Skip to main content

Menciptakan Media Online

Hal yang paling mencengangkan sekarang ini adalah kemudahan dalam membuat media online. Tidak ada orang yang menyangka bahwa membuat dan menciptakan media begitu mudahnya. Bagi pekerja media, tentunya ini adalah tantangan yang menjengkelkan karena pesaing akan semakin banyak, yang disaat sama, mereka tidak memiliki kredibilitas yang memadai.

Sebagaimana diketahui, bahwa membuat media online tidak membutuhkan modal besar sebagaimana media lainnya. Tidak ada biaya membeli alat percetakan seharga miliaran rupiah, dan bagi media elektronik adalah membeli peralatan teknis yang juga bisa mencapai miliaran rupiah. Anda bisa membayangkan hal ini?

Kita hanya perlu menyiapkan medium berupa website yang harga domain dan hostingnya tidak lebih dari 10 juta rupiah. Sementara untuk desain website dan tetek bengeknya, kita tinggal merayu mahasiswa jurusan teknik informatika yang memiliki IPK memuaskan. Hujani dengan pujian maka ia akan bekerja sepenuh hati, lalu hargai kerja kerasnya dengan menjadikannya sebagai teman dan karyawan.

Apakah tidak perlu menyiapkan cukup uang untuk membayar gaji karyawan dan wartawan? Tunggu dulu, hal yang ingin saya tekankan adalah kita membuat media dari bawah karena kita memiliki ide banyak namun sedikit uang. Maka dari itu, saya sarankan agar menggunakan sumber daya manusia yang handal, namun meminimalisir uang yang kata orang adalah segala galanya. Semua hal baik bisa dilakukan dan tidak ada yang tidak mungkin.

Sebagai pekerja media, kita tentunya bisa mendapatkan teman teman mahasiswa yang memiliki semangat juang yang tinggi. Tinggal diiming-imingi idealisme mengenai kekuasaaan media dalam membangun peradaban, atau tumbuhkan ketidakpercayaan pada media massa mainstream yang jelas jelas tidak memihak rakyat. Ajak teman-teman dekat satu organisasi, ajak teman ngopi, dan teman naik gunung bersama yang satu pemikiran, dan kita sudah punya tim solid untuk bekerja.

Karyawan media massa semacam ini tidak usah banyak banyak. Cukup 5 wartawan untuk media online level lokal atau daerah, plus 2 redaktur dan 1 orang teknisi serba bisa (berkemampuan memperbaiki website dan jaringan internet atau kelistrikan). 8 orang ini sudah lebih dari cukup untuk menjadikan media online tersebut besar dan memiliki kredibilitas berita yang menjanjikan -tentunya dengan soliditas dan sense of belonging yang tinggi terhadap media.

Adapun 5 wartawan ini bisa diplotkan sesuai kategori pemberitaan. Misalnya kategori kriminal, pemerintahan, ekonomi bisnis, pendidikan, lingkungan, dan lain sebagainaya. Atau bisa juga dipilih berdasarkan area peliputan, yang biasanya dibagi berdasarkan kawasan tertentu, misalnya satu kecamatan satu wartawan. Namun tidak harus saklek, bisa saja satu wartawan memegang dua kategori pemberitaan sekaligus disesuaikan dengan kondisi peliputan.

Dengan kondisi tim redaktur yang hanya 2 orang, maka tentunya tumpuan besar ada di wartawan. Mengapa? karena jika wartawan tidak banyak membuat kesalahan dalam beritanya, maka redaktur tidak akan susah payah. Yang artinya, tidak akan banyak berita yang kecolongan ; baik kecolongan secara teknis atau prinsipil. Di sinilah wartawan harus memiliki kemampuan standar sebagai penulis sekaligus first editor.

Nah bila kemampuan wartawan dirasa masih belum standar dan terlalu sering membuat kesalahan, maka harus di gembleng secara serius. Pelatihan dan workshop kudu sering diadakan untuk memperbarui kemampuan kepenulisan sang wartawan. Pilihan terakhir bila wartawan terlalu begok, ya kudu berani mengambil langkah pemberian surat keluar dengan cara yang paling baik. Kita tidak boleh membangun jaringan musuh, karena itu adalah lumpur hidup bagi media baru. Namun kita juga jangan memelihara teman yang mendatangkan kerugian yang teramat besar.

Setelah beres dengan persoalan kapabilitas wartawan, selanjutnya mari melihat kinerja redaktur. Karena sudah menjadi redaktur, maka sudah seharusnya mahir dalam bidang jurnalistik, minimal secara praktis. Kalau secara teoritis juga berkemampuan, maka itu adalah bonus yang luar biasa. Karena redaktur adalah tonggak terakhir dan yang paling penting sebelum berita tayang untuk publik.

Untuk 2 redaktur ini, bila persoalan kapabilitas sudah oke, bisa kita rangkapkan dengan jabatan lainnya. Redaktur satu merangkap jadi pimpinan redaksi plus redaktur pelaksana, dan reaktur satu lagi dirangkapkan pada pimpinan umum dan atau manager iklan. Menjadi pimpinan redaksi tidak akan menyita banyak perhatian karena cara kerjanya tidak jauh beda dengan redaktur. Hanya pimpinan umum dan manager iklan saja yang pekerjaanya lebih eksternal, sehingga butuh pembagian kerja yang proporsional diantara dua redaktur tersebut.

Oke, sekarang saatnya bekerja secara teknis di lapangan. Perlu diingat bahwa media online membutuhkan kecepatan, bukan kelengkapan data. Butuh beberapa kalimat saja untuk menggambarkan sebuah peristiwa sehingga pilihan bahasanya harus lugas. Bahkan wartawan online harus membiasakan diri untuk mengetik di handphone sehingga bisa tetap menulis berita dalam sebuah acara atau insiden. Jadi, tidak perlu menunggu hingga selesai suatu agenda sebagaimana media cetak dan elektronik.

Maka dari itu, tidak mengherankan bila wartawan media online bisa menulis 5 berita untuk satu peristiwa karena yang dikedepankan adalah kecepatan update. Bila ada tiga kejadian saja di satu wilayah, dan wartawan bisa mengolahnya jadi 3 berita maka dia akan menulis 9 berita untuk satu hari. 9 berita di kalikan 5 wartawan, maka media online bisa update 45 berita dalam satu hari satu malam. Ini adalah berita minimal, dan tentu saja bisa bertambah bila semangat kru tidak memudar.

Supaya lebih jelas, saya akan memberikan gambaran terkait suatu peristiwa kebakaran. Media online bisa menulis 6 berita dalam satu kejadian ini : berita kejadian, berita kerusakan, berita kesaksian, berita adanya terduga pelaku, berita himbauan pemda atau kepolisian setempat, dan di sore hari berita soal kelanjutan penyelidikan kepolisian. Silahkan melihat berita di media online seperti detikcom atau kompascom, dan bandingkan dengan media cetak : seluruh berita tersebut akan menjadi satu saja.

Soal pengiriman, wartawan harus cekatan. Tiap selesai mengetik satu berita, ia diwajibkan langsung mengirimkannya ke redaktur supaya diedit, dan diterbitkan secara langsung. Redaktur, pada tahap awal ini bisa juga berperan sebagai uploader agar efisien dan efektif. Karena jika masih mempekerjakan karyawan teknik di atas untuk pekerjaan upload yang sepele ini, akan memperlambat pekerjaan; birokrasi yang rumit.

Bila media ini sudah mampu berjalan satu bulan saja, maka ke depannya tinggal memperbaiki hal hal tambahan secara disiplin. Dalam satu bulan itu juga,  sudah ada 45 berita perhari dikalikan 26 hari, dengan asumsi satu hari disediakan waktu santai, sehingga akan ada 1.170 berita. Jika wes designnya sudah profesional, dan hostingnya berkapasitas mumpuni, maka media online profesional sudah berada di tangan anda. Tinggal mencari iklan dan dukungan dana dari advertorial, yang tentunya kita butuh membicarakan hal ini diwaktu yang lain.


Comments

Post a Comment

semoga artikel ini berniat baik pada pembaca, komentar pembaca akan membangun blog ini.

Popular posts from this blog

Ebook Di Bawah Bendera Revolusi Gratis

Buku berjudul "Dibawah Bendera Revolusi" merupakan buah ide, pikiran dan karangan yang ditulis langsung oleh Sukarno dimasa pra kemerdekaan baik di pengasingan atau penjara dan setelah kemerdekaan. Buku ini diterbitkan tahun 1964. Ini adalah sekapur sirih yang dikutip dari buku Di Bawah Bendera Revolusi oleh Ir. Soekarno.
"Buku “DIBAWAH BENDERA REVOLUSI” ini dipersembahkan kepada rakjat Indonesia dengan maksud djanganlah hendaknja hanja sekedar untuk penghias lemari buku, akan tetapi dengan penuh tjinta dan sadar mempeladjarinja setjara ilmiah betapa pasangsurutnja pergerakan kemerdekaan dizaman pendjadjahan.

Persatuan bangsa,--persatuan antara golongan-golongan Nasional, Agama, dan Marxis, atau lebih terkenal dengan istilah NASAKOM sekarang ini, pada hakekatnja bukan “barang baru” dalam rangka perdjoangan rakjat Indonesia jang dipelopori oleh Bung Karno. 

Dengan meneliti buku ini setjara ilmiah, akan lebih memperdjelas pengertian bahwa Revolusi Agustus 1945 j…

Global Paradox ; small is power

Mengapa buku-buku Naisbitt menjadi fenomenal? Sebelum kita membahasa lebig lanjut tentang Megatrend dan Global Paradox, sebaiknya kita mengenal dahulu bagaimana bigrafi dari John Naisbitt. Biografi John Naisbitt (lahir 15 Januari 1929 di Salt Lake City, Utah) adalah seorang penulis Amerika dan pembicara publik di bidang studi berjangka. Megatrends pertama bukunya diterbitkan pada tahun 1982. Ini adalah hasil dari hampir sepuluh tahun penelitian. Itu di daftar buku terlaris NewYork Times selama dua tahun, kebanyakan sebagai # 1. Megatrends diterbitkan di 57 negara dan terjual lebih dari 14 juta eksemplar. John Naisbitt belajar di Universitas Harvard, Cornell dan Utah. Dia mendapatkan pengalaman bisnis ketika bekerja untuk IBM dan Eastman Kodak. Dalam dunia politik, ia menjadi asisten Komisaris Pendidikan di bawah Presiden John F. Kennedy dan menjabat sebagai asisten khusus untuk Departemen Pendidikan Sekretaris John Gardner selama pemerintahan Johnson. Dia meninggalkan Washington di tahu…

Filosofi Diam

Kita berjalan di atas catwalk bersama-sama sambil memainkan peran masing-masing, lalu kita menyebutnya hidup. Seseorang terlihat bahagia, seseorag terlihat sedih, dan seseorang terlihat cuek dengan hidupnya. Namun sejatinya mereka semua adalah “terlihat”, bagaimana kejadian yang sebenarnya hanyalah dia, sahabatnya, dan Allah yang tahu. Kita bahkan lebih sering memberikan kesan bahagia kepada orang lain dari pada kesan bahagia terhadap diri kita sendiri. Ini adalah kebutuhan manusia untuk diaggap sukses, yang kemudian mereka berharap dengan anggapan itu, mereka akan lebih di hormati, diperhatikan, dan ditaati. Semua itu merupakan upaya untuk menyembunyikan diri dari orang lain, dan tidak jarang, kita juga mencoba menyembunyika diri kita dari diri sendiri, upaya ini disebut sebagai diam.
Teman saya –biasa saya panggil Ny Robinson- adalah salah orang yang saya hormati. Dia memiliki kehidupannya sendiri dan seringkali membuatku tercekik, tersenyum, bersedih, bahagia, dan juga merasa aneh…