Skip to main content

Lelaki


Kita didefinisikan oleh banyak hal. Biasanya terkait kekuatan otot, pikiran yang cemerlang, atau adrenalin yang berpacu menembus pegunungan dan lautan. Lelaki tidak boleh feminim. Ia boleh jadi berambut gondrong, tetapi harus garang. Ia bisa mencuci, memasak, dan menjahit tetapi musti melakukan segalanya dengan cara-cara maskulin. Tidak menye-menye, gak boleh nangis, dan menyelesaikan persoalan dengan baku hantam.

Betapa pernyataan di atas mengandung bias yang teramat. Beberapa definisi seorang lelaki memang penuh problem. Lelaki suka ngomong seenaknya dan bisa tidak ambil peduli dengan perasaan orang. Kata Alexander Supertramp dalam In to The Wild, "Fuck Society". Kita dibentuk oleh masyarakat kita melalui praktek bahasa yang maskulin, kita juga mengamininya, dan sesekali kita harus berontak dari masyarakat yang membentuk diri lelaki. Atau sebagai lelaki, seringkali kita lebih bangga dengan arogansi, menang sendiri, suka-suka, dan mengacungkan jari tengah kepada masyarakat.

Tapi di tempat yang jauh, di jiwa-jiwa yang damai dan tenang, di mana palung laut membeku pada otot dan otak lelaki, kita musti insaf. Bahwa menjadi lelaki tidak serendah itu. Kita musti menjadi ubermench -meminjam Nietzsche, menjadi pribadi yang menolak pakem-pakem yang dibuat oleh siapapun kepada diri kita. Manusia bebas yang benar-benar bebas, tidak didikte oleh keyakinan yang tak pernah kita ketahui kebenarannya. Kita memilih kebaikan karena baik itu muara kebijaksanaan.

Seorang lelaki harus bersikap 'ja sagen' -nietzsche lagi, yakni selalu mengatakan 'iya' untuk segala kehidupan yang datang. Kenikmatan yang kita peroleh, keluh kesah yang mengiringi keesokan harinya, kelahiran dan kematian yang mengelilingi sehari-hari, harus kita terima dengan : ya, kondisi itu datang untuk tidak dihindari. Lelaki musti menerima kodrat itu dan tidak pernah berpaling dari kehidupan. Lagi pula manusia macam apa yang lari dari segala konsekuensi kelahirannya sendiri?

Ketika kuliah dan kita tidak punya uang, miskin, terlunta-lunta, setiap semester harus datang ke Biro Keuangan Kampus demi meminta perpanjangan waktu; ya, kita harus menerimanya. Itulah kondisi yang ada dan musti kita selesaikan. Jika kita adalah lelaki jomblo yang sudah berupaya sekuat tenaga tetapi tetap gak laku, no problemo, no woman no cry. Kita yang setiap hari mendapat kebahagiaan, tidak pernah susah dan cenderung beruntung, ya, terima itu dengan suka cita.

Apapun yang datang, bahagia atau sedih, jangan lari. Sekali kita lari dari masalah itu maka kita akan lari selamanya dari kehidupan. Apakah ucapan saya sudah seperti motivator?

Oh tidak, karena motivator akan menyarankan anda untuk bertahan dengan berkata ; ya, saya yakin bisa, maka pasti bisa. Sedangkan saya akan memberikan saran dengan jalan serasional mungkin akibat dari konsekuensi mengatakan 'ya'. Mari menengok masalah pertama, persoalan ekonomi yang selalu menghantui mahasiswa di berbagai kampus, solusinya adalah : pertama, kerja lebih keras dari siapapun karena anda harus melawan ketidakmampuan ekonomi yang ditakdirkan oleh tuhan atau alam. Kau adalah alam itu sendiri, dan tuhan, tentu tidak akan serta merta memberikanmu uang jika tidak bekerja keras.

Kita cenderung lebih mudah menerima semua dengan pasrah, kalau tidak demikian maka kita lebih suka menyelesaikan masalah dengan mengumpat, menghujat, atau yang lebih lemah: curhat. Kita enggan berubah karena berubah itu membutuhkan tekad yang luar biasa sulit. Perubahan seorang penghujat dan pemalas menjadi orang yang paling bekerja keras ibaratnya memikul taurat dari atas tursina ke lembah berisi manusia sembrono gara-gara patung sapi emas.

Lihat saja di sekeliling kita berapa banyak yang mencoba berubah? Hampir tidak ada. Kita akan lebih banyak menemui orang-orang yang berencana berubah, hanya berencana beribah tetapi tidak ada realisasi apapun.

Kedua, pergi yang jauh dari kampus. Pergi dari kampus bukan untuk kabur lalu memaki dunia pendidikan yang semakin kapitalistik. Kau pergi yang jauh untuk memperoleh kesuksesan lainnya. Apakah kau yakin akan mengikuti persepsi umum bahwa jalan kesuksesan satu-satunya adalah melalui pendidikan tinggi? Fuck society. Jika kau berada di lingkungan yang memuja ijazah dan gelar akademis, hancurkan! Kau harus marah karena pendidikan tidak bisa ditempuh hanya bermodalkan belajar sungguh-sungguh. Ia butuh uang, waktu yang panjang, dan juga tekad.

Katakan ya pada seluruh yang datang kepadamu, jangan pergi, jangan lari. Menjadi lelaki harus lebih kuat dari beton dan baja yang membentuk gedung tinggi dan jalan tol di Indonesia. Jika semua terasa memuakkan, bising, dan stagnan, pergilah yang jauh. Rumah adalah tempat di mana kau lahir, bukan tempat di mana kau besar, bahkan bukan tempat kematian kita. Jika kau banyak berutang budi pada rumah, bayar secepatnya dengan seluruh yang kau punya. Lalu tinggalkan kotamu, tinggalkan rumahmu, mencari kekuatan superpower sebagaimana yang dimiliki Thanos.

Memang, hutang budi ke orang tua tidak akan pernah terbayar, tapi ingat satu hal : orang tua lebih bahagia jika kau sukses di negeri yang jauh, sesekali pulang membawa kebanggaan, bikin orang tua takjub, dibanding kau kembali ke pelukan mereka dengan kondisi mengenaskan, pulang beralibi menjadi anak yang berbakti. Itu adalah pilihan yang bertolak belakang yang harus dipilih oleh kalian para lelaki. Karena sejauh yang kukenal, lelaki masa kini banyak yang takut berkompetisi di luar wilayahnya, lalu pulang ketakutan dengan alasan membangun desa.

Jika kedua pilihan itu serasa janggal dan melankolis, maka okelah. Pulanglah dengan seluruh kebanggaan yang kau punya, kemudian jangan pernah merantau lagi. Hiduplah dari dan untuk desa yang menjadi ladang seumur hidupmu. Tumbuhkan dari ladang di kampung itu masyarakat mandiri dan tangguh, bangun menjadi basis kekuatan sosial yang baru dan tak kenal rasa takut terhadap modernisme, kau jaga kampung itu dari pembangunan wisata berkedok sosialis karena sesungguhnya hasil akhirnya adalah eksploitasi.

Menjadi lelaki itu sulit, tapi barangkali menjadi perempuan di negeri ini jauh lebih sulit. Maka sudah saatnya pemuda memilih jalan hidupnya akan seperti apa, karena jika lelaki tidak tegar seperti menantu yang tinggal serumah dengan mertua, maka kualitas macam apa yang akan diturunkan ke anak cucunya.

Comments

Post a Comment

semoga artikel ini berniat baik pada pembaca, komentar pembaca akan membangun blog ini.

About Me

My photo
Fathul Qorib
Lamongan, Jawa Timur, Indonesia
pada mulanya, aku adalah seorang yang cerdas sehingga aku ingin mengubah dunia. lalu aku menjadi lebih bijaksana, kemudian aku mengubah diriku sendiri.