Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2018

Intelektual

Sering dalam kondisi menggebu-gebu saya ingin menjadi bagian dari pemikir dunia. Tetapi dalam satu waktu, ketika angin mulai berhembus ke barat dan hujan turun tidak stabil, pikiranku menjadi kalut. Dalam wilayah lokal saja, pemikiran saya gagap menangkap banyak hal yang berkaitan dengan permasalahan sosial. Banyak peristiwa yang saya tidak tahu bagaimana awal mulanya, apalagi mengurainya menjadi solusi. Lalu saya mulai bekerja acak, membaca acak, dan tidak mencoba merumuskan tujuan sama sekali.
Kegelisahan-kegelisahan ini menjadi gumpalan mendung yang sering menghantam tengkukku. Bagaimana tidak, saat ini aku bekerja dalam industri intelektual yang mengagung-agungkan kemampuan analisis yang tepat dan tajam. Aku bekerja dalam industri yang sama dengan Horkheimer, Einstein, Al Ghazali, Emile Durkeim, Roland Barthes, Ibn Rusyd juga Bertrand Russel. Karena itu, membaca karya mereka membuat kegelisahan menjadi tak berujung. Semacam rendah diri yang meledak-ledak. Karena dengan belajar se…

Pilkada Malang Tanpa Media Sosial

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memunculkan budaya cepat saji untuk segala urusan. Handphone, misalnya, bisa memutus jarak komunikasi ratusan kilometer yang awalnya terasa mustahil. Bepergian pun sudah semakin mudah: pesan tiket menggunakan aplikasi, pesan ojek dan taksi menggunakan aplikasi, hingga pesan makanan pun menggunakan aplikasi. Termasuk media sosial yang memudahkan interaksi antar manusia dengan jaringan internet yang tidak pernah delay.
Media sosial ini bergerak cepat melebihi media konvensional dalam penyebaran informasi. Bahkan informasi di media sosial tak terbendung karena kemampuannya menjangkau seluruh khalayak, akses yang friendly, hingga biaya super murah. Tidak hanya digunakan ala kadarnya, tetapi media sosial juga dipakai untuk berbagai keperluan yang membutuhkan penanganan profesional, seperti bisnis, pendidikan, social movement, hingga suksesi politik. Politik yang awalnya kegiatan serius, harus lebih cair demi mendapatkan keuntungan dari dukun…

Menjalani Hidup

Note : Aku menulis ini pada November 2016 sebagai suatu catatan tentang ketidakberdayaanku sebagai manusia. Banyak hal yang tidak menguntungkan, banyak hal yang sekarang lebih baik -sematamata menunjukkan bahwa kita semua sama.
Hujan terus turun sejak Subuh tadi. Aku tetap harus melakukan perjalanan Surabaya – Batu agaar bisa melampui kesendirianku di tempat yang teduh, dingin, dan hening. Biasanya aku mendengarkan lagu-lagu silampukau, bossanova jawa, payung teduh, dan lagu-lagu inggris yang tak kupahami liriknya sepanjang jalan. Tetapi saat ini, suara hujan di perjalanan selalu membuatku takjub, sehingga earphone hanya berakhir menjadi kalung leher. Hujan deras itu, mendebarkan jantungku sendiri, memperkirakan kehidupan beberapa minggu ke depan.
Aku terlahir dengan menanggung beban berat. Masa kanak-kanak hingga remajaku bukanlah hidup yang menyenangkan jika dihubungkan dengan kepemilikan terhadap benda material. Aku selalu menjadi anak terakhir yang memiliki kesenangan duniawi. Lalu …