simalakama, tidak selamanya orang baik menang. Hanya di cerita Nabi saja, kebaikan menang.

Dalam kenyataan sehari-hari, jangan heran kita banyak mendapati kisah sejati seorang miskin yang sudah bekerja keras namun tidak juga berhasil. Atau seorang mahasiswa yang tiap malam merangkum materi namun IPK tetap setengah mati. Keberhasilan yang dialami sepatu butut macam Dahlan Islan, atau pemakan singkong macam Chairul Tanjung, dan santri kecil macam A Fuadi, adalah tiga keberhasilan dari ribuan kegagalan orang lain –tumbal.

Namun, sebagaimana banyak orang katakan; hasil itu tidak penting, yang penting adalah prosesnya. Boleh percaya atau tidak, saya merasakan proses yang mengerikan juga termasuk menyakitkan. Alangkah senangnya bila kita hidup berproses mudah, lalu menghasilkan karya gemilang. Karena itu, yang dinamakan doa sapu jagat adalah : Tuhan, berikan saya hidup di dunia yang baik, di akhirat yang baik, dan jauhkanlah kami dari api neraka.

Pengalaman, sebaik apapun akan menjadi masa lalu, seburuk apapun juga merupakan masa lalu. Tapi dari pengalaman baik buruk ini, pengalaman yang mendalam ini, yang akan menjadikan kita manusia yang bertuhan, manusia yang tahu terimakasih, dan manusia yang tanpa penyesalan. Mari mencoba pengalaman baru.

2015-09-01

Mencari Hidup Bahagia


Kenyataannya, hidup tidak semudah sebagaimana yang kita bayangkan. Dari ratusan teman BBM, dan ribuan teman Facebook, mungkin hanya satu persen yang tidak pernah mengeluh, dan selalu “terlihat” bahagia. Hampir 99 persen lainnya mengeluh dan mengumpat, atau bersembunyi dalam doanya kepada tuhan melalui quote yang ia temui di internet.

Mengapa banyak yang sedih di dunia ini? Adalah hal yang sangat membingungkan bila Allah menciptakan kehidupan menyedihkan yang selalu mengelilingi umatnya. Tapi sekaligus menggelikan karena Allah bukanlah makhluk, tapi Dia adalah Tuhan, yang dengan demikian ia menciptakan segala sesuatu dengan sempurna. Maka jalan rumit yang diusulkan oleh Pak Kiyai adalah : semua ada hikmahnya.

Kehidupan memberikan kita fasilitas berupa kesulitan sehingga kita bisa berjuang, juga kemudahan agar kita tidak putus asa. Itulah esensi yang mestinya kita tahu. Maka dari itu, belajar adalah hal yang sangat baik, belajar serius melakukan sesuatu yang tidak kita senangi. Akan ada banyak kesulitan dalam perjalanan ini, dan yakinlah bahwa bukan hanya kita sendiri yang mengalaminya.

Semua orang pernah mengalami bahwa hari itu adalah hari terburuk sepanjang hidupnya. Lalu esok hari setelah persoalan itu selesai, ia lupa bahwa ia telah menghentikan hari terburuknya tersebut. Dan saat ia merasa bahwa hari itu adalah hari terbaiknya sepanjang masa, ia juga lupa bahwa besok akan menghadapi kesedihan lagi.

Lalu adakah orang di dunia ini yang berbahagia terus menerus tanpa pernah bersedih? Tentu saja tidak ada. Kebahagiaan dan kesulitan itu ada sesuai dengan porsinya. Kita yang menjadi manusia normal, akan memandang setiap orang yang berkelas seperti Harry Taoesoedibjo, atau Dahlan Iskan, atau Choirul Tanjung, atau Jacob Oetama sebagai orang yang selalu bahagia.

Dan kalau kita memandang anak-anak gelandangan, penjual pentol yang keliling pakai sepeda ontel, pengemis yang rumahnya di bawah jembatan, orang tua yang berjualan pracangan di pinggir jalan setiap hari Minggu pagi, dan yang sebangsa dengan mereka, adalah orang-orang yang selalu bersedih dan berkesusahan.

Kita bisa melihat, bahwa pandangan kebahagiaan dan kesedihan kita lebih didasarkan pada kepemilikan materi, bisa uang atau pakaian atau kendaraan, dibandingkan dengan kepemilikan hati yang bersih. Ini adalah sesuatu yang naif. Bahkan kita sebetulnya tidak benar-benar mengerti ukuran kebahagiaan.

Sebagian besar kita faham bahwa kebahagiaan bukan didasarkan pada hal-hal yang bisa dilihat, namun dalama prakteknya kita selalu lupa. Itulah manusia. Kita yakin bahwa kekayaan paling penting adalah kaya hati, tapi sekaligus kita melupakan keyakinan itu dengan mengambil harta dan hal-hal fisik sebagai tolok ukur.  

Kepada setiap orang saya selalu bilang bahwa jangan menyerah untuk bahagia. Kenapa jangan menyerah? Karena kebahagiaan adalah tujuan utama. Demi kebahagiaan, semuanya harus dikorbankan. Susunlah kebahagiaan menurut kita sendiri, lalu perkirakan apa saja yang perlu dilakukan untuk meraih kebahagiaan tersebut.

Kita musti belajar apapun juga untuk meraih kebahagiaan itu. Jika kita memang yakin bahwa kebahagiaan adalah berhubungan dengan uang, maka tidak perlu malu-malu mengungkapkan bahwa uang adalah sumber kebahagiaan kita. Tunjukkan kepada orang-orang bahwa kamu mengejar uang.  

Jika kebahagiaan adalah bekerja dengan orang-orang secara sosial demi mewujudkan kehidupan orang lain yang sejahtera, maka peganglah pekerjaan sebagai pekerja sosial. Dan bila bahagiamu adalah dengan memiliki istri yang cantik lagi kaya, maka berjuanglah demi cita-cita tersebut.

Tentu saja, semua itu harus didasarkan pilihan rasional, memilih dengan hati tanpa emosi, pikiran tenang dan damai, dan akal yang sehat lagi beradab. Semua orang berhak bahagia dengan pilihannya masing-masing, namun ketahuilah pilihanmu dengan rasional agar kebahagiaan menjadi lebih dekat dan mudah dicapai.

2015-08-12

Menunggu Teman yang Suka Tidak Tepat Waktu


Banyak hal yang membingungkan selama hidup di dunia in. Sebagaimana sekarang, saya menunggu seorang teman lama yang sudah berjanji akan di sini usai magrib. Ini adalah janji ke sekian yang ia tidak tepati, dan menghubunginya adalah sesuatu yang mustahil. Karena ratusan kalipun aku telpon tetap saja tidak diangkat, dan ribuan PING di bbm tidak ada “read”.

Sebelumnya memang aku tidak pernah janjian dengan orang ini. Hanya berteman akrab dan menghabiskan waktu bersama. Maka dari itu kami tidak pernah saling berjanji untuk bertemu di suatu tempat. Itu dulu, saat masa kuliah. Maka dari itu kami disebut teman akrab, bersama dengan tiga atau empat orang lainnya.

Dan sekarang, setelah bertahun-tahun tidak ketemu, saya mencoba mencarinya. Sebetulnya sudah pernah bertemu di Surabaya sejak kepulanganku dari Papua. Namun hanya sebatas bertemu karena kami punya kesibukan sendiri-sendiri yang tidak bisa diganggu oleh orang lain.

Lalu dia memutuskan untuk mencari peruntungan di Malang, sedangkan aku masih di Surabaya. Aku ke Malang dalam rangka mencari teman-teman lama yang sudah berpisah sejak aku lulus kuliah dan memutuskan keliling Indonesila. Jadi, yang bisa kusebutkan adalah seharusnya dia yang menjadi tuan rumah di sini karena saya adalah kafilah yang akan segera berlalu.

Namun sebagai tamu, ia belum berhasil menepati janjinya untuk bertemu di warung kopi langganannya. Ini adalah warung kopi langganannya. Bukan langgananku, dan aku tidak kenal sama sekali dengan pemilik atau suasananya. Jadi aku berdiam diri sembari menulis.

Jelas bahwa aku akan menulis sesuatu sambil menunggunya datang, atau paling tidak ia membalas bbm dan telponku. Jadi batasannya adalah bila ia datang, maka aku akan berhenti menulis. Dan bila ia tidak datang hingga tulisanku selesai, maka aku akan pulang. Hitung-hitung aku telah menulis sembari menunggu seseorang yang tidak menjengkelkan, tapi terus membuat situasi menjadi menjengkelkan.

Tetapi semakin lama, aku menjadi cemas dan gelisah seperti menunggu seorang perempuan. Lagu dangdut yang diputar oleh muda-mudi di depanku juga membuat suasana menjadi busuk. Entah bagaimana menggambarkannya, dia seperti remaja gaul dan garang, bermain kartu sembari berteriak-teriak seperti penyuka rock, tapi memutar lagu dangdut.

Bukan berarti aku tidak suka dangdut sih, hanya saja aku ingin mengumpat siapapun juga. Jadi tidak masalah ada dua gadis cantik yang suka sekilas memandangiku yang mengetik dengan cepat dan bibir selalu senyum. Mungkin ia heran dan jatuh cinta padaku, meksipun aku tidak meliriknya sama sekali. Nah, akhirnya tulisan ini memiliki penjabaran yang aneh.

***

Sekarang dia sudah datang dengan sepeti alasan, yang konon, alasan selalu benar. Aku mendengar alasannya dengan nada datar. Tidak ada hal yang menarik dari seseorang yang tidak menepati janji, sekecil apapun janji itu. Persoalan janji, tentu saja tokoh-tokoh kartun Jepang sangat memegang janjinya. Maka orang Indonesia, saya kira masih kesulitan memegang janji, sebagaimana orang Jepang kesulitan melafalkan namaku –gak ono hubungane.

2015-07-30

Memasarkan Media Baru

Termasuk salah satu tantangan terbesar sebuah media baru adalah pemasaran. Bagaimana media baru yang tidak memiliki modal yang kuat bisa survive di suatu daerah adalah pekerjaan berat. Namun cerita cerita mengenai perjuangan membentuk media dengan modal minim bukanlah sesuatu yang baru, sehingga pasti ada rumusan masuk akal untuk sama atau melampauinya.

Sebagaimana yang telah saya jelaskan pada tulisan awal, bahwa membentuk media online bukan sesuatu yang sulit. Kita tinggal membeli hosting dan domain, lalu mencari teman teman sendiri untuk menjadi wartawan dan redaktur. Secara teknis hal ini sederhana, tinggal bagaimana cara menjual website tersebut supaya banyak pengunjung realnya. Setelah diketahui banyak pengunjung, maka tentu saja iklan akan berdatangan yang artinya, kinerja akan terbayar lunas.

Memasarkan media, kita harus bisa menawarkan kualitas yang berbeda dari media pesaing. Perbedaan ini haruslah pada persoalan yang urgen, tidak masalah bila media pada awal awal selalu memberitakan hal yang bombastis. Itu adalah salah satu strategi marketing. Yang perlu dibenahi hanyalah, bagainana informasi yang bombastis tersebut tidak mengada ada, artinya akurat dan benar ada. Bila berita yang menyinggung orang atau kelompok lain, maka cukupkan dengan konfirmasi terhadap pihak lain yang mungkin dirugikan.

Persoalan bombastis apa saja yang bisa diungkap? Pertama tama soal kriminal, itu bisa menjadi berita yang hot apalagi persoalan korupsi dan pembunuhan. Persoalan pemerintah, kesejahteraan rakyat, inovasi daerah, kehutanan, tata kota, juga pendidikan, pasti menyisakan banyak informasi yang berdampak luas. Hal lain yang bombastis dan memuakkan adalah kehidupan seorang tokoh yang ada di lokasi media tersebut yang memiliki massa banyak, sehingga seluruh massanya akan membuka media kita.

Setelah melakukan pembedaan yang signifikan, lalu mulailah dengan menuliskan berita yang spektakuler; bukan berita biasa, namun berita yang membuat masyarakat berdecak kagum. Berita semacam ini bisa jadi adalah berita yang membutuhkan desain yang panjang. Maka dari itu butuh perencanaan yang matang untuk mengungkap suatu peristiwa, dan mengumpulkan narasumber yang mau bersuara meskipun dengan inisial saja.

Berita berita seperti ini tentunya mengingatkan kita pada berita majalah Tempo. Persoalan nasional yang sedang dibicarakan, lalu diungkap dengan teliti dari hulu hingga hilir, menghadirkan narasumber atau saksi kunci yang bisa dipercaya. Berita investigasi pasti akan membuat orang tercekat karena datanya yang lengkap, bukan sekedar straigt news yang memuat 5W+1H. Maka sempatkanlah meskipun cuma satu berita saja seminggu, dimulai dari persoalan sampah, pendidikan, pengrusakan lingkungan, dan atau pengungkapan tindak kriminal.

Yang terakhir namun tak kalah penting adalah persoalan berita yang tendensius. Sekarang kita tidak membahas kualitas berita, maksudnya, kita tidak membicarakan kebutuhan masyarakat akan informasi yang baik dan edukatif. Pemasaran tokcer yang terakhir ini adalah melakukan advertorial gratis, dengan memilih tokoh atau lembaga yang punya posisi tawar kuat. Atau jika sudah habis, babatlah komunitas komunitas yang biasanya memiliki banyak simpatisan serta jaringan media sosial luas.

Kita akan memanfaatkan narsisme individu atau kelompok. Narsisme adalah kecintaan terhadap diri yang berlebihan. Narsis yang seimbang akan membawa kepercayaan diri seseorang sehingga tidak mudah terpengaruh orang lain. Namun saat ini, di mana selfie di pegunungan lebih penting daripada menikmati keindahan pegunungan itu sendiri, menimbulkan penyakit akut yang bisa kita manfaatkan. Kecintaan orang terhadap dirinya, baik cinta dengan wajah atau pemikiranya, akan mudah kita bohongi.

Jadi hal yang bisa dilakukan adalah membuat program advertorial gratis untuk waktu tertentu. Berita khusus advertorial ini biasanya dibahas oleh marketing, dan dikerjakan oleh tim khusus. Namun karena media online baru tidak punya banyak karyawan, maka bolehlah wartawan yang mengejar advertorial tersebut. Kita tinggal mendatangi beberapa komunitas atau perseorangan, lembaga tertentu atau perusahaan dan kelompok kelompok kecil di sekitar kantor. Dijamin mereka akan bersenang hati demi mendapatkan porsi pemberitaan yang mengangkat nama mereka.

Lebih konkritnya akan saya contohkan. Misalnya kita mendatangi setiap Unit Kegiatan Kampus (UKM) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di suatu kampus, lalu menulis program unggulan mereka atau menulis prestasi khusus yang bernilai berita. Maka dijamin setiap anggota organisasi tersebut akan membuka media online yang menayangkan, disimpan linknya, dan saat pengenalan mahasiswa baru akan ditunjukkan. Secara tidak langsung, ini adalah iklan gratis bagi media, plus menaikkan ranking pengunjung. Jika satu bulan saja kita memprogram advertorial gratisan ini, maka media sudah akan dikenal seantero daerah.

Selanjutnya adalah mempertahankan program dan trik media yang dinilai bagus, dan selalu berinovasi dalam kreatovitas tanpa batas untuk selalu menghadirkan kesegaran kepada publik. Tentu saja, sekali kali kita harus jadi media yang super baik dengan menampilkan informasi yang berguna kepada masyarakat, lain waktu kita jadi media jahat demi suatu popularitas. Dunia bisnis, kita harus selalu siap bukan?

2015-07-29

Menjadi Kaya Bersama

Pertanyaan paling mudah diajukan namun memiliki jawaban paling rumit bukanlah masalah filsafat. Pertanyaan yang paling sulit itu adalah : bagaimana cara sukses di bidang materi, atau bagaimana cara menjadi kaya.

Karena kita biasanya yakin bahwa kaya tidak dibangun dalam semalam, maka saya yakin dengan asumsi bahwa kaya itu memang bisa dibangun dalam semalam. Saat anakanak alumni MA. Roudlotul Mutaabbidin sedang kumpul malam lebaran, saya hampir mengarahkan untuk menjadi kaya bersama-sama, namun saya urungkan karena tampaknya belum waktunya.

Dan tulisan ini, memang saya sengaja tujukan kepada anakanak aliyah dengan harapan yang luar biasa. Atau kalau kemudian berguna, bisa menjadi acuan kelompol lain. Dengan sebuah tulisan, saya berharap pemikiran ini lebih mudah difahami, lebih runut, dan lebih mudah disebarluaskan untuk kepentingan yang lebih tinggi. Apakah bahasa saya sudah mendakik-dakik seperti seorang sastrawan? Mungkin Thoharul Fuad mampu menjawabnya, atau sang filusuf Nurdiansyah?

Sebelum berlanjut, saya ingin memberikan pemahaman bahwa kekayaan bersama mungkin akan membuat perpecahan. Maka dari itu dibutuhkan hati yang dapat berdamai dengan keinginan individualismenya, yang sudah dan belajar membunuh macan dalam hatinya.

Menjadi Kaya

Percayalah, bahwa kaya itu soal mental. Tapi hal ini menjadi klise, tersamarkan gegara buku buku cara kaya yang hanya banyak bicara. Lihatlah bukunya Ippho Santosa yang fenomenal tentang kaya menggunakan otak kanan, atau bukunya Cipto Junaidi soal kaya lewat properti, atau bukunya Yusuf Mansur dengan model shodaqoh. Teoritis, dan kalaupun praktis, sangat sulit direalisasikan.

Saya membayangkan 50 anggota alumni yang datang beberapa waktu lalu bisa selalu sempak (semangat dan kompak). Jika tidak ada yang banyak bicara dan persisten dalam bekerja, ide saya menjadi kaya bersama adalah wujud dari keniscayaan. Beberapa kekuatan akan dapat kita gabungkan: modal, konsep, dan citacita. Secara ringkas, ide menjadi kaya bersama ini adalah : mengumpulkan modal dari iuran terencana, membuat sistem usaha, dan membuatnya jadi luar biasa.

Pertama tama, kita akan membicarakan soal modal. Orang yang punya konsep brilian namun kekurangan modal di dunia ini sudah teramat banyak. Mau usaha apapun, pasti yang terlintas pertama kali adalah dari mana modal bisa didapat. Mengapa orang yang tidak memiliki modal cenderung punya ide bisnis yang brilian? Karena begitulah permainan Tuhan. Persis orang yang punya modal besar, tapi kesulitan mendapat ide usaha, dan jikapun diberi usulan ide, ia selalu tidak yakin. Saya tahu, karena saya pernah menjadi duaduanya.

Modal bisa didapat dari iuran. Dari 50 orang, mungkin yang bersedia bergabung dalam sebuah rencana ini adalah 25 orang; anggap saja demikian. Tahun depan, jika kita ingin punya modal sebesar Rp 25 juta maka kita bisa mencapainya dengan iuran Rp 1 juta perorang. Uang sebesar itu, saya masih yakin akan sulit diusakan sendirian mengingat kita semua berpendidikan menggunakan beasiswa.

Uang sebesar Rp 25 juta ini bisa dengan cepat kita dapat tanpa mengurus hal hal yang rumit. Dan perlu saya tegaskan, bahwa kita bisa menyepakati nominal berapapun yang kita inginkan, disesuaikan dengan usaha apa yang hendak dibangun serta kekuatan finansial masing masing. Karena suatu perkumpulan akan menjadi sia sia bila orang orang saling membicarakan di belakang, dan tidak puas dengan kesepakatan bersama.

Adapun jenis usaha yang bisa kita pilih tentunya bermacam macam tergantung selera dan pengalaman. Hal paling sederhana yang bisa saya ajukan adalah : jika ingin kaya maka jadilah pedagang, jika ingin bahagia jadilah petani, dan jika dihormati maka jadilah pegawai. Dan pilihan yang masuk akal adalah menjadi pedagang, meskipun bertani (di dalamnya ada berternak dan pertambakan) juga patut dipertimbangkan.

Dalam dunia perdagangan, kita harus sesuai dengan prinsip ekonomi: membeli dengan murah, lalu menjual mahal. Selisih pembelian dengan penjualan itu adalah keuntungan. Dan sesuai dengan analisis kehidupan ini, barang dagangan yang dapat menghasilkan keuntungan konsisten adalah barang yang dibutuhkan sehari-hari, setiap hari, dan selamanya, yaitu : pakaian, makanan, dan barang elektronik. Ketiga barang ini adalah pilihan paling aman, namun secara spesifik masih harus dirumuskan.

Usaha apapun menjadi mungkin saat kita punya sumber daya yang memadai. Usaha toko baju online misalnya, telah terbukti membawa keuntungan maksimal tanpa modal hanya dengan menjadi reseller atau dropshipper. Dan menjual minuman dan makanan yang didesain seperti kafe yang berkarakter, di Malang atau Yogja, sama menjanjikan. Termasuk usaha jual beli laptop, komputer, printer, HP beserta accesoris, sekaligus menyediakan pusat perbaikannya.

Tiga hal ini saja sudah hebat jika kita serius menggarapnya, dan komitmen untuk tidak mudah menyerah. Usaha lain yang mungkin adalah dengan beternak ayam, kambing, atau sapi dengan jumlah dan kondisi tertentu. Namun saya tidak akan membahasnya terlalu rigid di sini, karena persoalan pilihan usaha bisa dibahas bersama sama.

Saya percaya, ketika hal ini dilakukan dengan serius, maka dalam waktu kurang dari 10 tahun yang akan datang, MA Roudlotul Mutaabbidin sudah punya perusahaan sendiri untuk mensupport segala kebutuhan. Dengan asumsi tiap tahun mengalami peningkatan modal, dan perusahaan bisa melakukan ekspansi ke ranah yang lain, maka kita akan berjaya. Sekolah pun ringan memberikan beasiswa kepada siswa kurang mampu, dan menyediakan lapangan kerja bagi alumni yang potensial.

Jadi, ini adalah sumbangsih pemikiran saya untuk membangun sesuatu yang lebih realistis. Karena kumpulan alumni bukan anak kecil lagi, saya yakin masukan dan saran teman teman lainnya akan dapat membuat perubahan lebih besar lagi.

2015-07-28

Menciptakan Media Online

Hal yang paling mencengangkan sekarang ini adalah kemudahan dalam membuat media online. Tidak ada orang yang menyangka bahwa membuat dan menciptakan media begitu mudahnya. Bagi pekerja media, tentunya ini adalah tantangan yang menjengkelkan karena pesaing akan semakin banyak, yang disaat sama, mereka tidak memiliki kredibilitas yang memadai.

Sebagaimana diketahui, bahwa membuat media online tidak membutuhkan modal besar sebagaimana media lainnya. Tidak ada biaya membeli alat percetakan seharga miliaran rupiah, dan bagi media elektronik adalah membeli peralatan teknis yang juga bisa mencapai miliaran rupiah. Anda bisa membayangkan hal ini?

Kita hanya perlu menyiapkan medium berupa website yang harga domain dan hostingnya tidak lebih dari 10 juta rupiah. Sementara untuk desain website dan tetek bengeknya, kita tinggal merayu mahasiswa jurusan teknik informatika yang memiliki IPK memuaskan. Hujani dengan pujian maka ia akan bekerja sepenuh hati, lalu hargai kerja kerasnya dengan menjadikannya sebagai teman dan karyawan.

Apakah tidak perlu menyiapkan cukup uang untuk membayar gaji karyawan dan wartawan? Tunggu dulu, hal yang ingin saya tekankan adalah kita membuat media dari bawah karena kita memiliki ide banyak namun sedikit uang. Maka dari itu, saya sarankan agar menggunakan sumber daya manusia yang handal, namun meminimalisir uang yang kata orang adalah segala galanya. Semua hal baik bisa dilakukan dan tidak ada yang tidak mungkin.

Sebagai pekerja media, kita tentunya bisa mendapatkan teman teman mahasiswa yang memiliki semangat juang yang tinggi. Tinggal diiming-imingi idealisme mengenai kekuasaaan media dalam membangun peradaban, atau tumbuhkan ketidakpercayaan pada media massa mainstream yang jelas jelas tidak memihak rakyat. Ajak teman-teman dekat satu organisasi, ajak teman ngopi, dan teman naik gunung bersama yang satu pemikiran, dan kita sudah punya tim solid untuk bekerja.

Karyawan media massa semacam ini tidak usah banyak banyak. Cukup 5 wartawan untuk media online level lokal atau daerah, plus 2 redaktur dan 1 orang teknisi serba bisa (berkemampuan memperbaiki website dan jaringan internet atau kelistrikan). 8 orang ini sudah lebih dari cukup untuk menjadikan media online tersebut besar dan memiliki kredibilitas berita yang menjanjikan -tentunya dengan soliditas dan sense of belonging yang tinggi terhadap media.

Adapun 5 wartawan ini bisa diplotkan sesuai kategori pemberitaan. Misalnya kategori kriminal, pemerintahan, ekonomi bisnis, pendidikan, lingkungan, dan lain sebagainaya. Atau bisa juga dipilih berdasarkan area peliputan, yang biasanya dibagi berdasarkan kawasan tertentu, misalnya satu kecamatan satu wartawan. Namun tidak harus saklek, bisa saja satu wartawan memegang dua kategori pemberitaan sekaligus disesuaikan dengan kondisi peliputan.

Dengan kondisi tim redaktur yang hanya 2 orang, maka tentunya tumpuan besar ada di wartawan. Mengapa? karena jika wartawan tidak banyak membuat kesalahan dalam beritanya, maka redaktur tidak akan susah payah. Yang artinya, tidak akan banyak berita yang kecolongan ; baik kecolongan secara teknis atau prinsipil. Di sinilah wartawan harus memiliki kemampuan standar sebagai penulis sekaligus first editor.

Nah bila kemampuan wartawan dirasa masih belum standar dan terlalu sering membuat kesalahan, maka harus di gembleng secara serius. Pelatihan dan workshop kudu sering diadakan untuk memperbarui kemampuan kepenulisan sang wartawan. Pilihan terakhir bila wartawan terlalu begok, ya kudu berani mengambil langkah pemberian surat keluar dengan cara yang paling baik. Kita tidak boleh membangun jaringan musuh, karena itu adalah lumpur hidup bagi media baru. Namun kita juga jangan memelihara teman yang mendatangkan kerugian yang teramat besar.

Setelah beres dengan persoalan kapabilitas wartawan, selanjutnya mari melihat kinerja redaktur. Karena sudah menjadi redaktur, maka sudah seharusnya mahir dalam bidang jurnalistik, minimal secara praktis. Kalau secara teoritis juga berkemampuan, maka itu adalah bonus yang luar biasa. Karena redaktur adalah tonggak terakhir dan yang paling penting sebelum berita tayang untuk publik.

Untuk 2 redaktur ini, bila persoalan kapabilitas sudah oke, bisa kita rangkapkan dengan jabatan lainnya. Redaktur satu merangkap jadi pimpinan redaksi plus redaktur pelaksana, dan reaktur satu lagi dirangkapkan pada pimpinan umum dan atau manager iklan. Menjadi pimpinan redaksi tidak akan menyita banyak perhatian karena cara kerjanya tidak jauh beda dengan redaktur. Hanya pimpinan umum dan manager iklan saja yang pekerjaanya lebih eksternal, sehingga butuh pembagian kerja yang proporsional diantara dua redaktur tersebut.

Oke, sekarang saatnya bekerja secara teknis di lapangan. Perlu diingat bahwa media online membutuhkan kecepatan, bukan kelengkapan data. Butuh beberapa kalimat saja untuk menggambarkan sebuah peristiwa sehingga pilihan bahasanya harus lugas. Bahkan wartawan online harus membiasakan diri untuk mengetik di handphone sehingga bisa tetap menulis berita dalam sebuah acara atau insiden. Jadi, tidak perlu menunggu hingga selesai suatu agenda sebagaimana media cetak dan elektronik.

Maka dari itu, tidak mengherankan bila wartawan media online bisa menulis 5 berita untuk satu peristiwa karena yang dikedepankan adalah kecepatan update. Bila ada tiga kejadian saja di satu wilayah, dan wartawan bisa mengolahnya jadi 3 berita maka dia akan menulis 9 berita untuk satu hari. 9 berita di kalikan 5 wartawan, maka media online bisa update 45 berita dalam satu hari satu malam. Ini adalah berita minimal, dan tentu saja bisa bertambah bila semangat kru tidak memudar.

Supaya lebih jelas, saya akan memberikan gambaran terkait suatu peristiwa kebakaran. Media online bisa menulis 6 berita dalam satu kejadian ini : berita kejadian, berita kerusakan, berita kesaksian, berita adanya terduga pelaku, berita himbauan pemda atau kepolisian setempat, dan di sore hari berita soal kelanjutan penyelidikan kepolisian. Silahkan melihat berita di media online seperti detikcom atau kompascom, dan bandingkan dengan media cetak : seluruh berita tersebut akan menjadi satu saja.

Soal pengiriman, wartawan harus cekatan. Tiap selesai mengetik satu berita, ia diwajibkan langsung mengirimkannya ke redaktur supaya diedit, dan diterbitkan secara langsung. Redaktur, pada tahap awal ini bisa juga berperan sebagai uploader agar efisien dan efektif. Karena jika masih mempekerjakan karyawan teknik di atas untuk pekerjaan upload yang sepele ini, akan memperlambat pekerjaan; birokrasi yang rumit.

Bila media ini sudah mampu berjalan satu bulan saja, maka ke depannya tinggal memperbaiki hal hal tambahan secara disiplin. Dalam satu bulan itu juga,  sudah ada 45 berita perhari dikalikan 26 hari, dengan asumsi satu hari disediakan waktu santai, sehingga akan ada 1.170 berita. Jika wes designnya sudah profesional, dan hostingnya berkapasitas mumpuni, maka media online profesional sudah berada di tangan anda. Tinggal mencari iklan dan dukungan dana dari advertorial, yang tentunya kita butuh membicarakan hal ini diwaktu yang lain.


2015-07-03

Resah Manusia Indonesia





Di akhir pengajian Bangbangwetan pada 2 Juli 2015 lalu, pertanyaan yang paling konkret untuk diajukan adalah bagaimana menjadi manusia indonesia dalam menyikapi kosnpirasi politik dan ekonomi yang terpampang nyata tersebut.

Dulu saya sempat meyakini bahwa semakin kita tahu, maka semakin kita tidak bisa apa-apa. Dan kini, keyakinan tersebut tampaknya menemui pembenarannya karena kita memang tidak mampu berbuat apa-apa kecuali berbicara dan membuat konsep. Mau tanah indonesia dirampas, media kita ditunggangi pemodal, hasil bumi dicuri, bahkan kebudayaan juga sudah diklaim negara tetangga, kita sebagian besar bangsa Indonesia malah plonga-plongo.

Mahasiswa masih saja gelisah karena tidak bisa meluluskan diri dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Mahasiswa yang keren dengan puisinya, lalu memiliki pacar di setiap sudut kampus dan menjadi linglung oleh perempuan. Dan pemuda-pemuda yang akhirnya membuat komunitas-komunitas sendiri karena galau tidak mampu bergabung dengan kekuatan yang lebih besar.

Banyak orang yang sakit hati, entah karena pengetahuannya yang sombong, atau karena ketidaktahuannya yang dungu. Mereka lalu menjadi apatis, dan persoalan ini mewabah di hampir seluruh kota di Indonesia. Pemuda yang sadar dan berani bergerak pun, enggan menyentuh dimensi ekonomi politik karena beranggapan bahwa dunia tersebut sudah teramat kotor, dan butuh kekuatan Tuhan untuk merubahnya seketika.

Keresahan-keresahan kita sebenarnya sudah terlampau banyak. Sehingga penambahan keresahan yang dilakukan oleh Bangbangwetan menemui puncaknya, dan seharusnya membawa suatu revoluasi yang sebenarnya. Kita tidak boleh lagi apatis. Kita tidak boleh lagi ngeri dengan politik. Dan kita tidak boleh lagi acuh terhadap model-model penjajahan modern abad ini. Kita musti bangkit.

Transfer Prinsip Kehormatan

Okelah Cak Nun sudah malang melintang dengan pemikirannya soal ke-indonesia-an dan ke-jawa-an. Saat ini yang hendak saya cuplik adalah ajakan revolusioner yang dilakukan oleh anak lelaki Cak Nun, Sabrang –yang membuat tantangan kepada pemuda-pemuda di halaman Balai Pemuda. Ia meradang, ia gelisah pula, dan ia telah lama terluka namun luka itu harus ia sembuhkan sekarang juga.

Dengan lantang ia mengacung, dan pemuda diam dari dengung. Sabrang mengajak semua mahasiswa berkumpul berdasarkan jurusannya masing-masing. Yang Jurusan Ekonomi berkumpul, yang jurusan Sosiologi berkumpul, dan yang jurusan Teknik atau anak-anak Ilmu Komunikasi diminta berkumpul. Kumpulan ini harus lintas kampus, dan nantinya akan diajak oleh Sabrang merumuskan agenda besar revolusi untuk mempertahankan kehormatan Indonesia.

Hal ini masih abstrak, namun patut diacungkan jempol. Karena apa? Kita anggap bahwa Sabrang sudah menemui eksistensinya, ia telah selesai dengan kebutuhan dirinya sendiri. Karena seandainya saya yang berteriak lantang, orang-orang akan gumun, siapakah anak muda lusuh yang tidak mampu mencukupi kebutuhannya sendiri lalu mengajak berrevolusi ini?

Jadi tantangan Sabrang ini tampaknya menjadi ngiang yang tak selesai digendang penonton. Sebagai mahasiswa dan notabenenya pemuda, pergerakan adalah sesuatu yang gagah; entah secara fisik ataupun secara intelektual. Mereka akan selalu menunggu Sabrang merealisasikan tantangannya. Dan bila pemuda dan mahassiwa sudah berkumpul lalu Sabrang melupakan ucapannya, maka yang ada adalah kembali kepada ketiadaan.

Sekarang kita kembali pada sesuatu yang kongkrit. Bagaimanakah menjadi manusia Indonesia yang dihadapi keresahan yang sedemikian rupa ini? Sabrang telah menjawabnya, tentu saja, karena ia sebagai representasi pemuda, mahasiswa, intelektual, dan dari golongan kami yang sangat tahu akan jiwa yang berkobar.

Bahwa kita harus mengindentifikasi awal persoalan apa yang hendak kita bela, dan musuhnya siapa. Kita betul-betul harus belajar dari bawah untuk memahami persoalan bangsa Indonesia. Karena kita musti bergaul dengan warga sepuh untuk mengorek kembali sejarah 20-30 tahun bangsa Indonesia yang lalu. Dari sana kita akan melihat, akan bergerak ke mana Indonesia, dan apa untung-ruginya bagi kehormatan bangsa Indonesia.

Sabrang menekankan pada proses belajar. Memang hal ini kongkrit namun lambat. Kita diminta metani (memilah milih) sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Lagian, pemuda seperti apa yang mampu menelaah sejarah panjang indonesia lalu menghasilkan simpulan tokcer tentang kebenaran? Hampir tidak ada –dan saya yakini pasti ada meskipun terlalu sedikit.

Bukan berniat kecil hati, namun memang solusinya adalah bahwa Sabrang sebagai pentolan harus mampu mentransfer pengetahuan terkait persoalan yang kita tidak tahu. Ia juga harus mentransfer kehormatan seperti apa yang hendak kita pertahankan dari Indonesia. Apa yang telah, sedang, dan akan dicuri dari bangsa Indonesia oleh bangsa lain (saya tidak mau menyebut Tiongkok ataupun USA kecuali keceplosan).

Lalu dari transfer pengetahuan ini, penyaringan-penyaringan akan dimulai di kepala masing-masing pemuda. Prinsip-prinsip kehormatan akan muncul pada dada pemuda, lalu lambat laun menjadi patriotisme yang rela membela tanah air sampai titik darah penghabisan. Di sinilah kita akan kembali pada bahasan kita di awal sekali, Sadumuk bathuk, sanyari bumi, ditohi pati, dan dalam berperang, genderang bertalu membawa semilir angin; Tiji Tibeh, Mati Siji Kabeh, dan Cak Nun berharap bukan mati, tapi Mukti Siji, Mukti Kabeh.

2015-07-02

Kehormatan

Acara BambangWetan di Balai Pemuda Surabaya, 2 Juli 2015
Sadumuk bathuk, sanyari bumi, ditohi pati

Baru sekali ini ikut pengajian yang digawangi oleh Cak Nun (Emha Ainun Nadjib), langsung yang dibahas adalah kehormatan. BangbangWetan yang diselenggarakan di Balai Pemuda ini menyentak pikiran seluruh pemuda yang hadir, laki perempuan; untuk mengingat, merumuskan, dan menyusun langkah penyadaran terkait kehormatan yang saat ini sedang dipertanyakan.

Pertanyaan-pertanyaan ini adalah apakah kehormatan masih menjadi penting bagi orang Indonesia? Jika masih penting, apakah kita tahu kehormatan yang hendak kita bela itu? Dan bila kita tahu kehormatan tersebut, apakah langkah yang harus kita lakukan untuk membela kehormatan ini?

Adagium jawa yang dikumandangkan oleh BangbangWetan dan pemateri yang hadir adalah tentang kehormatan. Sadumuk bathuk, sanyari bumi, ditohi pati, yang secara harfiah berarti satu sentuhan dahi, satu jengkal tanah, bertaruh kematian. Secara luas, dapat diambil pengertian bahwa bagi masyarakat Jawa, mempertahankan kehormatan diri dan tanah air harus dibela hingga mati –tidak main-main.

Dan ternyata persoalan ini bukan hanya ada di Jawa. Kiyai Muzammil yang asli Madura, dalam kesempatan tersebut, mengatakan bahwa Madura juga memiliki adagium yang bermakna sama; lebih baik putih tulang (terluka hingga tulangnya kelihatan) dibandingkan putih mata (malu). Namun lebih besar, kehormatan di Madura diakuinya masih berpusat pada perempuan.

Dari segi paling sederhana, kehormatan bagi kita adalah pembelaan tentang diri sendiri. Bila kita dihina, maka bulu kuduk kita akan meremang dan siap menerkam siapa saja. Lebih luas dari kehormatan ini, adalah kehormatan keluarga, komunitas atau kelompok, lalu menjadi kehormatan bangsa, negara, dan agama.

Namun pertanyaan pertama adalah apakah kita masih menganggap penting bahwa kehormatan bangsa dan negara masih penting? Pertanyaan ini adalah pertanyaan retoris karena jawabannya pasti, PENTING. Lalu di sambung oleh hal yang lebih mengerikan, kita tidak tahu kehormatan yang hendak kita bela sehingga seakan-akan kehormatan kita dirampas tapi kita diam saja.

Batik kita di klaim oleh tetangga, Simpadan dan Ligitan sudah sah menjadi wisata Malaysia, arus investasi negara-negara adidaya yang tumbuh pesat di Indonesia, adalah hal-hal yang mau tidak mau bisa kita ketahui dari media massa, tapi kita tidak merasa bahwa hal itu bisa dibela.

Faham Penjajahan

Dalam BangbangWetan malam tanggal 2 Juli kemarin, Mantan Kepala Staf Kostrad zaman Soeharto bernama Kevlin Zein menerangkan bahwa saat ini kekuatan dunia yang menandingi Amerika adalah Tiongkok. Kekuatan ekonomi Tiongkok yang kapitalis, dengan kekuatan politik Komunis, menjadikannya kuat ke dalam, dan kokoh di luar. Mereka mampu merangsek ke Indonesia berkedok sebagai investor, dan hal inilah yang dikhawatirkan oleh Jenderal berusia 69 tahun tersebut.

Katanya, Investor dari Tiongkok ini hendak memberikan hutang ke Indonesia (yang diterima oleh Jokowi dengan tertawa) untuk membangun mega infrastruktur di wilayah-wilayah strategis, yang menggunakan desain orang Tiongkok, uang orang Tiongkok, teknisi orang Tiongkok, dan pekerja orang Tiongkok. Adapun tenaga kerja yang akan di gelontor ke Indonesia berjumlah –kalau tidak salah- 10 juta orang.

Ini adalah penjajahan gaya baru yang telah kita bahas sejak zaman mahasiswa. Tapi apalah daya, kita seperti hendak merengkuh gunung namun niat tidak ada. Karena kita seolah-olah hebat dalam hal perang gerilya secara fisik, maka kita dibodohi dengan adanya penjajahan menggunakan faham-faham perekonomian. Dan yang paling dikhawatirkan lagi adalah, berkembangnya faham komunisme di Indonesia yang mirip dengan zaman tahun 1965 dengan PKI-nya.

Lalu apakah ini semata-mata tentang Tiongkok? Bukan. Cak Nun mengatakan bahwa kita tidak hendak menelisik musuh dan menuding Tiongkok sebagai biang keroknya. Kita diajarkan untuk dewasa, dan orang dewasa (yang bijaksana) tidak akan menuding sembarangan meskipun orang itu jelas-jelas musuh kita. Karena kita kadang tidak bisa mempercayai pengetahuan diri sendiri, karena pengetahuan datang dari luar, dan “luar” ini memiliki nilai keobyektifan yang valid.

Jika kita membaca bukunya Noam Chomsky tentang How the World Works, maka kita akan dibekali pemahaman yang menyeluruh tentang sistem politik dan ekonomi Amerika Serikat yang menjengkelkan kita sebagai negara berkembang. Ia akan selalu dan terus berperan aktif dalam setiap gerak langkah negara dunia ke 3 agar mengikuti apa yang dimaunya.

Noam Chomsky sendiri adalah ilmuwan kondang Amerika namun tidak pernah diundang oleh media Amerika. Buku dan pemikirannya banyak dicuplik oleh ilmuwan sosial dan politik negara lain, namun bagi publik Amerika dia adalah seorang pembelot. Ibaratnya, dia adalah semacam teman dari pendiri WikiLeaks yang selalu mengorek keburukan Amerika terkait misi intelijennya, namun dianggap pengkhianat.

Membaca bukunya, ktia menjadi faham bahwa yang diinginkan oleh Amerika tentang Demokrasi, bukanlah murni demokrasi. Lebih dari itu, agar orang dan pemimpin dari negara lain bisa dirongrong seenaknya menggunakan kekuatan demokratis tersebut. Apalagi Indonesia sudah sangat bangga karena disebut sebagai negara paling demokrastis di dunia, padahal itu hanyalah omong kosong yang jarang difahami betulan.

Jadi bukan soal Cina/Tiongkok saja, tetapi Amerika juga memiliki tujuan terselubung terkait dengan pemanfaatan perekonomian di negara lain. Amerika juga menginginkan penanaman modal sebesar-besarnya di Indonesia, begitupula Tiongkok. Namun karena BangbangWetan terlalu mengedepankan Tiongkok sebagai “negara antagonis”, maka saya berharap Cak Nun memahamkan kami bahwa bukan hanya Tiongkok (komunias), tetapi liberalis semacam Amerika juga mencoba memberangus kehormatan kita.

Memang kita harus meminta maaf kepada orang seperti Soekarno dan Soeharto yang memiliki prinsip tegas soal Negara Indonesia dan Negara Lain. Batasan-batasan yang bersifat prinsip ini menjadi penting agar kita tidak dijajah, baik secara ekonomi, politik, bahkan moral. Sehingga ketika ada yang macam-macam, macan asia bisa mengaum, lebih garang ketika menghadapi negara yang bandel seperti negara yang telah saya sebutkan di atas.

Akhirnya, apakah yang harus kita lakukan? Jawabannya ada pada tulisan saya berikutnya.