2017-06-06

Gagap Literasi dan Hoax di Indonesia

Ringkasan

Media sosial menjadi kekuatan baru dalam menyebarkan informasi. Sayangnya, penggunaan media sosial yang bebas ini tidak diikuti oleh kapasitas penggunanya sehingga menyebabkan hoax menyebar. Hal ini disebabkan pengguna media sosial tidak memiliki budaya literasi yang cukup. Ditinjau dari Teori Determinisme Teknologi oleh Marshall McLuhan, manusia adalah pencipta teknologi komunikasi, tetapi pada tahap selanjutnya manusia malah dipengaruhi oleh teknologi. Mc Luhan membagi sejarah manusia empat periode, yaitu : Periode Tribal, Periode Tulisan, Periode Percetakan, dan Periode Elektronik. Periode Tulisan dan Percetakan yang memiliki ciri logis, terstruktur, teliti, dan obyektif, tidak dialami masyarakat Indonesia. Sebaliknya, masyarakat Indonesia hanya mengalami Periode Lisan dan langsung menuju Periode Elektronik yang dicirikan sebagai informasi serba cepat, instant, dan tanpa pemikiran matang. Karena itu seluruh komponen harus kembali mengampanyekan budaya membaca secara massif. Selain itu, diperlukan individu dan lembaga-lembaga yang berhadapan langsung dengan penyebar hoax sehingga meminimalisir penyebaran berita hoax.

Pendahuluan

Hoax adalah kabar burung, informasi palsu, atau berita yang tidak benar. Biasanya hoax ini berisi sesuatu yang too good to be true atau too bad to be true. Sayangnya, hoax malah menjadi trend di media sosial (medsos) sejak pertengahan tahun 2016 lalu. Yakni ketika Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama, diduga melakukan penistaan agama dalam pidatonya di Kepulauan Seribu. Meskipun kasusnya sudah masuk ke ranah hukum, namun berita hoax yang mendiskreditkan agama dan kelompok tertentu masih menyebar. Informasi terus simpang siur dan melompat ke sana kemari seperti bocah nakal.

Dengan dukungan teknologi yang memudahkan penyebaran informasi dari satu orang ke orang, atau dari satu orang ke masyarakat luas, hoax menjadi salah satu benda yang mudah menyebar. Hoax bisa terdiri dari berbagai bentuk, mulai ulasan tanpa narasumber di website abal-abal dengan judul yang provokatif, gambar editan sehingga fakta menjadi bias, dan meme yang menyudutkan atau mengolok-olok golongan tertentu. Kabar ini menyebar di hampir seluruh medsos; Facebook, Twitter, Instagram, Path, hingga media chatting seperti WhatsApp, Blackberry Messanger, dan Line. Berita hoax ini tak terbendung karena pemegang gawai (gadget) yang kebanyakan kaum milleneal ini tidak melakukan verifikasi sama sekali.

Pertama-tama yang harus kita fahami dari merebaknya berita hoax adalah, bahwa ia merupakan hasil dari kemalasan pengguna medsos itu sendiri. Dalam artian, pengguna medsos malas melakukan verifikasi kebenarannya. Informasi ini menggelinding melalui kepala dan jemari lentik para pengguna gawai, tertawa dan merasa penasaran sembari tiduran di depan televisi yang berbicara sendiri. Mirisnya, informasi ini muncul disebabkan oleh keisengan, ingin mendapat banyak like dan komentar, atau lebih parah lagi berita hoax sengaja diciptakan dan disebarkan untuk tujuan memecah belah.

Determinisme Teknologi

Kemalasan memverifikasi informasi pengguna medsos bisa kita tilik dari gagap budaya yang dialami sebagian besar masyarakat Indonesia. Gempuran kebudayaan yang dihasilkan medsos membuat pola pikir masyarakat goyah. Kita tidak siap dengan kecepatan informasi yang tak terbatas ini. Konsep determinasi media Marshall Mc Luhan mengungkapkan bahwa manusia pada akhirnya akan dibentuk oleh teknologi komunikasi. Masyarakat tidak hanya dipengaruhi oleh isi, tetapi juga dipengaruhi oleh media yang digunakan (Ratmanto, 2015:46). Tetapi jika manusianya tidak siap –sebagaimana manusia Indonesia sekarang, maka pembentukannya akan menemui penyimpangan.

Teknologi memang produk buatan manusia sehingga banyak yang optimis bahwa penggunalah yang menentukan kebermanfaatan teknologi. Namun tak dapat dipungkiri bahwa teknologi seakan ‘bergerak sendiri’ lalu mengubah cara pikir maupun cara kerja manusia. Di premis kedua inilah Mc Luhan menggagas teorinya yang kemudian terkenal dengan frase ‘the medium is the message’. Contoh sederhana dialami mahasiswa yang lebih khawatir tidak membawa handphone saat berangkat kuliah dibanding kelupaan membawa buku. Manusia dewasapun demikian, kehilangan handphone menimbulkan penyesalan yang lebih dalam dibanding kehilangan uang yang nilainya sama dengan harga handphone tersebut.

Mc Luhan kemudian membagi sejarah perkembangan umat manusia dalam empat kebudayaan disesuaikan dengan tekonologi yang mempengaruhinya (Saefudin, 2008: 384). Jika salah satu periode ini tidak dialami sebuah bangsa, maka bisa dimungkinkan bangsa tersebut akan tertinggal sedemikian rupa dibanding bangsa lain. Pertama, periode tribal. Merupakan periode pra literasi yang menekankan budaya lisan. Periode ini lebih banyak mengeksplorasi indera pendengaran karena informasi beredar dari mulut ke mulut. Periode ini menyebabkan informasi dikuasai kalangan tertentu saja sehingga pengetahuan bersifat elitis.

Kedua, periode literatur. Manusia telah mengembangkan simbol-simbol yang diseragamkan sehingga menjadi bahasa bersama. Baca tulis menjadi tolok ukur kepandaian para individu. Ketiga, periode percetakan. Penemuan mesin cetak oleh Johanes Guttenberg pada tahun 1440 menjadi awal industri media massa cetak. Pada masa ini tulisan dapat diperbanyak dan penyebarannya lebih cepat. Akibatnya pengetahuan bisa menyebar bebas sehingga siapapun yang bisa baca tulis dapat mengakses pengetahuan. Keempat, periode elektronik. Periode terakhir ini dimulai sejak penemuan telegraf dan berlangsung hingga saat ini. Puncaknya adalah penemuan televisi yang menjadikannya media paling bersinar dibanding media cetak dan radio. Tapi sekarang, kajian media sedang berpusat pada new media karena kebaruan dan keanehannya.

Dalam empat gelombang itu, manusia Indonesia dapat percaya diri telah melewati periode tribal dan elektronik. Periode tribal di Indonesia ditandai dengan banyak cerita lisan mengenai legenda, fabel, dan cerita rakyat yang ada hampir di seluruh daerah. Sementara periode elektronik –yang menjadi cikal bakal kedatangan internet- ditandai dengan penggunaan internet dan medsos yang begitu besar. Menurut Internet World Stats, Indonesia menempati urutan ke empat pengguna internet terbanyak di Asia sebesar 78 juta jiwa pada tahun 2015. Kemudian melaju pada urutan ke tiga di Asia pada tahun 2016 dengan jumlah pengguna mencapai 132 juta jiwa. Sementara pengguna medsos di Indonesia berjumlah 88 juta jiwa per Juni 2016.

Lalu bagaimana dengan periode literatur dan percetakan? Hingga saat ini, setiap informasi yang mengarah pada budaya literasi di Indonesia pasti mengalami pesimisme yang luar biasa. Dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang notabenenya secara ekonomi dan pembangunan berada di bawah Indonesia, kita tetap kalah. John W. Miller dan Michael C. McKenna, akademisi dari Central Connecticut State University di US merilis hasil penelitian mereka untuk World Most Literate Nations tahun 2016. Dari 61 negara di dunia, Indonesia berada pada peringkat ke 60 setelah Thailand, dengan negara ke 61 adalah Bostwana – Afrika Selatan.

Kita harus menyadari bahwa bangsa kita tengah mengalami suatu lompatan budaya yang krusial. Lompatan budaya ini yang menyebabkan kita gagap menghadapi gelombang budaya teknologi informasi dan komunikasi. Padahal jika ditelusuri, bangsa Indonesia memiliki sejarah gemilang di dunia literasi dengan lahirnya kitab-kitab kuno pada masa kerajaan Hindu-Buddha. Namun kisruh perang saudara pada masa kerajaan membuka peluang masuknya penjajah yang menindas fisik dan mental bangsa Indonesia, lalu membuat dunia literasi kita ambruk.

Periode literasi banyak mengajarkan penulisnya –sebagai komunikator- untuk mempertanggungjawabkan keabsahan informasinya. Segala informasi yang tercatat dan tersebar tidak mudah hilang. Sehingga jika data dan fakta yang dipaparkan dalam tulisan itu tidak memiliki bukti yang kuat, apalagi palsu, maka nama baiknya bisa dipastikan hancur. Dalam pengertian determinisme teknologi, buku, makalah, jurnal, dan penerbitan lainnya membawa dampak pola pikir yang logis, linier, dan analitik. Hal itu tentu berbeda dengan budaya lisan yang tidak membutuhkan data akurat. Bahkan ucapan lisan bisa diingkari begitu saja oleh pembicara jika situasi tidak menguntungkan.

Memasuki abad informasi dengan hanya berbekal kemampuan periode tribal, membuat pengguna medsos di Indonesia kewalahan. Seluruh informasi yang beredar hanya lewat begitu saja dan langsung disebar seperti budaya lisan yang suka menggunjing. Pengguna medsos tidak merasa memiliki kewajiban memverifikasi, membandingkan data, pun memikirkan efek setelah penyebarannya. Sebagai penggunjing dalam interaksi sosial, penyebar hoax hanya ingin dianggap memiliki pengetahuan lebih terhadap informasi. Tentu saja hal ini membahayakan bila hoax yang disebar berakibat disintegrasi bangsa dan negara.

Post Truth

Masalah lain yang timbul akibat budaya literasi yang tidak ‘tamat’adalah dangkalnya berfikir dan emosionalitas pengguna medsos. Kebenaran tidak lagi menjadi tujuan pokok dari informasi, melainkan membangunkan ingatan primordialisme yang membawa dampak perpecahan. Pengguna medsos pun tidak menyadari bahwa dirinya telah terpetak-petakkan dalam kelompok, agama, suku, atau pun pemikiran tertentu. Ketika ada informasi yang lewat di beranda facebook, mereka langsung tersulut emosinya dan memberikan komentar seketika.

Penyebaran berita hoax yang massif seperti ini bisa menjadi salah satu tanda dari datangnya post truth era, yang diartikan sebagai suatu keadaan ketika fakta-fakta obyektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik dibandingkan emosi dan keyakinan pribadi. Kosa kata ‘post truth’ sendiri telah dinobatkan oleh Oxford Dictionaries sebagai Word of the Year 2016 sebagai respon atas peristiwa Brexit dan Donald Trump yang terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat. Hal ini tentunya mengerikan mengingat Indonesia juga memasuki era ‘kebenaran yang telah mati’ itu.

Era post truth telah merebak ke Indonesia melalui penyebaran hoax yang sempurna. Pengguna medsos yang menjadi obyek serangan hoax pun tidak mempersoalkan apakah informasi itu valid, obyektif, atau berimbang secara jurnalistik. Masyarakat masih gegabah dalam menyikapi informasi yang beredar karena lebih menggunakan emosionalitas dibanding akal. Kondisi ini harus dikembalikan pada pemahaman bahwa manusia indonesia terdiri dari berbagai suku, agama, dan budaya sehingga harus saling menghormati. Jika tidak, yang terjadi adalah peperangan yang tak berkesudahan.

Masyarakat kita saat ini, baik yang aktif di dunia medsos maupun di dunia nyata, dapat diklasifikasikan sebagai khalayak massa. Ciri khas dari khalayak ini nyaris tanpa berfikir dan tanpa merenung, yang diakibatkan melebarnya budaya massa yang berulang, bersifat permukaan, mengagungkan kenikmatan remeh, sentimentil, sesaat, dan menyesatkan dengan mengorbankan nilai-nilai keseriusan, intelektualitas, penghargaan atas waktu dan autentisitas (Strinati, 2010:38). Hoax yang saat ini menyebar pun cenderung mengumbar fantasi dan respon sentimentil tanpa tanggung jawab.

Khalayak massa dengan kondisi ini cenderung membuka diri untuk dapat dimanipulasi dengan mudah. Sehingga tampaknya produsen hoax tidak mengalami kesulitan dalam menyebarkan berita palsu itu. Jadi bukan karena kepandaian produsen hoax yang mampu mengemas dan mempersuasi masyarakat, tetapi masyarakat sendiri yang dengan terbuka menerimanya –bahkan mendukung. Strinati juga menyebutkan, timbulnya budaya massa dan khalayak massa ini bertanggug jawab terhadap kurangnya sumber intelektual dan dan moral untuk melakukan hal yang sebaliknya.

Dengan memahami kondisi khalayak massa ini, maka tidak mengherankan jika fakta-fakta tidak lagi menjadi rujukan. Mereka tergesa-gesa dengan penyimpulan sepihak karena menurutnya ‘menarik’ dan bukan berdasarkan ‘kebenaran’. Festinger menandai kondisi ini dalam Teori Disonansi Kognitif yang mengatakan bahwa orang-orang cenderung ingin mengabaikan informasi yang tidak sesuai, atau paling tidak mengurangi informasi yang tidak sesuai itu dengan mencari perbandingan (dalam Littlejohn, 2009:115). Jadi dapatlah dipahami bahwa penyebaran berita hoax disertai dengan keyakinan akan kebenarannya –dengan mengecualikan bahwa ada berita hoax yang sengaja disebarkan untuk tujuan pemecah belah.

Problem atas intelektualitas masyarakat yang rendah ini bisa menjadi pintu masuk bagi orang-orang yang memiliki agenda politik, sosial, dan ekonomi secara khusus. Bukan tidak mungkin ada niat-niat tertentu dalam penyebaran hoax yang disengaja, terencana, dan menghasilkan imbas buruk bagi masyarakat. Jika ada hoax menyebar dan mendiskreditkan Agama Islam, bukan tidak mungkin bahwa hoax itu buatan orang Islam sendiri. Hal yang sama berlaku bagi agama lain, suku lain, dan ciri-ciri biologis lain, yang didiskreditkan oleh hoax. Sehingga ada upaya propaganda dalam penyebaran hoax yang mengarah pada kepentingan perorangan atau kelompok tertentu.

Sebagaimana yang sering kita dengar dalam kampanye atau propaganda politik –dalam hal ini kampanye dan propaganda berarti ingin mempersuasi orang lain agar mengubah atau meneguhkan pilihannya–, ada suatu jenis kampanye yang menyerang pihak lawan meskipun tanpa data dan anonim. Memang cara ini adalah yang paling buruk bila dibandingkan dengan kampanye yang berorientasi pada produk, person, ataupun ideologi. Dalam kampanye negatif, kelompok berlawanan menyerang tanpa mempedulikan etika dan keabsahan data yang digunakan. Di ranah hoax inilah mereka bermain dan mendapatkan momentumnya dalam kejadian-kejadian sosial keagamaan yang akhir-akhir ini booming.

Turn Back Hoax

Orang-orang yang menjadi spiral of silence perlu digerakkan dalam berbagai aktivitas. Dari 88 juta lebih pengguna medsos di Indonesia, sebagian besar adalah orang-orang yang tidak peduli dengan dunia ini. Entah ada yang menjelek-jelekkan agama, merecoki hukum Indonesia, atau pun memprovokasi massa, kelompok ini tidak peduli. Mereka hanya akan galau dengan kondisi di Indonesia namun tidak melakukan apapun untuk menyelamatkannya. Orang-orang inilah yang harus digerakkan dalam social movement yang digagas baik oleh lembaga swadaya masyarakat, akademisi, maupun pemerintah.

Perlu diingat, memerangi berita hoax yang berkeliaran di medsos tidak cukup dengan kampanye melalui dunia nyata. Hoax yang disebarkan lebih banyak melalui jaringan medsos harus dilawan menggunakan media yang sama –meskipun tidak menafikan harus ada aktivitas real di dunia nyata. Di abad informasi ini, kampanye-kampanye selalu lebih berhasil bila memanfaatkan internet. Sebuah gerakan anti hoax perlu dimassifikasi supaya melekat dalam otak masyarakat. Sehingga ketika ada informasi yang berpotensi hoax, masyarakat langsung teringat akan gerakan itu lalu memverifikasinya sebelum menyebarkan.

Karena itu, beruntunglah kemudian muncul gerakan penyadaran yang diinisiasi oleh berbagai grup facebook, diantaranya Masyarakat Anti Hoax Indonesia (MAFINDO). Seluruh anggotanya diminta mengumpulkan setiap gambar dan informasi yang berpotensi merugikan orang lain, kemudian meneliti kebenaran informasi tersebut. Dari sana kemudian mereka membuat website www.turnbackhoax.id dan terindeks beberapa informasi yang terbukti hoax. Diantaranya yang terbaru : Air Mineral Yang Membundel Sari Roti Juga Mesti Diboikot, Korban Om Telolet Om, Cut Meutia Digambarkan Tidak Berjilbab Dan Mirip Cina Di Uang Rupiah Baru, Ahok Ziarah Ke Makam Ibu Angkatnya Memakai Sepatu.

Saat ini, google, facebook, Kementrian Komunikasi dan Informasi RI, penegak hukum, aktivis sosial dan akademisi, berupaya keras untuk memblock gerakan penyebar hoax. Yang tersisa sekarang adalah niat baik dan kesungguhan masyarakat guna menghentikan berita hoax. Jika hoax bisa menyebar dengan leluasa, maka harusnya gerakan anti hoax bisa bergerak lebih pesat. Munculnya aplikasi anti hoax yang digagas Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) di android maupun iOS juga patut diapresiasi. Sebagai bagian dari gerakan berbasis crowdsourcing (urun daya), maka setiap individu yang berkesadaran harus mendukungnya dengan berbagai cara.

Cara pertama berhubungan dengan persoalan mendasar bangsa Indonesia, yakni menggerakkan budaya literasi. Untuk ini kita membutuhkan beberapa langkah taktis, misalnya dengan mendukung setiap gerakan literasi yang ada di sekeliling kita. Di sebagian besar kota di Indonesia ada berbagai komunitas yang secara swadaya membuat taman bacaan masyarakat, membentuk forum diskusi, hingga penerbitan buku. Gerakan ini harus didukung demi kelangsungan peradaban generasi mendatang yang lebih baik.

Membangun budaya literasi merupakan persoalan yang kompleks. Ia tidak serta merta ada dan akibatnya tidak bisa dirasakan bahkan sampai bertahun-tahun kemudian. Dibutuhkan konsistensi dan keteguhan guna menggerakkan masyarakat agar mencintai literasi. Namun demi generasi yang akan datang, penggerak literasi tidak boleh menyerah. Karena dari sinilah cikal bakal kemajuan bangsa Indonesia. Jika tidak digembleng mulai dari sekarang maka akan selalu ada generasi yang kebanyakan alasan saat diajak berkontribusi aktif dalam pengembangan literasi.

Cara kedua adalah berhadapan langsung dengan para penyebar hoax. Langkah ini relatif lebih mudah karena tidak menuntut konsistensi dan konsekuensi yang tinggi. Orang yang sehari-hari menggunakan medsos bisa melakukannya seketika itu juga. Yang diperlukan hanyalah kesadaran akan bahayanya hoax dan kemauan untuk beraksi. Cara-cara ini dapat ditempuh dalam beberapa tahap :

Pertama, verifikasi. Seluruh informasi yang mampir di beranda medsos kita harus diteliti sehingga dapat dipastikan kebenarannya. Jangan mudah percaya atas informasi yang merendahkan, mendiskreditkan, dan mengolok-olok pihak tertentu. Konsekuensi atas ke-tidakmudahpercaya-an pada setiap informasi adalah melakukan verifikasi. Verifikasi ini penting sehingga menjadi salah satu prasyarat wartawan ketika menyajikan berita. Tanpa verifikasi yang memadai seluruh informasi bisa diragukan kebenarannya.

Sebagai warga dunia yang disatukan oleh informasi dalam internet, memverifikasi informasi hoax menjadi lebih mudah. Ada layanan google yang bisa menelusuri berbagai macam pertanyaan dengan berbagai perspektif –yang di sini juga memerlukan kehati-hatian. Perhatikan pula media online yang memuatnya karena banyak blog abal-abal yang keseluruhan isinya hanya berisi ujaran kebencian, fitnah, provokasi, SARA, penghinaan negara, hingga berisi phising dan malware. Meskipun Kominfo RI telah memblokir puluhan website yang berbau SARA dan penyebar hoax, namun website semacam ini akan terus bermunculan sehingga membutuhkan kejelian masyarakat.

Ciri paling mudah untuk mengetahui akurasi pemberitaan adalah dengan melihat nama websitenya, jika tidak familiar, maka hampir dapat dipastikan hoax. Misalnya lemahirengmedia.com, portalpiyungan.com, suara-islam.com, bersatupos.com, media-nkri.net, dan lain-lain. Situs-situs tersebut sayangnya menggunakan nomenklatur keislaman untuk menyebarkan berita hoax. Hingga akhirnya diblokir oleh Kominfo pada akhir 2016 lalu. Bandingkan dengan berita yang datang dari kompas.com, detik.com, liputan6.com, atau cnn.com. Empat media yang disebut terakhir termasuk media nasional yang dalam pemberitaannya menggunakan teknik jurnalistik sehingga jelas narasumbernya dan dengan sendirinya dapat dipercaya ketepatannya. Meskipun tidak dapat dipastikan kebenaran mutlak dari media online mainstream, namun mereka sudah terverifikasi bertingkat oleh dewan pers sekaligus merupakan sebuah perusahaan media yang menjual kredibilitas.

Berita hoax juga tidak mungkin menyantumkan narasumber jelas yang memiliki kredibilitas di bidangnya. Jika pun mereka mengutip pernyataan seorang tokoh di Indonesia, lihatlah waktu atau lokasi di mana pernyataan itu diambil. Sebagaimana kerja jurnalistik yang menyantumkan waktu (when) dan tempat (where) dalam setiap tulisannya. Karena waktu dan tempat seringkali menentukan konteks pernyataan itu dikeluarkan.

Kedua, ingatkan. Jika terbukti informasi yang beredar adalah hoax maka ingatkan penggunanya melalui pesan pribadi, pesan di beranda pengguna, maupun turut berkomentar di kolom yang disediakan. Menggunakan metode keimanan, maka untuk mengingatkan penyebar hoax ini ada tiga cara, pertama dengan kekuatan tangan –dalam artian dilakukan dengan lugas dan tegas, kedua dengan ucapan –yakni peringatan halus kepada penyebar hoax, dan ketiga adalah diam atau tidak ikut menyebarkan berita hoax tersebut yang mana merupakan selemah-lemahnya iman.

Guna mengefektifkan peringatan kepada penyebar hoax maka kita harus mencari data dan fakta yang akurat terlebih dahulu. Terutama menghadapi penyebar hoax yang yakin bahwa informasi yang disebarkannya itu benar, maka data dan fakta ini menjadi sesuatu yang mutlak. Tanpa data dan fakta yang jelas maka hanya debat tak berujung yang akan didapat. Terutama, dengan mengingatkan penyebar hoax secara terbuka, akan banyak orang yang akan melihat percakapan itu. Orang-orang yang masuk dalam golongan ‘tak beropini’ ini akan mengetahui bahwa informasi yang disampaikan adalah hoax sehingga tidak menjadikannya sebagai kepercayaan.

Ketiga, unfriend pengguna yang terindikasi keterlaluan karena selalu menyebar berita hoax harus mendapatkan pemutusan hubungan pertemanan. Bahkan mungkin mereka tidak akan merasa rugi sama sekali diputuskan pertemanannya oleh salah seorang dari ribuan teman medsosnya. Unfriend ini adalah jalan penyelamatan diri. Dari pada selalu terbayang-bayang dengan berita hoax yang disebarkan olehnya, lebih baik tidak sama sekali. Bukankah hidup tanpa prasangka lebih membahagiakan?

Langkah unfriend ini harus didasari pada keinginan hidup yang lebih baik dan membahagiakan. Karena jika keputusan unfriend didasarkan pada kognisi yang emosional, maka tindakan ini tentu tidak disarankan oleh ahli hubungan antar manusia. Karena pemutusan hubungan pertemanan seringnya mengarah pada ketidakmampuan individu menerima perbedaan antar manusia. Budaya massa yang menimbulkan ‘kebersamaan semu’ memunculkan sikap tak hirau terhadap setiap orang yang berbeda pandangan.

Keempat, laporkan. Media sosial telah menyediakan layanan ‘report fake news’. Selain itu, pengguna medsos juga bisa melaporkannya ke email Kominfo, Mafindo, maupun aplikasi anti hoax rancangan Mastel. Dengan gerakan Turn Back Hoax yang massif, maka bukan tidak mungkin penyebar hoax akan jera. Pelaporan ini akan menjadi jalan terakhir dari serangkaian cara menanggulangi penyebaran berita hoax. Dengan melaporkan pengguna yang terlalu sering menyebar berita hoax, maka kita akan menghentikan rantai penyebarannya.

*Dimuat dalam buku "Turnback Hoax" yang diterbitkan oleh Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) tahun 2017.
Daftar Rujukan 
Central Connecticut State University. 2016. World’s Most Literate Nations Ranked. Diunduh dari. <http://webcapp.ccsu.edu/?news=1767&data. Viewed 20 Januari 2017.
Internet World Stats. 2016. Asia Marketing Research, Internet Usage, Population Statistics and Facebook Information. Diunduh dari  <http://www.internetworldstats.com/asia.htm. Viewed 20 Januari 2017
Littlejohn, Stephen W & Karen A. Foss.2009. Teori Komunikasi, edisi 9. Jakarta: Salemba Humanika.
Ratmanto, Teguh. 2015. Determinisme Teknologi dalam Teknologi Komunikasi dan Informasi. Mediator. Vomule 6. Nomor 1. Pp 43-50.
Saefudin, Asep. 2008. Perkembangan Teknologi Komunikasi: Perspektif Komunikasi Peradaban. Mediator. Volume 9. Nomor 2. Pp 383-392
Strinati, Dominic. 2010. Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. Ar-Ruz Media: Jakarta
_______________.2016. Word of the Year Is. Diunduh dari <https://en.oxforddictionaries.com/word-of-the-year/word-of-the-year-2016. Viewed 20 Januari 2017.

2017-05-24

Cerpen: Topo Jadi Wartawan



Seperti biasa, kisah ini dimulai dengan suatu hari. Pada suatu hari seorang lelaki yang hidupnya sudah lama tersia-siakan, Sutopo, mendapatkan pekerjaan penting di Kantor Berita Lokal (KBL). Dia merasa terdampar karena 13 semester kuliah, yang ia hafalkan hanya tabel periodik unsur-unsur kimia. Kata dosennya, tabel periodik merupakan inti kehidupan, karena dari sana Tuhan menciptakan seluruh alam.

Namun ia tetap bersyukur karena pekerjaannya bukan main-main; wartawan. Pekerjaan yang berhubungan dengan orang penting. Kartu nama dan kalung leher yang ia dapatkan satu minggu ini begitu membanggakannya. Hidung Topo agak mancung dan bergetar saat ia bangga. Jika ketahuan temannya, mereka semua akan tertawa. Sering kali ia merasa menjadi Pinokio, namun sejak menjadi wartawan, hidungnya bukan masalah lagi.

Topo menjadi ingat kalau keluarganya rata-rata menjadi penulis. Lalu ia tertawa sendiri. Bertanya-tanyalah dia pasca diterima jadi wartawan, kenapa ia mengambil jurusan kimia? Kakaknya yang pertama, Betawi, menjadi ahli kaligrafi. Kakak keduanya, Sularso, menjadi juru tulis di Kantor Urusan Agama. Lalu mbaknya, menjadi Sekretaris yang katanya pekerjaanya juga menulis. Dan kakak keempatnya, menjadi penulis kolom kematian di Koran Nasional Nusantara persis tokoh film The Closer.

Mungkin bapak dan ibunya dulu hobi menulis. Begitu pikir Topo. Lalu kakek buyutnya juga mungkin penulis juga. Bahkan ia sempat berfikir dengan pasti kalau nenek moyang yang melahirkannya telah menemukan tulisan. Semakin ia melamun, semakin ia bahagia. Padahal hapenya sejak 30 menit lalu berdering. 40 menit kemudian, ia membaca sms yang masuk. “Besok mulai kerja!”.

Saat terjun ke lapangan untuk mencari berita, ia disuruh mengawal seniornya. “Untuk belajar cara mencari berita,” begitu kata Bos KBL. Tapi ia terkaget-kaget karena tipikal wartawan senior di tempat kerjanya, dan wartawan senior di perusahaan lain, tidak sesuai dengan Sembilan Elemen Jurnalis karya Bill Covach yang semalam di downloadnya. Ia menjadi heran. Berhari-hari ia melamun, ia menjadi semakin galau.

Hingga tiga bulan berikutnya ia hafal bagaimana menjadi wartawan yang baik. Oya, tentang buku 40 tahun Karni Ilyas menjadi jurnalis, atau cerita Jakob Oetama selama 80 tahun memimpin Kompas sudah lama dibuangnya. Ia sudah tahu kalau buku-buku itu hanya berisi hal-hal indah dan heroik menjadi wartawan. Ia hanya tidak tahu, dan tidak ada yang suka diberitahu, kalau kalung leher dan kartu nama yang ia banggakan, menandakan ia punya juragan yang harus dipuaskan.

Semakin lama ia semakin menikmati menjadi wartawan. Bisa mengurus SIM tanpa harus tes dan membayar. Bisa makan enak dengan harga paling mahal –gratis. Bisa menginap di hotel paling mewah, gratis. Sekali waktu, ia dimintai tolong tetangganya, dimintai tolong saudaranya, dimintai tolong teman dari temannya; kalau tidak mengambil motor di kantor polisi, ya mengajukan proposal ke bupati.

Biadab!! Biadab!!! Begitu ia ngamuk setiap harinya. Ia menjadi telat makan, lalu pernah sakit magh tiga hari. Ia juga telat mengucapkan selamat pagi dan selamat malam kepada pacarnya hingga sekarang menjomblo. Kata si Bos, hidup wartawan sudah milik publik. Sehingga kalau ada tugas, Topo diminta percaya kalau masyarakat, atau rakyat dalam bahasa perjuangan, yang memanggil wartawan.

“Kalau wartawan makan, itu makannya wartawan. Kalau tidur, tidurnya wartawan. Kalau pergi jalan-jalan, ya jalan-jalannya wartawan. Saat ada tugas memanggil dan kita sedang capek ketiduran, cepat bangun dan segera berangkat. Lagi makan enak sama pejabat, tapi ada peristiwa penting, tinggalkan makan dan segera meluncur,” begitu teriak orang-orang kantor.

Topo tentu semakin bersemangat. Ia sangat yakin kalau menjadi wartawan sudah takdirnya, sebagaimana takdir saudara-saudara dan nenek moyangnya. Hidungnya lebih bersemangat cenut-cenut kalau Topo usai mendapatkan siraman rohani dari pimpinan redaksi. Tampaknya ia memiliki segala daya untuk menjadi sukses dengan menjadi wartawan.

Lalu tanpa sebab, ia tiba-tiba terpanggil menjadi orang yang lebih bermanfaat. Beberapa remaja putus sekolah di kampungnya, ia ambil dan ditempatkan di kota untuk merawat kebun bunga miliknya. Katanya ia kulakan di Malang dan bisa dijual 200 kali lipat di Surabaya. Ada Mawar, ada Melati, ada Anggrek, ada Lidah Buaya, plus bonsai yang ia ambil dari warga lokal untuk dijual 1000 kali lipat.

Tiga tahun kemudian, kebun-kebun bunga milik Topo sudah bisa diserahkan kepada salah satu anak buahnya. Ia tidak mengurusi lagi soal tetek bengek kulakan dan detail jualan bunga. Ia menikmati jadi wartawan senior. Media-media lokal yang punya wartawan junior ia manfaatkan. Ancamannya jelas, kalau tidak ngasih berita ya bakal dihalang-halangi informasinya. Wartawan junior tentu ketakutan setengah mati. Topo semakin bangga dan tidak pernah sakit magh lagi.

Sehari-hari yang dilakukannya hanya ngopi di kantin Pemkot berteman dengan PNS yang kini sudah naik menjadi Kepala Dinas. Karena itu, seluruh Kepala Dinas dikenalnya dengan baik. Termasuk mantan Sekda yang dulu juga mantan Kepala Dinas Pariwisata yang saat ini sudah menjadi Bupati, juga teman dekatnya. Karena itu wartawan junior takut bila menyakiti hatinya. Apalagi setoran ke kantor KBL juga lancar seperti Suramadu yang kini tanpa tiket.

Sementara kehidupan kewartawanannya membaik, anak buahnya yang berjualan bunga sudah alih profesi menjadi pengusaha. Bukan hanya bunga, tapi sudah merambah bisnis pohon pengayom pinggir jalan, tanaman untuk perkantoran, termasuk beberapa proyek pengadaan tanaman untuk taman-taman yang rencananya dibangun. Kata pendeknya, ia tinggal ongkang-ongkang kaki. Pekerjaan sampingannya hanya tanda tangan dengan gembira.

Setiap perencanaan APBD, ia masuk melalui anggota dewan dan dinas-dinas terkait. Bila tidak tembus karena beberapa anggota dewan kolot, ia masuk lagi dalam bulan-bulan terakhir saat Perubahan Anggaran Keuangan APBD. Dijamin berhasil karena Pemkot biasanya ngotot supaya anggarannya bisa terserap 100 persen untuk mengelabuhi BPK. Bahkan untuk menguntit dana hingga Rp 30 miliar menjadi mudah. Karena itu, sudah langganan Pemkot di sini diberi ganjaran penilaian Wajar Tanpa Pengecualian oleh BPK dengan nominal Rp 250 juta saja.

Saat memasuki tahun ke lima, Topo sudah benar-benar menjadi bos besar. Ia tidak perlu lagi pura-pura menjadi wartawan. Ia hanya pelesir tiap hari. Ke luar negeri tidak lagi menjadi mimpi. Bahkan ia baru pulang dari Hawai ditemani gadis-gadis bongsor dari tanah yang asing. Pulang dari sana ia kembali ke rumahnya, sementara media mengoyak-ngoyak anggota dewan yang tidak pernah disukainya. Ia santai saja di rumah, merasakan ketentraman.

Apalagi sekarang, anak buahnya yang berkebun bunga sudah menjadi kepala dinas pertanian dengan membeli ijazah di sekolah tinggi yang ia dirikan bersama kenalannya profesor kampus negeri. Bim salabim, orang kaya bisa melakukan apa saja. Bahkan ia juga sudah memiliki gelar doktor dari kampus luar negeri yang bukan main-main. Karena setelah punya uang, ia menjadi yakin kalau pendidikan itu penting.

***

Malam itu ia tidur di hotel. Damai ia ditemani Sulasti, mantan presenter yang dulu suka ngotot saat tanya ke narasumber. Tidak mendengar ketukan atau dobrakan, tiba-tiba rumahnya dibobol beberapa orang pakai senjata otomatis. Ia kaget. Biadab!! Biadab!!! Teriaknya. Sulasti yang masih telanjang dada terdiam di pojokan kamar.

Di televisi, rupanya disiarkan langsung adanya indikasi Topo terlibat korupsi. Nara sumbernya, para kepala dinas dan anak buah Topo yang jadi politisi. Topo menggeram. Ia sudah bukan wartawan lagi. Tapi ia masih menyisakan api, ia menyiapkan kartu AS untuk melengserkan para petinggi. “Permainan belum selesai,” kepal suaranya saat kena bogem.

2017-05-09

Keteguhan Pram



Pram, adalah gelombang yang membawa sisa-sisa keberanian bangsa Indonesia ke dalam konflik batin-fisik yang lebih melelahkan. Membela kemerdekaan indonesia, jelaslah siapa musuh dan kawan. Tetapi membela ideologi kebebasan menulis dan berpendapat di negara yang sudah merdeka, alangkah repot dan menyedihkannya. Pram hidup dalam bayangan ketakutan, tetapi ketakutan itu diubah menjadi keberanian menentang setiap rongrongan dari kekuatan resmi: negara.

Banyak yang menyetujui bahwa jalan hidup Pram disebut Pramis: sebuah gaya, pikiran, dan tindakan yang dilakukan selama dia masih hidup. Karena kehidupan Pram sendiri adalah sebuah elegi, roman, ditambah kisah suram, terkait berkawan dan berkhianat, tentang keteguhan dan ketersungkuran. Sehingga buku-buku yang ia karang tampaknya tidak jauh menggambarkan kehidupannya sendiri. Lagi pula ukuran ideologi Pramis tidak saja di buku-buku ciptaannya, tetapi terlebih pada bagaimana ia hidup. Seumpama nabi, Pram memiliki kualitas untuk diikuti setiap ucapan, tingkah laku, hingga ketetapan-ketetapannya.

Apakah Pram orang suci? Tentu tidak. Pujian terhadap Pram sepanjang waktu bukanlah karena Pram manusia suci yang diutus oleh tuhan, mendapat wahyu, atau dijaminkan surga kepadanya. Tetapi karena ia manusia biasalah, maka keteguhan pram mendapat banyak pujian. Di zaman apapun, teramat sulit mencari kualitas diri seperti Pram yang bisa tegak di tengah kecamuk kegilaan. Jika tidak ada Pram di Indonesia, kepada siapa lagi akan disangkutpautkan sosok penulis yang siap babak belur demi mempertahankan kebenaran yang telah dipegangnya?

Untuk menggambarkan keteguhan Pram, dalam riwayat-riwayat kematiannya, diibaratkan ia tengah menantang tuhan. Bahkan kepada tuhan sekalipun, Pram tidak meminta bantuan apa-apa. Di sini Pram menampakkan kediriannya sebagai seorang eksistensialis. Selain itu bisa dikata Pram seorang individualis sejati. Orang-orang seperti ini sudah memiliki kesenangan yang bisa mengalahkan nikmatnya berkumpul-kumpul dalam warung kopi. Lebih murah dan membahagiakan membaca buku, atau Pram biasanya mengkliping koran, sembari membayangkan Indonesia bakal maju puluhan tahun mendatang.

Dalam kepengarangan dan hidup Pram, terdapat tiga hal utama sebagaimana yang dikutip Muhidin M Dahlan dalam bukunya ‘Ideologi Saya Adalah Pramis’ dari Taufik Rahzen, yakni kebenaran, keadilan, dan keindahan. Kebenaran adalah jalan utama menuju hidup yang terang meskipun bakal dihalau segala kondisi yang menyakitkan. Dan jalan kebenaran Pram memang bukan jalan yang mudah, ia harus dihadang oleh berbagai macam tantangan. Kebenaran dan keadilan yang bergolak ini harus tahan uji di struktural maupun kultural. Hingga kemudian, muncullah keindahan dari kehidupan dan karya-karya Pram.

Hal yang paling menarik dari tiga jalan kepengarangan Pram adalah konsep tentang keindahan. Ia mempersepsikan keindahan bukan hanya sebagai sesuatu yang mempesona, mengkilap, dan murni. Tetapi keindahan ini harus diejawantahkan dalam memperjuangkan kemanusiaan. Keindahan bagi banyak penulis –terutama penyair- adalah kemampuannya dalam menyajikan bahasa yang indah: bak rima dalam puisi. Dan Pram mengonsep keindahan sebagai gerakan, daya juang, dan semangat pantang menyerah untuk membela kaum tertindas. Sehingga keindahan dalam karya Pram adalah kemampuannya menyajikan realitas yang tidak menguntungkan kaum lemah sebagaimana adanya.

Maka tidak heran jika lawan kepenulisan Pram yang juga tokoh sastra terhormat Mochtar Lubis, menyebutkan bahwa Bumi Manusia adalah novel yang datar dan tidak menarik. Membaca karya Pram memang tidak langsung melonjak ke konflik. Jika seseorang hanya membaca lima halaman pertama kemudian berhenti, maka ia tidak akan mendapatkan sesuatupun. Pram merupakan generasi tua yang tidak mempelajari secara sungguh-sungguh bagaimana membuat pembukaan paragraf yang menggoda atau mendobrak. Ia menulis novelnya dengan kekhusyukan terhadap seluruh kisah sejarah yang telah hadir dalam kehidupan orang Indonesia. Dan ia merasa bebas harus mulai dari mana, bagaimana cara pengkisahannya, dan bagaimana ending yang akan ia tuju.

Selain itu, membaca karya Pram kita akan melihat suatu kesopanan yang terjaga. Tidak ada adegan percintaan yang vulgar sebagaimana kebanyakan kisah percintaan Hollywood. Dan inilah keindahannya, keindahan masyarakat Indonesia yang masih memegang teguh kesusilaan. Sebagaimana kisah Musashi, legenda samurai Jepang, kisah cintanya dengan Otsu tak sekalipun menampakkan adegan yang tidak pantas. Kebudayaan timur ini memang mendarah daging dalam tubuh Pram. Ia punya karakter yang boleh jadi, lebih kuat dibandingkan dengan penulis besar yang hidup sezamannya.

Meskipun Pram adalah penulis besar, namun dia masihlah orang yang selalu tidak punya uang. Waktu itu, sebagai pengarang, Pram termasuk di gerombolan penulis miskin. Ia selalu menerima setiap suguhan istrinya dan tidak pernah mengeluh soal makanan. Bahkan untuk menikah dengan istrinya Maemunah, Pram dipinjami mas kawin oleh Ramadhan KH. Dengan kondisi seperti ini, sangat aneh jika Pram berani konfrontasi dengan Hamka, HB Jassin, Taufik Ismail, dan beberapa tahun lalu dengan Hasta Mitra hingga Goenawan Mohammad. Ini menunjukkan bahwa Pram tetap tegak menantang segala sesuatu yang tidak sesuai dengan keyakinannya –dengan tanpa kompromi dan sehormat-hormatnya.

Keteguhan Pram ini sebenarnya bisa ditelisik dari kecintaannya pada tanah air. Ia semacam jatuh cinta dan memiliki semangat patriotisme yang lebih tinggi dari siapapun, bahkan aparat negara atau pun presiden sezamannya. Kecintaannya ini membuat Pram kalut jika Indonesia tidak maju. Ia ikut bergolak, mendobrak, dan berhadap-hadapan dengan bermacam kelompok atau perorangan. Pram berpendapat bahwa sastra seharusnya tidak meninggalkan kaum miskin kota atau ketertindasan petani desa. Hal ini tentu berbeda dengan musuh politik sastranya yang lebih suka menjadikan sastra sebagai sastra, sastra untuk sastra, sehingga seakan tidak ikut bertanggung jawab akan lingkungannya.

Salah satu wujud kecintaan Pram terhadap nusantara ini adalah kegigihannya untuk membuat semacam ensiklopedi Indonesia. Ia rela menghabiskan 23 tahun hanya untuk mengkliping koran, demi mendapatkan gambaran lengkap tentang Indonesia. Yang ia kliping bukanlah persoalan politik, tetapi daerah-daerah yang ada di seantero Indonesia. Jika orang lain melihat Indonesia dari provinsi ke kabupaten ke kecamatan dan baru ke desa, maka Pram membaliknya. Ia catat seluruh nama desa yang ada di Indonesia, kemudian ia mendaftarnya sesuai urutan huruf.

Pram percaya, bahwa kerja-kerja kepengarangannya tidak hanya berbatas pada menulis, tetapi pada seluruh aktivitas untuk membesarkan nama Indonesia. Seperti kita tahu, Pram tidak hanya menulis pada awalnya, tetapi juga ikut dalam berbagai organisasi hingga ia dituduh komunis, ia aktif dalam gerakan sastra, dan termasuk ia mendirikan penerbitan sendiri guna mendukung langkah-langkahnya. Menurut Pram, inilah konsekuensi dari kecintaannya terhadap Indonesia. Ia pernah mengeluh bahwa kerjanya tidak banyak yang mengapresiasi, tetapi ia tidak pernah berhenti untuk menyelesaikan setiap perjuangan yang telah ia mulai. Dilihat atau pun tidak, kita sekarang lah yang memberikan penilaian.

2017-05-03

Ketidaksempurnaan Kesempurnaan



segala sesuatu yang kita anggap sempurna mengandung ketidaksempurnaan.

Manusia selalu memandang rumput tetangga lebih hijau. Bukanlah suatu hal yang aneh jika ada orang lain yang mengagumi kehidupan manusia lainnya, memuji, dan ingin sekali hidup seperti orang lain. Beberapa lainnya menyadari bahwa pikiran seperti itu hanyalah ilusi, tetapi kesadaran ini tidak bertahan lama. Suatu saat ketika ia tertimpa kesusahan, pikirannya akan langsung melihat kehidupan orang lain dan merasa ingin menggantikannya. Bahkan, kita sering pula merasa putus asa, menganggap tuhan tidak adil, dan merasa menjadi manusia paling tidak beruntung di dunia ini.

Manusia adalah makhluk yang tidak sempurna, tetapi kita sering memandang ada orang lain yang memiliki kehidupan sempurna. Banyak cara kita untuk menuding orang sempurna, mulai dari kekayaan yang tak terhitung, kepandaian yang tak terukur, kreatifitas dalam seni dan budaya yang tidak ada batasnya, hingga gelar dan jabatan yang kepalang tinggi sampai kita tak akan pernah menggapainya. Ternyata mereka tidak sempurna, sungguh. Kita hanya tertipu oleh bayangan-bayangan kesuksesan tanpa bisa melihat segala kondisi dengan lebih gamblang.

Ketidaksempurnaan adalah salah satu ciri dari makhluk, sebagai lawan kata tuhan yang maha kesempurnaan. Tuhan adalah entitas yang kesempurnaannya melampaui segala konsep tentang kesempurnaan. Kesempurnaan tuhan mutlak, dan kesempurnaan manusia adalah relatif. Relatif karena berhubungan dengan sebutan manusia lainnya yang bergantung pada konsep, latar belakang, dan tujuan-tujuan tertentu. Karena itu, bagaimanapun kita iri dengan kehidupan orang lain, kita harus paham bahwa manusia pada dasarnya adalah tidak sempurna meski terlihat sempurna.

Ada kesempurnaan yang berkelindan dengan ketidaksempurnaan dan hidup dalam tubuh orang. Kita bisa melihat sosoknya di John Nash, Allan Turing, Steve Jobs, Stephen Hawking, S Ramanujan, atau penulis kawakan Thomas Wolfe. Mereka semua adalah tokoh andalan dunia yang menciptakan beragam penemuan. Semuanya hebat, semuanya memiliki nasib lebih baik dibanding kebanyakan orang. Tapi bersamaan dengan itu, mereka juga punya kehidupan susah yang lebih buruk dibanding manusia pada umumnya.

John Nash adalah penerima Nobel Prize di bidang Ekonomi karena menemukan Teori Permainan saat ia minum bir bersama teman-temannya. Penyakit yang menggerogoti akal warasnya itu bahkan menjebloskannya ke rumah sakit jiwa. Ia yang awalnya nyentrik, jenius, ambisius, harus terpapar oleh orang-orang khayalan yang hidup bersama dirinya. Kehidupan Nash penuh dengan lika-liku yang mengurai air mata. Kehidupannya cemerlang, berubah menjadi memprihatinkan. Untungnya, di akhir masa hidupnya ia mampu melakukan ‘diet pikiran’ dengan mengeliminir setiap orang sebagai ‘manusia ilusi’. Karena itu, buku dan film yang mengisahkan hidup Nash diberi judul A Beautiful Mind.

Tokoh monumental lain yang dianggap sebagai bapak Ilmu Komputer, Alan Turing, mendapatkan autismenya di saat masa kejayaannya. Jika Nash punya imajinasi kronis tekait keterlibatannya dengan militer untuk melawan Nazi, maka Turing betul-betul berjuang di tengah militer. Ia adalah salah satu tim ahli pemecah kode enigma bersama beberapa rekannya. Sayangnya, autisme yang dimiliki Turing membuatnya menjadi individualis. Atau paling tepat adalah : dia tidak dapat bersosialisasi dengan manusia lainnya sehingga disebut sebagai individualis.

Turing mengabiskan masa kehebatannya di kamp militer. Ia menyembunyikan dirinya dari orang-orang karena memiliki selera seksual berbeda: homo –yang pada waktu itu dianggap sebagai sebuah penyimpangan sehingga harus diobati. Di masa tuanya, Turing memang menjalani suntik hormon untuk mematikan selera seksualnya tersebut. Otaknya yang cerdas dan hampir sempurna membuat Turing bisa membuat cikal bakal komputer seperti yang sekarang ini. Tetapi hidupnya tidak sesempurna kelihatannya, ia kalah dengan masyarakat sosialnya.

Kesempurnaan-kesempurnaan semu ini dialami juga oleh Steve Jobs. Siapa yang tidak mengenal orang ini? Meskipun tidak ada suara jelas apakah Jobs punya kelainan dalam sosialnya, namun kenyataan membuktikan bahwa Jobs hampir mirip dengan Turing. Jobs seringkali bentrok dengan para teman dan pegawainya gara-gara persoalan sepele; katakanlah demikian. Ia mudah sekali menyinggung orang lain sehingga secara pertemanan tidak ada yang menyukainya. Tetapi dia orang yang berintegritas, kreatif, dan mampu membangun masa depan. Jobs tidaklah sesempurna itu, ia juga pernah kalah dengan tidak menjadi siapapun di Apple yang diciptakannya.

Masih banyak lagi orang-orang yang tampaknya beruntung dengan suatu kesempurnaan, tetapi memiliki banyak kisah tidak menyenangkan. Contoh saja, Vincent Van Gogh, yang terkenal dengan lukisan-lukisan impressionismenya berharga ratusan hingga miliaran rupiah. Sayang sekali karena ia terkenal justru setelah meninggal bunuh diri dengan cara memotong daun telinganya. Gogh bisa jadi sempurna dalam hal melukis, namun di kehidupannya yang sederhana ini, ia menjadi orang yang tersingkir. Demikian juga S Ramanujan, matematikawan India yang disebandingkan dengan Euler, Gauss, dan Euclid. Lebih banyak lagi bacalah biografi komposer hebat Beethoven dan Mozart, atau jenius Stephen Hawking, dan penulis semacam Thomas Wolfe -yang mendapat julukan penulis jenius, juga memiliki ketidaksempurnaan yang akut.

Kesempurnaan tidak akan bisa dicapai oleh manusia, siapapun juga. Bahkan Nabi Muhammad yang kita ikuti setiap sunnahnya, tidak diperbolehkan mengaku sebagai orang yang sempurna. Ia adalah nabi, nabi adalah orang ma’shum, berarti dijaga dari dosa: bukan orang yang tidak memiliki dosa. Jika membaca sejarah penurunan wahyu, kita akan tahu bahwa tuhan pernah memperingatkan nabi dengan tidak menghubunginya selama berbulan-bulan. Lalu muncullah titah tuhan untuk mengucapkan ‘Insyallah’ jika manusia berjanji, sekelas nabi sekalipun.

Jadi ada paradox dengan kata kesempurnaan yang setiap hari kita gunakan. Orang di sekeliling kita, akan lebih banyak yang mengeluhkan pekerjaan, jodoh, makanan, penginapan, perkuliahan, dan lain sebagainya, karena mereka tidak sempurna. Tentunya kita akan kaget ketika ada seorang cewek cantik, cerdas, anak orang kaya, tetapi malah jadi perempuan panggilan: atau maksimal dia bunuh diri karena putus cinta. Tidak habis pikir, tetapi demikian hidup. Tidak ada yang sempurna. Paling tidak, dengan memahami bahwa ada ketidaksempurnaan di setiap kesempurnaan, kita bisa lebih bersyukur dan menikmati hidup.

Namun, ketidaksempurnaan yang melekat pada manusia bukan hanya sebuah takdir, melainkan juga seni yang halus dan indah. Justru melalui ketidaksempurnaan itulah manusia belajar, tumbuh, dan menjadi makhluk yang penuh warna. Sebuah pohon yang miring karena tertiup angin akan lebih kokoh dibandingkan pohon yang hanya berdiri di tanah datar tanpa tantangan. Begitu juga manusia, setiap luka, kekurangan, dan kegagalan adalah akar yang menancap lebih dalam ke tanah kehidupan. Karena itu, kita tidak perlu malu dengan ketidaksempurnaan, tidak pula harus menutupinya dengan topeng kesuksesan. Hidup bukan soal bagaimana menjadi sempurna, melainkan bagaimana menjadi versi terbaik dari diri kita yang penuh dengan celah dan retakan.

Lebih dari itu, ketidaksempurnaan adalah pengingat bahwa kita manusia adalah makhluk yang saling membutuhkan. Sebuah jembatan yang kokoh dibangun dari batu-batu yang berbeda bentuknya, saling menopang satu sama lain. Sama halnya, kita membutuhkan sesama untuk melengkapi setiap celah yang ada dalam diri kita. Orang yang merasa dirinya sempurna sesungguhnya hanya hidup dalam ilusi kesendirian. Maka, ketidaksempurnaan kita adalah panggilan untuk saling memahami, menghargai, dan mengasihi. Bukankah hidup ini jauh lebih bermakna ketika kita mampu menerima diri kita apa adanya, dan pada saat yang sama, menjadi bagian dari kesempurnaan yang lebih besar.

2017-04-27

Her


Sesuatu yang berhubungan dengan orang lain mengharuskan kita menunggu. Karena kita tidak bisa menjamin kebahagiaan orang lain jika tidak benar-benar mempersiapkannya. Demikianlah, setelah merencanakannya sepanjang hidup, akhirnya ibuku menyematkan cincin ajaib ke tangan gadis cantik itu. Gadis yang sabar menunggu –bahkan terus mendukung dan tidak mengganggu dengan urusan-urusan yang tidak penting bagi kebanyakan lelaki.

Ia adalah sosok yang kuingin selalu dekat. Tipe perempuan yang kudambakan sejak kumengenal dengan serius beberapa perempuan sepanjang perjalanan. Sudah sering kunyatakan pada diriku sendiri, bahwa perempuan terbaik adalah yang tidak mudah marah dengan senyuman manis setiap bertemu. Mungkin karena kekuatan pikiran atau kebetulan atau kuasa tuhan, kami dipertemukan dengan cara yang tidak dapat kupercaya. 

Jika banyak kawan yang bingung merawat perempuannya yang cemberut dan ngambek karena tidak memberi kabar, maka gadisku ini penuh kesabaran. Atau lebih tepat, dia mencoba lebih sabar demi kebahagiaan. Kami memiliki kesepakatan-kesepakatan dalam menjalin hubungan. Masing-masing kita menahan diri dari sesuatu yang membuat kita ribut. Maka aku suka dengan motto kami berdua: jika dengan saling mencintai bisa membuat bahagia, kenapa harus mempersoalkan sesuatu yang membuat kita bertengkar?

Hari itu, dia mengenakan pakaian abu-abu putih dengan motif bunga. Jilbabnya anggun, senyumnya merekah, dan pancaran kebahagiaan membuatnya bertambah cantik. Aku sendiri, bersama keluarga, setengah kikuk karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tetapi semua berjalan seperti yang direncanakan. Basa-basi orang tua juga menemui kesepakatan yang telah ada dibenak kami berdua. Aku tidak berhenti tersenyum ketika gadis itu mencium tangan emakku, lalu mereka foto berdua, dan saling berpelukan. Betapa lama menanti hal ini.

Aku selalu merasa belum lama dipertemukan dengannya. Tetapi ia merasa sudah dua atau tiga tahun menjalin hubungan. Karena sebetulnya, kami sama-sama tidak ingat bagaimana awal pembicaraan yang mengarah pada hubungan yang lebih serius. Aku mengingkari sejarah, sedangkan ia merawatnya baik-baik. Bagiku hal itu penting, namun aku tidak tau cara mengungkapkannya sebagai sesuatu yang penting. Sehingga aku akan merawat kenangan dengan cara-cara lelaki: sejenak melupakan, sejenak ingat, tetapi selalu menghargainya.

Kami tidak pernah terlibat pertengkaran sejak pertama bertemu. Kami selalu berkomunikasi: ia bicara dan aku mendengar dengan baik apa yang menjadi persoalan. Kami mengatasinya dengan sebuah kesadaran bahwa kebahagiaan yang dituju janganlah direcoki dengan kisah-kisah pertengkaran yang tidak perlu. Tetapi sampai sejauh ini, dialah yang banyak berkorban perasaan karenaku. Karena tidak pernah ngambek atau marah-marah adalah prestasi puncak dari kedewasaan perempuan.


Lebih menyenangkan lagi adalah ia sosok humoris yang bahkan aku terkadang tidak mampu mengimbanginya. Aku tentulah sosok yang romantis dalam menjaga hubungan seperti ini. Dalam beberapa hal, dia harus mengakui bahwa hatinya telah kubuai sedemikian rupa sehingga ia merasa akulah pilihan terbaiknya. Dan memang, aku berusaha untuk menjadi lelaki terbaik yang pernah ia temui. Karena itu, banyak hal yang membuatku yakin akan keberhasilan hubungan ini. Langkah selangkah, kami akan membuat cerita yang lebih lengkap tentang menjaga hati dan perasaan demi mewujudkan kebahagiaan.

Saat ini ia sudah resign dari tempatnya bekerja. Ini adalah bentuk keseriusan dari tindakannya atas rencana-rencana yang sudah kita tetapkan bersama. Sekarang jalan ke depan mulai terbuka lebar meskipun masih berkabut. Kami akan menyeberanginya sembari berdoa kepada tuhan untuk menunjukkan yang paling baik: tanpa ujian-ujian dan beban. Kami paham beban pastilah selalu bertengger di pundak, tetapi tidak ada yang salah dalam doa. Karena kami berdoa untuk kebaikan.

Kami akan hidup di suatu daerah yang nyaman, saling bekerja dan memberi semangat, serta menjalani rutinitas secara tidak menjemukan. Beberapa pekerjaan ringan sudah kami catat dengan sederhana. Barangkali, kebahagiaan itu bisa berlanjut hari demi hari. Kami orangnya mudah bahagia, mudah bersyukur, dan mudah mencari kebaikan dari sisi-sisi kehidupan. Jadi tentulah kami mudah tertawa dan menertawakan apa yang berkelebat di sekitaran. Aku akan mengenalkannya gunung, dan dia mengenalkanku pantai.

Banyak hal yang ingin aku tuliskan –karena ia adalah sumber yang tak habis. Rencana-rencana masih panjang sehingga berlembar huruf masih siap didedah. Tapi lebih baik aku pungkasi saja saat ini, karena aku ingin mengucapkan terimakasih atas setiap menit yang kita habiskan dalam pesan-pesan singkat sepanjang nyala hape. Terimakasih atas pagi dan malam yang hadir bersama sapamu. Kekhawatiran, kegelisahan, kejengkelan, kecemburuan, ingin, harap, dan kecemasanmu: adalah tanda cinta yang akan terus kuingat dan tak akan kulepaskan.

2017-04-16

Ulasan Film: Moana - Segala Hal Permukaan



Moana lahir di sebuah pulau yang dikelilingi oleh lautan. Sebagai anak perempuan berusia lima tahunan, Moana malah berbinar ketika salah satu tetua kampungnya menceritakan tentang monster lautan. Sebuah kisah ibu bumi yang membuat anak-anak seusianya pingsan atau menangis ketakutan. Sebagai sosok yang berbeda, kita akan langsung tahu bahwa ‘dialah bintangnya’. Meskipun tampak klise dan tertebak, namun percayalah bahwa di pertengahan hingga akhir kisah, Moana tidak pernah bertindak membosankan.

Perbedaan Moana dibandingkan anak-anak lainnya di Kepulauan Polynesia itu adalah: dia bandel. Kebandelan semacam ini biasanya diasosiasikan dengan kenakalan yang tidak bertanggung jawab. Kita lebih suka dengan anak yang penurut dan bisa diandalkan. Apalagi perempuan, kita menginginkan mereka bertindak manis, lembut, gemulai, murah senyum, taat, baik hati, dan pandai menabung. Perempuan yang bertindak sebagaimana Moana akan dicap sebagai perempuan urakan, lalu kita menciptakan berbagai kata buruk untuk distereotifkan kepadanya.

Kisah-kisah sebagaimana Moana, putri salju, ataupun cinderela memang mainstream dan susah mencari padanannya di kehidupan nyata. Bahkan jika kita memuja Moana sebagai sosok antimainstream sekalipun, menimbulkan keumuman yang lain. Karena banyak review film Moana yang menggumamkan bahwa kisahnya berbeda dengan kisah putri Disney yang lain. Tersisa pertanyaan yang janggal, kenapa Moana harus anak kepala suku? Kenapa dia tidak anak pelaut biasa, yang hidupnya biasa saja sebagaimana penduduk desa lainnya?

Kebanyakan kita memang sulit memikirkan bahwa orang biasa akan mampu menjadi orang yang luar biasa. Dalam kehidupan nyata, kita sering menjumpainya. Gus Dur misalnya, apakah ia akan mampu menjadi sosok yang berpengaruh jika saja dia bukan cucu pendiri NU? Meskipun kita tidak menafikan pula bahwa banyak orang kecil akhirnya menjadi besar karena usahanya sendiri yang luar biasa. Misalnya Jobs, Chairul Tanjung, atau Miyamoto Musashi. Bahwa kita lebih suka memilih menyumpahi diri sendiri, menikmati menjadi orang kecil nan miskin, atau melulu dininabobokan oleh rasa syukur karena bisa ‘sekadar’ bernafas, menikmati kesehatan dan keimanan; itu harus diakui.

Kembali ke Moana, bahwa jika ia hidup di dunia nyata, akan membawa dampak yang luar biasa. Kemampuannya untuk berbuat nekat harus dipraktekkan oleh orang-orang yang terlalu lama hidup di zona nyaman. Karena memang harus ada kondisi yang ‘menakutkan’ untuk membuat orang melompat ke dalam jurang. Moana harus mencoba menerjang ombak hingga terjepit batu karang sebelum ia akhirnya berhasil melewati keganasan ombak lautan Pasifik di percobaan berikutnya. Toh ia tidak menyerah. Sebabnya, ia harus menyelamatkan orang tuanya, menyelamatkan desanya, menyelamatkan segala identitas kedirianya dari kemusnahan yang disebabkan oleh Te Fiti.

Moana

Moana sendiri secara fisik bukanlah sosok sebagaimana putri Disney pada umumnya. Dengan kulit kecoklatan khas gadis pantai, Moana tentulah tidak menyukai perawatan tubuh yang ideal. Tetapi bagaimanapun, sebagai anak dan sebagai perempuan, Moana dipandang sebelah mata. Bahwa di manapun di dunia ini, seorang anak sering salah di hadapan sang ayah –apalagi anak perempuan namun berkeinginan seperti lelaki. Demikianlah Chief Tui, ayah Moana, terus melarangnya untuk berlayar karena lautan bukanlah tempat bermain.

Dalam kajian feminisme, sosok Moana pastilah mendapatkan applouse yang luas biasa. Feminisme yang selalu ‘menomorsatukan’ perempuan tampaknya akan mendapat banyak tempat di film-film Disney mendatang. Hal ini bisa kita lihat dari kisah princess sebelumnya, Tangled, Frozen, Mulan, dan Brave yang membuat remaja-remaja berusia 16 tahun menjadi sosok yang tangguh dan bahkan mendominasi pasangannya (laki-laki). Moana pastilah bukan perempuan yang lemah. Tetapi apakah semua perempuan harus seperti Moana? Atau semua perempuan harus seperti putri salju dan putri tidur?

Perempuan harus bertindak berdasarkan kepribadiannya, kemampuannya, dan peran sosialnya. Penomorduaan perempuan memang tidak bisa dibiarkan, tetapi membuat perempuan mempersoalkan posisinya sebagai perawat anak-anak bukanlah tindakan bijaksana. Moana sebagai putri kepala suku memang harus bertindah menyelamatkan homeland-nya. Sehingga ia telah bertindak sesuai dengan peran yang dibebankan kepadanya. Mengharapkan Moana duduk manis, sedangkan petani mulai kehilangan buah kelapanya dan nelayan kehilangan ikan-ikannya, adalah kebodohan.

Sehingga Moana harus mendobrak, dan hal ini bisa dilakukan oleh siapapun –bahkan jika yang melakukan pendobrakan adalah lelaki, tetap harus didukung dan diberikan standing applouse. Jadi persoalannya bukanlah di sosok Moana yang perempuan, tetapi Moana sebagai manusia yang bertanggung jawab atas peran anak kepala suku. Beruntung bahwa ia berhasil (karena film), dan jika ia gagal dalam kehidupan nyata, maka jasanya harus dikenang. Jadi kita harus terus mencoba melihat fakta sebagai fakta. Karena Moana yang dijagokan sebagai penggerak feminisme sekalipun, adalah konstruksi yang harus ditelisik lagi makna-makna dibaliknya.

Chief Tui

Sebagai penonton, sebenarnya kita akan tahu bahwa Moana bakal berhasil pergi ke lautan mengarungi mimpinya. Tetapi terlebih dahulu kita akan membenci Chief Tui karena menentang keinginan anaknya sendiri. Ini adalah hal normal karena memang ayah Moana bisa dikatakan antagonis permulaan. Padahal ada banyak alasan mengapa kepala suku itu berbuat demikian. Alasan-alasan inilah yang jarang dipahami oleh siapapun kita sehingga bisa mengklaim, menuduh, atau menjustifikasi, orang lain dengan leluasa –bahkan tanpa rasa bersalah.

Dalam psikologi komunikasi, kita akan akrab dengan konsep diri (self concept) yang menjadi dasar seseorang bertindak ke dalam maupun keluar dirinya. Konsep diri ini dipelajari bahwa setiap orang bertindak sesuai dengan : pendidikan, latar belakang sosial, budaya, dan terutama pengalamannya. Pun demikian dengan ayah Moana, bahwa ia punya pengalaman buruk dengan laut. Ia pernah menentang perintah kepala suku sebelumnya (ayahnya sendiri) lalu pergi bersama kawannya. Sesampainya di batas wilayah pulau sebelum lautan lepas, ombak besar menggulungnya hingga kawannya mati tak tertolong.

Kejadian itu mengganggunya hingga bertahun-tahun kemudian. Kebersalahannya itu lah yang membuatnya bersikap demikian kepada anaknya. Bahkan jika anaknya ngotot ingin pergi menyelamatkan dunia, ayahmua tetap akan menentang. Semata-mata, tindakannya didasarkan pada pengalamannya. Ia tidak ingin pengalaman buruknya menimpa anaknya. Kecintaan semacam ini wajar. Di kehidupan nyata sekalipun kita juga akan sering mengalaminya. Tetapi kesadaran kita tidak sampai mengungkap motif dibalik pelarangan atau perintah seseorang. Karena jika sudah dilarang, maka kita akan emosi lalu tidak mengindahkan lagi pikiran yang masuk akal.

Gramma Tala

Tokoh yang paling saya gemari di film ini adalah nenek Moana. Sang Gramma ini pandai menari mengikuti dengan ombak laut. Bisa dikatakan, Gramma merupakan sosok yang punya pertalian kuat dengan lautan. Ia satu-satunya yang percaya bahwa jantung Te Fiti, Dewi Bumi, dicuri oleh manusia setengah dewa bernama Maui sehingga menimbulkan malapetaka di dunia. Ia juga mempercayai bahwa nenek moyang mereka sebenarnya adalah penjelajah laut. Termasuk kepercayannya bahwa Moana memang ditakdirkan untuk menemukan jantung Te Fiti sehingga ia harus pergi ke lautan.

Di kehidupan nyata, Gramma bisa dikategorikan sebagai orang gila yang akan diolok-olok. Orang-orang yang terlihat gila ini bisa sangat menikmati kehidupannya, bisa pula kesepian sepanjang waktu. Gramma menjadi tokoh penting dibalik keberhasilan Moana dalam menyelamatkan dunia. Karena tanpa orang yang mempercayai mitos atau legenda masa lalu, maka orang zaman sekarang tidak akan tahu kisah-kisah dari Candi Prambanan, Pencurian sayap bidadari oleh Jaka Tarub, atau kisah semar yang memakan gunung.

Bahwa kita tidak mempercayai tahayul, sah-sah saja. Jalan keluar untuk menghadapi orang-orang yang kita anggap gila adalah dengan tidak meremehkannya, tidak mencemoohnya, termasuk tidak membencinya. Biarkan lah orang menemukan jalan kedamaiannya masing-masing. Bahkan jika ada seorang manusia yang mengaku sebagai Nabi baru, kita tak sepatutnya melemparinya dengan batu. Karena Isa pada kemunculannya, atau Muhammad saat memulai dakwahnya, juga dihina, dilempar batu, diolok-olok, juga disiram kotoran. Memang tidak berarti bahwa setiap orang gila adalah nabi, tetapi mereka memiliki jalan kebaikan dan kejahatannya masing-masing. Kita sama sekali tidak pernah tahu masa depan.