2016-09-11

Mendaki Semeru

Kawah Jonggrang Saloka saat muntah

Aku tidak perlu panjang lebar menjelaskan bahwa Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di dunia (ups). Menulis tips yang bertele-tela juga bukan merupakan keahlianku selama ini, karena esai lebih menarik dan khas dari pada tips yang biasanya digunakan oleh blogger yang mengeruk keuntungan dari blog mereka. Namun, menulis Semeru adalah pengecualian karena Semeru selalu aktual dan menarik. Masing-masing orang punya pengalaman yang berbeda ketika mendaki di sana.

Dari Kota Batu, aku menuju ke Semeru menggunakan kendaraan sendiri hingga Ranupane. Ranupane adalah desa terakhir yang bisa ditempuh menggunakan kendaraan dengan ketinggian 2.100 mdpl. Di sinilah letak seluruh permulaan pendakian Semeru. Bagi orang yang berniat ke Ranupane dari Tumpang menggunakan kendaraan umum, bisa membacanya di blog-blog yang lebih berpengalaman di google. Karena aku juga berkeinginan mencoba mobil Fiat 124 milikku menanjak ke Ranupane sehingga saya meluncur ke sana sendirian.

Persiapan Pendaftaran

Pertama yang harus kita siapkan adalah uang, foto kopi KTP dan surat kesehatan dari dokter. Karena tidak sempat mengurusnya, aku membuat surat dokter ini di Puskesmas Tumpang. Letak Puskesmas ini tidak jauh dari Pasar Tumpang. Sehingga kita bisa bertanya ke masyarakat mengenai arah menuju Puskesmas. Di Puskesmas sebesar rumah sakit ini, pendaki bisa langsung menuju Loket 2 untuk mengisi formulir dan membayar Rp 2.000 lalu mengantri di Poli Umum untuk dicek darah dan ditanya tinggi dan berat badan.

Sementara teman-teman yang tidak sempat memfoto kopi KTP juga bisa melakukannya Tumpang, atau di depan pos pendaftaran Ranupane. Karena di depan pos ada tempat foto kopi yang sudah akrab dengan curhatan pendaki yang lupa tidak menyiapkan semuanya dari awal. Jika foto KTP dan surat keterangan dokter sudah ditangan, maka segeralah menuju Ranupane dengan segala cara.

Kedua, setelah sampai di Ranupane, kita bisa langsung menunggu di aula besar untuk briefing. Jadi jangan menunggu di loket pendaftaran. Briefing ini akan memakan waktu yang berbeda-beda karena aku sendiri dibriefing selama 1,5 jam. Hal-hal yang disampaikan oleh petugas di sana sama persis dengan yang disampaikan di blog-blog, ditambah dengan sedikit candaan garing. Jadi dengarkan saja, follow the rule and you’ll be save.

Disela-sela briefing, izinlah untuk kencinglah sebanyak-banyaknya karena kita akan berjalan sejauh 13 KM dari Ranupane ke Ranukumbolo. Dalam briefing ini, kita akan diminta mengisi formulir berisi data diri dan menceklis data barang bawaan. Isi terserah saja karena tampaknya tidak akan diperiksa oleh petugas yang ada di sana. Yang penting bawaan kita lengkap dan tidak menyengsarakan diri sendiri di atas pegunungan.

Ketiga, usai melakukan tetek bengek di dalam briefing yang membosankan ini, kita baru bisa mengantri di pos untuk melakukan pendaftaran a.k.a pembayaran. Perhari kita akan dituntut membayar Rp 15 ribu ditambah membayar biaya Rp 10 ribu. Untuk pendakian empat hari, saya membayar Rp 70 ribu. Kalau ditambah parkir kendaraan roda empat Rp 15 ribu perhari (kalau kendaraan roda dua Rp 5 ribu per hari). Jadi untuk menunggangi Semeru 4 hari saya harus membayar Rp 70 ribu + Rp 60 ribu.

Selain itu tidak ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan. Sayangnya, informasi di wikipedia masih menayangkan ada biaya untuk orang yang membawa tenda dan kamera. Oya, di Ranupane ini, kita bisa mengisi perbekalan untuk dibawa naik, termasuk foto-foto di Danau Ranupane sembari menunggu briefing. Karena perjalanan dibatasi hingga pukul 16.00 WIB, maka pendaki yang datang setelahnya dapat bermalam di aula yang telah disediakan atau penginapan yang ada di sana.

Perjalanan sepanjang tanjakan di Semeru ini bukanlah tanjakan sepi, bahkan cenderung ramai. Kita akan sering bertegur sapa dengan pendaki lain, baik yang searah ataupun yang berlawanan arah. Salinglah menertawakan agar terjalin semangat bersama. Bisa jadi, jodoh pun ketemu melalui track ini karena setiap lelaki hendak menjadi pahlawan jika berada di hadapan perempuan asing. Bahkan Maka nikmati perjalanannya dan rasakan kelelahanmu. Jika tidak ingin lelah dan kedinginan, tentu kamar kos lebih mantap.

Ranukumbolo ketika matahari terbit
Ranupane - Ranukumbolo

Setelah terbebas dari belenggu pos pendaftaran, kita bisa bersiap menuju petualangan yang sesungguhnya. Perjalanan akan dimulai dengan jalan menurun menuju sebuah Musala dan tulisan selamat datang. Meskipun belum keren, tapi di sini juga menjadi tempat favorit untuk foto. Setelah melewati papan selamat datang, maka kita musti banyak berdoa karena fisik kita sudah akan mulai dipompa.

Janganlah mempertaruhkan tenaga di awal perjalanan karena itu perbuatan sia-sia. Bagaimanapun tubuh manusia, jika tidak terlatih, akan lelah juga di beberapa meter awal. Jadi jalanlah pelan-pelan sambil ngobrol dengan teman-teman. Jangan pernah membohongi diri sendiri tentang lelah dan habisnya nafas. Ini gunung bung, oksigen mulai menipis, dan kesombongan akan menelanmu setengah matang. Jika perjalanan membuatmu capek dan leadermu (yang biasanya sudah lima kali ke semeru) tetap berjalan gontai, teriak: istirahat!!!.

Aku tidak berpengalaman mendaki gunung-gunung besar di dunia ini. Namun aku punya saran jika capek: istirahatlah dengan membungkuk sehingga tas carrier yang seperti beban hidup itu bertumpu pada seluruh punggung, lalu nafaslah seenak-enaknya. Jika nafasmu sudah lancar, berarti kita sudah siap untuk mendaki lagi. Jadi gunakan trik istirahat seperti itu dua sampai lima kali tergantung kekuatan, baru kemudian istirahat dengan duduk agak lama.

Soal air juga jangan khawatir. Perjalanan dari Ranupane sampai Ranukumbolo tidak akan menghabiskan hingga dua liter air putih. Aku menghabiskan satu botol air ukuran 1,5 liter selama perjalanan. Kalau bersama rombongan, bisa dicoba dengan menambah rasa-rasa pada botol air lainnya. Sehingga ada selingan yang memompa semangat. Mengenai waktu, aku membutuhkan waktu 6 jam perjalanan dari Ranupane menuju Ranukumbolo dengan berjalan santai.

Jika kita hanya ingin menghabiskan waktu di Ranukumbolo saja, maka jam berapapaun berangkat tidak masalah. Namun bagi kita yang ingin menggapai Mahameru (puncak tertinggi di Jawa), maka usahakan maksimal sampai di Ranukumbolo pukul 18.00 agar bisa istirahat, tidak kemalaman, dan bisa menikmati sedikit matahari sore. Jadi sesuaikan sendiri, intinya adalah: lebih cepat sampai Ranukumbolo, lebih baik. Jika bisa berangkat pukul 10.00 WIB maka maksimal pukul 17.00 WIB kita sudah bisa membangun kemah di Ranukumbolo.

Namun jika memang waktu tidak bersahabat dan malam datang lebih cepat dari langkah kakimu, jangan khawatir. Perjalanan mendaki Semeru bukanlah hal yang berbahaya jika kita tetap mengikuti aturan dan track yang telah ditentukan. Bahkan saya sempat kehujanan sejak pukul 16.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB di sepanjang jalan Ranupane-Ranukumbolo sehingga harus menggunakan jas hujan –tapi tetap aman. Jadi berjalanlah seperti orang normal pada umumnya. Jangan tergesa tapi juga jangan melambat-lambat. Jam berapapun kita berangkat, kita akan sampai juga di Ranukumbolo.

Seperti pendakian gunung pada umumnya, sepanjang jalan kita akan menemukan empat pos pemberhentian. Tapi di pos ini tidak ada sumber air tambahan, yang ada hanyalah orang berjualan yang menyenangkan. Jika uang kita berlebih, kita bisa mendapatkan gorengan seharga Rp 2.500 dengan ukuran jumbo. Lumayan mengenyangkan dibandingkan dengan membawa gorengan sendiri dari rumah. Kita juga bisa bercengkerama dengan penjual yang merupakan penduduk Ranupane sehingga pengetahuan kita akan situasi Semeru bertambah.

Ranukumbolo

Ketika berada di Pos 4 yang merupakan pos terakhir itu, kita akan bisa melihat Danau Ranukumbolo yang seberangnya ada banyak tenda warna-warni. Turunan tajam akan disuguhkan oleh alam sehingga kehati-hatian patut dijaga. Di sana ada wilayah rerumputan luas yang pernah digunakan kemah salah satu merk peralatan outdoor dan merusakkan ekosistem alam. Kita tidak diperbolehkan membangun tenda di sana karena ground camp ada di seberangnya. Meskipun di sana juga ada bangunan semi permanen berupa WC umum ala zaman purbakala yang lebih bersih dibandingkan WC umum yang ada di Ranukumbolo.

Danau Ranukumbolo yang mempesona setiap pendaki
Teruslah berjalan mengikuti bibir danau hingga sampai di perkemahan Ranukumbolo. Aturan pendirian tenda jelas, yaitu 15 meter dari bibir danau. Lagi pula dipastikan sudah banyak tenda yang terpasang di sana sehingga kita tinggal ngikut dan menyesuaikan. Jadi istirahatlah sebentar kemudian bangun tenda cepat-cepat agar bisa istirahat dan makan. Pilihan paling bijaksana membangun tenda adalah yang langsung menghadap ke danau. Sehingga keesokan harinya, saat kita membuka tenda, tersaji matahari yang muncul malu-malu yang membiaskan cahayanya di danau.

Keindahan Ranukumbolo yang paling yahut adalah matahari paginya. Ia akan muncul dari balik dua bukit sehingga cahayanya menerobos ke tendamu seperti tanda cinta yang bisu. Jangan tanya bagaimana air danau mendapat siraman cahaya itu; berkilau, seperti mata perempuan yang basah oleh air mata penantian. Sehingga jangan lewatkan moment ini secuilpun. Kata pepatah, lebih baik menunggu dari pada terlambat sama sekali. Bangunlah pukul 05.00 WIB, pasang alarm. Benar-benar jangan lewatkan matahari pagi di Ranukumbolo karena ini adalah moment seumur hidup. Berkali-kali kau ke sana, tetap saja jatuh cinta yang kau rasakan.

Ketika matahari terbit, larilah ke berbagai sudut untuk merekamnya dalam memori kamera. Jangan lupa memotret dari bibir danau dan dari punggung tenda yang berjajar indah. Di belakang kemah kita berdiri bukit yang terkenal dengan Tanjakan Cintanya. Cahaya yang baru bangun semalaman itu akan menumpahkan kasihnya ke tanjakan cinta, sehingga moment itu juga spesial. Abadikan seluruh citra keindahan tuhan yang tampak di bumi ini.

Kebanyakan orang ke Semeru hanya untuk mengabadikan moment di Ranukumbolo. Jika kamu memang hendak ke sini saja, maka nikmatilah sepuas-puasnya hingga kembali ke Ranupane. Tetapi jika tujuan kita adalah Mahameru, maka bersiaplah. Ketika matahari sudah panas, itu artinya acara narsis foto-foto sudah selesai. Waktunya sekarang memasak untuk bekal menuju ke Kalimati. Karena masih dibutuhkan perjalanan sekitar 3-5 jam menuju pos terakhir sebelum Mahameru ini. Sehingga tenaga harus full, meskipun jaraknya tidak sejauh Ranupane – Ranukumbolo.

Ranukumbolo – Kalimati

Paling tidak, pukul 10.00 WIB kita sudah harus berangkat menuju Kalimati. Karena malam nanti, summit attact sudah harus dimulai sehingga semakin cepat kita sampai Kalimati, semakin banyak energi yang bisa kita siapkan. Bahkan, beberapa kawan sudah ada yang meninggakkan Ranukumbolo sejak pukul 08.00 WIB. Sehingga hal yang paling masuk akal adalah berangkat pukul 09.00 WIB. Jika estimasi maksimal perjalanan adalah 5 jam dengan jalan santai kayak di pantai, maka pukul 14.00 WIB kita sudah membangun tenda di Kalimati.

Persiapan air yang perlu di bawa bisa lebih sedikit karena di Kalimati ada sumber mata air. Paling tidak aku menghabiskan setengah botol air mineral ukuran 1,5 liter. Sehingga membawa satu botol perorang sudah lebih dari cukup. Untuk menuju Kalimati ini, kita akan melewati Tanjakan Cinta yang mitosnya biarlah blog sebelah yang membahasnya. Tanjakan ini jika difoto tidak begitu menantang, namun jika sembari memanggul tas carrier ukuran 50 liter saja, sudah dapat menghilangkan nafas. Jadi berjalanlah pelan di tanjakan ini, istirahat sesering mungkin juga tidak menjadi masalah.

Dari tanjakan cinta ini, cobalah memotret Ranukumbolo yang nampak seperti gadis yang sedang dipingit. Mungkin itu akan menjadi foto terbaikmu terkait danau diketinggian 2.600 dmpl. Setelah tanjakan cinta teratasi, kita akan disuguhi Oro-oro Ombo yang kalau musim hujan menyajikan pemandangan bunga ungu –bukan bunga lavender. Kata petugas briefing, bunga ungu ini habitat aslinya di Brazil dan mampu membunuh seluruh tumbuhan sehingag tidak tersisa satu pepohonanpun di sana.

Jalanan sudah mulai menurun dan datar, yang ini adalah hal terbaik bagi seorang pendaki. Langkah kita bisa semakin cepat, tepat, dan meyakinkan. Habis Oro-oro Ombo, kiga akan mendapatkan pos lagi di mana ada orang berjualan gorengan yang mengenyangkan. Dari sini kita sudah memasuki wilayah Cemoro Kandang. Perjalanan selanjutnya kita harus bisa dua bukit. Bukit pertama sulit, bukit kedua semakin sulit. Namun jangan khawatir, setinggi-tingginya bukit akan terlampaui jika jalan tak berhenti.

Bukti kedua yang berhasil kita daki akan mengantarkan kita ke daerah bernama Jambangan. Dari tulisan Jambangan ini, sempatkan berfoto dengan latar belakang puncak Mahameru yang mempesona. Bagi orang yang tidak pernah mendaki Semeru sebelumnya –seperti aku- melihat puncak para dewa itu seperti tak terjamah. Bagaimana bisa seorang pendaki menginjakkan kakinya di sana? Tampaknya hal yang mustahil. Jadi kengerianlah yang muncul. Tapi percaya tidak percaya, bukankah banyak orang yang telah berhasil menuju ke sana? Mulai dari yang amatir hingga profesional, maka kau pun bisa.

Dari Jambangan ini jalanan tinggal datar dan menurun hingga sampai di pelataran luas bernama Kalimati. Silahkan memilih tempat untuk membangun tenda. Perhatikan arah angin dan bangun tenda membelakanginya. Karena angin di sini agak jahat, dibarengi dengan badai sekali-kali. Lebih baik lagi, bangunlah tenda yang berada di balik semak dan di bawah pohon sehingga banyak pengurai kejahatan alam. Sesampainya di Kalimati, segera bagi personel untuk membangun tenda dan mengambil air dari Sumber Mani. Sumbernya lumayan jauh dengan perkiraan 40 menit perjalanan pulang pegi, jalan berliku, dan jangan terlalu sore. Segera masak untuk dua porsi. Satu porsi di makan saat itu juga. Satu porsi lagi di makan nanti saat hendak mendaki Mahameru.

Gunakan waktu dengan bebas, sesuaikan kondisi tubuh, lalu beristirahatlah segera. Semakin cepat istirahat semakin baik untuk memulihkan tenaga guna summit attact sebentar lagi.

Oro-oro ombo, memisahkan Tanjakan Cinta dan Cemoro Kandang saat perjalanan menuju Kalimati

Mahameru

Malam di Kalimati bukanlah malam di Surabaya. Akan ada banyak gemintang bertebaran seperti mutiara di atas pekatnya malam. Kita akan terpesona, lalu tiba-tiba percaya bahwa tuhan itu ada. Waktu aku bermalam di sana, angin ribut sedang datang. Sehingga pukul 20.00 WIB terbangun dan merasakan kengerian yang luar biasa. Aku berfikir tidak akan bisa menuju Mahameru malam itu. Angin datang puluhan kali seperti dengungan pesawat tempur yang mampir di atas tenda. Gerimis datang, dan aku semakin khawatir karena tendaku hanya seharga Rp 150 ribu dengan single layer. Payah.

Akhirnya aku bangkit, memasang jas hujan di atasnya. Berlagak jas hujan akan menyelamatkan tenda dari gempuran hujan, aku kembali ingin tidur. Tapi angin datang dan melemparkan jas hujanku ke tanah begitu saja. Aku bangun lagi, memasang jas hujan lagi dengan setengah ragu. Lalu mencoba tidur lagi dan jas hujan itu terbang entah kemana. Aku pasrah sembari mendengarkan siutan angin yang mengerikan di Kalimati. Andai di kos, angin seperti itu sungguh menyenangkannya buat tidur.

Saat mataku terpejam dan kembali terbuka, waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Aku dengan otomatis bangkit karena berniat berangkat pukul22.00 WIB. Kaos kaki kurapatkan, sarung tangan kukuatkan, jaket, buff, kerpus, dan sepatu kukencangkan. Aku mendatangi tenda teman seperjalanan yang katanya akan berangkat bersama ke Mahameru. Ia bangun dan membuat kopi untuk menghangatkan tubuh. Ia memandang ke langit, lalu yakin bahwa di puncak gunung cuaca cerah.

Kami akhirnya berangkat dengan langkah cepat dan tergesa tepat pukul 23.00 WIB. Perkiraan maksimal pukul 06.00 WIB kami sudah berada di puncak. Rupanya, perjalanan malam hari membuat oksigen semakin menipis. Aku hanya bisa bertahan belasan langkah lalu ngotot ingin istirahat. Ini adalah Arcopodo, masih banyak pepohonan dan semak. Tidak ada jalan rata, semuanya menanjak sehingga kelelahan semakin menjadi-jadi. Aku bertanya-tanya, kapan hutan ini akan berakhir sehingga bisa kulihat Mahameru dan merasakan kerikil menghujami kakiku saat menggerayangi lehernya.

Pukul 01.20 WIB, aku sudah tiba dipucuk Arcopodo ditandai dengan batu nisan besar berukir nama Budiyono. Ia adalah siswa SMA asal Jakarta yang menjadi salah satu korban Mahameru. Berdasarkan teman yang baru kenal itu, kamu harus istirahat setengah jam karena perjalanan setelah ini memakan tenaga hingga aus. Kami bertemu dengan tim-tim pendakian lain yang juga mengaku amatir dan akhirnya bersama-sama ingin menakhlukkan Mahameru. Kami saling kenalan dan tanya alamat, menertawakan diri, dan berbagi air.

Oya, aku membawa dua botol air masing-masing ukuran 1,5 liter. Aku fikir, lebih baik lebih dari pada kurang. Dan nyatanya memang aku hanya membutuhkan satu botol air saja, dan harusnya ditambah dengan madu, coklat, gula merah, atau roti-rotian. Tapi aku hanya punya air saja, dan itu cukup meskipun maksa. Jangan bertaruh apa-apa untuk Mahameru. Paling tidak, ada tiga orang yang ingin mundur di kelompokku ketika mendaki. Mereka kepayahan yang amat sangat, ingin turun atau sekadar tidur di lereng-lereng batu sembari menunggu kawan kembali. Tapi kami saling menguatkan sehingga semuanya harus berjalan pelan.

Selesai Arcopodo, kita akan menapaki jalanan berkerikil dan pasir. Inilah yang dinamakan tanjakan 3 in 1. Setiap tiga langkah naik, akan ada satu langkah mundur. Sungguh, ujian mendaki Mahameru di sinilah tempatnya. Kita akan makan hati karena langkah kita seakan tidak berharga. Melangkah dengan cepat ataupun lambat sama susahnya. Jika ada bebatuan, tampaknya hanya hiasan semata karena tidak bisa dijadikan pijakan. Bahkan, menginjak bebatuan di sana adalah haram karena bisa jatuh dan mematikan pendaki yang berada di bawahmu.

Di sinilah kita akan merasakan kelelahan yang teramat sangat, kedinginan yang teramat sangat, dan kantuk yang teramat sangat. Tiga hal ini yang bisa membunuhmu di Mahameru jika tidak berhati-hati. Karena itu dibutuhkan ketabahan, dibutuhkan teman, dibutuhkan tidur sebelum menuju puncak, dibutuhkan makan dan pakaian tebal saat mendaki. Persiapkan segala sesuatu agar pendakian ke Mahameru menjadi mudah dan menghasilkan.

Waktu itu, yang paling mengganggu adalah kantuk dan dingin. Aku memakai kaos dua lapis, satu sweeter, dan satu jaket Jack Wolfkin palsu berharga murah dari toko outdoor murahan. Tapi tetap saja dingin tidak dapat kuhalau. Hampir-hampir aku muntah karena masuk angin, kepala pening, dan mata kantuk luar biasa. Bahkan saat berjalan pun kantuk menyerang sehingga hampir saja aku terjengkang ke belakang kalau tidak segera sadar. Aku kemudian berteriak dan meneriaki teman yang baru kukenal: ayoooo jangan kalaah!!! Teriakku.

Yang kupikirkan waktu tenaga sudah terkuras habis adalah : banyak pendaki amatir yang telah menakhlukkan Mahameru. Banyak pendaki profesional yang tumbang oleh Mahameru. Banyak cewek alay dan lelaki kemayu yang berhasil naik ke Mahameru. Lalu apa yang membuatku harus jatuh kali ini? Maka kaki terus kugerakkan. Mantraku sekali lagi : bagaimanapun lemah langkah kakiku, aku pasti sampai ke Mahameru asal tidak berhenti.

Disebelah kiri pendakian, matahari muncul perlahan menyisakan semburat merah seperti benang terurai. Aku berhenti dan menunggu matahari itu muncul. Saat cahayanya menyapa tubuhku, langsung saja kantuk dan dingin menghilang. Kelelahan berganti menjadi kelaparan. Aku melirik teman-temanku yang menghisap madu, lalu aku meminta satu. Mereka membawa sekotak besar madu untuk dimakan bersama. Beberapa puluh langkah ke atas, ada pendaki lain yang istirahat sembari memakan biskuit, aku berteriak agar ia tetap disitu karena aku kelaparan.

Jika kita mendaki dan sudah melihat banyak bebatuan besar di atas, maka itu tandanya kita sudha dekat puncak. Ingat-ingatlah itu. Karena puncak tidak bisa dilihat dari pendakian hingga kita melewati batu besar tersebut. Setelah melewati bebatuan ini, barulah kita bisa melihat bendera merah putih berkibar lesu menunggu. Senyumlah, itulah puncak tertinggi di pulau jawa. Tinggal beberapa puluh langkah lagi hingga kau bisa merdeka. Selamanya!.

menemukan teman-teman baru saat menakhlukkan Mahameru

Setelah menakhlukkan Mahameru, bukan berarti kita telah selesai melakukan misi. Karena jika sudah di atas, kita pasti harus turun maksimal pukul 10.00 WIB. Dan turun dari Semeru hanya membutuhkan waktu 1 jam, tapi dengan kesadaran dan kesigapan yang lebih lagi. Jika naik di kerikil dan pasir di atas tanjakan 45 derajat susah, maka turun di jalanan berkerikil dan pasir di turunan 170 derajat lain cerita. Entengnya, kita tinggal meluncur. Tapi harus hati-hati karena kalau kaki kita salah letak, bisa-bisa keseleo, tergelincir, dan berakhir buruk.

Berlarilah kecil-kecil di jalanan berkerikil itu. Jika sepatumu seharga Rp 500 ribu, mungkin akan sangat aman. Namun waktu itu, aku hanya menggunakan sepatu kets yang bisa digunakan kuliah. Alhasil, ia menjadi buaya. Merekah bak bunga matahari sehingga pasir penuh memenuhi sepatuku. Jalur mendaki dan turun berbeda. Jalur turun Mahameru ini bisa dilihat dari jarak pandang yang jauh. Jika ada lereng semeru yang kelihatan rata dari atas hingga bawah, itu adalah jalur turun kita. Sebagian pendaki yang kuberi tahu waktu itu tidak percaya sehingga turun melalui jalur naik. Tak alang kepalang, aku tidak bisa membayangkan betapa sulitnya.

Karena itulah, sebelum mendaki semeru, lebih baik membaca segala-galanya di blog yang sudah menyebar di internet. Namun sebanyak yang kubaca, memang tidak ada yang memberi tahu jalur turun yang begitu menyenangkan ini. Jika bisa dibayangkan, kita hanya butuh pelepah kelapa, kita naiki, dan bersiap-siaplah meluncur hingga ke bawah. Jika sudah sampai tenda di Kalimati, kita bisa istirahat sebebas-bebasnya hingga pukul 15.00 WIB jika kita ingin melanjutkan perjalanan ke Ranukumbolo hari itu juga.

Aku sendiri berangkat ke Ranukumbolo pukul 16.00 WIB karena pukul 11.30 WIB baru tiba di camp Kalimati. Aku ingin tidur namun tidak bisa sehingga aku hanya berangin-angin di bawah pohon sambil bercerita betapa heroik perjalanan semalam. Namun kelelahan ketika mendaki Mahameru tidak bisa disembuhkan dengan cepat. Aku masih capek dan tidak ingin bergerak karena kakiku rasanya sakit semua. Namun perjalanan masih harus dilanjutkan, sehingga pukul 16.00 WIB aku berkemas dan berangkat. 

Sesampainya di Oro-oro Ombo pukul 17.00 WIB, hujan sudah menyerbu. Terlambat menggunakan jas hujan, membuat baju, sweeter, dan jaketku basah. Dingin langsung menusuk tulang gara-gara salah strategi. Tapi tak apa, bukankah hidup tak melulu tentang keberuntungan? Jadi aku tetap berjalan hingga pukul 18.30 Wib sampai di Ranukumbolo dalam keadaan basah. Aku masuk shelter dan merebahkan tasku di pojokan. Orang banyak berdesakan di sana, dan ada pak tua penjual gorengan yang sedang menyalakan perapian. 

Aku langsung nimbrung dan ngobrol tentang kesukuan di Ranupane, hujan di Ranukumbolo, hingga mitos dan atraksi budaya masyarakat setempat. Angin yang datang sungguh membuat tulangku bergidik. Aku segera ganti kaos satu-satunya dan kembali menekuri perapian. Sungguh biadab hujan malam itu, karena hingga pukul 21.00 WIB, tak kunjung reda. Setelah tertidur sebentar di samping perapian, aku mendapati hujan telah berhenti.

Otot dan pikiran kaku sekaku-kakunya. Tulangku bergemeretak. Lalu mengambil tenda yang menggantung manis di tas carrier Consina Tarebbi 70 literku, dan mulai membangunnya ditengah-tengah pemukiman asing. Tidur malam itu adalah tidur paling dingin yang kurasakan. Hanya mengenakan kaos dan celana pendek, aku meringkuk dalam sleeping bag murahan merk Jack Wolfkin. Dingin serasa di neraka. Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak meskipun membangkitkan alam bawah sadarku bahwa aku tidur dalam dekapan kekasih –karena itulah aku tidak percaya kekuatan pikiran dan semacamnya. Aku tetap kedinginan hingga keesokan harinya, aku bangun pukul 06.00 WIB, melewatkan sedikit keindahan matahari.

pose sebelum mengambil air untuk memasak kopi di Ranukumbolo
Sembari memuja cahaya matahari, aku memasak nasi dan kopi. Aku ingin segera cabut ke Ranupane agar bisa menyelesaikan misi ini secepatnya. Jadi usai makan, aku bersiap tapi malah harus menunggu teman perjalanan semalam yang belum berkemas sama sekali. Jadilah pukul 10.00 WIB kami baru beringsut dari Ranukumbolo dan berjalan perlahan menuju Ranupane yang memakan waktu 4 jam.

Perjalanan menuju pulang ini janganlah dilakukan dengan tergesa sebagaimana ketika berangkat. Karena kaki yang sudah terbiasa mendaki, akan menyesuaikan lagi dengan kebiasaan turun. Paling tidak akan ada urat kaki yang salah karena belum beradaptasi. Bisa saja tungkai keseleo kalau tidak hati-hati, atau engsel di lutut seperti peer kehabisan oli, dan betis yang mengeras seperti batu kapur. Berhati-hatilah selalu demi kesehatan diri sendiri. Ambil istirahat yang dibutuhkan. Jangan mentang-mentang hendak pulang, lalu kau memaksakan keadaan.

Setibanya di Rabupane, langsung saja menuju pos pengambilan KTP asli yang ditinggal empat hari lalu. Jika KTP asli sudah kau genggam, maka kau berhak terbang bebas ke angkasa. Ucapkan syukur dan berteriaklah sepuasnya. Di samping aula ada beberapa kamar mandi yang bisa digunakan untuk membasuh muka yang kecut. Ada juga beberapa warung yang bisa digunakan untuk melampiaskan makanan yang selama ini ditahana. Karena akan ada banyak kerinduan di puncak gunung terhadap nasi padang sambal balado ikan rendang, mie ayam ceker, dan soto ayam panas pedas dengan teh hangat yang mempesona.

Mudah Murah Menakhlukkan Semeru


Ranukumbolo saat matahari terbit

Untuk menakhlukkan Mahameru kita membutuhkan waktu minimal 4 hari ukuran orang normal. Mengetahui jumlah hari pendakian sangat penting untuk mengalkulasi kebutuhan minimal yang dibutuhkan, baik ukuran peralatan maupun perbekalan yang harus di bawa. Jika kita profesional dan hanya membutuhkan waktu 1 hari untuk sampai ke Mahameru, maka perbekalan yang disiapkan semakin sedikit, meskipun tidak menutup kemungkinan peralatan yang dibawa tetap sama beratnya.
Estimasi perjalanan menakhlukkan Mahameru :

Hari
Waktu
Perjalanan
I
06.00 – 09.00
Tumpang – Ranupane
09.00 – 11.00
Briefing dan pendaftaran di Pos Ranupane
11.00 – 18.00
Ranupane – Ranukumbolo
18.00 – 06.00
Istirahat
II
06.00 – 10.00
Masak, bersih diri, bongkar tenda, self time
10.00 – 11.00
Ranukumbolo – Oro-oro Ombo
11.00 – 13.00
Oro-oro Ombo - Jambangan
13.00 – 14.00
Jambangan – Kalimati
14.00 – 15.00
Ambil air di Sumber Mani
15.00 – 17.00
Masak dan makan
17.00 – 22.00
Istirahat dan tidur
22.00 – 23.00
Persiapan summit attact
23.00 – 01. 00
Kalimati – Arcopodo
III
01.00 – 06.00
Arcopodo – Mahameru
06.00 – 08.00
Bikin puisi di Mahameru
08.00 – 09.00
Mahameru – Arcopodo
09.00 – 10.00
Arcopodo - Kalimati
10.00 – 14.00
Istirahat dan persiapan ke Ranukumbolo
14.00 – 17.00
Kalimati – Ranukumbolo
17.00 – 18.00
Pasang tenda dan masak
18.00 – 06.00
Istirahat
IV
06.00 – 08.00
Masak dan enjoy the Ranukumbolo
08.00 – 09.00
Bongkar tenda
09.00 – 13.00
Ranukumbolo – Ranupane
13.00 – 14.00
Selesaikan administrasi dan pulang

Peralatan

Mengenai fisik dan mental tidak perlu aku jelaskan karena tentunya hal itu sangat penting. namun sebagai pendaki amatir, aku tidak menyiapkan fisik dan mental sama sekali sehingga –aku rasa- tips di sini sangat cocok bagi pendaki amatir dan pemula. Saat mendaki kemarin, aku menggunakan tas carrier Consina Tarebbi 70L, tenda monodome single layer untuk 2 orang, sleeping bag model tikar seharga, headlamp jelek imut, lampu tenda yang bisa diubah menjadi lampu senter, kompor gas kecil, dan coocking set. Seluruh peralatan yang kubawa ini tidak ada yang bermerk, kecuali Consina Tarebbi. Sehingga tidak perlu khawatir jika naik gunung tidak membawa peralatan berharga mahal.

Mahameru
Selain itu, aku membawa satu kerpus (penutup kepala), satu pasang sarung tangan, dua pasang kaos kaki, dua kaos lengan pendek, satu kaos lengan panjang, dan jaket Jack Wolfkin murahan sehingga tidak dapat dipercaya. Tidak lupa yang paling penting adalah jas hujan untuk melindungi seluruh peralatan kita dari hujan. Jas hujan kalelawar ini juga bisa kita gunakan sebagai layer tambahan untuk tenda monodome sehingga tidak tembus ketika disambar hujan. Sepatu kets yang biasa kugunakan kuliah juga kubawa bersama sandal carvil yang sudah kupakai dua tahun terakhir.

Silahkan membawa peralatan mandi meskipun di sana aku tidak mandi sama sekali selama empat hari. Karena melakukan ritual mandi bukanlah hal yang mudah saat berada di gunung, baik karena air susah, dingin, maupun tempatnya yang tidak ada. Di Ranukumbolo sendiri disediakan satu deret kamar mandi yang fungsi utamanya adalah WC zaman majapahit. Sehingga orang berak sekalipun, ingin cepat-cepat selesai karena baunya yang menyengat dan sampah berserakan. Karena aku juga bukan seorang lelaki metroseks, aku tidak bisa menyarankan alat kecantikan apa yang harus di bawa naik gunung. Aku hanya membawa sikat gigi bersama pastanya.

 Tas. Mari kita membahas tas yang baik untuk mendaki gunung karena tas ini ibarat nyawa seorang pendaki. Selama berada di sana, saya mengamati banyak pendaki yang membawa tas berukuran 70-80liter. Jika bersama rombongan, bebera anggotanya ada yang hanya membawa daypack atau carrier ukuran 50-60L agar mereka bisa bergantian membawa carrier yang lebih berat. Menurutku, untuk memenuhi kebutuhan mandiri alias membawa seluruh peralatan dan perbekalan sendirian, dibutuhkan tas 70 liter.

tenda Pavilo monodome yang nyaman buat dua orang
Asalkan tidak membawa pakaian terlalu banyak layaknya mau jualan di Ranukumbolo, tas ini akan lebih dari cukup. Tas dengan banyak saku akan sangat membantu untuk menyelipkan barang yang dibutuhkan sewaktu-waktu. Tidak peduli tas yang kita bawa bermerk atau tidak, mereka akan membawa kita sampai Mahameru. Jika tas kita tidak punya sirkulasi udara, tidak punya gagangan besi, tidak punya tali penarik kenyamanan, tidak masalah. Kenyamanan seperti itu teramat mahal untuk kantong mahasiswa, atau kantong sebagian besar masyarakat Indonesia.

Yang pasti bawalah tas yang ikatannya kuat. Jadi tidak ada kekhawatiran tas tersebut akan putus talinya saat membawa beban. Sewaktu-waktu tas akan kita taruh dipunggung, di lain waktu tas akan kita seret-seret. Sehingga tas murah perlu kita jahit lagi agar pegangannya kuat. Bawa pula satu daypack jika perlu, untuk dibawa memuncak ke Mahameru. Kalau aku, tas carrier itu pula yang kubawa ke Mahameru setelah kutumpahkan seluruh isinya ke belantara tenda.

Tenda. Peralatan lain yang dibutuhkan adalah tenda. Sesuaikan tenda dengan kapasitas rombongan. Karena saya berangkat sendirian, maka tenda yang kubawa hanya monodome untuk menampung 2 orang. Jika rombongan, maka menyewa tenda adalah pilihan yang masuk akal dibandingkan iuran untuk membeli. Jika kita biasa solo traveller, maka membeli tenda monodome pilihan terbaik. Nantinya, kita tinggal membeli flysheet tambahan untuk melindungi tenda dari gempuran hujan, atau beli plastik lebar sesuai dengan panjang dan lebar tenda. Pasti lebih mantap dan murah. Perlu dipertimbangkan pula membawa tikar yang enteng untuk di taruh dalam tenda karena biasnaya tenda hanya beralaskan terpal yang dingin saat menyentuh tanah.

Aku tidak tahu merk tenda yang bagus dan murah. Karena banyak sekali merk tenda yang beredar di antara pendaki Semeru ketika membentang di Ranukumbolo, misalnya Lafuma, Eiger, Consina, dan Great Outdoor. Tenda yang kubeli adalah merk Pavilo yang tampaknya baik-baik saja dalam kondisi cuaca cerah. Ketika mengalami angin ribut dan hujan rintik-rintik di Kalimati, aku sendiri yang tidak bisa tidur karena khawatir bocor. Sementara pemilik tenda lainnya dengan tenang menikmati malam. Intinya adalah persiapkan segala sesuatu agar tubuh dan peralatan kita tetap kering. Karena basah di pegunungan bisa menurunkan kekuatan tubuh dan berakhir sakit yang mengenaskan.

Penghalau dingin dan basah. Dingin dan basah di pegunungan adalah musuh setiap pendaki. Karena itu peralatan untuk membuat tubuh kita tetap kering dan hangat. Pertama adalah jas hujan, saya kira setiap orang punya jas hujan jika musim penghujan. Kalau memungkinkan, pilihlah jas hujan plastik sekali pakai sehingga enteng di kantong dan enteng di tas carrier. Taruh jas hujan ini di saku paling luar tas sehingga bisa digunakan sewaktu-waktu.

Selain jas hujan, kita akan membutuhkan kaos, sweeter, kerpus, sarung tangan, kaos kaki, buff, jaket dan sleeping bag. Ketika berjalan, kita hanya membutuhkan kaos dan celana pendek. Tapi persiapkan jaket di luar tas sehingga sewaktu-waktu bisa digunakan juga. Karena saat berjalan kita akan berkeringat sehingga jaket menjadi tidak nyaman. Bahkan ketika perjalanan awal dari Ranupane – Ranukumbolo, jaketku benar-benar basah oleh keringat. Sedangkan mengeringkannya butuh waktu yang lama.

Berbeda ketika kita tidur, pakailah seluruh alat penahan dingin tersebut, jika perlu gunakan koyo tempel di kaki agar hangat. Untuk di Ranukumbolo dan Kalimati, dua kaos, satu sweeter, satu jaket, dan sleeping bag, sudah cukup untuk membuat tidur nyaman. Keesokan harinya di Ranukumbolo, saat jaket dan sweeterku basah karena hujan, dua kaos dan sleeping bag ternyata masih masih terlampau dingin. Sehingga perhatikan cuaca dan jangan sampai membuat pakaian kita basah. Menurut pikiranku, tidak perlu membawa jaket terlalu banyak saat naik gunung. Lebih baik bawalah kaos lebih untuk dipakai bersamaan sehingga dingin sulit menembus kulit.

Sementara, ketika naik Mahameru pukul 23.00 WIB, dua kaos, satu sweeter, dan satu jaket tidak cukup untuk menghalau dingin. Namun dengan terus menggerakkan langkah, tubuh kita akan hangat dengan sendirinya sehingga yang diperlukan selanjutnya adalah tawa sepanjang jalan. Jika kedinginan, tampaknya tubuh kita sedang tidak bermetabolisme sehingga bisa ditanggulangi pula dengan makan makanan ringan. Cobalah membawa snack yang bisa dibeli kiloan, bukan snack indomaret yang hanya besar di bungkusnya tapi ringan di isinya.

Perbekalan. Bekal yang saya maksud adalah berupa makanan dan minuman untuk di bawa sepanjang jalan. Untuk sendirian saya tidak menghabiskan 500 gram beras merah selama empat hari. Persoalan ini kadang sangat menyesaikan dengan kondisi tubuh dan manusianya. Perbekalan lain yang saya bawa adalah : ikan asin, mie instan, sambal instan, gula merah, kopi instan, permen. Saya tidak membawa madu, roti dan makanan ringan lainnya padahal itu sangat penting. 

Bagiku, miuman hangat sangat penting untuk menemani bersantai ketika berada di Ranukumbolo dan Kalimati. Beberapa orang bahkan membawa termos untuk bekal kopi hangat di perjalanan. Bagi perempuan yang biasanya tidak terlalu menyukai kopi, bisa memilih teh atau coklat saset untuk diteduh kala dingin. Untuk semua minuman hangat ini, biasanya saya campur dengan gula merah sehingga rasanya semakin manis dan menambah tenaga saat pendakian keesokan harinya.

belakangku adalah tanjakan cinta yang melegenda
Ketika berada di Ranukumbolo, memasak merupakan hal yang menyenangkan. Saya melihat banyak teman-teman pendaki yang membawa sosis, sarden, pentol beku, telor mentah, telor asin, telor puyuh, tahu pentol beku, dan lain sebagainya. Seakan-akan sedang terjadi pertarungan memasak di Ranukumbolo. Kebetulan saya menyapa beberapa orang yang bersantai di Ranukumbolo yang ternyata telah selesai summit attact. Mereka masih menyisakan sarden dan beberapa makanan ringan lainnya untuk dibagi ke pendaki yang akan menuju Kalimati. Ketika aku turun, aku melakukan hal yang sama. Ternyata hal itu merupakan kebiasaan pendaki yang telah menyelesaikan urusannya dengan Mahameru. Dari pada membawa beras, sarden, telur, dan mie instan kembali ke Ranupane, lebih baik disumbangkan kepada pendaki lain yang masih harus melanjutkan perjalanan.

Penutup

Memang benar bahwa mendaki Mahameru bukanlah pekerjaan pendaki pemula. Tapi aku adalah pendaki amatir dan masih banyak lagi pendaki alay yang menakhlukkan Mahameru. Jadi jangan gentar saat berhadapan dengan gunung tertinggi di Pulau Jawa ini. Secara ringkas, pendakian dari Ranupane hingga Kalimati adalah pendakian gunung sebagaimana umumnya. Tapi pendakian dari Kalimati menuju Mahameru adalah ujian yang sesungguhnya. Karena itu, persiapkanlah mental pantang menyerah. Karena dingin, lapar, dan kantuk akan datang menyerang pada saat yang bersamaan. Tapi dalam perjalanan melelahkan itu, kita akan terhibur jika matahari muncul. Kehangatan akan langsung meresap ke kulit, dan puncak Semeru akan terlihat. Saat itulah semangat akan membaja dan siap bertualang mengalahkan kemalasan diri sendiri.


Panduan Semeru

Panduan Menakhlukkan Semeru III


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

2016-09-10

Semeru

Puncak Mahameru, 3676 Mdpl

Setelah menunggu ribuan tahun, akhirnya aku menapaki puncak para dewa –Mahameru. Perjalanan yang menyiksa dan menghapuskan segala kenikmatan terbayar tuntas. Akan muncul banyak catatan dari perjalanan membersamai Semeru. Namun saat ini, yang harus aku hujamkan dalam-dalam adalah bagaimana aku merasa menjadi salah satu orang yang beruntung dan diberkati. Mungkin adalah hal yang lebai, tetapi menggapai Mahameru adalah hal mustahil bagi diriku sendiri.

Bagaimana tidak, pukul 23.00 WIB aku sudah harus mengerjapkan mata bersama seluruh ngilu di sendi tulang belulang, pusing di kepala, dan dingin yang mengelupaskan kulit di muka satu senti demi satu senti. Mungkin aku sudah beruntung tinggal di Kota Batu selama setahun terakhir, namun dingin di punggung Semeru bukanlah dingin di Kota Batu. Tetap saja, dua kaos, satu sweeter, dan satu jaket palsu merk Jack Wolfkin seharga Rp 150.000 tidak berarti apa-apa. Aku masih harus menyematkan kedua tanganku ke ketiak demi mendapatkan kehangatan sementara.

di depan itu adalah Kawah Janggring Saloka

Belum lagi, perjalanan mendaki di Arcopodo selepas Kalimati sungguhlah berat. Berat karena seluruh kalori yang dihasilkan oleh beras merah dan ikan asinan pindang telah habis sepanjang Ranupane – Ranukumbolo – Kalimati. Sisa-sisa tenaga ini diharuskan menempuh perjalanan yang tidak kalah beratnya sehingga mental langsung down seketika. Dan hal yang paling menjengkelkan adalah tanjakan Mahameru dipenuhi oleh kerikil dan pasir yang tidak bisa diinjak seenak kaki berdiri. Di sinilah keputusasaan terbesar itu. Setiap aku melangkah, setiap itu pula aku harus merosot ke bawah karena tidak ada tanah yang solid yang bisa diinjak.

Bahkan bebatuan pun bersekongkol. Ketika menginjak batu, malah akan membahayakan pendaki yang masih berada di bawah karena batu itu bisa seketika meluncur ke kepala. Bebatuan seperti menempel begitu saja. Ia tidak membentuk dan menyatu dengan Mahameru. Bebatuan itu, seperti tetangga yang numpang mampir, atau benalu yang menggeliat begitu saja di sana. Aku bergumam; dalam sejarahnya, bahkan para amatir dan perempuan alay pun bisa menapaki Mahameru. Apakah aku akan berdiam diri di Kalimati saja? oh tentu tidak. Dengan tekat kompetisi imajiner inilah, aku berangkat.

Kawah saat menyemburkan racunnya

Namun aku menegaskan, menggapai Mahameru bukanlah sekadar berkompetisi dengan orang lain, tapi lebih pada kompetisi dengan diri sendiri. Berkali-kali, orang-orang yang lalu lalang itu hilang entah ke mana. Mata yang sudah diserang kantuk karena hampir sejak Januari aku tidak pernah tidur. Seluruh orang yang lalu-lalang menjadi tak berguna, mereka tenggelam dalam hingar-bingar kelelahan yang mendera seluruh organ tubuhku. Aku lumpuh, merambat sebagai orang yang sekarat dalam duri yang menggunung.

Berkompetisi dengan orang lain saat menggapai puncak malah akan membuatmu lemah selemah-selemahnya. Akan ada banyak orang yang sebelumnya jauh di belakang, tiba-tiba sudah disampingmu ketika kau duduk istirahat kelelahan. Mereka berjalan pelan namun pasti, melewatimu begitu saja. Kau mungkin bisa berteriak keras; jancooook!!!. Tapi itu hanya bergema dalam dadamu sendiri. Meskipun kau tahu, mereka yang melampauimu selalu menyemangatimu agar bertahan hingga puncak kerinduan. Tapi itu juga yang menjadi musuh dirimu sendiri.

aku berdesing dalam ribuan musim dingin
menghalau seluruh rindu yang kau tumpah-tumpahkan
dari langit, aku sembahyang dipuncak ngilu
seperti pertapa yang luka, seperti burung yang mengigau
betapa sarang masihlah mimpi yang tak terlampau tinggi

Jadi aku terus mewaspadai diriku sendiri, jika tidak, Mahameru akan benar-benar membunuhku. Sudahlah cukup kisah dan mitos yang merebak bahwa Mahameru memakan banyak nyawa untuk dapat menakhlukkannya. Seakan-akan, dari 1000 pendaki yang sukses, harus ditebus dengan satu nyawa melayang karena otak telah kehilangan keseimbangan. Dan aku tidaklah harus menjadi penebus pendaki-pendaki itu. Yang kusadari dari diriku sendiri waktu itu adalah, dingin yang teramat sangat membuatku hampir muntah-muntah karena mual, kepala pening sehingga setiap menapakkan kaki di pasir dan kerikil Mahameru, aku hendak melayang ke jurang. Sepertinya aku masuk angin dan bisa-bisa menangis sepanjang perjalanan. Bismillah, aku hanya bisa berkata; biarlah tuhan yang menentukan segalanya.
Mahameru yang berbentuk melengkung

Setiap satu langkah kaki, aku menguat-nguatkan persendian. Nafas sudah satu-satu, hampir meninggalkan tubuh ringkih yang bersemangat di tubuh yang masih seperempat abad. Kulihat puncak yang masih gelap. Jarak yang hanya 2,5 kilometer raib ditelan keragu-raguan. Sementara di sisi timur, siluet merah sudah menggaris panjang membelah langit. Keindahan maha agung. Matahari mengintip pelan-pelan-pelan, lalu tiba-tiba saja hangat kurasa. Aku terduduk di sebalah batu besar yang tampak akan menggelinding ke bawah saat kusentuh. Sungguh, matahari waktu itu seperti kawan lama yang datang sebagai penyelamat. Mual sepanjang malam, dingin sepanjang perjalanan, lenyap. Aku minum air putih yang masih tersisa banyak, lalu mendongak ke puncak. Bendera merah putih tersenyum pelan, mengerlingkan matanya, dan aku bangkit untuk meraihnya.

Mimpi apa si bendera di puncak semeru itu tuhan? Sehingga panggilannya kujawab dan ia bisa berdiri sama tinggi denganku. Pukul 07.30 WIB aku baru menginjakkan kaki di puncak tertinggi Pulau Jawa. Aku kaku, lemas, bahagia, sedih, menjerit, ketakutan, mengumpat, beryukur, dan lalu menikam tanah-tanah menjadi bahasa yang tak dapat dikenali lagi. Aku tidur, melepaskan seluruh sandaranku pada alam yang hening –yang ramai hanya manusia yang terpana dengan dirinya sendiri, lalu mengabadikannya dalam kefanaan foto. Aku masihlah makhluk abadi ketika tidur di bawah matahari yang hangat, menyelimuti bibir retakku, menyeka linu di lutut, dan menghias mataku dengan pendar warna-warni dari seberang surga.

Jalan terjal saat turun dari puncak

Saat aku terbangun, orang-orang sepi. Tinggal tiga grup pendaki yang semalam menjejaki langkah bersamaku. Aku kembali fana dan bakal musnah sendirian, memandangi para pendaki dan mencoba menerka pikirannya masing-masing. Lalu kuraih kamera yang sejak perjalanan jarang kugunakan. Aku berjalan pelan dari ujung ke ujung, memotret moment yang sudah terlambat itu. Matahari silau, Bromo sudah tertutup awan. Yang tersisa hanya menunggu Kawah Janggring Saloka meletupkan asap tebal sehingga aku bisa membawanya pulang ke tendaku, ke beranda rumah, dan memeluknya saat tidur di lain waktu.

2016-09-01

Puncak Gunung Tersulit, Ulasan Film: Meru

Kalian tahu gunung yang paling sulit didaki di dunia ini? 

Adalah Meru, salah satu puncak di Pegunungan Himalaya, yang menjadi top scorer bagi pendaki kelas wahid. Puncak Meru dikenal dengan nama Shark’s Fin (Sirip Hiu), yang telah menumbangkan puluhan pendaki profesional saat berhadapan dengan tembok raksasa di atas ketinggian 6000 meter tanpa celah. Bisa dibilang, adalah satu hal yang mustahil untuk menjejakkan kaki di puncak Meru.

Meski tampaknya mustahil, tiga orang pendaki profesional akhirnya mampu menakhlukkannya pada Oktober 2011. Mereka adalah Conrad Anker, Jimmy Chin, dan Renan Ozturk. Jimmy yang juga wartawan National Geographic merupakan pendaki ulung yang menjadi rekan Conrad selama 10 tahun terakhir. Dengan kemampuannya dalam bidang jurnalistik, Jimmy membuat perjalanan mereka bisa difilmkan secara dokumenter sehingga release-lah film Meru tahun 2015.

Saya bisa membayangkan betapa sulit pendakian yang telah mereka lakukan untuk menakhlukkan Meru. Apalagi di tahun 2008, mereka bertiga pernah menemui kegagalan saat mendaki Meru. Karena timing yang kurang pas, akhirnya mereka harus turun setelah selama 17 hari merangkak di tebing batu dan es. Bahkan, kekalahan itu mereka rasakan saat puncak Meru kurang 100 meter lagi. Tapi toh mereka akhirnya memilih turun. Alasannya jelas, hari sudah sore dan tidak memungkinkan untuk memanjat lagi, ditambah perbekalan yang sudah habis, dan jika memaksa, mereka harus membuat tenda sederhana di puncak Meru berketinggian 6.600 meter tanpa safety. Hal yang membahayakan nyawa seperti ini, bagi mereka, bukanlah suatu hal yang patut diperjuangkan.

Saya kira, inilah perbedaan ambisi dan obsesi. Ketika tujuan yang telah direncanakan dengan baik itu menemui jalan buntu yang berakibat pada hilanagnya keselamatan, maka bolehlah tujuan itu diurungkan –itulah ambisi. Mereka masih bisa berfikir jernih, meskipun sudah menempuh pendakian setinggi 6.500 meter dalam badai, tapi saat terjadi kendala yang tak mungkin dihindari, mereka harus berfikir rasional. Lalu mereka turun dengan gaya “setidaknya saya pernah mencoba dengan seluruh kekuatan”.

Jika yang mereka bawa untuk menakhlukkan Meru adalah obsesi, bisa jadi nama mereka tinggal kenangan. Tanpa memperhatikan akal sehat, mereka akan memaksakan diri untuk menggapai 100 meter tersebut. Yang jika gagal, malah akan memperburuk citra mereka sebagai pendaki profesional. Karena seorang pendaki profesional pasti memahami manajemen risiko pendakian, dan tidak memaksakan atau mempertaruhkan nyawa dengan kemungkinan yang minimal –demikian kata John Krakauer, penulis buku Into Thin Air.

Dan perlu diketahui, bahwa Conrad maupun Jimmy merupakan pendaki sukses yang menakhlukkan everest (puncak tertinggi di dunia) empat atau lima kali dengan mudah. Bahkan Jimmy berselancar dari atas Everest. Lagi pula, menunggangi Everest bisa menyewa jasa porter yang bisa melakukan hal-hal berat dengan mudah untuk membantu pendaki. Banyak pula jasa pendaki profesional yang bisa mengantarkan menuju Everest. Beban dipunggung dapat berkurang hingga puluhan kilo. Namun di Meru, yang merupakan pendakian profesional penuh risiko, tidak ada porter atau jalan lunak. Pendaki harus berjalan sendiri, memanggul tasnya sendiri, dan membawa seluruh peralatannya sendiri.

Dalam beberapa pemberitaan mengenai pendakian bersejarah ini, Jimmy mengakui dibutuhkan standar yang tinggi untuk dapat berjuang merambati tubuh Meru. Seperti ice climbing, rock climbing, big wall climbing, mixed climbing dan juga expedition climbing, bahkan diperlukan kemampuan khusus mengelola logistik untuk bertahan hidup. Seperti dalam film, mereka harus menginap empat hari di ketinggian 4.000 meter dengan cara ‘menggantung’. Benar-benar menggantung, yakni menggantungkan alas tidur sedemikian rupa pada cantolan-cantolan dinding batu, dan menutupi bagian atasnya dengan tenda.

Empat hari mereka hanya bisa berdiam diri di tenda menggantung karena serangan badai salju. Tentu saja hal itu menguras logistik dan tenaga. Bahkan secara emosional, mereka akan tertekan karena harusnya bisa melewati Shark’s Fin sesuai hari yang ditentukan. Ini adalah gangguan yang besar bagi pendaki meskipun sangat berpengalaman. Kalau tidak dipandu Conrad yang pernah mencoba mendaki di tahun 2003 dan 30 tahun pengalaman menakhlukkan berbagai macam gunung tertinggi di dunia, maka mereka akan turun begitu badai reda.

Menurut Krakauer, mendaki Meru tidak hanya membutuhkan skill pemanjat dinding profesional, tapi juga pemanjat es, pemanjat batu, dan pemanjat profesional dataran tinggi. Jika dihadapkan dengan tebing tegak lurus di atas ketinggian 6.000 meter, orang akan merinding. Tapi Conrad dan Jimmy adalah pendaki profesional –yang sama dengan tukang kayu, tukang batu, atau arsitek – bisa membuat jalannya sendiri. Dalam film itu, terlihat Jimmy mengetuk-ketuk setiap dinding batu dengan saksama. Lunak, keras, sekuat tenaga, lunak lagi, begitu terus hingga ada satu dinding yang bisa dimasuki pengait guna rolling tali pemanjat.

Lalu dilanjutkan perjuangan Conrad untuk menakhlukkan lapisan es tebal yang menyelimuti dinding-dinding itu dengan tanjakan terjal, dan bertemu lagi dengan batu granit raksasa yang dinamakan House of Cards yang membentang hingga puncak. Jika harus dikalkulasi, kemampuan mendaki Meru sungguh mendekati kemampuan dewa yang mustahil. Menurut Krakeuer, mereka harus membawa 100 kg perbekalan untuk mendaki Meru. Meskipun dalam pendakian pertama mereka gagal karena logistik yang sudah mencapai klimaks di saat pendakian masih 90 persen, namun di pendakian kedua tahun 2011, mereka berhasil.

Jimmy yakin 99 persen, bahwa sekelas pendaki profesional pun, ketika selesai menonton film dokumenter yang mereka buat, akan bergegas menuju Shark’s Fine. Paling-paling pendaki akan menutup riwayat Meru, dan memilih memuncaki Everest yang memiliki rute perjalanan lebih populer –meski tetap saja susah. Kita akan lihat di tahun-tahun mendatang.

Jimmy Chin, Conrad Anker {Sang Kapten}, dan Renan Ozturk