Skip to main content

Kehormatan


Acara BambangWetan di Balai Pemuda Surabaya, 2 Juli 2015


Sadumuk bathuk, sanyari bumi, ditohi pati

Baru sekali ini ikut pengajian yang digawangi oleh Cak Nun (Emha Ainun Nadjib), langsung yang dibahas adalah kehormatan. BangbangWetan yang diselenggarakan di Balai Pemuda ini menyentak pikiran seluruh pemuda yang hadir, laki perempuan; untuk mengingat, merumuskan, dan menyusun langkah penyadaran terkait kehormatan yang saat ini sedang dipertanyakan.

Pertanyaan-pertanyaan ini adalah apakah kehormatan masih menjadi penting bagi orang Indonesia? Jika masih penting, apakah kita tahu kehormatan yang hendak kita bela itu? Dan bila kita tahu kehormatan tersebut, apakah langkah yang harus kita lakukan untuk membela kehormatan ini?

Adagium jawa yang dikumandangkan oleh BangbangWetan dan pemateri yang hadir adalah tentang kehormatan. Sadumuk bathuk, sanyari bumi, ditohi pati, yang secara harfiah berarti satu sentuhan dahi, satu jengkal tanah, bertaruh kematian. Secara luas, dapat diambil pengertian bahwa bagi masyarakat Jawa, mempertahankan kehormatan diri dan tanah air harus dibela hingga mati –tidak main-main.

Dan ternyata persoalan ini bukan hanya ada di Jawa. Kiyai Muzammil yang asli Madura, dalam kesempatan tersebut, mengatakan bahwa Madura juga memiliki adagium yang bermakna sama; lebih baik putih tulang (terluka hingga tulangnya kelihatan) dibandingkan putih mata (malu). Namun lebih besar, kehormatan di Madura diakuinya masih berpusat pada perempuan.

Dari segi paling sederhana, kehormatan bagi kita adalah pembelaan tentang diri sendiri. Bila kita dihina, maka bulu kuduk kita akan meremang dan siap menerkam siapa saja. Lebih luas dari kehormatan ini, adalah kehormatan keluarga, komunitas atau kelompok, lalu menjadi kehormatan bangsa, negara, dan agama.

Namun pertanyaan pertama adalah apakah kita masih menganggap penting bahwa kehormatan bangsa dan negara masih penting? Pertanyaan ini adalah pertanyaan retoris karena jawabannya pasti, PENTING. Lalu di sambung oleh hal yang lebih mengerikan, kita tidak tahu kehormatan yang hendak kita bela sehingga seakan-akan kehormatan kita dirampas tapi kita diam saja.

Batik kita di klaim oleh tetangga, Simpadan dan Ligitan sudah sah menjadi wisata Malaysia, arus investasi negara-negara adidaya yang tumbuh pesat di Indonesia, adalah hal-hal yang mau tidak mau bisa kita ketahui dari media massa, tapi kita tidak merasa bahwa hal itu bisa dibela.

Faham Penjajahan

Dalam BangbangWetan malam tanggal 2 Juli kemarin, Mantan Kepala Staf Kostrad zaman Soeharto bernama Kevlin Zein menerangkan bahwa saat ini kekuatan dunia yang menandingi Amerika adalah Tiongkok. Kekuatan ekonomi Tiongkok yang kapitalis, dengan kekuatan politik Komunis, menjadikannya kuat ke dalam, dan kokoh di luar. Mereka mampu merangsek ke Indonesia berkedok sebagai investor, dan hal inilah yang dikhawatirkan oleh Jenderal berusia 69 tahun tersebut.

Katanya, Investor dari Tiongkok ini hendak memberikan hutang ke Indonesia (yang diterima oleh Jokowi dengan tertawa) untuk membangun mega infrastruktur di wilayah-wilayah strategis, yang menggunakan desain orang Tiongkok, uang orang Tiongkok, teknisi orang Tiongkok, dan pekerja orang Tiongkok. Adapun tenaga kerja yang akan di gelontor ke Indonesia berjumlah –kalau tidak salah- 10 juta orang.

Ini adalah penjajahan gaya baru yang telah kita bahas sejak zaman mahasiswa. Tapi apalah daya, kita seperti hendak merengkuh gunung namun niat tidak ada. Karena kita seolah-olah hebat dalam hal perang gerilya secara fisik, maka kita dibodohi dengan adanya penjajahan menggunakan faham-faham perekonomian. Dan yang paling dikhawatirkan lagi adalah, berkembangnya faham komunisme di Indonesia yang mirip dengan zaman tahun 1965 dengan PKI-nya.

Lalu apakah ini semata-mata tentang Tiongkok? Bukan. Cak Nun mengatakan bahwa kita tidak hendak menelisik musuh dan menuding Tiongkok sebagai biang keroknya. Kita diajarkan untuk dewasa, dan orang dewasa (yang bijaksana) tidak akan menuding sembarangan meskipun orang itu jelas-jelas musuh kita. Karena kita kadang tidak bisa mempercayai pengetahuan diri sendiri, karena pengetahuan datang dari luar, dan “luar” ini memiliki nilai keobyektifan yang valid.

Jika kita membaca bukunya Noam Chomsky tentang How the World Works, maka kita akan dibekali pemahaman yang menyeluruh tentang sistem politik dan ekonomi Amerika Serikat yang menjengkelkan kita sebagai negara berkembang. Ia akan selalu dan terus berperan aktif dalam setiap gerak langkah negara dunia ke 3 agar mengikuti apa yang dimaunya.

Noam Chomsky sendiri adalah ilmuwan kondang Amerika namun tidak pernah diundang oleh media Amerika. Buku dan pemikirannya banyak dicuplik oleh ilmuwan sosial dan politik negara lain, namun bagi publik Amerika dia adalah seorang pembelot. Ibaratnya, dia adalah semacam teman dari pendiri WikiLeaks yang selalu mengorek keburukan Amerika terkait misi intelijennya, namun dianggap pengkhianat.

Membaca bukunya, ktia menjadi faham bahwa yang diinginkan oleh Amerika tentang Demokrasi, bukanlah murni demokrasi. Lebih dari itu, agar orang dan pemimpin dari negara lain bisa dirongrong seenaknya menggunakan kekuatan demokratis tersebut. Apalagi Indonesia sudah sangat bangga karena disebut sebagai negara paling demokrastis di dunia, padahal itu hanyalah omong kosong yang jarang difahami betulan.

Jadi bukan soal Cina/Tiongkok saja, tetapi Amerika juga memiliki tujuan terselubung terkait dengan pemanfaatan perekonomian di negara lain. Amerika juga menginginkan penanaman modal sebesar-besarnya di Indonesia, begitupula Tiongkok. Namun karena BangbangWetan terlalu mengedepankan Tiongkok sebagai “negara antagonis”, maka saya berharap Cak Nun memahamkan kami bahwa bukan hanya Tiongkok (komunias), tetapi liberalis semacam Amerika juga mencoba memberangus kehormatan kita.

Memang kita harus meminta maaf kepada orang seperti Soekarno dan Soeharto yang memiliki prinsip tegas soal Negara Indonesia dan Negara Lain. Batasan-batasan yang bersifat prinsip ini menjadi penting agar kita tidak dijajah, baik secara ekonomi, politik, bahkan moral. Sehingga ketika ada yang macam-macam, macan asia bisa mengaum, lebih garang ketika menghadapi negara yang bandel seperti negara yang telah saya sebutkan di atas.

Akhirnya, apakah yang harus kita lakukan? Jawabannya ada pada tulisan saya berikutnya.

Comments

Popular posts from this blog

Ebook Di Bawah Bendera Revolusi Gratis

Buku berjudul "Dibawah Bendera Revolusi" merupakan buah ide, pikiran dan karangan yang ditulis langsung oleh Sukarno dimasa pra kemerdekaan baik di pengasingan atau penjara dan setelah kemerdekaan. Buku ini diterbitkan tahun 1964. Ini adalah sekapur sirih yang dikutip dari buku Di Bawah Bendera Revolusi oleh Ir. Soekarno.
"Buku “DIBAWAH BENDERA REVOLUSI” ini dipersembahkan kepada rakjat Indonesia dengan maksud djanganlah hendaknja hanja sekedar untuk penghias lemari buku, akan tetapi dengan penuh tjinta dan sadar mempeladjarinja setjara ilmiah betapa pasangsurutnja pergerakan kemerdekaan dizaman pendjadjahan.

Persatuan bangsa,--persatuan antara golongan-golongan Nasional, Agama, dan Marxis, atau lebih terkenal dengan istilah NASAKOM sekarang ini, pada hakekatnja bukan “barang baru” dalam rangka perdjoangan rakjat Indonesia jang dipelopori oleh Bung Karno. 

Dengan meneliti buku ini setjara ilmiah, akan lebih memperdjelas pengertian bahwa Revolusi Agustus 1945 j…

Paradigma Politik

Mata Kuliah Teori Politik
Ilmu politik tidak bisa lepas dari ilmu sosial yang telah lahir terlebih dahulu teori-teorinya. Meskipun kita tahu bahwa politik sudah ada sejak manusia pertama kali ada dan membentuk sebuah kelompok untuk bertahan hidup dari serangan kelompok lain, atau dari hewan dan alam. Disini kepemimpinan juga telah muncul, manajemen organisasi sudah ada, dan perpolitikan mulain berjalan.

Paradigma politik ini adalah suatu kerangka berfikir untuk mendapatkan pengertian tentang politik dan kemudian akan menyeluruh pada bagian-bagian lainnya dalam ilmu politik. Karena sebuah paradigma akan melahirkan cara, teknik, metode, strategi hingga teori pada suatu jenis ilmu.

1. Evolusi

Evolusi adalah perubahan yang membutuhkan waktu yang sangat lama. Tidak ada batas pasti, namun sampai ribuahn tahun. Dalam paradigma politik evolusi, prinsip dasar yang diusung adalah bahwa politik itu perubahan yang alamiah. Sehingga dalam cara pandang ini, seorang pemimpin tidak bisa dibentuk tapi …

Global Paradox ; small is power

Mengapa buku-buku Naisbitt menjadi fenomenal? Sebelum kita membahasa lebig lanjut tentang Megatrend dan Global Paradox, sebaiknya kita mengenal dahulu bagaimana bigrafi dari John Naisbitt. Biografi John Naisbitt (lahir 15 Januari 1929 di Salt Lake City, Utah) adalah seorang penulis Amerika dan pembicara publik di bidang studi berjangka. Megatrends pertama bukunya diterbitkan pada tahun 1982. Ini adalah hasil dari hampir sepuluh tahun penelitian. Itu di daftar buku terlaris NewYork Times selama dua tahun, kebanyakan sebagai # 1. Megatrends diterbitkan di 57 negara dan terjual lebih dari 14 juta eksemplar. John Naisbitt belajar di Universitas Harvard, Cornell dan Utah. Dia mendapatkan pengalaman bisnis ketika bekerja untuk IBM dan Eastman Kodak. Dalam dunia politik, ia menjadi asisten Komisaris Pendidikan di bawah Presiden John F. Kennedy dan menjabat sebagai asisten khusus untuk Departemen Pendidikan Sekretaris John Gardner selama pemerintahan Johnson. Dia meninggalkan Washington di tahu…